
Alex meletakkan kedua tangannya di pinggang. Diembuskannya napas panjang pada pelataran parkir yang terbuat dari tanah itu. "Shxt, Kay. I know you will be the death of me." Alex menggerutu.
Susah payah aku menyembunyikan senyum penuh kepuasan yang diciptakan oleh kalimat bernada pasrah milik Alex barusan. It is such a pleasure to know that I am affecting him as much as what he does to me. Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Emosiku kembali tersulut ketika melihat ekspresi yang kini ada di wajah Alex. Hilang sudah rasa tak habis pikir yang tadi ada.
Kini, sebelah alis Alex terangkat, seakan mengatakan "really?" melihat sesuatu yang ada di bawah sini. Kuturuti arah pandang lelaki itu. Tatapan anehnya ternyata dia berikan untuk sepasa sendal jepit berwarna peach yang kebetulan matching dengan pewarna kuku kakiku.
“What?” tantangku tak tahu malu.
“That is,” katanya seraya menunjuk sendalku seakan-akan benda itu begitu menyinggungnya, “some look.”
Aku mengamati setelan kerja yang kupakai; blazer dan celana panjang berwarna navy yang kupadukan dengan kemeja satin putih, lalu sendal jepitku. Well ... pada dasarnya memang bukan pasangan yang tepat, sih, but who cares?
Aku hanya mengedikkan bahu. “Buat kamu, yang terbiasa dengan wanita-wanita sosialita pengguna barang-barang mahal dan selalu matching, mungkin tampilan aku sedikit agak gila. Tapi, bagi aku why not? It's practical. And honestly, this is me. A weirdo but me nonetheless.” Aku tak membiarkan Alex berkomentar sebelum mengambil langkah memasuki taman. “Let’s go.”
Pohon-pohon pinus menjulang, rapat, membuat sinar matahari sore malu-malu mengintip dari balik daun-daunnya yang saling menjangkau. Udara di dataran tinggi menambah dinginnya suhu di kawasan itu. Aku mengajak Alex berkeliling, menikmati taman bunga, tempat bermain, spot-spot yang dibuat khusus untuk berfoto ria.
Pria yang menggendong kamera canggih itu seketika sibuk membidikkan kamera, memilih objek yang dirasanya menarik untuk dibekukan. “This place is incredible.” Dia memuji dari balik lensa.
Kawasan hutan pinus dengan danau yang bisa dilihat dari tebingnya saja sudah sangat bagus, apalagi didukung oleh sarana dan prasarana serta pemeliharaan yang baik. I believe that’s why tempat ini dikunjungi dan disukai banyak orang.
Aku berjalan menuju salah satu kursi di tepi tebing dan duduk. Aku menghirup napas dalam-dalam. It’s nice to have a few moments for myself and just relax. Aku mengambil satu foto landscape dan mengunggahnya ke akun Instagram-ku dengan caption yang sama.
Sebuah seruan "Hey, Kay!" terdengar dari arah belakang dan sekonyong-konyongnya aku berbalik. Aku dihadapkan pada lensa kamera Alex. Cekrek!
Butuh beberapa detik untuk mengerti soal apa yang baru saja terjadi. Alexander Rahardjo baru saja mengambil gambarku. Tanpa. Izin.
“And I think you should delete the pict you just take, Mr. Alex, because I believe you have no permission for that.” Aku memperingatkannya sembari mengernyitkan hidung.
“Why so serious, Miss Tour Guide wanna be?” Alex balas tersenyum sambil menurunkan lensa. Dia mempunyai keberanian unntuk menggodaku. Kemudian dia berjalan ke arah berlawanan dan kembali sibuk dengan dunianya, meninggalkan aku yang menggeleng-gelengkan kepala karena tingkahnya.
Has he lost his mind somewhere here?
Beberapa waktu berselang, Alex belum juga kembali. Haus, aku menuju food court yang terletak tepat di tengah-tengah kawasan dan memesan saru hot chocolate dan satu hot americano. Lalu aku mengirim sebuah pesan pada Alex.
Me: Food court
Me : Come find me when you’re done
__ADS_1
Kuletakkan posel di atas meja dan kembali menikmati suasana.
“Aku boleh ikut gabung?” Tiba-tiba satu suara asing mengejutkanku. Mataku bersirobok dengan seorang pria muda yang sudah berdiri di dekat meja. Setelah dilihat lekat-lekat dan memutar otak, aku tetap tidak bisa mengingat apa-apa tentang pria yang kini duduk di sebelahku tanpa izin. Siapa?
“Kamu Kayra Salim, kan? Masa kamu udah enggak ingat lagi sama aku?”
Kagok, aku hanya tersenyum kaku. Siapa, ya, dia?
Pria itu kalakian mengulurkan tangannya. “Aku Raldo, dulu kita sekelas waktu kelas dua SMP.”
Aku membalas uluran tangan pria itu, menjabatnya ringan, hanya untuk bersikap sopan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Hanya ada dua pasang pengunjung lain, masih remaja pula, yang duduk di pojok ruangan dan sibuk dengan dunia masing-masing. Dang it! “Hai, Raldo. Maaf, ya, aku agak lupa. Soalnya kamu beda banget sekarang.” Aku sengaja menambahkan komentar seperti itu karena rasanya terlalu tidak enak untuk dengan gamblang mengatakan bahwa kau tidak ingat dengan seseorang sama sekali. Kalimat embel-embel di belakangnya berfungsi sebagai hal yang kuharap dapat mengurangi efek dari ketidaktahuanku.
