
Selesai briefing, aku langsung menuju ke ruang kerja. Aku berencana menghubungi Roni untuk
mengetahui bagaimana perkembangan beberapa hal yang seharusnya sudah selesai hari ini. Namun, sebelum aku bisa melakukan hal itu, ponselku sudah berdenting terlebih dahulu. Nama Alex muncul di notifikasi yang mengambang di layar ponselku.
Alex : aku jemput kamu sebelum jam dua belas ya
Alex : sebelum ketemu sama orang kantor kita makan dulu
Alex : aku tahu tempat makan siang yang enak
Aku menggeleng. Sebagai seorang pemuda dengan badan yang atletis, aku tidak menyangka kalau selera makan Alex sangat, sangat, sangat besar. Aku tidak bisa membayangkan sebanyak apa waktu yang harus dikeluarkannya untuk nge-gym demi membayar semua utangnya pada kalori yang dikonsumsi. Aku tahu Bang Rian "membuang" banyak waktu di fitness center langganannya. Aku yakin Alex juga begitu. Mereka tak jauh berbeda.
Ya, Tuhan. Kenapa mereka mau menyiksa diri sendiri seperti itu, sih?
Demi, Kayra, demiiiii.
Ugh. Aku segera membalas pesan dari Alex tersebut hanya dengan sebuah "ok" yang diikuti dengan emoji ibu jari yang sedang diacungkan.
Kami akan mengadakan pertemuan dengan Mr. Rahardjo dan seorang arsitek yang telah ditunjuk oleh perusahaan nereka untuk project cabang yayasan ini siang nanti. Sebenarnya dia tidak perlu menjemput aku karena pertemuan itu akan diadakan di kantornya, akan tetapi entah kenapa dia bersikeras untuk makan siang bersama terlebih dahulu.
Aku hanya bisa menggeleng menghadapi tingkah lelaki itu. Ke-absurd-an kelakuannya mengingatkan aku pada apa yang dia katakan dua hari yang lalu.
Kay, aku suka sama kamu.
Bagaimana bisa dia menyatakan kalau dia suka sama aku setelah beberapa kali bertemu? Namun ....
Pembicaraan dengan Bang Rian sedikit banyaknya sudah membuka mataku bahwa aku tidak bisa main-main saat bertekad untuk bebas dari rasa sakit masa lalu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mempermainkan
hatiku lagi. Pun aku tidak akan membiarkan apa yang terjadi di masa lalu mengontrol apa yang terjadi hari ini dan yang akan kulalui nanti.
....
"By the way, aku akan tetap jawab. No. Aku gak pernah melakukan ini sama cewek lain selain kamu. Kamu pikir aku juga tidak terkejut dengan keberanian dan keputusan yang diambil sepihak oleh hati aku sekarang? Terkejut. Banget malah. But, aku pernah bertemu dengan seseorang yang so freaking awesome. Dia bilang gini; when you know, you know."
What?
"So this is me knowing."
Oh, my God. How can I say no to ... that?
Hening meraja lagi.
__ADS_1
Kugunakan kesempatan itu untuk memutar apa yang telah Alex ucapkan sebentar ini di dalam kepalaku. Berulang-ulang kali. Hingga sebuah keputusan, atau yang lebih tepat disebut dengan sebuah penawaran, terbentuk di sana. “Oke." Aku mengangguk dalam. Kutatap matanya lekat-lekat. "Kalau kamu berani melakukan itu, bilang di depan semua keluarga aku, that is, aku janji jawaban dari pertanyaan kamu nanti adalah ... iya."
Kulihat mata Alex membesar. Bukan karena marah, akan tetapi karena terkejut akan jawaban yang aku berikan. "Apa? Maksud kamu?" Kali ini ternyata aku yang berhasil membuatnya ternganga.
