
Selesai makan malam, Aura pergi ke teras depan rumahnya. Ia duduk di sebuah kursi untuk menatap langit malam yang indah. Sesekali ia tersenyum sambil memikirkan kejadian yang ia alami di hari pertama dengan Ben. Karena kecerobohan sahabatnya, Zi, yang mulutnya sangat fasih berbicara ia hampir mendapat serangan dari Delia dan teman-temannya yang menyukai Tuan Beno Raven.
Saat itu Zi keceplosan mengatakan kalau Ben adalah kekasih Aura di kantin dan meja mereka dengan meja Delia cs bersebelahan. Sontak telinga Delia yang sangat tajam jika itu berkaitan dengan Ben langsung beranjak dan menanyakan hal tersebut kepada Aura. Lalu karena Zi tidak terima Aura diteriaki Delia kemudian menegaskan kalau Ben memang kekasih dari sahabatnya tersebut.
Telinga Delia semakin memanas ketika mendengar kenyataan yang baginya memilukan itu dan saat tangannya hendak menjambak rambut orang yang dianggapnya rival itu pun langsung ditahan tangan seseorang. Tentulah Ben orangnya. Pria itu menghentikan langkah Delia untuk menyakiti Aura.
Delia dibuat sampai tidak berkutik ketika Ben sendiri yang mengatakan untuk jangan pernah menyakiti Aura, siapapun itu. Karena Ben akan menjadi yang pertama untuk melindunginya. Lalu adegan di kantin ditutup dengan permintaan maaf secara langsung dari Delia cs kepada Aura. Setidaknya hari itu menjadi hari yang membahagiakan sekaligus melelahkan bagi Aura.
Di tengah lamunan indahnya itu, Aura terlonjak ketika menyadari seseorang yang sudah duduk di sampingnya entah sudah berapa lama.
“Ben ?!” Pekik Aura. Kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan menyadari kalau suaranya terlalu keras.
“Kamu melamunkan apa ?” Tanya Ben. Aura menatap ke arah pintu rumah, berharap tidak ada seorang pun yang keluar dari sana dan mengacaukan kebersamaan mereka, terutama Romeo.
“Tidak apa-apa. Hanya kejadian tadi siang di sekolah.” Jawabnya. Aura kembali mengalihkan pandangan ke langit, kepada bintang-bintang yang menghiasi langit malam itu. Ben ikut menatap ke langit.
“Indah, tapi gelap. Bulannya hampir tak terlihat.” Kata Aura.
“Memangnya kenapa kalau gelap ?” Tanya Ben yang beralih menatap Aura yang sama sekali tidak mengarahkan pandangan kepadanya.
“Aku takut kegelapan. Itu seperti mimpi buruk. Aku tidak menyukainya.” Jawabnya.
“Bagaimana jika kamu tahu betapa gelapnya duniaku yang sebenarnya. Apa kamu juga akan takut ? Aku tahu kamu pasti akan mengetahui jati diriku suatu saat nanti.” Gumam pria itu dalam hati. “Jika hari itu tiba, apa kamu siap menerima kenyataan ? Apa kamu akan bertahan atau justru akan pergi ?”
“Ben ? Halo !”
Aura melambai-lambaikan tangan ke kiri dan ke kanan untuk membuyarkan lamunan Ben. “Kamu melamun ?”
“Aku hanya berpikir, besok aku harus mengajakmu kemana untuk kencan pertama kita ?” Jawaban Ben kembali membuat Aura jantungan. Pipi Aura kemudian bersemu merah. Pria yang ia kencani sekarang sungguh luar biasa manisnya, dengan kata-kata sederhana dan perlakuan yang tak dapat ia duga membuatnya sangat beruntung mendapatkan hati Ben.
“Kau membuatku malu lagi.” Dari sekian banyaknya kata, entah mengapa yang keluar justru kata “malu” lagi dari gadis itu ketika diperlakukan dengan manis oleh kekasihnya.
“Besok ‘kan libur. Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan ?” Ajak Ben. Aura mengangguk senang. “Kalau begitu pertama-tama kamu harus masuk ke dalam dan tidur lebih awal. Ini sudah malam.”
