Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku

Untuk Pria Yang Telah Mematahkan Hatiku
36. Ada Apa Dengan Mereka


__ADS_3

Bahkan setelah sampai di rumah, membersihkan diri, makan malam, berkumpul dengan anggota keluarga, tidak sedikit pun kata-kata Roni beranjak dari dalam benak. Sepertinya dampak yang ditimbulkan malah bertambah parah, kini rasa mengganggu beban pemikiran itu menjalar ke perasaan di dalam dadaku.


I need fresh air.


Right about now.


Sekonyong-konyongnya aku berbalik dan berjalan ke luar, menuju kursi taman belakang rumah.


Deep inhale.


Slow exhale.


Again.


And again.


And again.


They’re still there.


Beberapa menit duduk di bawah sinarnya, langit dan bintang-bintang mengemukakan banyak pertanyaan untukku. Apakah sakit hatiku masih separah itu? Apakah aku sudah benar-benar mengikhlaskan? Apakah aku salah menyamakan semua pria dengan Harris dan Che? Apakah aku akan berakhir sendirian? Ataukah ada seseorang yang mau menyembuhkan lukaku? Siapakah orang itu? Apakah nanti aku sudah siap saat orang itu datang?


Dan, di antara semua itu, pertanyaan yang terbesar adalah; kenapa rasaku menjadi begitu kacau begini?


Dalam titik paling bawah seperti ini, orang paling pintar atau paling kaya di dunia pun bisa diserang oleh rasa rendah diri. Mereka akan meragukan kemampuannya, kehilangan kepercayaan dirinya, merasa tidak berdaya. Dan pada saat ini, yang mereka butuhkan adalah seseorang untuk mendengarkan.


Orang yang duduk di samping mereka, yang akan dengan sabar menyimak segala hal yang mereka ceritakan, memeluk mereka dan berkata, “Tidak ada salahnya bersedih sekarang, karena setelah ini semuanya akan baik-baik saja.”


“Bintangnya bagus, Dek.”


Aku menoleh dan di sebelahku sudah duduk Bang Rian yang berkata sambil tetap menengadah ke langit. Hal ini selalu mengingatkan aku pada memori masa kecil, di mana kedua abangku akan mengajakku untuk menatap bintang dari taman ini mereka akan menggelar tikar dan bertiga kami merebahkan diri, menatap langit yang penuh misteri serta keindahan dalam waktu yangh sama. Mereka akan memberi tahu nama-nama bintang padaku, tanh jelas saja merupakan nama-nama rekaan mereka saja. Ah. Aku rindu masa-masa di mana yang kami rusuhkan hanyalah kejahilan Bang Rian terhadapku dan keoverprotektifan Bang Bian.


Kini Bang Rian sudah pasti tidak berniat untuk menjahili adiknya ini. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari langit di atas sana. “Kalau kamu jadi ambil jurusan astrologi, pasti kamu bisa jelasin ke Abang bintang apa aja yang ada di atas sana. Benaran kali ini, bukan bohongan kayak yang kami lakukan dulu.”


Aku memutar bola mata. Bisa-bisanya Bang Rian melawaknya jayus banget. “Astronomi, Bang.” Aku membetulkan, atau lebih tepat masuk ke dalam jebakan Betmen yang sudah dia pasang.


“Oh? Udah ganti, ya? Sejak kapan?” tanyanya berentetan dengan wajah sok tanpa dosa.

__ADS_1


Dasar raksasa sok ngelawak.


Hening sejenak meliputi. Kami berdua kakak beradik kemudian memilih untuk sama-sama menikmati malam ini. “Bang.” Aku akhirnya memecah bungkam.


“Hm.” Bang Rian menyahut, akan tetapi tatapannya masih saja melahap pemandangan langit yang selalu luar biasa. Aku yakin dia sengaja untuk tidak mengalihkan pandangannya padaku.


“Is it okay for me to feel this way?” Aku ikut-ikutan memandang ke langit tanpa menoleh padanya.


"This way gimana maksudnya?” Bang Rian melirik padaku sekilas sebelum kembali memandang ciptaan Tuhan nan Kuasa.


“Tadi kan kita jalan sama Roni. Awalnya dia goda aku karena aku bawa Genta, bilang kalau aku udah cocok jadi ibu." Aku menghentikan cerita sampai di situ.


Keheningan ada lagi.


"Terus?" Bang Rian mendorongku untuk meneruskan.


"Terus dia bilang sama aku kalau udah saatnya aku untuk membuka hati lagi, Bang. Dia juga bilang kalau laki-laki enggak semuanya berengsek kayak Harris dan Che." Aku berhenti lagi.


"Kamu tahu kalau dia benar, kan? Si Roni meski gak lucu kayak gitu, tapi kalau ngomong kadang ada benarnya juga."


“Pertanyaan-pertanyaan apa?”


Masih memandangi langit, kulepaskan semua yang ada dalam otak. “Kenapa perasaan aku jadi kayak gini setelah apa yang dibilang sama Roni, Bang? Apakah hati aku masih sakit? Apa aku masih belum move on, ya? Jadi, selama ini apa yang aku lakukan enggak ada artinya?” Suaraku datar, terdengar tak bernyawa. Persis seperti apa yang kurasakan di dalam sini. Meski kini banyak sekali perasaan yang bercampur dan mengaduk-aduk hati, aku rasanya terlalu capek untuk meladeni mereka. Sudah, entahlah, satu hampir dua tahun aku pergi dari kota ini, akan tetapi hanya karena sedikit konfrontasi dari Roni membuatku jatuh ke dalam lubang kelinci yang tak berujung ini.


