Vampir Romantis

Vampir Romantis
Cokelat Hangat


__ADS_3

Di jam istirahat di hari yang sama. Di hari yang menghebohkan karena Ben yang membonceng Aura pakai sepedanya ke sekolah. Di hari itu, setelah selesai mengganti pakaian olahraganya dengan seragam kembali. Ben menyusuri jalan menuju ke kantin tempat Aura yang katanya ke sana bersama Zi.


Ben ternyata sedari tadi menunggu kedatangan Aura, sejak selesai jam pelajaran olahraga tadi, pria itu tahu kalau Aura diajak Zi ke kantin untuk menghindari Delia. Tanpa Aura, Zi, dan Delia sadari, obrolan mereka dapat didengar Vampir tampan itu.


Sesampainya di sana, bola mata indah si Vampir terus melacak di mana Aura. Ditemukannyalah pada akhirnya, Aura dan Raziya yang masih berpakaian olahraga.


“Lama sekali, juga pakaianmu masih belum kamu ganti.” Ucap Beno Raven.


“Uhukk !” Zi yang lagi minum lemon tea langsung tersedak mendengar Ben yang datang-datang langsung mengomentari mengenai seragam olahraga yang masih terbalut.


“Loh Zi, pelan-pelan dong minumnya.” Ucap Aura sambil memberikan sapu tangan yang ia bawa di kantong celana olahraga kepada Zi.


“Ben ? Ada apa ?” tanya Aura kepada Ben yang sudah duduk di kursi di sampingnya.


“Kalian sebaiknya ganti pakaian sekarang. Soalnya waktu istirahat akan segera berakhir, hari ini kelas kita bukan Pak Dirga yang masuk, tapi Bu Susan. Kalau kalian sampai terlambat masuk, bukankah sangat memalukan ?” Aura dan Zi terperangah mendengar penjelasan Ben.


“Apa ?? Bagaimana bisa Bu Susan yang masuk ?” tanya Zi dengan sisa-sisa terkejutannya, begitu pun dengan Aura.


“Sebaiknya kalian pergi sekarang, itu lihatlah !” ucap Ben yang mengarahkan telunjuknya kea rah Bu Susan yang sebentar lagi masuk ke kantin.


Mata keduanya kembali melotot ketika melihat sosok Bu Susan yang hari ini tampak stylist seperti biasanya lengkap dengan kacamata minus yang selalu membingkai kedua matanya. Ah, lupakan soal luar biasa Bu Susan. Sekarang Aura dan Zi berusaha kabur dengan berlari ke sisi yang lain mencari jalan agar tak kedapatan oleh si Kepala Sekola itu.


Usai mengganti pakaian mereka, keduanya lantas pergi ke kelas sebelum Bu Susan lebih dahulu masuk. Di sana yang mereka dapati adalah penampakan kelas yang cukup kacau.


Danu, salah satu di antara gerombolan cowok tengil tengah kejar-kejaran di kelas dengan salah satu kutu buku cantik yang menjadi incarannya, Vera. Tampaknya Danu sudah membuat masalah dengan mengambil buku Vera ketika ia sedang fokus membaca.


Lain halnya dengan Novi, Natta, serta Delia yang masih saja memoles muka mereka dengan make up, jika Bu Susan sampai melihat wajah mereka, itu pasti akan langsung terkena omelan. Kehadiran Ben pun turut menjadi sorotan mata Aura.


“Stoooppp !!!” teriak Aura. Kontan suasana yang tadinya ricuh langsung senyap dan memandang ke sumber suara.


“Kenapa Ra ?” tanya Danu yang kini telah berada di hadapan Aura dan Zi.


“Cukup main-mainnya, sekarang rapikan pakaian kalian. Dan kamu Delia, segera hapus pemoles wajahmu itu atau kau akan terkena masalah. Kalian semua, bersikap normallah sekarang.” Kata Aura memperingatkan mereka.


“Memangnya ada…” pertanyaan Delia langsung dipotong oleh Zi. “Bu Susan yang akan masuk hari ini, Pak Dirga tidak datang.”


“WHATTT ???!!!”


Semua penghuni XI IPA 1, kecuali Aura, Zi dan Ben, kompak menampakkan ekspresi keterkejutan mereka. Bahkan mereka si kutu buku pun juga takut pada sosok Bu Susan yang katanya galak itu.


Entah itu Danu, Delia ataupun yang lainnya. Semuanya tampak sibuk merapikan diri mereka masing-masing. Bu Susan tampaknya memberi pengaruh besar untuk kelas yang cukup kacau ini, mereka langsung berusaha membuat penampilan sebaik mungkin di hadapan Kepsek cantik itu.


