
Pagi ini, Aura menatap rumah keluarga Raven yang terlihat sepi dan kosong. Tidak ada aktivitas di sana. Kekhawatiran tak beralasan itu masih saja menghantui. Jika saja ia memiliki alasan yang kuat, ia pasti akan melarang Ben untuk tidak pergi kemana pun sampai kekhawatiran itu lenyap.
Aura juga tidak mengetahui kapan tepatnya keluarga Raven pergi. Ben sendiri juga tidak memberi tahu Aura. Juga, andaikan Ben memiliki alasan untuk memberi tahu kemana dan mengapa mereka pergi, mungkin itu juga akan menyulitkan dirinya dan membuat Aura menjauh.
Memberi tahu kalau kepergian dia bersama keluarganya adalah karena alasan super blood moon yang akan terjadi, itu pasti akan terdengar aneh di telinga orang, dan jika itu semua dikatakan karena mereka akan mengalami kelumpuhan selama fenomena langka itu, maka akan semakin terdengar tidak masuk akal. Dan, jika pada akhirnya ada pertanyaan mengapa hal demikian bisa terjadi ? Maka jawaban dari itu semua adalah karena mereka adalah berasal dari bangsa Vampir.
Aura tidak akan mempercayai itu semua pastinya, meski semua itu berasal dari pernyataan Ben langsung. Kenapa ? Pertama, karena itu semua terdengar mustahil bagi manusia seperti Aura. Kedua, karena Aura mungkin memang tidak ingin mempercayai kalau Ben memiliki dunia yang berbeda dengan dirinya.
Aura masih menatap rumah Ben dengan tatapan penuh khawatir. Rasanya aneh untuk dirinya sekarang, walau terlihat sunyi dan tidak ada orang di sana, Aura merasa kalau Ben masih berada di dalam rumah itu. Di rumah yang tampak kosong.
Namun, meskipun hal demikian adalah dari pendapat Aura, tampaknya hal itu ada benarnya, karena memang pendapat itu bukan hanya dari pemikirannya saja melainkan juga dari hati terdalam. Ben dan keluarganya memang tidak pergi kemana-mana. Mereka hanya berdiam diri seolah bersembunyi dari khalayak ramai.
Dari dalam ruang yang tampak sepi itu ada Ben yang memperhatikan Aura tanpa gadis itu sadari. Ben melihat Aura dari balik dinding dengan jelas. Pria Vampir itu melihat bagaimana ekspresi wajah gadis yang memikat hatinya itu tampak sedih.
Jika saja bisa, ia pasti akan menghampiri Aura. Namun, jika ia sekarang menuruti egonya dan pergi ke Aura, itu mungkin akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri dan besar kemungkinan Aura juga dalam bahaya jika terlihat bersama Ben.
Super blood moon bukan hanya akan mengakibatkan kelumpuhan bagi seluruh bangsa Vampir di muka bumi, tetapi juga akan mengakibatkan penyerangan sebelum atau sesudah terjadinya hal itu.
Di luar sana masih ada keluarga Willis yang mengincar batu permata itu walau entah di mana kini rimbanya, dengan segala kemungkinan yang Jake Willis punya kalau keturunan Jade itu ada dan bersembunyi entah di bagian bumi mana yang terus-menerus mereka cari untuk dijadikan kaki tangan untuk memiliki batu berkekuatan magis tersebut.
Aura kembali melanjutkan langkahnya pergi ke sekolah yang sempat tertunda. Firasat yang Aura rasakan bukan tanpa sebab, dia juga memiliki garis keturunan dari seorang Vampir yang mengalir dalam dirinya. Maka dari itu semua, ini bukan hanya tentang perasaan yang takutkan terhadap keadaan dari Ben yang dicintai, tetapi juga firasat yang datang sebagaimana Vampir lain rasakan ketika fenomena bulan merah darah akan terjadi.
“Apa yang kamu khawatirkan ?” Sekali lagi, Ben mendengarkan suara hati Aura. Dia bisa mendengar kegelisahan yang gadis itu rasa, walaupun dia tidak mengetahui lebih tepatnya sesuatu yang mengganggu pikiran Aura.
Walau jalannya begitu pelan sampai-sampai terlihat seperti orang yang sangat malas pergi ke sekolah, toh pada akhirnya ia kini sudah berada di tempat itu. Aura tepat berada di depan gerbang sekolah dengan jalannya yang seperti itu, melamun, sampai membuat heran Pak Maman yang setiap pagi selalu mendapat sapaan dari Aura dan kali ini tidak. Hanya saja, Pak Maman si Satpam sekolah pun turut merasakan ada yang aneh terhadap Aura.
