Vampir Romantis

Vampir Romantis
Memori yang Hilang


__ADS_3

Tuan Alexander Raven kemudian pergi meninggalkan Ben juga Aura. Tentunya dengan tanda tanya yang menyibak tabir misteri yang bergelayut di pikiran Ben. Si Vampir tampan itu begitu penasaran apakah ada kaitan antara mimpi teman wanitanya itu, Aura, dengan kehidupan nyata.


*Flashback


Alexander Raven yang melesat membawa batu permata biru itu lama kelamaan memperlambat larinya. Tubuhnya melemah, luka disekujur tubuhnya serasa menyayat dan darah berwarna kehitaman itu pun tak henti-hentinya mengucur. Permata itu masih erat dalam genggaman.


Genggaman itu bukan haus akan nafsu menguasai dunia, melainkan genggaman yang ingin menghindarkan dari apa yang menjadi bahaya di hadapan sekarang. Batu itu bukan hanya batu berkekuatan dahsyat, melainkan itu merupakan sebuah janji dan wasiat yang harus ia jaga sampai kapan pun juga. Alexander yang tubuhnya melemah ini pun kemudian duduk bersandar di salah satu pohon pinus.


“Toloonggg !!!”


Lengkingan suara terdengar dari jarak yang tak begitu jauh dari tempat Alexander berada. Suara itu bukan kepunyaan anaknya tentu saja, namun setelah mendengarnya Alex segera menghampiri asal suara tersebut. Langkahnya yang masih tertatih itu pun berhasil mendapati apa yang cari.


Seorang anak perempuan yang sekitar berusia enam tahun terlihat sedang berlari dari apa yang sedang mengancam dirinya. Julia, anak perempuan dari bangsa Vampir dengan nama keluarga Willis mencoba untuk menjadikan gadis kecil itu sebagai mangsanya. Tampaknya pertempuran yang terjadi antara keluarga Raven dengan keluarga Willis membuatnya kehabisan banyak energi.


Entah dari mana asalnya dan sejak kapan gadis itu berada di area hutan, dia yang hampir saja mati di tangan Julia langsung saja diselamatkan oleh Alexander dengan sigap.


“Cepat kamu lari !” titah Alexander.


Tanpa menunggu lama, gadis kecil itu berlari ke tempat yang menurutnya aman untuk bersembunyi. Di kegelapan malam yang hanya ditemani sinar rembulan yang terang benderang, gadis itu menemukan tempat persembunyian. Sebuah bangunan tua di tengah hutan.


Dari jendela bangunan tua, gadis cilik itu mengintip perkelahian antara orang yang mencoba membunuhnya dengan orang yang telah menyelamatkan dirinya. Walau gadis itu terlalu muda untuk mengetahui apapun yang terjadi di hutan itu sekarang, dari sepasang matanya dia menyadari bahwa dua orang yang sedang berkelahi itu bukan manusia biasa seperti dia.


Julia berhasil ditangani oleh Alex. Meskipun sedikit agak lama karena Alex melawan Julia dalam keadaan cukup lemah, dia bisa mengalahkan wanita Vampir itu akhirnya. Gadis kecil yang melihat penolongnya itu gontai segera berlari dari persembunyiannya dan mengajak Alex untuk bersembunyi bersama dengannya di gedung tua yang ia temukan.


“Om ayo kita pergi ke gedung tua di sana !” ajak si gadis kecil dengan nada yang penuh ketakutan yang mengganggu.


Sesampainya di tempat persembunyian itu, Alex langsung terkapar. Tubuhnya terlalu lemah untuk diajak berlari lebih jauh lagi. Sekalipun permata itu di tangan Alex, tapi sayangnya kekuatan batu itu tak bisa digunakan untuk memulihkan keadaannya sekarang.

__ADS_1


“Om sebenarnya siapa ? Kenapa gigi Om seperti… Drakula ?” tanya si gadis kecil dengan hati-hati ketika memperhatikan sesuatu yang dianggapnya aneh dari bagian tubuh Alex.


“Gadis kecil, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu, aku seorang Vampir yang baik. Aku akan membawamu pergi dari hutan yang berbahaya ini”


Alex terbata-bata ketika menjawab pertanyaan dari gadis kecil itu. Alex berusaha meyakinkan si gadis kecil itu bahwa dia adalah Vampir yang baik. Penuturan Alex disambut oleh anggukan kecil dengan keraguan yang bercampur.