Memang benar apa yang dikatakan Ben ternyata, ini berkat dirinya. Bu Susan benar-benar menggantikan Pak Dirga dalam mata pelajaran Matematika. Walau cukup mengherankan bagi Aura kenapa pria itu sampai mengetahui kalau Bu Susan yang akan masuk, tapi melegakan bagi Aura dan Zi setelah berhasil mengendalikan kelas sebelum Bu Susan mendapati suasana rusuh di kelas mereka.

__ADS_1


Aura tersenyum ke arah Ben yang tempat duduknya berdekatan dengan dirinya, pria itu pun membalas senyuman manis Aura. Senyuman itu hanyalah sebuah tanda sebagai rasa terima kasihnya kepada pria tampan itu. Tidak lebih, mungkin. Baiklah. Ya, mungkin ada sedikit lebihnya, sedikit lebih untuk rasa kagumnya Aura pada sosok Ben yang kian hari semakin menawan buatnya.



Sudah berakhir segala rentetan mata pelajaran hari ini untuk dilalui. Kini, mereka bersiap pulang ke rumah. Seperti biasanya pula, Aura berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya. Walau tadi pagi ia datang ke sekolah dengan dibonceng Ben dengan sepeda, tapi bukan berarti baginya harus merepotkan pria itu untuk kedua kalinya juga, itu bukan Aura.


Ben berusaha mengejar Aura yang sudah keluar dari gerbang sekolah karena pria itu sebelumnya harus mengambil sepeda di parkiran. Ben terus saja mengikuti Aura dari kejauhan, dengan kayuhan sepeda yang cukup pelan pula. Mungkin karena di sana masih ada Zi, tidak enak rasanya mungkin bagi Ben kalau mengajak Aura pulang bersamanya jika harus meninggalkan Zi.


Tidak lama setelah itu, di sebuah persimpangan. Zi dan Aura berpisah di sana. Zi berbelok ke arah kiri menuju rumahnya, sedangkan Aura hanya terus berjalan lurus ke depan. Gadis itu lalu bersenandung kecil dengan headphone kesayangannya.


Ben sekarang telah berhasil menyamakan langkahnya dengan Aura yang sekarang sedang berjongkok untuk mengikat tali sepatunya yang hampir terlepas.


“Loh Ben !” Kata Aura kaget karena menurutnya Ben muncul secara tiba-tiba lagi. Padahal Ben sudah cukup lama mengikutinyadi belakang tanpa sepengetahuan dirinya. Aura kemudian melepaskan headphone yang menutupi telinganya.


“Ayo naik.” Ben berusaha menawarkan tumpangan lagi. Aura tersenyum.


“Cuacanya cukup cerah.” Jawab Aura. “Berjalan kakinya pilihan yang bagus sepertinya.”


Ben turut memandangi langit di mana katanya pemandangan ini cukup indah untuk melewatkannya. Sekarang, Ben turun dari sepeda dan berdiri di samping gadis itu. Aura mengernyitkan dahi ketika melihat Ben yang demikian.


“Kenapa turun ?” tanya Aura kepada Ben.


“Katamu cuaca cukup cerah, bukan ?” jawab Ben. “Aku juga ingin menikmatinya.”


“Mari pulang.” Ajak Ben.


Keduanya melanjutkan perjalanan pulang kemudian. Diiringi dengan gelak tawa Aura ketika mendengar cerita lucu yang Ben ceritakan selama perjalanan. Mereka telah memasuki gerbang kompleks. Pak Satpam juga tengah berjaga di sana, walau sebenarnya lagi tidur di pos keamanan.


Tiinn ! Tiinnn !!


Suara klakson mobil yang sedang di belakang mereka berbunyi, juga sepertinya itu ditujukan untuk mereka berdua. Aura yang menengok ke belakang langsung mengenal siapa orang yang mengemudikannya. Bang Rome !


“Hei, pacaran jangan di jalan.” Teriak Romeo yang mobilnya kini sudah berada di samping mereka berjalan. Kaca jendela mobil pun ia turunkan agar bisa jelas melihat ke arah luar.


Aura mendesis ketika mendengar sapaan mengejutkan dari sang kakak yang membuatnya kini merasa malu terhadap Ben.


“Siapa ?” tanya Ben yang kemudian mengalihkan pandangan lagi kepada Aura setelah tadi pandangannya tertuju kepada Romeo.


“Dia… kakakku, Bang Rome.” Walau sangat malas dan malu karena perkataan Romeo, ia akhirnya mengakui juga siapa pria itu sebenarnya.


“Oh ya ?” Ben. Aura pun mengangguk.