Setelah berjalan di koridor menuju kelas, sepasang tangan kembali merangkul bahu Aura tanpa permisi. Iya, itu Zi. Sekilas Zi melihat raut wajah Aura yang melamun. Parahnya lagi Aura besar kemungkinan tidak menyadari ada tangan yang sudah merangkul bahunya.
“Pagi-pagi sudah melamun, hati-hati, entar kesambet loh.” Ucap Zi untuk menyadarkan sahabatnya itu dari lamunan.
“Ah, Zi ?!” Aura sedikit terkejut menyadari kehadiran Zi di sampingnya.
__ADS_1
“Telat banget lo baru nyadar. Ngelamunin apaan sih, Ra ?”
Aura hanya menggeleng-gelengkan kepala. Zi mendengus kesal.
“Pokoknya harus lihat ya malam ini, katanya bulannya itu bakal jadi merah warnanya, fenomenanya langka banget.”
“Iya, bisa jadi seumur hidup sekali ini mah kita lihat.”
Hari ini lebih heboh lagi penghuni sekolah membicarakan mengenai fenomena super blood moon yang katanya akan terjadi malam nanti, hati Aura semakin tak karuan setelah mendengar. Ingin rasanya ia teriak di depan orang-orang yang membicarakan hal itu untuk diam dan jangan membahasnya lagi, namun ketika pemikiran itu muncul, Aura semakin heran dengan apa yang sudah terjadi kepada dirinya.
“Gue baik-baik aja. Lo nggak perlu khawatir.” Kata Aura berusaha membuat Zi percaya sembari tersenyum semanis mungkin.
Gara sedari tadi masih memperhatikan bagaimana Ben yang masih saja memikirkan Aura yang sudah berlalu. Ini juga kali pertama bagi Gara melihat adik sepupunya yang seperti sekarang. Dari beratus-ratus tahun yang Gara lalui bersama Ben, Aura adalah satu-satunya manusia yang keselamatannya Ben khawatirkan.
“Masih kepikiran Aura ?” Tanya Gara.
“Iya. Bagaimana jika Vampir lain mengetahui kalau Aura ada hubungannya dengan dunia kita ? Sedangkan aku tidak bisa melindunginya saat ini.” Cerita Ben kepada Gara, kakak sepupunya.
“Setelah malam ini berlalu, bukankah akan terjadi penyerangan dari Vampir lain ? Jake pasti kembali dan menyerang kita, dia masih belum tahu mengenai hilangnya permata itu sepuluh tahun yang lalu. Sedangkan kondisi Ayah setelah pertempuran malam itu, dia semakin lemah.” Kata Ben yang tampak sunggu merasakan kekhawatiran.
“Kamu benar, Jake pasti menyerang kita lagi. Satu-satunya alasan kenapa dia begitu mengerikan adalah karena ambisi, bahkan dia sampai rela mengorbankan nyawa istrinya sendiri.” Jawab Gara.
“Batu itu meskipun tidak bersama kita lagi, ternyata Jake pun masih tidak bisa memilikinya. Tidak peduli sebesar apapun pengorbanan yang telah ia berikan, dia tidak akan mampu menggenggam mimpinya itu.” Kata Ben.
“Ben, bersiaplah, cahaya dari bulan merah itu pasti akan membuat kita kesakitan dan kita mengalami lumpuh sementara waktu. Kekuatan kita akan menghilang, bahkan lebih lemah dari manusia.” Peringatkan Gara kepada Ben.
“Aku harap di bulan merah darah kali ini Jake tidak akan bertindak gegabah lagi dan membuat hidupnya semakin kacau.”
Ben tampak geram, rahangnya mengeras, mengingat apa yang terjadi berhubungan dengan super blood moon terakhir kali, bagaimana dia kehilangan seorang ibu yang dilenyapkan oleh keluarga Willis. Jika bukan ditentang sang Ayah, Alexander Raven, mungkin Ben akan menyerang Jake dan anak-anaknya. Namun, Alex menentang Ben tidak lain karena ia takut terjadi sesuatu yang sama terhadap Ben.
Malamnya, di saat orang-orang begitu antusias ingin menyaksikan fenomena langka tersebut, termasuk orang tua dan Romeo, Aura yang kini berada di kamarnya justru semakin pusing akan kegelisahan yang ia rasa. Selalu saja pikirannya tertuju kepada Beno Raven yang sudah merebut hatinya.
__ADS_1
Di malam itu pula, ketika super blood moon terjadi, cahaya dari bulan merah darah tersebut seolah membakar tubuh seluruh bangsa Vampir di muka bumi ini. Tidak terkecuali keluarga Raven yang merasakan kesakitan luar biasa dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka merasakan kesakitan seolah ada api yang membakar tubuh mereka yang sangat dingin itu. Tulang-tulang mereka seolah remuk. Tidak peduli itu Alexander, Vivian, Gara, Ben, bahkan Vampir jahat seperti keluarga Willis pun merasakan hal yang sama.
