Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
22. Pentingnya Menjalin Persahabatan Sejak Awal


__ADS_3

"Aku boleh gabung?”


Tiba-tiba suara seorang laki-laki mengejutkanku. Aku menoleh dan melihat seorang pemuda sudah berada tak jauh dari kursi santai tempat kududuk saat ini. Sejak kapan dia ada di sana? Kenapa dia bisa ada di sana dan aku tidak tahu? Sudah berapa lama dia ada di sana dan hanya berdiri diam membisu? Hal itu membuat dia terdengar agak creepy, akan tetapi dia tidak terlihat terlalu creepy. Tidak creepy sama sekali malah. Dilihat dari setelannya yang aku yakin berharga sangat mahal dan dibuat khusus untuknya—karena kain-kain itu begitu melekat di tubuhnya, aku mengira dia adalah salah satu peserta presentasi.


“Silakan.” Akhirnya aku menanggapi sembari membayangkan diri ini mengembuskan napas panjang. Hm. Oleh sebab kehadirannya, rusak sudah kesempatanku untuk bersemedi. Namun, kalau dia benar-benar peserta presentasi, berarti dia salah satu dari para donatur. Dan hal tersebut berarti bahwa pemuda ini adalah salah satu dari orang penting itu, bukan? Dan aku harus melakukan apa lagi selain bersikap sopan?


“Tidak terlalu suka keramaian?” Pemuda yang kini sudah duduk di sun lounger di sebelahku ini membuka suara lagi.


Hm. Tidak ada salahnya bersikap nice, Kayra. Apalagi untuk seseorang asing yang berkemungkinan besar adalah salah satu dari orang penting yang kamu butuhkan dukungannya untuk kelancaran project pertamamu itu. Okay then. Baiklah. Aku tersenyum tipis dan menggeleng. “Nope. Saya tidak terlalu suka berada di tengah-tengah kerumunan, menjadi pusat perhatian. Terlalu banyak mata yang mengamati.”


Aku bahkan bisa merasakan rasa dingin yang menjalar di tulang belakangku, membuatku bergidik. "Saya gak suka jadi pusat perhatian."


Pemuda itu tergelak dan menunduk. Dengan kepala yang ditekurkan, dia pun menggeleng. Aku mengamati semua yang dia lakukan dengan rasa ingin tahu yang tinggi sekaligus bingung. Apa yang dia tertawakan? Apa yang ada si dalam kepalanya? Apakah ada yang salah dengan penampilanku? Apakah ada cokelat di antara gigi-gigiku?


Ah, sial. Tindakannya berhasil membuatku salah tingkah. Hanya dalam hitungan detik saja berada di sini, dia sudah bisa membuatku merasa self-conscious.


Well, not a good first impression, Young Man.


Cowok itu tahu-tahu mengangkat kepalanya sebelum aku bisa mengalihkan tatapan menyelidikku dari wajah campurannya. “Oh, shoot. I'm sorry." Dia mengangkat kedua tangan dengan telapan menghadap ke depan, seperti orang yang menyerah. "Saya gak bermaksud apa-apa. Cuma menertawakan apa yang ada di dalam pikiran saya saja. Maaf jika hal itu membuat Anda tersinggung."


Ingin sekali rasanya aku mengatakan "yeah, right. Anda seharusnya tidak melakukan itu jika tidak bermaksud untuk membuat orang lain merasa menjadi bahan lelucon yang ada di dalam kepala Anda", akan tetapi apalah daya. Aku juga harus tetap menjaga sikap karena ... apa lagi kalau bukan kemungkinan dia menjadi seorang donatur.

__ADS_1


Ugh!


"Ehm, by the way." Ucapannya membuatku kembali memusatkan perhatianku padanya lagi. "I’m Alex, Alexander Rahardjo. And I'm so sorry I have made you uncomfortable in the minute of our first meeting.”


Well, okay. Mudah mengakui kesalahan. Aku akan memberikan poin plus untuk sikapnya ini. Aku pun menirukan tindakannya dan mengulurkan tangan.


Setelah menjabat tanganku Alex kemudian berdiri. "Saya rasa saya harus kembali ke dalam sekarang. Nice to meet you." Di kalakian dia berbalik dan berjalan mengarah ke ballroom tempat dilaksanakannya acara kami tadi.


“Oh, and I'm Kayra. Nice to meet you too.” Aku balas memperkenalkan diri dengan sedikit mengeraskan suaraku agar dia dapat mendengar.