“Baiklah. Kamu juga harus tidur setelah ini.” Pinta Aura. Terdengar konyol memang karena Ben bukanlah manusia seperti dirinya dan ia tak perlu tidur di malam hari seperti dirinya. Ben hanya terkekeh mendengar permintaan Aura.
“Aku pulang dulu. Selamat malam, kekasihku.”
__ADS_1
Rasanya seperti ada kelinci yang sedang melompat-lompat di dada Aura kini. Ini pertama kalinya ia mendengar seseorang yang memanggilnya dengan sebutan kekasih. Aura hanya berharap ia benar-benar bisa tidur lebih awal malam ini dan tidak memikirkan Ben semalaman.
Esoknya Aura sudah siap-siap di depan cermin memilih baju untuk pergi dengan Ben. Cinta memang mampu merubah seseorang yang awalnya tidak terlalu ribet dalam hal berpakaian, kini justru sangat susah menentukan pilihan baju mana yang harus ia pakai. Biasanya Aura memakai baju apa saja yang ingin ia pakai dan nyaman untuknya, tapi sekarang ia juga ingin terlihat cantik dan berbeda di hadapan Ben.
Laras bahkan sampai terheran-heran melihat isi lemari baju anak bungsunya yang berhamburan di atas tempat tidur. Ia juga mencurigai sesuatu telah terjadi dengan Aura yang juga erat kaitannya dengan Ben yang sudah menunggu di ruang tamu. Aura benar-benar tidak mengetahui kalau Ben akan menjemputnya hari ini.
Akhirnya Laras membantu anaknya untuk memilih pakaian yang cocok untuknya jalan-jalan hari ini. Gadis itu masih menutup-nutupi hubungannya yang baru saja berjalan itu dari keluarganya, meski dengan Mamanya ia masih belum siap mengatakan kalau ia telah memiliki kekasih.
Aura dan Laras kemudian berjalan menuju ruang tamu dan betapa terkejutnya Aura menyaksikan Ben yang sedang bercengkrama akrab dengan Papanya. “Kamu di sini ??”
“Kenapa kamu begitu terkejut sayang ? Bukankah kalian memang akan pergi bersama ?” Tanya Arta.
“Itu... sebenarnya dia tidak pernah mengatakan akan menjemput. Ya sudah kami pergi sekarang.” Gadis itu segera berpamitan, sebab ia takut semuanya ketahuan dan Ben ditanya macam-macam oleh Mamanya.
Mereka pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka masih belum tahu apa yang akan dilakukan, sampai kaki mereka terhenti di sebuah toko yang menjual kacamata. Aura sangat tertarik untuk singgah, matanya tertuju pada salah satu kacamata lucu dengan berbentuk hati dan ia meminta Ben untuk memakainya. Keduanya tertawa ketika melihat pantulan wajah Ben yang terlihat lucu mengenakannya. Mereka memilih lagi kacamata yang akan mereka beli, kemudian kembali berpose di depan cermin.
Mereka lalu pergi ke restoran cepat saji yang masih dalam area pusat perbelanjaan tersebut.
“Kamu saja yang pesan. Aku tidak cocok dengan makanan di sini. Aku vegetarian.”
“Kenapa kamu baru mengatakannya, kita bisa cari restoran lain.”
Ketika Aura meraih tasnya untuk beranjak dari tempat itu, Ben menahannya. “Tidak perlu. Aku masih kenyang. Kamu saja yang pesan.”
“Yah, masa cuma aku yang makan ? Kamu bagaimana ?” Ucap Aura dengan ekspresi manyun.
“Bagaimana kalau aku yang menyuapimu ?” Goda Ben. Dan untuk kesekian kalinya Aura dibuat tersipu. Bagaimana tidak, ia terus saja diperlakukan istimewa oleh prianya.
Seperti yang dikatakan Ben, ia kemudian menyuapi Aura makan dan sesekali Aura menyuapkan makanan itu sendiri ke mulutnya karena merasa tidak enak. Tingkah lucu kedua anak muda tersebut menjadi sorotan pengunjung lain. Ada yang tersenyum dan ada yang menatap iri.
“Sehabis ini kita pergi nonton bagaimana ? Aku sudah beli tiketnya kemarin.”
