
Pada hari Senin aku dan Roni mengurus izin ke kantor pemerintahan. Setelah melengkapi persyaratan, petugas yang berwenang memberi tahu bahwa izin akan dikeluarkan dinas dalam waktu empat belas hari kerja. Begitu urusan perizinan selesai, kami kemudian bertemu dengan pemilik tanah yang akan menjual tanahnya untuk pembangunan cabang yayasan. Bapak Ramli, si penjual, memberitahu kami bahwa beliau tidak akan mau menjual tanah tersebut jika bukan untuk kepentingan kemanusiaan. Beliau berharap cabang yayasan nantinya bisa membantu anak-anak sekitar untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik.
Sampai di rumah, aku mengirim beberapa email kepada Tante Meli, melaporkan beberapa hal yang telah selesai, yang sedang diurus, atau yang akan diselesaikan dalam beberapa hari keberadaanku di sini. Tante Meli membalas email-ku dengan memberitahukan bahwa urusan pembebasan lahan perlu ditangani langsung oleh Alex karena RS Grup meminta diberikan tanggung jawab penuh soal pembangunan gedung. Berarti urusan kami hampir selesai di sini. Perekrutan pengurus yayasan dan pendataan anak-anak yang akan dibantu aku serahkan kepada Roni dan teman-teman yang lain.
So far so good.
Great job, Kayra. Aku memberi semangat pada diriku sendiri.
Beep. Beep. Beep. Sebuah pesan masuk ditangkap oleh telinga.
Alex : Kay, your hometown is rock!
Dia lalu mengirimkan emoji bergambar tangan rock n roll.
Alex : I’m sorry I can’t help you today
Alex : see you this evening
Aku tergelak membayangkan Alex yang kegirangan ketika mengelilingi dua kota cantik di Sumatera Barat sambil menggendong kamera super canggihnya. Dia pasti jenuh dengan pekerjaan yang memakan banyak waktunya untuk bersenang-senang. Aku tahu aku akan begitu.
Aku segera mengetik pesan balasan.
Me : It’s OK, you’re the boss
Me : just enjoy it while you can
Me : soalnya besok kita mau ketemu penjual tanah untuk urus pembebasan lahan
__ADS_1
****
Aku tidak mengetahui jam berapa Bang Rian dan Alex kembali dari perjalanan bersenang-senang mereka. Yang jelas, saat aku ke luar untuk sarapan keesokan paginya, aku sudah mendapati dua orang pria itu duduk di meja makan dengan wajah yang sedikit kuyu.
Hm. Aku rasa mereka sampai di rumah lewat tengah malam. Namun, aku bisa melihat kalau kekuyuan wajah mereka berbanding terbalik dengan binar yang terpancar dari titik mata keduanya. Apalagi mata si Alex.
Well, aku merasa senang sekali mengamati bola mata dengan warna cantik itu. Biru laut. Biru yang mengingatkan aku pada kesenangan di pantai dan membuat aku ingin menyelam ke dalamnya.
Ah, ada-ada saja.
“Kamu kelihatannya capek banget, Lex. Kalau kamu mau aku bisa atur ulang jadwal ketemu sama Bapak Ramli jadi besok.” Aku menoleh pada Alex yang kini sedang duduk di kursi samping pengemudi. Kami sedang di jalan menuju ke rumah Roni untuk menjemputnya.
Dia terlihat mengantuk setelah selesai menceritakan perjalanannya kemarin. Bang Rian ternyata juga mengantarnya berkeliling Danau Singkarak dan mencari ikan khas danau itu bersama beberapa orang pemuda penduduk sekitar karena Alex memaksa. “Enggak, ah. Gak apa-apa, aku cuma ngantuk aja. Tapi, gak apa-apa, kan, kalau aku tidur dulu sementara kamu nyetir? Habis itu kita bisa stop di salah satu SPBU di dekat rumahnya Pak Ramli. Aku bakal beres-beres di sana,” pinta Alex sebelum menguap dengan lebar.
Aku menggeleng dan tersenyum. “Okay. Kalau itu mau kamu.”
