Vampir Romantis

Vampir Romantis
Romeo Sebastian Portman


__ADS_3

Seorang pria sedang berjalan pelan sambil pikirannya menerawang entah kemana. Jemarinya sambil bermain-main dengan layar ponsel, mencari nomor telepon seseorang di kontak teleponnya atau pun mencari akun media sosial orang itu. Sia-sia, ia sama sekali tak menemukan apapun terkait orang yang ia cari tersebut.


“Ah, bagaimana bisa wanita secantik dia tidak memiliki akun media sosial satu pun.” Keluh Romeo. Dan kalian pasti bisa menebak kalau seseorang yang sedang ia cari di mesin pencari Instagram adalah Vivian Raven.


Romeo benar-benar ingin melihat perempuan pujaan hatinya saat ini. Beberapa hari ini ia perasaannya persis seperti yang dirasakan adiknya, Aura. Tapi sayangnya Romeo terlalu malu untuk mengatakan kepada Aura kalau ia merindukan Vivian. Mungkin karena ia menghindar dari ledekan adik kecilnya itu.


Matanya kemudian beralih menatap lurus ke depan. Tepat dari arah 12 jarum jam, Vivian sedang berjalan ke arahnya. Berlenggang dengan begitu elegan dengan senyum menawan. Ia menggetarkan hati dan perasaan sang Romeo.


“Wajah itu... aku merindukannya.”


Kaki itu yang tadinya sempat kaku akhirnya bisa mulai melangkah lagi. Tepat di langkah ke keenam, mereka bertemu. Manik hitam Romeo bertemu dengan manik cokelat terang milik Vivian. Seutas senyum dari keduanya seolah kalimat yang saling bersahutan.


“Vivi...”


“Rome...”


“Kamu baik-baik saja ?” Tanya Romeo. Sebenarnya dia bingung apa yang harus dikatakan ketika bertemu dengan gadis impiannya itu, karena jujur saja dia bukan tipe pria yang suka menggoda perempuan seperti yang lain. Dan lagi pula Vivian bukan tipe perempuan yang harus digoda.


“Aku baik. Memangnya kenapa ?”


“Tidak, aku hanya khawatir kau kenapa-kenapa. Aku tidak melihatmu beberapa hari ini.” Romeo sudah menyerah apakah Vivian akan curiga terhadap perasaannya atas pertanyaan yang ia lontarkan.


“Oh itu, aku pergi ke suatu tempat bersama keluargaku. Kau tahu, ada sesuatu yang harus diselesaikan.”


Entah apa yang terjadi dengan Vivian sekarang, dia yang mulanya ingin menghindar dari Romeo, kini justru ingin bercengkrama dengannya lebih lama. Bahkan mereka tampak semakin akrab. Apa ini pertanda kalau Vivian jatuh cinta lagi dengan wajah yang sama itu ?


“Syukurlah. Pertanyaanku sudah terjawab sekarang.” Pria itu tersenyum lega. “Kamu mau kemana sekarang ?”


Vivian menengok ke jam tangannya. Melihat jarum kecil yang terus berdetak dari angka ke angka lain. “Sudah sore, aku mau pulang saja.”


“Kalau begitu kita pulang sama-sama saja. Kita tetangga ‘kan ?” Ucapnya sambil berharap dengan sangat kalau wanita impiannya ini mau menerima tawarannya itu.


“Baiklah.” Jawab Vivian tanpa sungkan.


Romeo serasa melambung ke awan ketika permintaannya diterima dan berharap ini merupakan langkah awal untuknya bisa semakin dekat dengan wanita itu. Pria itu begitu manis ketika membukakan pintu untuk Vivian dan membuat gadis lainnya iri ingin diperlakukan sama seperti itu.


“Oh ya, apa kamu mengenal Aura ?” Tanya Romeo. Pria itu benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus ia gunakan sebagai bahan pembicaraan dan ia menghindari momen kikuk yang sangat mungkin terjadi.


“Ya, aku mengenalnya. Dia adikmu ‘kan ?” Jawab Vivi ramah dan mata mereka berdua saling bertemu. Rasanya setiap kali momen ini terjadi jantung Romeo seakan dipompa dua kali lebih cepat dari biasanya.


“Ya, dia adikku satu-satunya. Aku rasa dia dan adikmu juga berteman akrab.”


