
Alex membukakan pintu bagian samping pengemudi saat kami sampai di mobil. “Biar aku aja yang nyetir.”
Aku mengangguk, tidak punya energi apa-apa lagi untuk menolak dan mendebatnya. I don't know that adrenaline withdrawal can be so tiring. Tubuhku langsung tersandar ke tempat duduk sesaat menyentuh kulit pelapis jok.
Setelah memasukkan alamat rumah ke navigator, mobil segera meluncur ke jalanan. “I’m sorry.” Suara Alex mengalihkan pandanganku dari pemandangan yang berlalu seiring dengan kecepatan mobil yang sedang di balik jendela.
Aku menoleh pada Alex yang kini tengah sibuk mencekik stir dengan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
“Kenapa kamu yang minta maaf? Kamu, kan, gak salah.” Aku menggeleng. “Kamu gak salah, Lex, but thank you for saving me from ... that.”
“I shouldn’t have left you alone.” Kini giliran Alex yang menggeleng. “Then that son of a bixch won't get too close to you and that ... that ... thing won’t happen.” Dia mengangguk ke arah lenganku yang setelah kulihat memang agak memerah.
Wow. Aku tak menyadarinya.
Walaupun sudah dilapisi blazer dan kemeja, cengkeraman tangan Raldo masih meninggalkan bekas di kulitku. Aku menurunkan lengan kemejaku, blazer sudah semenjak masuk ke mobil tadi kulepas. “It’s fine, Lex. I am safe now because of you, and that’s what matter the most. Let it go, okay? I know I really want to.” Aku tidak mau membuat Alex tenggelam di dalam rasa bersalah yang tak berguna. Bukan dia yang salah. Raldo sialan itu yang tidak punya moral.
Memikirkan namanya saja membuat otakku mendidih. Sialan dia. Sialan.
Lama Alex terdiam sebelum akhirnya mengembuskan napas dalam dan berkata, “Okay.”
Aku tahu dia sebenarnya tidak merasa okay sama sekali, akan tetapi untuk sekarang itu sudah cukup. Aku tidak ingin membahasnya lagi. Aku tidak ingin memikirkannya lagi. Aku hanya ingin pulang. Aku hanya ingin kamarku. Aku hanya ingin ... hilang.
****
Aku tidak ingat jam berapa aku mulai tertidur, akan tetapi rasanya hibernasiku cukup sampai di sini dulu karena perut sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Aku menjangkau ponsel di atas meja samping tempat tidur dan menghidupkan layar.
Pukul 8.07 AM.
Aku kemudian duduk, meregangkan badan sebentar, dan kemudian berjalan menuju kamar mandi masih dengan keadaan setengah sadar. Ke luar dari kamar mandi, aku mendengar beberapa kali dering pesan masuk.
Alex.
Alex : Kayra Salim, it’s time to wake up
Alex : You hear me!
Alex : are you okay?
__ADS_1
Alex : I'm getting really worried here
Alex : Kay
Alex : Kayra!
Alex : you’re freakin’ me out
Alex : answer me
Alex : please Kay
Alex : you read my texts
Alex : I'm sorry
Alex : just tell me that you're okay
Alex : please
Me : I am awake
Me : baru selesai mandi
Me : Will be out in a minute
Setelah mengenakan sweatpants berwarna merah muda yang sudah lusuh dan pudar serta baju kaus dengan print logo Captain America yang sama tipisnya, Mama menyambutku di dapur. “Baru bangun, Kay? Sarapan dulu. Ada roti sama nasi goreng. Mau yang mana? Pilih aja.”
Aku memeluk Mama dan mengecup basah pipi beliau. “Thank you, Mama.”
“You’re welcome.” Mama balas mencium keningku. “Udah, sana.” Beliau mengibaskan tangan ke arah meja makan. “Kasihan Alex sarapan sendirian. Papa dan abangmu sudah pergi dari tadi.”
“Oke.”
Alex yang memperhatikan interaksi kami tersenyum saat aku mengambil kursi di seberangnya. “Good sleep?”
“Hu-uh,” jawabku sambil menggigit roti panggang yang telah kuoles dengan selai kacang. “You?” Aku bertanya balik.
__ADS_1
Alex mengedikkan bahu. “I sleep okay.”
Aku menoleh ke belakang, memastikan Mama tidak bisa mendengar pembicaraan kami, dan memelototi Andrew. “Let it go, Lex,” ucapku setengah berbisik setengah memerintah.
Dia menggeleng. “Aku janji sama Rian–”
Aku tak membiarkannya menyelesaikan kalimat. “But I am here, aren’t I?”
“Yeah. But–”
“I’m fine, Lex. I promise. Let it go, okay?” Kurasakan bibirku bergetar. Cepat-cepat kugigit agar getarnya tak menyebar dan memicu air mata.
Alex masih menatapku, mata yang baru kusadari dikelilingi oleh kantung mata dengan ukuran yang lumayan besar dan berwarna keunguan itu seakan mencari celah agar dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu untukku mengakui perasaanku yang sebenarnya.
Tidak, tidak. Aku masih tidak ingin membahas apa yang terjadi kemarin. Tidak sekarang. Mungkin juga tidak akan pernah.
Namun, entah kenapa, aku juga bisa melihat kekerashatian yang sama di matanya. Biru yang biasanya terang kini menggelap, penuh determinasi. Dia juga tidak akan menyerah. “For me. Do it for me. Let it go for me.” Akhirnya aku memohon.
Tatapannya seketika itu melembut. “Okay.” Angguknya. “Okay.”
****
Siangnya, Bang Rian bergabung dengan kami saat aku dan Alex sedang di ruang keluarga dengan layar TV dan laptop menyala. Mama pergi bersama Papa ke acara pernikahan anak salah satu teman papa. Bang Bian sedang berada di kantor. Uni Cya sedang menidurkan Genta di kamar.
“Yo, Man.” Mereka lalu melakukan semacam tos dengan mengadu kepalan tangan dan gerakan lain seakan mereka sudah bersahabat sejak lama. Kalakian Bang Rian menghempaskan badannya di sofa sebelahku. Dia lalu menjangkau remote televisi dan seketika saja suara TV sudah tidak terdengar lagi. “So, kalian berdua udah ada plan buat besok atau belum?” Dia menatap kami bergantian.
“Kenapa emangnya?” Aku bertanya balik.
“Karena gue yakin kalau elo, my man,” Bang Rian menunjuk Alex, “udah gatal pengen ngajakin kamera super canggih lo itu buat jalan-jalan dan gue,” telunjuknya kini mengarah ke dadanya sendiri, “kebetulan ada jadwal ke luar kota untuk beberapa hari ke depan.”
Kini gantian Alex yang melirik Bang Rian dan aku bergantian sebelum tatapannya kembali ke Bang Rian. “Well, that sounds ....” Kini mata Alex entah kenapa bisa menatapku dengan penuh ... harap(?). “Interesting.”
Aku memicingkan mata sambil menatapnya. Kemudian aku menatap Bang Rian.
Oh, no. They didn't.
To be continued ....
__ADS_1