“Kamu sudah beli tiketnya ? Wah...” Betapa senangnya Aura sekarang. “Kita mau nonton film apa ?”
“Ini.” Ben menunjukkan tiket tersebut kepada Aura. Gadis itu terkejut dengan film yang akan mereka tonton nanti.
__ADS_1
“Ini ‘kan film yang ingin sekali aku tonton. Bagaimana kamu tahu ? Kita benar mau nonton ini ‘kan Ben ?” Tanya gadis penyuka hujan itu dengan begitu semangat.
“Benar. Aku tidak bohong.”
“Terima kasih.” Ucap Aura dan tanpa sadar ia memegang tangan Ben. Ia lalu menarik tangannya kembali dan salah tingkah. “Maaf.”
Ben terkekeh mendengar permintaan maaf itu. “Kamu sudah selesai ? Setelah ini kita pergi.”
Sepasang kekasih itu telah duduk dengan tenang di kursi penonton sambil menyaksikan adegan film yang baru saja di mulai. Pikiran Aura tidak bisa sepenuhnya fokus ke layar besar di depan sana, karena ia terus memikirkan bagaimana bisa harinya bisa sesempurna ini dan sekarang rasanya masih seperti mimpi karena mereka telah berkencan dan menonton film romantis.
“Kamu suka filmnya ?” Bisik Ben. Ia hanya mendapat anggukan kali ini. Gadis itu benar-benar bahagia sampai rasanya ia ingin berteriak, namun ia sadar itu tidak mungkin karena mereka sedang berada di dalam bioskop. Bisa-bisa ia mendapat lemparan popcorn dari penonton lain.
Sehabis menonton, mereka pergi ke kedai es krim kesukaan Aura. Mereka bicara apa saja di sana, seolah tak ada habisnya bahan yang mereka bicarakan. Sesekali Aura tertawa ketika Ben menceritakan hal lucu. Ia bahkan tidak menyangka kalau Ben memiliki sisi humoris.
Sepulang dari kedai es krim, mereka kembali bersepeda untuk pulang. Bahkan di perjalanan pulang pun mereka asik berbicara. Aura bahkan lupa kalau kemarin betapa gugupnya ia dibonceng Ben pergi ke sekolah sampai tak bisa bicara banyak. Sebelum pulang, pemberhentian mereka jatuh pada taman kompleks. Di sana merupakan tempat bermain kesukaan Aura sewaktu kecil.
Aura duduk di sebuah ayunan dan Ben duduk di ayunan sebelahnya.
“Kamu tahu tidak kalau aku sangat bahagia ? Ini berkatmu.” Kata Aura yang baru saja duduk.
“Aku juga sangat bahagia. Rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakan hal ini.”
“Benarkah ? Memangnya sudah berapa lama ? Sepertinya kamu sudah hidup lama sekali.” Canda Aura.
“Ya mungkin lebih dari 150 tahun.” Jawab Ben dengan nada bercanda. Aku tertawa dan tidak menaruh curiga sama sekali. Padahal yang dikatakan Ben kali ini adalah kejujuran. Semenjak kematian Ibunya, ia tidak pernah merasakan kebahagiaan lagi.
Di tengah obrolan hangat itu, ada seseorang yang mengamati mereka dari kejauhan. Dia Virgo Orlando si manusia serigala. Ia mengamati Aura yang beberapa waktu lalu diselamatkannya dari Vampir jahat dan kini justru sedang bersama Ben yang sebenarnya Vampir. Virgo bisa melihat kalau keduanya terlalu dekat jika dikatakan hanya sebatas teman. Viko lalu menghampiri Virgo.
“Informasi apa yang kamu dapat ?” Tanya Virgo tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang kekasih di sana.
“Dia adalah adik dari Romeo, seseorang yang wajahnya mirip dengan mendiang Tuan Oliver. Namanya Aura.” Jelas Viko. Rupanya Virgo telah melihat Aura dan Ben sejak mereka berangkat dan meminta pengawalnya untuk mencari informasi tentang Aura yang dekat dengan Ben kini.
Virgo terkejut mendengar pernyataan Viko. Kemudian ia tersenyum tipis. “Betapa sempitnya dunia ini.”
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next ?
__ADS_1