Aku ... aku hanya ingin hidup damai. Aku hanya ingin menyerah. Boleh, kan? “Kayra ternyata belum bisa ikhlasin apa yang udah terjadi, Bang. Hati aku masih sakit kalau ingat Harris atau semua yang berhubungan sama dia. Aku juga masih kesal sama Che.” Aku mengembuskan napas panjang. “Selama ini ternyata Kayra cuma berhasil lari dari kenyataan, dari hal-hal yang berkaitan sama mereka. Tapi, Elyn lupa kalau yang paling penting itu adalah ... menghadapinya.”


Aku lalu menoleh pada Bang Rian. Kekhawatiran jelas terlihat dari air mukanya, akan tetapi dia tetap memberikan senyum termanis untuk menyemangatiku. “Kayra takut enggak bisa mengikhlaskan semua itu, Bang.” Aku mengaku dengan kepala menggeleng. “Kayra takut enggak bisa move on. Nanti kalau ada yang mau deketin Kayra tapi akunya belum siap, gimana? Kalau aku kelamaan move on nanti enggak ada yang mau sama aku, gimana? Kalau nanti aku disakitin lagi?” Air mata terasa menggenang, aku kembali menengadah ke langit berharap mereka tidak jatuh sekarang.


Keheningan muncul.


“Dek.” Bang Rian memanggilku setelah beberapa waktu berlalu dalam diam.


Aku menoleh menghadapnya.


Bang Rian kemudian memegang bahuku dengan kedua tangannya. “It’s okay to be scared, you know. To feel sad, hurt, confuse, because those emotions makes you human. Meski kamu cantiknya kayak bidadari, akan tetapi kamu tetep manusia, Dek. Manusia yang punya perasaan. Dan kamu boleh merasakan semua itu. Kamu jangan ragu soal ini.”


Bang Rian di kalakian merendahkan kepalanya sehingga mata kami akhirnya sejajar. “But, remember; God didn’t make the universe from only one shape. Look at those leaves, ever found two leaves that have exactly the same shape? Or the exact same color? Pattern?”

__ADS_1


Aku menggeleng.


“Even from the same tree?”


Aku menggeleng lagi.


“That’s because they only shared name, Kayra, not the form.” Bang Rian tersenyum lembut. “And so does men.” Bang Rian berdeham, lalu merangkulku. "Memang banyak cowok-cowok berengsek di luar sana, Dek. Tapi, bukan berarti semua cowok itu berengsek. Ya, setidaknya gak seratus persen berengsek lah. Ada juga baik-baiknya dikit."


Tanpa ragu aku kemudian menyandarkan kepala di bahu lebarnya.


“Abang marah sama mereka karena udah nyakitin kamu, Dek, you have no idea how much. Tapi,” Bang Juno menekankan kata tapi, sambil meremas bahu kiriku, “Abang akan lebih marah kalau kamu enggak mau lepas dari bayangan mereka. Mereka enggak pantas mendapatkan waktu kamu selama itu. Mereka udah pasti enggak pantas mendapatkan perhatian kamu sebanyak itu. It’s been, what? A year? Two?"


Hampir dua tahun. Dua puluh empat bulan. Tujuh ratus dua puluh hari. Tujuh belas ribu dua ratus delapan puluh jam. Wow.


"Enough, Dek. Now is the time to think about yourself. To let go. To embrace your brightest days. To find the right man. To enjoy your own life. Your only chance of life.” Dia kemudian meremas bahuku. “Dek, kamu enggak bisa mengubah apa pun yang udah terjadi, tapi kamu masih punya kendali sama masa depan kamu. Kamu masih bisa memilih mana yang kamu inginkan, mana yang ingin kamu capai, siapa-siapa aja yang akan ada di sekeliling kamu. Rasa sakit itu ada, Dek, tapi enggak abadi. Karena akan ada bahagia setelahnya. Jadi, yang harus kamu lakukan adalah hadapi rasa sakit itu. Karena Abang yakin Tuhan enggak sia-sia. Anggap aja itu semua ujian dalam kehidupan. Dan setelah kamu lulus nanti, akan ada kebahagiaan sebagai hadiahnya. Kamu harus percaya Abang.”


Aku mengangguk.


Bang Rian mencium rambutku.


Aku memutar badan dan membenamkan wajah ke dada abangku itu. Tanganku melingkari pinggangnya erat. Bang Rian tanpa ragu balas memelukku.


"Ada satu quote yang Abang suka banget, entah dari siapa, Abang lupa. Kalimatnya begini. Abaikan rasa sakit itu atau kau tidak akan pernah bahagia."


Aku bisa merasakan kepalanya naik-turun bergerak seperti mengangguk di atas kepalaku.


"Simpel banget, kan? But truer words had never been spoken."


Jleb.


Simple yet deep.


Abaikan rasa sakitnya atau kau tidak akan pernah bahagia. Ingat itu, Kayra.


Kemudian, pada akhirnya, tangis yang dari tadi kutahan pun pecah sudah.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2