Alex menghentikan langkahnya dan berbalik. Dimasukkannya kedua tangan ke dalam saku celana panjang yang dipakainya. “I know." Dia berhenti sejenak untuk tersenyum sebelum melanjutkan. "And for your info, you fit right in the spotlight like you were made to be in it.” Setelah itu, dia kembali melanjutkan perjalanannya, meninggalkan aku yang ... ternganga.


Apa yang baru saja dia katakan?


Aku kembali duduk, mencoba mengkonsentrasikan diri lagi pada brownies yang terlantar. Aku tidak percaya dia mengatakan hal tersebut. Aku benar-benar tidak habis pikir. Dasar. Pria dan mulut manisnya. Dia pikir apa yang dapat dia capai dengan mengeluarkan perkataan yang seperti itu? Boleh saja dia menganggap apa yang dia lakukan betul-betul manis. Boleh saja dia mengira hal itu akan mampu membuatku klepek-klepek, akan tetapi ... sorry, Cowboy. Efek yang terjadi padaku malah sebaliknya.


Aku mencabut penilaian awalku tadi. Dia benar-benar masuk ke dalam kategori creepy sekarang. Creepy and cringey.


Eew.


Setelah menghabiskan potongan terakhir browniesku—aku mengambil lima potong tadi, jauh lebih sedikit dari jumlah biasa yang bisa aku konsumsi dalam sekali duduk, setelah merasa sedikit lebih baik, aku pun kembali menuju ruangan besar yang dipenuhi orang-orang penting itu. Kutinggalkan saja perlengkapan makan yang kupakai tadi di atas meja yang ada di pool deck.

__ADS_1


Namun, baru saja masuk, Bu Sukma sudah bjsa menemukan aku. “Kayra, dari mana saja kamu? Apakamu sudah berkeliling? Apa kamu sudah bertemu dengan semua orang yang hadir pada malam ini? Kamu harus bertemu dengan semua orang, kamu harus bisa meyakinkan mereka dalam project ini, kamu tahu itu, kan? Ayo, sekarang ikut Ibu.” Bu Sukma meraih tanganku.


Ini sudah kedua kalinya ada orang yang memaksaku untuk berjalan mengikutinya dalam semalam. Ingin mengelak, jelas aku tak bisa. Aku yang memulainya, aku juga yang harus bertanggung jawab atas semua rencana ini. Sampai selesai.


Akubisa melihat daei raut wajahnya yang berseri, Bu Sukma begitu puas mengajakku berkeliling untuk bertemu dengan para donatur yayasan. Beliau juga sibuk mengenalkanku kepada setiap orang yang ada di dalam kerumunan, atau yang sedang duduk di meja makan. Hingga akhirnya kami sampai di meja yang terletak di ujung ruangan dengan beberapa orang yang sedang sibuk berbincang dan menikmati santapan. “Excuse me everyone.” Bu Sukma meminta perhatian setiap orang di meja itu dengan senyum paling lebar yang dia miliki.


Dia mendapatkan apa yang diinginkan dengan mudah. “Kayra, meet Mr. Rahardjo. He is the owner of Rahardjo group, a multi-nasional company.” Bu Sukma mengenalkanku kepada salah seorang pria paruh baya yang wajahnya bukan Indonesia. American, maybe.


Mr. Rahadi berdiri,aku menjabat tangannya dengan mantap. Sebuah senyum menghiasi perkenalan kami. “Your speech was great, Miss Kayra. No wonder why Mr. Suseno feels proud of you that much. I often heard about you from him. I hope we can start this project shortly.” Mr. Rahardjo kemudian mengenalkan pria yang kini berdiri di belakangnya. “And you must meet my son, Alex. He will be the one to take care of everything you need for this.”


Awalnya aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berdiri di belakang Mr. Rahardjo karena tubuh mereka memiliki ukuran yang kurang lebih sama—orang yang berdiri di belakang tersebut hanya menang sedikit lebih besar dari lria paruh baya di depannya. Namun, setelah Me. Rahardjo menggeser posisinya, barulah aku bisa melihat siapa yang ada di sana.


Aku sungguh-sungguh merasa bodoh. Dang it, Kayra. Seharusnya aku sudah bisa menebak dari nama belakang yang digunakan oleh cowok itu.


Aku menjabat tangan Alex, sekali lagi, kali kedua malam ini. Alexander Rahardjo, pantas saja.


“I knew her, dad. We’ve met by the pool just now.” Alex memberi tahu ayahnya soal pertemuan kami di dekat kolam renang tadi.


Mr. Rahardjo tampak senang. “That’s good, that's good. You both will have so much to discuss in the future. Penting sekali untuk menjalin persahabatan sedari awal.”


Dan aku hanya bisa tersenyum menanggapi soal apa yang seharusnya menjadi awal dari persahabatan kami ini.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2