Pria bernama Raldo itu pun tertawa. “Benarkah?” Dia bertanya sembari berlagak merapikan kemeja yang dipakainya.
Okaaay. Bahasa tubuhnya mengatakan kalau dia agak ... belagu.
Lambat-lambat ingatanku muncul, dan oh! Dia adalah anak laki-laki yang sering menggangguku sejak awal tahun ajaran. Menyembunyikan buku pelajaran, meminjam alat tulis tanpa pernah mengembalikannya, meledek, dan hal-hal lain yang ternyata dilakukan untuk menarik perhatianku. Aku mengetahuinya setelah dia menembakku dua bulan kemudian. Kutolak, dan Raldo tidak pernah menyapaku sampai kami naik kelas tiga.
Kami tidak pernah bertemu lagi setelah itu and ... here we are now. More than a decade later.
“Kamu udah enggak tinggal di sini lagi, ya?” Raldo meletakkan siku kanan di atas pegangan kursi dan menopang dagunya.
“Wah, keren, ya, kamu, Kay. Sekarang berarti kamu tinggal di mana, nih? Gak kayak aku, mah, yang masih di sini-sini aja.” Raldo kemudian menurunkan tangannya hanya untuk mencondongkan tubuhnya ke arahku.
Ever heard about personal space, buddy?
I guess never.
So, karena kesimpulan yang aku buat sendiri di dalam pikiranku, aku memilih untuk berdiri. Perasaan tidak nyaman mulai berubah menjadi was-was. “Sorry, Do. Aku pergi dulu, ya.”
Namun, Raldo malah ikut-ikutan berdiri dan kini dengan beraninya memegang lenganku. “Ngapain buru -buru, Kayra? Mau ke mana kamu emangnya? Kita bisa ngobrol-ngobrol dulu lah. Hitung-hitung nostalgia.”
What in the actual hell is he in right now? Sudahlah tidak mengenal personal space, dia juga sepertinya tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya sudah termasuk harassment dan dia bisa kujebloskan ke penjara karena ini saja.
Rasa marah, tidak menyangka, dan was-was bercampur aduk di dalam kepalaku sekarang. Aku berusaha untuk melepaskan tanganku dari genggamannya, akan tetapi upayaku tak berbuah. Bukannya mengendur, cengkeraman Raldo malah semakin erat. Bahkan kini dia berusaha menarikku untuk kembali duduk.
Aku terpaksa menurut. Campuran perasaan tadi kini berubah menjadi takut dan seketika ketakutan itu membanjiri aliran darah dan merajai aku. "Oh, God. Help!" teriakku dalam hati.
__ADS_1
Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut dan berteriak di dalam hati.
“Nah, gitu dong," ujar Raldo semringah. Dia akhirnya mengendurkan cengkeramannya. Namun, tindakannya tidak sampai di situ. Pria lancang di depanku kemudian mengelus lenganku dengan ibu jarinya.
Aku tidak tahu apakah dia bisa melihat ekspresiku dan memilih untuk tidak mempedulikannya, atau tidak dan dia benar-benar seorang predator. Yang jelas ada yang tidak beres dengan pria ini.
Dan aku semakin takut.
Help me, help me, help me, help me, help me, help me, somebody help me, please! GOD!
“Babe?”
Kelegaan tiba-tiba saja menyelimutiku ketika aku mendengar suaranya yang familier. Tidak lama setelah itu, aku melihat Alex berjalan menuju ke arah kami. Dia pasti bisa membaca situasi, ekspresi, apa pun yang ada, makanya dia memanggilku dengan panggilan seperti itu.
Aku juga harus mengikutinya agar bisa lepas dari Raldo. “Hey.” Aku berdiri, menarik tanganku yang kini terlepas dengan mudah, dan berjalan cepat menyongsong Alex yang mengulurkan tangannya padaku.
“Kamu udah selesai?” Alex mengamatiku dan Raldo bergantian, ekspresinya semakin lama semakin serius.
“Yup.” Aku langsung masuk ke pelukan yang ditawarkan Alex. Dia lantas saja merangkul dan mencium rambutku. “You good?” bisiknya tepat di telingaku.
Aku menghirup napas dalam sekali. Dan sekali lagi. Lalu mengangguk sekilas sebelum melepaskan pelukan Alex.
“Maafin aku karena bikin kamu nunggu sendirian di sini,” katanya sambil menusuk Raldo dengan tatapannya yang tajam.
“No, it’s okay. Lagian aku juga ketemu teman SMP aku, Raldo.” Aku mengayunkan tangan sekenanya ke arah Raldo.
“Teman sekelas kamu?” tanya Alex dingin sambil terus menatap Raldo. “Hi.” Dia mengulurkan tangan, yang dijabat Raldo dengan setengah hati. Namun, aku bisa melihat Alex meremas tangan Raldo dengan sepenuh hatinya.
“Oi!” teriak Raldo.
Barulah Alex kemudian melepaskan tangan pria itu sambil tersenyum penuh dendam.
Raldo meringis sambil mengibas-ngibaskan tangannya, kesakitan.
“Lex, can we go? Now?” pintaku, tiba-tiba saja merasa sangat lelah dan ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.
Alex mengamati wajahku dan mengangguk. “Sure, babe.” Dia kemudian merangkulku lagi. “Nice to meet you, man,” ucapnya pada Raldo yang masih kesakitan. Kami pun berbalik, meninggalkan Raldo dan minuman kami di atas meja. “Fucker, ” desis Alex.
__ADS_1
To be continued ....