“Sssttt… mereka di sini, sebentar lagi mereka sampai. Kita harus pergi”


Kekuatan Alex sudah mulai stabil untuk kembali berlari, terlebih dahulu ia harus mengantarkan anak kecil ini ke luar dari hutan karena tempat itu adalah tempat berbahaya bagi manusia.


“Kau mau pergi ke mana Alex ?”


Suara itu tiba-tiba terdengar di belakang Alexander yang sedang menggandeng gadis kecil. Langkahnya terhenti dan berbalik ke arah sumber suara yang tertuju kepadanya.


“Jake ! Kau takkan pernah memilikinya. Sudah kukatakan pergilah atau kau akan menyesalinya !”


“Ah, tampaknya kau ingin bermain-main denganku. Kau bahkan sama sekali belum berubah. Harga dirimu masih kau junjung tinggi sampai kau malu mengakui kekalahanmu sekarang, Alex !”


“Cepat pergi dari sini” perintah Alex sekali lagi pada gadis itu.


Jake sebenarnya begitu ingin memangsa gadis yang berusaha dilindungi Alex, namun permata biru itu lebih ingin ia miliki dibanding apapun saat itu. Alex mencoba mengalihkan perhatian Jake ketika gadis itu membawa permata itu dengan mulai menyerang Jake tepat dibagian dada, itu merupakan kelemahan Jake. Jake yang tak terima kemudian membalas serangan Alex.


Setelah beberapa lama pertempuran yang terjadi antara kedua Vampir itu, datanglah Ben untuk menolong sang ayah. Jake yang sudah lemah akibat pertempuran dengan Alex dengan mudahnya dikalahkan Ben.


“Ayah, kau baik-baik saja ?” tanya Ben yang menghampiri Alex.


“Ben, kau harus selamatkan gadis itu. Dia berlari ke arah sana” lirih Alex sambil menunjuk ke arah gadis itu tadi berlari.

__ADS_1


Dari kejauhan Ben bisa melihat jika Johan Willis berniat untuk mengejar gadis itu ketika melihatnya berlari di antara pohon. Ben berhasil menghalau Johan yang sedang mengejar si gadis kecil. Serangan demi serangan berhasil Ben berikan pada Johan.


Akhirnya gadis itu berhasil sampai di gerbang hutan terlarang. Napasnya tersengal-sengal. Setelah sampai di gerbang hutan terlarang, tubuhnya ambruk dan kepalanya menimpa batu besar yang membuatnya kehilangan kesadaran.


Tepat sekali ! Gadis itu tentu saja adalah Aura Zaskia. Aura kecil yang tersesat di hutan terlarang dan telah diselamatkan Alexander, ayah dari teman baru Aura, Beno Raven.


*Flashback off


“Jika itu benar, berarti…”


Ben yang melamun tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Gara.


“Astaga Ben, melamun terus. Apa yang kau pikirkan hah ?”


Ben yang sedikit terkejut kemudian memejamkan matanya. Dari ekspresi yang Ben tunjukkan sedikit membuatnya terlihat konyol.


“Kamu itu kaget biasa aja kali, konyol banget kayak gitu”


“Vampir kayak aku kan juga pernah jadi manusia jadi wajarlah kalau begitu”


“Oke, oke. Sekarang lebih baik kau masuk ke dalam rumah. Vivian mencarimu”


Ben mencoba menutupi apa yang sedang ia pikirkan. Tentang gadis kecil yang berusaha diselamatkan ayahnya beberapa tahun yang lalu dengan mimpi Aura mengenai pertemuannya dengan seorang Vampir baik. Hanya saja, fokus Ben bukan mengenai kedua perihal tersebut melainkan pada misteri di mana letak permata biru yang telah hilang. Jika gadis kecil itu adalah Aura, temannya, berarti permata biru itu juga bersamanya.


Sayangnya, keberadaan permata biru itu takkan menunjukkan di mana letaknya lagi ketika sudah di tangan seorang manusia karena ketika bulan purnama batu itu takkan lagi bersinar terang seperti ketika berada di tangan keluarga Vampir.


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next ?


__ADS_2