“Maksudmu Ben ?” Vivian mengernyitkan dahi mendengar kalimat terakhir yang Romeo ucapkan. Benarkah Ben pernah bertemu dengan Romeo sebelumnya, pikir perempuan itu. “Kalian pernah bertemu ?”


“Kalau bertemu secara resmi dan berkenalan memang belum. Tapi, aku pernah melihatnya bersama Aura sudah dua kali. Pertama, saat dia jogging sore hari dan kedua saat mereka pulang sekolah.” Jawabnya sambil mengingat-ingat kejadian waktu itu.

__ADS_1


“Oh. Iya, mereka memang terlihat begitu dekat.”


Vivian kembali memikirkan apakah Ben benar-benar melihat Romeo juga waktu itu ataukah dia sama sekali belum pernah melihat wajah pria yang kini mengantarkannya pulang. Dengan wajah Romeo ini, jika Ben benar-benar melihatnya pasti ia akan menceritakan padanya juga. Wajah yang tak asing meski sudah ratusan tahun berlalu.


Perjalanan mereka tak lama lagi karena kini mobil Romeo sudah hampir memasuki gerbang kompleks perumahan. Jalanan juga sepi, hanya ada dua orang yang sedang berjalan.


Mobil Romeo melipir untuk menurukan penumpang istimewanya hari ini. Rencananya pria yang jago memainkan piano itu ingin keluar dari mobil dan membukakan pintu satunya lagi untuk si gadis pujaan, namun nyatanya Vivian sudah lebih dulu turun dan menutup pintunya kembali.


Vivian yang sudah di luar kembali menengok ke arah Romeo. “Terima kasih tumpangannya.”


“Sama-sama.” Ah, rasanya waktu cepat sekali berlalu bagi Romeo.


Saat deru mobil itu terdengar berhenti di halaman rumahnya, Alexander menyisikan horden dan melihat siapa yang di sana. Ia menatap bingung ternyata sosok Vivian, anaknya, lah yang muncul dari pintu mobil mewah tersebut. Biasanya Vivian pulang sendiri jika Gara tidak menjemputnya.


Dan pertanyaannya adalah siapakah orang itu ?


Masih dalam lingkungan yang sama, ada dua pasang mata yang juga menatap ke arah Vivian dan mobil di sampingnya. Mereka bersembunyi sambil mengendus sesuatu. “Vivian...”


Mereka yang sedang mengintai keberadaan Vampir cantik itu adalah Virgo Orlando dan pengawalnya, mereka bangsa serigala. Kalian pasti ingat bukan, kalau Virgo merupakan adik dari mantan kekasih Vivian Raven, Oliver Orlando yang mati saat peperangan antara bangsa Vampir dan bangsa serigala dahulu kala.


“Vivi...” Panggil Romeo lagi dan ia memutuskan keluar mobil untuk memberikan sesuatu di tangannya. “Bukumu tertinggal.”


Siapa sangka langkah Romeo yang begitu tiba-tiba ketika mengembalikan buku Vivian yang tertinggal di dasbor mobilnya membuat yang lainnya sangat terkejut. Bukan Vivian, melainkan Alexander dan dua bangsa serigala lainnya.


“Oliver ?!” Virgo saat itu ingin pergi menghampiri keduanya, namun dicegah oleh pengawal setianya.


“Anda mau kemana ?” Tanya pengawal setianya itu, Viko.


“Aku ingin menemui dia, Oliver, kakakku !”


“Bagaimana mungkin dia adalah Tuan Oliver, dia sudah lama sekali tiada. Anda lupa ? Dia hanya seorang manusia biasa yang wajahnya mirip dengan wajah Tuan Oliver.” Ucap pengawal itu lagi menjelaskan.


Virgo mengurungkan niatnya dan menunggu Romeo pergi lalu ia akan menghampiri Vivian untuk mengatakan sesuatu.


“Siapa dia ? Dia seperti Oliver.” Gumam Alexander. “Bagaimana mungkin dia hidup kembali, tapi aku tidak mencium aroma serigala dalam tubuhnya.”


Alexander kembali mencium sesuatu. “Aroma tubuh bangsa serigala !”


Disibaknya kembali tirai itu dan tak menemukan Romeo maupun mobilnya tadi, yang ada hanya dua orang lelaki dengan aroma tubuh serigala. Alexander mengkhawatirkan keselamatan Vivian.  “Virgo Orlando !”


“Selamat sore, Nona Raven.” Sapa Virgo kepada Vivian. “Lama tidak bertemu.”


