Vampir Romantis

Vampir Romantis
Super Blood Moon (Part 1)


__ADS_3

Super blood moon, sebuah fenomena alam yang begitu langka terjadi. Tapi, bukan itu hal yang akan dibahas. Ini adalah mengenai sesuatu besar yang akan terjadi dalam dimensi ruang yang berbeda. Fenomena bulan merah raksasa tersebut dalam dunia bangsa Vampir merupakan sebuah pertanda buruk. Akan terjadi perang besar antar bangsa Vampir dan memecah belah mereka. Serangan yang dilakukan oleh pasukan Vampir jahat yang termasuk Jake Willis.


Alexander sedang bicara bersama Ben, anak bungsunya. Di atas balkon sambil menatap langit.


“Kamu harus menjaganya selalu. Mulai sekarang.” Ucap Alexander. Ben masih terkejut mengenai cerita Ayahnya mengenai keluarga Portman.


“Aku hampir tidak percaya dengan cerita Ayah.”


Alexander tersenyum dan menoleh ke arah anaknya yang berdiri di samping. “Kamu menyukainya ?”


Ben terdiam, lalu menatap Ayahnya. “Apa salah ?”


Maksud dari pertanyaan Beno Raven yang mempertanyakan hal demikian adalah apakah salah jika seorang Vampir seperti dirinya mencintai manusia biasa seperti Aura.


“Cinta bukanlah sesuatu hal yang salah. Juga kalian berdua. Masalahnya adalah apa dia mau menerimamu meski dia tahu kau adalah seorang Vampir. Beberapa ratus tahun yang lalu juga pernah terjadi seperti ini, cinta yang tumbuh dari manusia dan Vampir. Sayangnya, cinta mereka sangat ditentang Vampir lain waktu itu. Si pria Vampir harus rela mati dibantai oleh Vampir jahat lain dan si wanita harus tersiksa sepanjang waktu mengetahui kalau kekasihhnya sudah tiada.”


Ben yang terdiam pikirannya melayang ke Aura. Bagaimana jika hal itu terjadi juga kepada dirinya dengan Aura dan cinta mereka justru ditentang oleh yang lain. Ben tidak akan pernah sanggup jikalau Aura suatu hari nanti akan menderita akibat dirinya hingga akhirnya meninggal.


“Bagaimanapun perasaanmu terhadap gadis itu, kau harus tetap waspada, jangan sampai lengah. Sebentar lagi akan terjadi peristiwa besar dan penyerangan. Sehari setelah itu Vampir lain pasti akan memburu kita, juga memburu siapa dan apa saja yang kita anggap sebagai penting.” Tutur Alexander.


“Super blood moon. Apa lagi yang akan terjadi kali ini ?” Kata Ben. Mata pria ini memandangi rembulan malam itu. Matanya menyiratkan kesedihan.


“Entahlah. Ayah harap itu bukan hal yang sebesar kali terakhir terjadi. Seseorang yang mengorbankan salah satu bagian berharga dari hidupnya dan membuat kekacauan.”


Pada peristiwa super blood moon terakhir sebenarnya Jake Willis telah mengorbankan istrinya Veronica untuk mati di tangan dirinya dan membuat dia beserta anak-anaknya menjadi sangat kuat dan membantai Vampir lain dan membuat pasukan. Termasuk dari korban Jake adalah kematian Amanda, istri dari Alexander.


Saat bulan terlihat kemerahan seperti darah, di saat itulah bangsa Vampir seperti lumpuh dan kekuatan mereka menghilang selama fenomena itu terjadi. Dan setiap kali setelah peristiwa tersebut terjadilah penyerangan dan peperangan karena sehari setelah peristiwa tersebut kekuatan mereka bertambah. Jake Willis sehari sebelum Super Blood Moon terjadi, dia mengorbankan istrinya untuk membuat dirinya kebal. Itulah harga yang harus dibayar oleh Jake yang begitu mencintai Veronica.


Selang waktu berlalu, di berbagai media tengah membicarakan peristiwa langka yang akan terjadi dalam akhir bulan ini. Super blood moon. Fenomena ini tampaknya sangat menarik perhatian masyarakat masa ini, karena bisa jadi mereka hanya bisa menyaksikannya satu kali dalam seumur hidup.


Tapi tidak bagi bangsa Vampir. Mereka tengah gelisah ketika fenomena itu akan terjadi, sebab peristiwa bulan merah darah selalu saja menyebabkan pertempuran berdarah sehari setelahnya. Alexander takkan pernah lupa bagaimana Amanda meninggal di tangan keluarga Willis.