"Thanks, Kay. You're the best." Alex serta-merta merendahkan sandaran jok untuk mencari posisi nyaman dan tertidur dalam beberapa detik.
Dasar.
Setelah emosi yang membabi buta yang sebelumnya menutup mataku terangkat, aku mulai melihat persamaan di antara kami. Selain memang berdedikasi tinggi, dia ternyata juga sama keras kepalanya dengan aku.
Ckck. Hey, Pot. Meet kettle.
****
Aku harus memberikan kode kepada Roni untuk tidak berisik saat dia naik dan menutup pintu mobil dengan lambat. Melihat Alex yang pulas, Roni hanya bisa menggeleng.
__ADS_1
Kami pun sampai di pom bensin dekat rumah Bapak Ramli dan Alex belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Melihat tidurnya yang lelap, aku tidak sampai hati untuk membangunkan dia. Akhirnya, aku dan Roni sepakat untuk langsung menuju ke rumah Bapak Ramli tanpa mengganggu Alex.
Mungkin dia akan marah, mungkin juga tidak. Namun, aku tidak akan memaksanya bangun dari nyenyaknya. Dia lebih membutuhkan waktu untuk beristirahat. Lagipula, mungkin bukan sesuatu yang baik jika Pak Ramli harus bertemu perwakilan perusahaan sebesar RS Grup dengan tampang kusut penuh kerut yang tidak enak dilihat dan sikap yang super duper cranky.
Nope. No. Kedengarannya saja sudah sangat tidak mengenakkan.
Kami sampai di rumah itu dan segera turun dari mobil, meninggalkan Alex yang masih meringkuk dalam dunia mimpi. Thank God ada pohon rindang di halaman rumah Pak Ramli sehingga aku dapat memarkir mobil di bawahnya. Aku juga sengaja untuk tidak mematikan mesin agar AC mobil dapat terus menyala.
Duh, duh, duh. Alex, Alex.
****
Mungkin memang sudah garis tangan Alex untuk menangani masalah ini secara langsung karena ternyata Bapak Ramli punya urusan keluarga mendadak. Menantu yang tinggal bersama beliau tadi malam diantar ke rumah bersalin untuk melahirkan cucu pertama keluarga besar Ramli. Beliau dan istri baru saja selesai bersiap dan akan berangkat untuk melihat cucunya yang baru lahir ketika kami datang.
“Duh, minta maaf sekali ya, Nak Roni, Kayra. Urusannya kita selesaikan besok saja, tidak apa-apa, ya? Saya bukannya mau mengelak, tapi saya harus ke rumah sakit sekarang. Saya harap kalian berdua mengerti.” Bapak Ramli memberikan penjelasan sambil menunggu istrinya selesai mengemas keperluan menantunya tersebut.
“Iya, Pak, kami mengerti,” jawab Roni. “Kalau begitu kami permisi dulu, Pak. Kami akan kembali lagi besok. Atau sebaiknya kami pikir kami akan menunggu konfirmasi dari Bapak saja terlebih dahulu. Bukankan begitu, Pak?”
"Ah, iya, iya, iya," sahut Pak Ramli saat menjabat tangan kami satu persatu. "Begitu juga lebih baik. Biar kalian tidak susah-susah ke sini seperti sekarang ini." Bapak berusia enam puluh tahunan tiu tergelak dengan kecanggungan yang lumayan kentara.
"Tidak susah, kok, Pak." Aku membantah. "Ngomong-ngomong, selamat atas kelahiran cucu pertama keluarga Bapak. Semoga Ibu dan Baby selalu sehat."
"Terima kasih banyak, Nak Kayra."
Ketika itu aku melihat Ibu Ratna mendekat ke arah kami di ruang tamu dengan membawa sebuah tas kain bermotif binatang lucu dengan warna yang meriah. "Sama-sama, Pak. Kalau begitu, kami permisi dulu. Sekali lagi selamat, Pak, Bu. Permisi."
Sampai di mobil, Alex masih saja tertidur dengan pulas. Aku dan Roni tergelak dan menggeleng-gelengkan kepala kami.
__ADS_1
Duh, duh, duh. Alex ... Alex.
To be continued ....