“Mau apa kamu kemari ?” Vivian kemudian melesat ke arah hutan terlarang karena hanya di sana tempat teraman untuk bertemu dengan bangsa dari dimensi lain, karena pertemuan itu bisa saja mengakibatkan pertempuran dan itu berbahaya untuk manusia. “Ikut aku !”


Virgo dan pengawalnya mengikuti kemana Vivian pergi.

__ADS_1


“Bagaimana kabarmu dan keluargamu, Vivian ?”


“Tidak perlu basa-basi. Mau apa kau kemari ? Menyerang kami atau untuk memangsa manusia ?”


Virgo mendekati Vivian yang telah dirundung amarah.


“Jangan salah paham. Aku kemari hanya untuk mencari seseorang.”


“Siapa orang yang kau maksud ?!” Vivian begitu khawatir jika orang yang dimaksudkan oleh Virgo adalah Romeo, karena ada kemungkinan Virgo melihat Romeo tadi.


“Entahlah. Aku juga tidak tahu.” Jawab Virgo begitu santai. “Ohya, siapa manusia yang tadi bersamamu ? Kekasihmu atau ?”


“Tutup mulutmu Virgo !! Jangan pernah kau berniat untuk menyakitinya !!!”


Pangeran serigala itu tersenyum miring. “Kau dan kisah cintamu itu begitu menyedihkan. Kau memang tak pernah berubah, dulu dan sekarang. Dulu kau mencintai pria dari bangsa serigala dan sekarang kau mengincar seorang manusia biasa. Dan di antara keduanya memiliki wajah yang sama.”


Vivian mencengkram kuat leher Virgo. Viko yang ingin menyelamatkan tuannya pun kalah cepat.


“Kau diam saja di sana, aku masih belum selesai dengannya. Atau kau mau lehernya ini kupatahkan ?” Ucap Vivian ke Viko.


Menyebalkannya lagi untuk Vivian, Virgo masih bisa tersenyum sinis dan tertawa dengan susah payah.


“Aku tidak yakin kau mampu membunuh bangsa serigala, Vivi.” Ucap Virgo dengan penuh susah payah akibat tangan kuat Vivi yang mencekiknya. Otomatis setelah mendengar hal itu, cengkraman yang tadinya begitu kuat kemudian melonggar.


Vivian kembali mengingat sesuatu, kematian Oliver. Pernyataan Virgo memang ada benarnya, sebab gadis Vampir itu tak pernah membunuh bangsa serigala sekalipun nyawanya hampir saja melayang saat peperangan melawan bangsa serigala, itu dikarenakan ia yang mencintai pria yang berasal dari bangsa tersebut. Meski cinta mereka ditentang dan meski Oliver harus lenyap tanpa sempat ia miliki.


Virgo mengusap lehernya yang hampir jadi korban kemarahan seorang gadis Vampir. Namun, apa yang dikatakannya barusan bukan untuk menyelamatkan diri atau apa. Melainkan ia mengatakan hal yang sebenarnya, kenyataan yang Vivian tak bisa menyangkal.


“Apapun yang terjadi dan siapapun dia, kuharap kau takkan melepaskannya.”


Kemudian Virgo serta Viko melesat pergi. Tinggallah Vivian yang masih berdiri mematung. Ia tak mengerti, mengapa Virgo mengatakan hal semacam itu, akankah yang dipikirkannya benar kalau Virgo menginginkan Vivian bersatu dengan Romeo yang notabenenya sekarang adalah seorang manusia biasa.


Di tengah kata-kata yang melayang di pikirannya, Alexander datang menghampiri anaknya. “Siapa dia ?”


Vivian terkesiap dengan kehadiran Ayahnya dan langsung melayangkan pertanyaan seperti itu. “Siapa maksud Ayah ?”


“Kamu tahu betul siapa yang Ayah maksud. Jujurlah, Vivi.” Pinta Alexander. “Orang itu bukan dari bangsa serigala dan bukan pula dari bangsa Vampir. Ayah tidak dapat melacak identitasnya. Siapa dia ?”


Vivian memejamkan matanya sejenak, mencari ketenangan dan menghembuskan napas yang beberapa detik lalu ia tarik. Deru napas berat terdengar sangat jelas di telinga Alex yang begitu tajam.


“Dia... Romeo Sebastian Portman.”


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?

__ADS_1


__ADS_2