*Flashback


Sehari sebelum fenomena langka super blood moon terjadi, di malam itu, Jake bersama dengan Julia, Jordan, dan Johan Willis sedang mengelilingi api besar yang sedang berkobar. Api yang membakar Veronica, istri sekaligus ibu dari anak-anak Jake. Bukan tanpa alasan mengapa Veronica rela mengorbankan dirinya. Veronica yang begitu mencintai Jake berusaha untuk melindungi suami dan anak-anaknya untuk membuat pasukan Vampir untuk mengalahkan keluarga Portman dan keluarga Raven.


Awalnya Jake Willis tak berniat untuk mengorbankan istri yang begitu ia cintai demi berusaha mengambil batu permata yang masih di tangan Jade dan sekaligus mendapatkan kedudukan tertinggi dalam dunia Vampir, tapi lama kelamaan Veronica mengetahui hal tersebut dan bersedia untuk mati. Karena jika Jake berhasil mendapatkan batu berkekuatan magis tersebut, Jake pastilah bisa mendapatkan apa yang ia mau, sekalipun untuk kembali menghidupkan Veronica.


Dengan mengorbankan Veronica terbakar di api tersebut setelah sebelumnya darah Veronica mereka minum sebagai pelindung dari kelumpuhan yang akan mereka terima di hari super blood moon. Maka dari itulah, bukan hanya karena batu permata itu dianggap Jake sebagai sesuatu yang seharusnya ia dapatkan, melainkan ia akan merasa begitu berdosa jika ia tak mampu menghidupkan istrinya kembali.

__ADS_1


*Flashback off


Sejak pagi sebelum berangkat ke sekolah, Aura sudah mendengar berita di televisi mengenai super blood moon yang akan terjadi dalam waktu dekat. Tak hanya sampai di situ, di sekolahnya pun turut heboh mengenai fenomena langka demikian.


Bukannya Aura tidak tertarik mengenai pembicaraan yang sedang heboh itu, atau bukan juga ia tidak peduli dengan hal semacam itu, melainkan pertama kali ia mendengar berita tersebut ada sesuatu dalam hati kecilnya, sesuatu yang ia takutkan tapi dirinya sendiri tidak memahaminya.


Aura yang memasuki area sekolah, ia yang sedang berjalan menuju ke kelas tampak melamun sembari mendengarkan suara alunan yang menggema berasal dari headphone yang ia kenakan. Bahkan Zi yang menghampiri dan berjalan di sampingnya itu pun hampir saja tak ia sadari.


“Eh, Zi !” Sapa Aura yang baru saja sadar akan kehadiran Zi. Aura melepaskan headphone-nya.


“Elo ngelamunin apaan sih, Ra ? Sampai nggak sadar gue ada di samping lo gini.” Tanya Zi dengan nada sedikit khawatir, juga kepo.


“Sorry, Zi. Gue… juga nggak ngerti sama yang gue rasain hari ini.” Aura menghentikan langkahnya, juga Zi. Kini, Zi terlihat benar-benar khawatir.


“Lo kenapa Ra ? Lo baik-baik aja kan ? Lo nggak sakitkan ?” Tanya Zi bertubi-tubi.


“Bukan tentang itu, Zi. Gue baik-baik aja. Cuma… gue nggak tahu kenapa kayak ada hal aneh yang gue rasain. Kayak ada yang gue khawatirin hal buruk terjadi, gue takut, tapi gue tahu itu apa.” Aura menampakkan ekspresi khawatir yang memang benar ia rasa.


Zi mencoba menenangkan Aura dengan memegang kedua tangannya. Walaupun dari luarnya Zi terlihat seperti seorang yang begitu ingin tahu terhadap urusan orang lain alias kepo maksimal, tapi sewaktu Zi begitu penasaran dengan apa yang Aura rasakan, itu adalah bentuk kepedulian yang Zi miliki terhadap sahabatnya, Aura Zaskia Portman.


“Kalau lo ada apa-apa, kalau perasaan lo masih nggak enak atau ngerasain hal aneh, lo cerita lagi sama gue. Gue selalu siap dengerin itu. Pokoknya nggak boleh ada hal yang lo sembunyiin dari gue, contohnya… kalau lo udah jadian sama si ‘ehem’ jangan lupa kasih tau gue.” Kemudian Zi menggoda sahabatnya itu. Mencoba mencairkan suasana pagi yang indah yang tadi sempat sedikit kelabu karena melihat wajah murung Aura.


