
Aura berjalan santai menuju sekolah, tepatnya pikirannya melamunkan sesuatu yang baru-baru ini terjadi padanya. Pertama, ia hampir menjadi korban Vampir yang ingin memangsanya. Kedua, ia sungguh merasa kalau kemarin dirinya diajak melesat oleh Ben. Semua yang terjadi dengannya itu benar-benar di luar nalarnya sebagai manusia biasa.
Sepertinya berjalan sambil melamunkan sesuatu sudah menjadi kebiasaannya sekarang. Setelah sebelumnya ia sangat menyukai berjalan di tengah derasnya hujan dan mendengarkan lantunan musik di telinganya. Tetapi, bukan berarti pula ia kehilangan sisi dirinya yang ceria, ia bahkan lega karena hubungannya dengan Ben sudah membaik setelah kemarin ia tidak saling sapa selama di sekolah.
Mata Aura yang berjalan sambil menatap lurus ke jalanan, ada seseorang yang melewatinya. Ia berseragam sekolah sepertinya dan memakai sepeda yang ia kemudian cukup cepat. Alis gadis itu kemudian terangkat sebelah.
"Ben ?" Gumam Aura ketika Ben melewatinya begitu saja seolah mereka tak saling kenal. "Apa dia masih marah ?"
Langkahnya kemudian terhenti ketika Ben yang tadinya sudah semakin jauh kini justru pria tampan itu berbalik dan mengemudikan sepeda ke arahnya. Jantung Aura serasa dipompa lebih cepat tiap kali melihat pria pujaannya tersebut. Lalu, Ben pun sampai di hadapan Aura yang kakinya sudah kaku.
"Aura... Apa sebaiknya kita berkencan saja ?"
Deg !!!
Rasanya Aura seperti disengat listrik jutaan volt. Wajahnya memerah dan tak dapat mengatakan apapun. Kakinya yang tadinya kaku seakan benar-benar lumpuh. Detak jantungnya dipompa berkali-kali lipat dari yang ia rasakan beberapa detik lalu. Dan bagaimana bisa justru kalimat itu yang terucap dari mulut Ben, pikirnya. Ia sama sekali tak dapat berkutik sekarang.
"Apa aku sedang bermimpi dan belum bangun dari tidurku ?" Gumam Aura dalam hati. "Ben, bagaimana kamu..."
"Jawablah. Kamu tidak sedang bermimpi sekarang. Ataukah ini terlalu cepat ?" Tanya Ben kepada Aura yang masih membisu. Pria itu kemudian mengelus pucuk kepala Aura dan barulah gadis itu sadar kalau dirinya tidak sedang bermimpi saat itu.
"Ben ? Kamu serius ?"
Ben mengangguk. "Benar. Aku serius. Kamu mau bukan ?"
Aura menatap mata Ben mencoba mencari kebohongan dari bola matanya yang teduh. Namun, ia tak menemukannya. Jika saja ia sekarang sedang dipermainkan, orang itu pastilah bukan Ben. Pria itu tak pernah melakukan hal yang rendah seperti itu.
"Ya, aku mau. Aku mau berkencan denganmu." Jawabnya dengan bibir yang sedikit kaku.
Ben kembali tersenyum dan membelai lembut pucuk kepala Aura yang kini telah resmi menjadi kekasihnya. Rasanya sekarang ada jutaan kupu-kupu yang menyeruak ingin keluar dari tubuhnya, begitulah yang dirasakan gadis cantik tersebut. Betapa bahagianya ia melihat impiannya menjadi kenyataan, bahkan ia tak pernah menduga sekalipun kalau Ben tiba-tiba menyatakan perasaan kepadanya di pagi ini.
"Kalau begitu ini hari pertama kita. Naiklah, kita nanti terlambat." Ajak Ben dan rasanya Aura semakin malu untuk berdekatan apalagi menatap mata indah kekasihnya tersebut semenjak mereka resmi menjalin hubungan beberapa menit lalu. Ini kali ketiganya gadis itu dibonceng si pria Vampir.
Beberapa pasang mata sudah menatap ke arah mereka yang kini sudah mendekat ke area sekolah. Rasanya jutaan kali lebih berbeda yang dirasakan Aura dibanding pertama kali ia dibonceng Ben dan kini jauh lebih mendebarkan. Itu karena status mereka sekarang yang tak hanya sebatas teman.
Ben kemudian memarkirkan sepedanya dan Aura justru berjalan lebih dahulu meninggalkan Ben. Pria itu kemudian menyusulnya segera. Menatap ke sisi tempat Aura sekarang berjalan.
"Bagaimana perasaanmu ?" Tanya Ben padanya. Mungkin Vampir tampan itu heran dengan sikap Aura yang sedari tadi lebih banyak diam dari biasanya.
__ADS_1
"Perasaanku baik. Hanya saja aku sedikit..."
Ben kemudian menggenggam tangan kekasihnya itu. Lantas gadis itu terkejut dan melepaskan genggaman tangan Ben. Sangat dingin. Itulah yang dirasakan Aura selain detak jantungnya yang tak karuan.
"Ben maaf. Aku hanya sedikit... malu."
"Kamu malu ?"
Mata gadis itu kemudian terbelalak ketika menyadari apa yang baru saja ia katakan dan hal itu bisa saja membuat kekasihnya itu salah paham.
"Maksudku bukan malu karena jalan sama kamu. Tapi, kamu tahu sendiri aku baru pertama kali menjalin hubungan dengan seseorang." Tutur Aura dengan raut kekhawatiran. Ia takut jika hari yang awalnya sangat indah ini akan berubah menjadi hari yang sangat buruk.
