
Sayangnya aku tidak dapat menghindari Alex di atas pesawat karena tempat duduk kami yang bersebelahan.
"Why, Kay?"
"Apanya yang kenapa?" sahutku. Aku masih saja pura-pura tidak mengerti dengan apa yang menjadi pokok pembicaraannya.
"Kenapa kamu gak jawab pertanyaan aku?"
"Karena aku gak mau."
Hening. Seketika keheningan menyelimuti kami lagi, sampai terdengar suara pilot di speaker interkom pesawat. "Selamat sore, para penumpang yang terhormat. Selamat datang di penerbangan QG-959 dengan tujuan Jakarta. Penerbangan ke Jakarta akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam dan empat puluh lima menit, dengan perkiraan kedatangan di Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma pukul tujuh belas nol nol Waktu Indonesia bagian Barat. Perlu kami sampaikan bahwa penerbangan QG-959 ini adalah penerbangan tanpa asap rokok. Sebelum lepas landas kami persilakan kepada Anda untuk menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka di hadapan Anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela. Atas nama kapten dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini. Dan terima kasih atas pilihan Anda untuk terbang bersama Citilink. Selamat sore."
Please, please, please. Pengumumannya jangan selesai dulu. Please, Pak Kapten. Ngomong lagi, dong. Ayo, ngomong lagi. Ngomong aja terus sampai akhir penerbangan biar aku punya alasan untuk menghindari pertanyaan Alex. Please, please, please.
Namun, tidak harapan namanya kalau selalu sejalan dengan kenyataan. Pengumuman selesai. Keheningan kembali melingkupi aku dan pemuda itu. Aku tidak pernah suka suasana saat pesawat akan melakukan take-off. Apalagi sekarang aku harus menghadapi ketidaknyamanan ini dengan pengamatan dari dia.
Situasinya menjadi semakin tidak nyaman.
Aku tidak sadar kalau tanganku sudah mencengkeram sandaran kursi dengan begitu erat sampai tangan Alex mencoba untuk melepaskan satu per satu jariku dari situ. Kemudian dia menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jariku. Masih dirundung perasaan yang tak karuan, aku hanya bisa ternganga memandang jari-jemari kami yang bertaut. Tanganku terlihat sangat kecil di dalam genggaman tangannya yang jauh lebih besar dan maskulin.
Setelah lampu tanda seat belt padam, aku baru bisa bernapas dengan lebih lapang. Kembuskan napas panjang sembari menarik kembali tanganku dari cengkeraman Alex. Segera kukepalkan kedua tanganku satu sama lain di atas pangkuan dan memusatkan pandangan pada buku-buku yang memutih.
"Are you afraid of flying?"
Aku berdeham dan menggeleng dengan canggung. "Enggak. Aku gak takut naik pesawat, kok. Cuma nervous aja pas take-off." Aku lagi-lagi berdeham.
"Kenapa?"
"Huh?"
"Apa yang bikin kamu nervous pas lagi take-off?" Alex bertanya lagi.
"Oh, itu. Hm. Aku ... aku cuma gak suka aja. Gak tahu kenapa," jawabku sekenanya. Kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak terlalu suka perasaan yang ditimbulkan saat pesawat melaju dengan kencang lalu sedikit menukik untuk mulai terbang. "Aku ... aku rasa aku hanya ... gamang," tambahku setelah itu.
__ADS_1
"Ah ... iya." Alex mengangguk-angguk. "Kalau dipikir-pikir lagi memang, sih. Tapi, sekarang udah enggak apa-apa lagi, kan, kamunya?"
"Eh? Enggak. Enggak, kok. Udah gak apa-apa. By the way .... Eng ... thanks, Lex. And, sorry. Eh."
"It's okay." Alex berdeham. "It's okay."
Suasana hening lagi. Suasana menjadi tidak nyaman lagi.
Aku .... Aku tidak menyukai suasana seperti ini bersama lelaki yang duduk di sebelahku. Rasanya, kefamilieran yang sudah kurasakan selama kurang lebih sepuluh hari belakangan terhapus hanya karena pertanyaan Alex dan keenggananku untuk menjawab. Aku ... aku rada tidak rela bila itu terjadi.
Hm.
Aku tidak tahu kenapa, yang jelas aku tidak ingin pertemananku dengan Andrew renggang cuma karena ... trauma yang disebabkan oleh Harris dan Che. Lagian, abang-abangku sudah bilang kalau tidak semua lelaki itu sama. Mereka contohnya. Aku juga tidak ingin membiarkan kedua lelaki berengsek itu mengacaukan pandanganku terhadap pria lain.
Aku memang harus membuka mata lebar-lebar. Aku memang harus berhati-hati. Namun, berhati-hati tidak berarti membatasi diri, bukan? Aku masih bisa berteman dengan siapa saja.
Iya, teman. Pasti Alex hanya ingin berteman dang berhubungan baik dengan rekan kerjanya. Ditambah lagi kini dia telah bisa dikatakan menjadi salah seorang sahabat dari salah satu abangku.
Dengan alasan inilah akhirnya aku mau menjawab pertanyaan yang sudah dari tadi diajukan pemuda itu. "Aku ... aku sebelumnya pernah punya pengalaman buruk sama laki-laki. Jadi ... ya, gitu, deh."
Aku bisa mendengar nada terkejut di dalam suara Alex. Sudah pasti lah, karena tiba-tiba saja aku menodongkan jawaban ini padanya. Aku diam ketika diminta, sekarang malah bersuara lagi saat dia mungkin sudah menyerah untuk mendapatkan jawaban.
