Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
51. I Think I Love You


__ADS_3

Genta sudah tertidur saat dalam perjalanan kembali dari rumah makan dan Uni Cya langsung memindahkannya ke tempat tidur. Sementara itu kami kembali berkumpul di ruang tengah untuk melanjutkan obrolan. Kaum laki-laki sibuk bertukar pandangan soal isu hangat di Indonesia sekarang ini, sedangkan kami, kaum wanita, disibukkan dengan membahas gaun yang aku pakai di pesta pernikahan Lulu kemarin. Aku bahkan tidak lupa untuk memamerkan foto-foto yang sudah diambil oleh Mas Yudhi jauh-jauh hari. Mama dan Uni Cya gantian ber-ooh dan aah ria saat melihat foto-foto itu.


“Kayra cantik banget pake gaun itu kan, Ma? Pas aku lihat dia di nikahannya Lulu, aku rasa dia yang mau nikah. Bukan temannya.” Bang Ruan tiba-tiba saja sudah duduk di samping Mama.


Komentar itu membuatku sadar diri dan sadar akan keadaan sekitar. Saat aku melihat ke sekeliling, benar saja. Papa, Bang Juni dan Alex yang tadi sibuk membahas politik sekarang malah memusatkan perhatian mereka ke arahku. Lagi dan lagi, seperti yang sudah terjadi sekitar satu juta dua ratus tujuh puluh lima ribu empat ratus empat puluh empat kali yang lalu, Bang Rian selalu berhasil membuatku malu dengan hal-hal yang dilakukannya.


“Apaan sih, Abang.” Aku memukul kepala Bang Rian dengan bantal kursi yang sedari tadi kupangku. Namun, hal itu malah membuat tawanya semakin menjadi-jadi.


“Udah ah, Rian! Kamu bikin adikmu malu itu.” Mama menengahi kami. “Eh, tapi," tambah wanita yang sudah melahirkan kami lagi, "abangmu bener juga loh, Kay. Kamu cantik banget pake gaun ini.” Mama tersenyum dengan penuh rasa bangga.

__ADS_1


Aku menyurukkan wajah dan memeluk Mama yang duduk di sebelahku. Beberapa kekehan dapat kudengar saat aku melakukan hal itu.


“Hm, Om, Tante, aku boleh minta waktu sebentar?”


Suara Alex membikin perhatian kami terarah padanga. Dia di kalakian membersihkan tenggorokan dan memperbaiki posisi duduk. Dia menggeser tubuhnya ke tepi sofa dan menegakkan punggung. Kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha. Dia kembali berdeham.


“Silakan, Alex.” Papa menjawab dengan santai. “Apa ada yang mau kamu katakan?”


Diembuskannya napas panjang dengan perlahan. Tak berapa lama, kegugupan yang dirasa oleh pemuda itu lenyap dari raut wajahnya. His calm and collected self is back. Dia sudah merasa yakin dan percaya diri lagi. Alex tidak merasa terlalu tegang lagi jika dilihat dari poatur tubuhnya sekarang. Punggungnya tidak selurus dan sekaku tadi. “Iya, Om,” sahutnya sembari mengangguk.

__ADS_1


Alex mengedarkan pandangannya, akan tetapi entah kenapa aku merasa dia dengan sengaja melampaui mataku. Tatapannya berakhir kembali di mata Papa. Dia lalu menatap Papa dan Mama bergantian.


What in the ever loving fudge? Apa yang sedang dia coba lakukan? Apa yang sedang si Alexander Rahardjo ini rencanakan?


“Saya minta maaf sebelumnya, Om, Tante, jika saya lancang, tapi ... I think I love you, Kayra Salim.”


Engg, what? What is he talking about? Apa aku tidak salah dengar? Alex bilang apa barusan? Dia serius atau sedang bercanda, sih? Kamu bilang apa, Lex?


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2