Tidak lama, setelah itu mobil Romeo melaju kembali mendahului mereka. Ben juga sempat menyapa Romeo sebelum pria itu benar-benar pergi.

__ADS_1


“Kenapa wajahmu seperti itu ?” tanya Ben lagi pada Aura. Sejak kedatangan Romeo membuat suasana yang awalnya begitu manis menjadi rusak dengan mempermalukan dirinya. Bagaimana jika Ben berpikir kalau dia selalu membicarakan mengenai Ben di hadapan kakaknya itu, pikir Aura.


“Tidak, tidak apa-apa. Memalukan sekali mendengar sapaannya yang seperti itu ?” Gumam Aura.


“Memalukan ?” Ben bingung.


“Hm maksudku, kau tidak akan berpikiran macam-macam kan ? Sapaannya itu, aku juga tidak memahami kenapa dia mengatakan kalau kita pacaran.” Ucap Aura dengan sedikit ragu.


Ben terkekeh. “Iya, aku mengerti. Jangan khawatir.”


“Kau sudah sampai. Aku pergi, ya. Sampai jumpa.” Kata Aura.


“Kau tidak ingin aku mengantarmu sampai ke rumah ?”


“Ah tidak perlu. Aku bisa sendiri.”


Aura pun melanjutkan langkahnya untuk pulang. Sebelum masuk ke dalam rumah, ia sempat melihat mobil kakaknya yang sudah terparkir di garasi. Sempat ia berdecak sebal mengingat kejadian beberapa menit lalu. Sangat dimungkinkan pula kalau Bang Rome-nya itu akan mengadukan dirinya yang pulang bersama Ben kepada Mamanya.


Gagang pintu itu akhirnya iabuka walau dengan rasa jengkel, berharap Romeo tidak akan membahas soal tadi, Aura sekarang benar-benar lelah. Bukankah kalian ingat kalau di jam olahraga tadi Aura juga bersemangat seperti yang lain saat sedang bermain voli. Juga, tadi dia sempat ngos-ngosan kabur supaya tidak bertemu dengan Bu Susan, belum lagi ketika harus berteriak untuk menegur dan memperingatkan teman-teman sekelasnya mengenai Bu Susan. Ditambah dia juga hari ini mengikuti pelajaran Matematika yang menguras pikiran.


Dengan langkah yang begitu malas, ia harus mendapati Romeo yang sedang duduk di kursi meja makan sambil tersenyum tidak jelas. Laras, ibu mereka, kembali dari dapur untuk membawakan cokelat hangat untuk Aura setelah ia membuatkan teh hangat untuk si sulung. Dari mana lagi kalau bukan Romeo yang mengatakan kalau adiknya itu segera sampai.


“Minum dulu.” Ucap Laras dan Aura pun duduk tepat di kursi yang membuatnya berhadapan dengan Romeo.


Cokelat hangat itu kemudian diseruput Aura dengan setulus hati. Mana mungkin dia menyia-nyiakan lagi sesuatu yang Mamanya itu buat. Cukup pagi tadi ia mengabaikan nasi goreng penuh keju yang Mamanya hidangkan untuknya, namun gara-gara terlambat bangun ia jadi tergesa-gesa untuk berangkat sekolah.


“Tadi pagi kamu nggak sarapan, lalu kamu sudah makan siang ?” tanya Mamanya.


“Sudah tadi di kantin sama Zi.”


“Yakin hanya berdua sama Zi ? Lalu pria yang tadi bagaimana ?” ledek Romeo.


“Bang Rome !” Ucap Aura yang mulai kesal. Laras hanya memijit kepalanya yang mungkin pusing karena perdebatan anaknya yang telah menjadi keseharian.


“Sudahlah, Aura pergi ke kamar dulu ya Ma. Makasih cokelat hangatnya, love you.” Pamit Aura masuk ke dalam kamar dengan membawa mug berisi cokelat hangat.


Setelah meletakkan tas dan headphone yang sedari tadi melingkar di lehernya, gadis ini pun duduk di balkon kamar sambil menikmati minuman kesukaan yang dibuatkan dengan penuh cinta oleh sang Mama.


Dipandanginya terus mug tersebut sampai ia tersenyum sesekali. Tidak, dia masih normal, percayalah. Dia hanya sedang memikirkan Ben. Mungkin saja karena cokelat hangatnya itu begitu manis membuatnya mengingat hal-hal manis yang selalu ditunjukkan Ben. Entah itu kata-kata atau perlakuan Ben. Seperti cokelat hangat ini, begitu manis, sangat manis. Membuatnya tersenyum tiap kali teringat. Juga senyuman Ben, pria itu, begitu hangat untuk dirinya.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?

__ADS_1


__ADS_2