"Yeah. Bukan sesuatu yang ingin aku bahas secara detail. Intinya, mungkin kamu bisa tebak sendiri. Dia banyak bikin janji sama aku, bikin aku percaya sama omongannya dia. Akan tetapi, pada akhirnya janji-janji itu malah jadi belati yang melukai hati aku sendiri. Karena janji tinggal janji, dia pergi dengan cewek lain." Aku mengedikkan bahu, berusaha terlihat tidak terlalu terpengaruh oleh ceritaku sendiri. Namun, siapa yang ingin kubohongi? Di ulu hatiku masih ada rasa nyelekit meski tinggal sedikit.
Setelah mengembuskan napas, aku baru memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Saat mataku bertemu dengan mata Alex, kini aku yang dikejutkan oleh apa-apa yang ada di wajah itu. Dahinya mengernyit, mulutnya tertutup dengan rahang yang terkunci. Mata yang tadinya jernih, terang, kini penuh dengan bayang-bayang. Gelap.
Ekspresinya mengundang tanda tanya dari dalam diriku. "What's wrong?"
Cuping hidungnya kembang kempis saat dia mengeluarkan napas dengan keras. Butuh dua sampai lima detik setelah itu baginya untuk membuka suara. "Son of a *****." Sebuah rutukan kabur dari sela-sela giginya yang terkatup rapat.
Aku tidak bisa menahan gelak. "Wee, santai aja keles. Gak usah emosi gitu."
Hidungnya masih saja mengembang lalu mengempis. "How can I not?" katanya lagi. Geramannya semakin dalam dan terdengar semakin berbahaya sekarang.
__ADS_1
Tanggapan Alex membuatku bingung lagi. "Kamu kenapa, sih, Lex? Tiba-tiba aja, kok bisa jadi sangar gini?"
Dia lalu menghirup napas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Wangi peppermint dari permen yang menjadi favoritnya menyapa hidungku. Alex melakukan hal itu sekali lagi. "Cowok yang selingkuh itu sama aja sama banci!" geramnya. "Sekarang aku jadi ngerti apa yang kalian bahas malam itu."
Wait, what? Apa yang barusan dia bilang? "Maksud kamu apa, Lex?"
Alex menghabiskan beberapa saat dengan hanya menatap mataku salam diam. Seperti dia sedang mencoba menyelam ke dalam kepalaku dan melihat bagaimana suasana hatiku melalui manik-manik cokelatku itu. Atau dia sedang menduga-duga soal reaksiku. Atau .... Entahlah. Yang jelas, dia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Lex!" Bukan Kayra Salim namanya jika dia tahan-tahan saja dibungkus dengan rasa penasaran. Untung saja kami mengambil penerbangan kelas bisnis, jadi jarak antara tempat duduk tidak terlalu dekat. Resiko percakapan kami dicuri dengar oleh penumpang lain menjadi lebih kecil. Lagian, sepertinya penumpang-penumpang lain yang sebagian besar adalah bapak-bapak tidak mempedulikan kami.
"Okay, okay. Aku bakal jelasin." Alex akhirnya menyahut.
"Jelasin apa?"
Pipinya membalon sebelum ia mengembuskan napas panjang. "Malam itu, aku dengar percakapan kamu sama Rian. Aku–"
"Kamu nguping?" Aku memotong.
"No!" bantahnya cepat. "Aku mau nyariin kamu aja karena aku gak lihat kamu di dalam rumah. Lagian yang lain udah pada masuk kamar, makanya aku nyariin kamu biar ada temannya. Tapi, pas sampai di taman, aku ngelihat kamu sama Rian."
Oh, ****.
"Awalnya aku mau ikut gabung karena kalian kelihatannya lagi asik banget mandangin langit. Tapi, pas udah agak dekat, aku baru bisa dengar getaran di suara kamu. Otak aku bilang kalau aku harus balik kanan dan biarin kalian ngobrol soal yang jelas-jelas private banget. Tapi, ya, gitu. Kaki aku tiba-tiba kaku aja di situ. Di balik pot beringin hias mama kamu yang gedenya ampun-ampunan itu. So, yeah."
Oh, ****. Oh, ****. Oh, ****.
Aku ingin marah karena bisa dibilang Alex sudah mencuri dengar percakapan pribadiku. Serius. Aku ingin meninjunya, menghantam tubuhnya, berteriak padanya karena sudah mendengarkan pengakuan bodohku. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, rasanya capek untuk marah-marah terus. Rasanya terlalu lelah untuk menyimpan rasa itu sendiri. Aku kembali mengulang apa-apa saja yang dikatakan Bang Rian.
Abaikan rasa sakitnya atau kau tidak akan pernah bisa bahagia.
Aku ingin bahagia. Aku ingin bahagia.
Jadi aku memutuskan untuk melepas semua rasa sakit itu, atau membaginya dengan Alex, dan mulai mencoba untuk menikmati hari ini tanpa harus lari lagi dari rasa yang pernah ada. Kuterima semua rasa sakit yang pernah tercipta.
__ADS_1
"I'm so sorry, Kay. Aku paham kalau kamu marah besar sama aku. But, you know what? I'm glad I did it. Aku senang bisa mengetahui gimana perasaan kamu yang sebenarnya soal itu. Apa yang pernah kamu alami. Jadi ... jadi aku bisa belajar dan tidak bersikap bodoh seperti mereka juga. Eh, maksud aku, jadi aku bisa paham kamu orangnya gimana. Setelah kamu jelaskan alasan kamu ragu sama janji aku, yang ada hubungannya dengan kisah kamu sebelum ini, aku jadi mengerti semuanya." Alex mengambil kedua tanganku untuk menggenggamnya lagi. "Kay, aku suka sama kamu."
To be continued ....