"Iya. Itu akan jadi jawaban buat pertanyaan yang akan kamu ajukan nanti ke aku, Lex. Aku rasa aku mengerti soal apa yang kamu coba sampaikan, ke mana arah pembicaraan ini. Kalau pemikiran kita sama, maka kamu juga akan tahu apa arti dari jawaban yang aku berikan." Keseriusan masih mengudara. Aku yakin kata-
kataku tadi akan menjadi batu sandungan paling besar baginya kalau dia bermaksud
bermain-main denganku.
Beberapa kala berlalu sebelum Alex mengulurkan jari kelingking kanannya ke arahku. "Promise me," ucapnya di kalakian. "Janji sama aku kamu bakalan benar-benar jawab gitu kalau sudah tiba waktunya, ya."
Bukan "kalau", Lex, akan tetapi "jika". Jika itu terjadi. Aku tersenyum, baik di bibir maupun di dalam hati. “You have my words.” Lalu, jari-jemari kami pun bertaut.
....
Apa susahnya meng-iya-kan, bukan? Lagi pula, entah kapan saat "tiba waktunya" yang dimaksud Alex tersebut akan terjadi. Mungkin malah tidak akan pernah terjadi. Ah, sudahlah.
Aku kembali melanjutkan pekerjaan. Sebenarnya, kegiatan selama dua minggu ini berjalan dengan baik karena kami memiliki tim yang sangat profesional. Aku hanya harus mengecek lagi beberapa hal untuk formalitas saja. Saat sedang asyik memeriksa berkas, ponselku berbunyi lagi, kali ini notifikasi chat
Teletubbies. Ah, rasanya sudah lama sekali tidak mengobrol dengan mereka.
Lulu : Dress-nya udah jadi, ibu-ibu?
Terdengar dering notifikasi lagi. Danagi. Dan lagi. Yang lain tidak sedang sibuk ternyata.
Mimi : masih ada banyak waktu, Non.
Wide : Aku udah antar ke penjahit langganan dong
Anggre : nanti aja. Kalau jahit sekarang nanti takut engga muat pas hari H nya
Lulu : jangan pada bikin bete deh
Me : hahaha
Aku tidak dapat menahan tawa, bahkan di dalam pesan pun. Lulu memang terkenal dengan ke-short temper-annya. Baru digoda begitu saja dia sudah mulai terbakar.
Me : dah ah, jangan pada isengin Lulu
Me : masih ada tiga bulan lagi, Luuu
__ADS_1
Me : we’ll be ready when we’re ready
Me : yang penting jangan lupa kirim foto gaun kamu yaa
Lulu : thanks Kakay cantik
Lulu : yang lain pada ngeselin
Lulu : cuma kamu yang ngertiin perasaan aku
Jiah. Sikap melodramatisnya kambuh lagi. Sikap ini menjadi semakin buruk seiring dengan semakin dekatnya hari pernikahan dia.
Lulu : oke oke
Lulu : yang penting semuanya harus siap tepat waktu ya
Lulu : awas kalau ada yang niat bercandain aku
Lulu : ngeprank aku
Lulu : aku bakal beneran ngambek
Lulu : ngerti kalian?
Duh, duh, duh. Sensi banget, sih, ini cewek satu?
Wide : tenang aja, calon pengantin
Wide : kita mana berani ngerjain kamu di waktu kayak giniii
Wide : cantik-cantik gini kita gak begitu evil kok
Wide : ya kan, guys?
Sialan si Wide.
Aku menutup aplikasi chatting tersebut dan membuat catatan di dalam kepala untuk segera memeriksa koperku sesampai di rumah. Setelah sampai, aku benar-benar harus langsung memeriksanya.
Cilaka dua belas kalau sampai aku lupa membawa paket pendamping wanita dari si Lulu. Apalagi kalau sampai dia tahu. Bukan masalah besar sebenarnya, akan tetapi aku sedang tidak ingin mencari masalah dengan siapa pun saat ini.
Dan, dengan demikian, pekerjaan kembali menyita perhatian.
__ADS_1
To be continued ....