Dari tempat Aura tinggal, ia jelas mendengar untuk pertama kali ada suara auman serigala. Malam yang langitnya begitu cerah ditemani bulan merah darah itu bagi sebagian orang terasa mencekam setelah mendengar auman serigala yang kemungkinan berasal dari arah hutan di dekat perumahan yang mereka tinggali.
Sontak sewaktu mendengar auman serigala itu, keluarga Raven juga sangat terkejut. Mereka yang kini sudah sangat lemah saling bertukar pandang, mereka benar-benar tidak mengetahui jika di sekitar mereka juga ada bangsa serigala, musuh dari bangsa Vampir.
Tidak peduli dengan sebaik apapun keluarga Raven, mereka juga termasuk dari musuh bangsa serigala. Kali terakhir mereka berperang dengan bangsa serigala adalah sekitar seratus tahun yang lalu. Sejak saat itu, keluarga Raven hidup berpindah-pindah dan mereka sungguh tidak mengetahui jika ada bangsa serigala yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Jika saja malam ini bukanlah super blood moon, bangsa serigala pasti sudah bisa mencium aroma tubuh dari keluarga Raven dan menyerang. Namun, saat ini keadaan mereka, bangsa Vampir benar-benar seperti manusia biasa, bahkan sangat lemah. Mereka kehilangan kekuatan dan juga aroma tubuh mereka tidak seperti aroma Vampir.
Mata Jake seolah menyala-nyala dalam kesakitan, karena tepat di hari yang sama sekitar seratus lima puluh tahun yang lalu ia kehilangan istrinya untuk dikorbankan. Dosanya akan semakin menyiksa batinnya yang sudah sangat kacau dan ambisinya semakin menuntutnya agar mendapatkan batu berkekuatan magis tersebut.
“Lihat saja, setelah semua ini berakhir, aku akan mencarimu Alex !!! Juga aku akan mencari keturunan dari Jade sialan itu !!! Aaaaaaa !!!!” Di dimensi yang lain, Jake berteriak ketika kesakitan itu semakin bertambah.
Keluarga Raven yang masih saja kesakitan kini bukan hanya penyerangan dari keluarga Willis yang mereka khawatirkan untuk menyerang mereka, namun suara serigala yang baru saja terdengar, itu bukanlah serigala biasa. Itu adalah auman dari bangsa serigala yang sedang mencari-cari tempat untuk mereka tinggali dan tak akan ragu untuk menyerang siapa saja yang dianggap sebagai lawan.
Sedangkan kini, bahkan setelah super blood moon berakhir, kondisi Alexander Raven tidak akan cukup kuat untuk melawan bangsa serigala yang kuat dan buas. Karena kekuatan mereka hilang untuk sementara waktu, mereka tidak dapat mengetahui serigala dari keluarga mana yang datang ke daerah mereka malam ini.
“Ben, Gara, Vivian, ini akan menjadi tugas kalian untuk mencari tahu siapa datang kemari. Mulai besok. Mereka bisa saja bersembunyi di antara manusia, tetapi aroma tubuh mereka tidak dapat mereka sembunyikan dari bangsa Vampir.” Titah Alexander kepada anak-anak dan keponakannya dengan suaranya yang lemah.
“Baik, Ayah. Kami akan mencari tahu siapa mereka.” Jawab Ben yang diikuti anggukan kecil dari Vivian dan Gara.
“Ingatlah Gara, jangan membuat kesalahan untuk kali ini.” Gara hanya memberikan anggukan seperti tadi untuk perkataan Alexander. Ben dan Vivian bungkam mendengar perkataan Alexander untuk Gara, dan memandang Gara, entah tatapan apa namanay, itu penuh misteri.
Malam itu, meninggalkan suasana yang penuh keramaian di antara manusia lain, ada suasana berbeda yang orang lain tidak merasakannya. Terutama suasana yang berubah yang dirasakan oleh Arta, Laras, dan Romeo, dan bukan hanya mereka, di luar sana juga ada beberapa orang manusia lagi yang turut memasang raut wajah terkejut akibat auman serigala itu.
Entah itu suatu kebetulan atau apakah namanya, Arta, Laras, Romeo, dan beberapa orang lagi kompak melemparkan tatapan tersebut ke arah hutan terlarang. Hutan itu juga yang pernah menjadi saksi terjadinya perkelahian di antara bangsa serigala dan bangsa Vampir dalam kurun waktu seratus tahun ke belakang.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?