"Aku paham. Ayo, jalan." Lagi dan lagi pria itu mengembangkan senyum yang begitu manis dan meneduhkan. Betapa beruntungnya gadis itu dimiliki olehnya.
Mereka berjalan cukup pelan. Entah karena masih lama bel jam pertama berbunyi atau mereka ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bersama.
"Apa kamu selalu seperti itu ?" Tanya Aura kemudian. "Maksudku tanganmu kenapa bisa sedingin itu ?"
Ben sedikit terkejut dengan pertanyaan Aura, ia benar-benar lupa kalau tubuhnya sedingin es dan tentu saja membuat seorang manusia keheranan. "Mungkin karena masih pagi dan cuacanya juga lumayan dingin."
"Ah, benar. Cuacanya memang agak dingin hari ini."
"Ben, sebaiknya kamu masuk duluan saja. Aku akan masuk setelah kamu masuk." Pinta Aura. Ben menatap gadis itu beberapa detik.
"Kamu saja yang lebih dulu masuk. Aku ada urusan sebentar."
Dengan begitu Aura langsung masuk ke kelas meninggalkan pria itu di sana. Ben hanya tersenyum melihat wajah kekasihnya yang memerah karena memikirkan hubungan mereka yang baru saja dimulai. Entah mengapa Ben berpikir Aura semakin terlihat menggemaskan ketika ia sedang seperti itu, walau sedari dulu pula Ben mengakui kalau Aura memang yang tercantik dan berbeda dari perempuan kebanyakan.
"Aku bahagia sekarang." Gumam si Vampir tampan tersebut sambil melihat punggung Aura yang semakin menjauh.
Beberapa saat kemudian Aura masuk ke kelas dan berjalan ke tempat duduknya, di samping Zi tentunya. Baru saja ia duduk di sana, sesaat melihat ke arah Zi gadis itu langsung dibuatnya heran. "Kenapa muka gitu sih ?"
Zi tersenyum aneh dengan melipat kedua tangan di dada. "Lo pikir dengan cara lo masuk duluan ke kelas, gue nggak tahu kalau kalian berangkat bareng lagi naik sepeda ?"
Kedua mata Aura membulat sempurna. " Astaga ! Lo tahu dari mana ?!"
"Ya iyalah. Lo kan diboncengnya sampai parkiran. Mustahil banget nggak ada yang lihat. Apalagi lo tahu kalau Ben punya banyak fans di sini."
__ADS_1
Aura menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi dan menghela napas.
"Lo kenapa ?" Tanya Zi yang bingung dengan respon sahabatnya tersebut.
"Lo mau dengar cerita nggak ?" Tanya Aura santai. Zi mengangguk. "Nanti gue ceritain, tapi nggak di sini."
Mereka kemudian pergi ke atap sekolah. Zi berulang kali menanyakan kepada sahabatnya itu untuk apa mereka ke sana dan apa itu sangat penting sampai mereka harus bicara di sana. Mereka pun sampai. Aura menarik napas cukup dalam, kemudian menghembuskannya.
"Gue jadian sama Ben." Ucapnya.
Seketika tawa seorang Raziya menggelegar di sana. Wajah Aura kemudian berubah menjadi kesal karena Zi justru menertawakannya yang sebenarnya tidaklah mudah mengatakan hal seperti itu.
"Lo halu ya Ra ?" Tanya Zi di sela-sela tawanya yang masih belum selesai.
"Gue serius !" Jawab Aura dengan penuh keyakinan. Seketika pula Zi menghentikan tawanya yang tadi pecah. Ia menatap wajah Aura yang memang menampakkan keseriusan.
"Lo serius jadian sama Ben ? Kapan ?" Tanya Zi lagi.
Aura menggigit bibir bawahnya karena ia sedang menahan debaran jantungnya yang kian kencang tiap kali memikirkan momen indah itu. "Iya, gue serius. Tadi pagi waktu berangkat ke sekolah dia tiba-tiba nembak gue."
"Selamat ya Auraku sayang." Zi memeluk Aura untuk memberikan selamat. "Ih gue iri banget sama lo yang bisa dapetin cowok setampan dia."
"Tapi lo janji ya jangan bilang siapa-siapa kalau gue udah jadian sama dia." Zi melepaskan pelukannya ketika mendengar permintaan Aura kali ini.
"Kenapa ? Bukannya bagus kalau orang lain tahu kalian udah jadian ? Jadi nggak ada lagi yang gangguin Ben waktu dia jalan sama lo."
"Justru karena itu. Gue tahu banget kalau banyak yang suka sama dia, gue sedikit takut."
Zi meraih tangan Aura. "Kenapa harus takut ? Dia itu kekasih lo sekarang. Atau lo mau kalau mereka selalu deketin Ben kemana pun Ben pergi ?"
Aura menggeleng-gelengkan kepalanya. Zi tersenyum. "Gue juga bahagia karena sahabatku satu-satunya ini hatinya sedang berbunga-bunga sekarang. Penantian lo berbuah manis karena perasaan lo akhirnya berbalas."
"Astaga !!! Bentar lagi bel !!!" Teriak keduanya ketika menyadari sesuatu. Keduanya lalu turun dengan tergesa-gesa untuk kembali ke kelas.
Hari ini terjadi momen membahagiakan dalam hidup seorang Aura Zaskia Portman. Sesuatu yang takkan pernah ia lupakan. Kehidupannya sebagai seorang remaja seperti teman-temannya lain, ia bisa merasakannya sekarang. Mencintai dan juga dicintai. Ia hanya berharap dari bermacam-macam problema masa remaja, ia tak berurusan dengan pahitnya patah hati suatu hari nanti.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next ?