“Apaan sih. Si ehem ? Siapa emangnya ?” Aura berusaha mengelak meskipun dia sangat peka kalau arah pembicaraan ini tertuju kepada sosok Tuan Beno Raven.


“Yah elo Ra, pakai acara pura-pura nggak peka pula. Haha.” Keduanya lalu tertawa dan melangkah masuk ke dalam kelas.


Sesampainya di tempat duduk mereka berdua, Aura dan Zi. Mereka kemudian duduk, tak luput pula pandangan Aura mengarah kepada seseorang yang baru saja masuk, tak lain adalah Ben. Dengan spontan ketika keduanya bertukar pandang, senyum keduanya mengembang.


Seperti biasanya juga, ketika Ben datang selalu ada saja sesuatu yang diberikan oleh penggemarnya yang berada di kelas, tak terkecuali dari Delia cs. Entah itu cokelat atau roti lapis sebagai sarapan untuk sang pria tampan.


Ben hanya menyambut pemberian para gadis yang begitu tergila-gila kepada dirinya itu dengan ramah, walau pada akhirnya ia juga tidak memakan apa yang mereka berikan dan memilih memberikan pemberian itu kepada teman-teman laki-lakinya di kelas.



Bel pertanda jam istirahat pertama sudah berbunyi dengan keras dan terdengar di setiap penjuru sekolah. Penghuni sekolah dari guru sampai siswa-siswinya berhamburan keluar dari ruang kelas. Di saat seperti inilah mereka para siswa dan siswinya konsisten menyerukan rasa senangnya ketika pelajaran sudah selesai.


Seperti seseorang yang sudah berpikir keras ketika menghadapi pelajaran yang berlangsung dan otaknya perlu beristirahat, tetapi tidak juga. Justru ada yang dari mereka tak luput dari hukuman para guru karena ketahuan ketiduran di kelas, membawa majalah fashion, ataupun ketahuan bermain game online. Jangan dicontoh ya guys.


“Aku tunggu di atap, ya.” Kata Ben yang sedikit berbisik ke telinga Aura yang sedang berjalan menuju kantin bersama Zi. Ben kemudian melewati keduanya.

__ADS_1


Aura tak mampu berkata-kata lagi setelah Ben membisikkan kata-kata itu ke telinganya. Kaget bercampur dengan deg-degan karena pria itu adalah pria yang ia cintai. Jadi wajarlah bagaimana dia kini sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Biarpun Zi berada tepat di samping Aura ketika Ben sedang berbisik, tetap saja Zi tidak mengetahui karena dia sedang asik mengoceh.


“Ra !” Panggil Zi yang melihat Aura terdiam di belakangnya ketika ia menoleh. “Are you okay ?”


“Gue kayaknya…” Jawab Aura dengan kata-kata yang menggantung. Zi pun menghampiri Aura.


“Jantungan.” Ucap Aura melanjutkan kata-katanya. Lalu dia berlalu tanpa merasa berdosa dan meninggalkan Zi yang sedang mengamatinya bicara. Zi langsung cemberut ditinggalkan oleh Aura, sekaligus bingung dengan tingkah Aura yang aneh menurutnya di hari ini.


Zi hanya melihat ke Aura yang berjalan meninggalkan dirinya. Dia tersenyum. Zi sangat paham kalau sekarang Aura begitu karena Ben. Walau ia tidak tahu apa yang sudah Ben lakukan kepada Aura, tetap saja dia sangat memahami keadaan yang dialami Aura saat ini. Terlebih ia mengerti hal demikian karena Aura yang berjalan mendahuluinya itu justru berbelok ke arah yang berlawanan dari jalan yang menuju ke kantin, tempat tujuan mereka tadi.


“Akhirnya lo benar-benar terjerat sama Ben, Ra.”


Dengan perasaan dag dig dug juga dengan perasaan takut yang sempat melandanya karena sesuatu yang tak ia pahami, Aura melangkah menaiki anak tangga menuju atap sekolah. Menemui Ben.


Di sini, di atap sekolah, terlihat Ben yang sudah menunggunya dengan dua kaleng minuman bersoda yang tadi sempat ia beli di kantin sebelum ke rooftop. Di mata Aura kini Ben terlihat sangat keren dengan penampilannya yang membuat semua wanita di sekolah histeris jika mendapati seutas senyum di sudut bibir pria itu, termasuk dirinya yang seolah akan meleleh. Ben memang selalu begitu, bahkan sejak pertama mereka bertemu di waktu hujan, Ben selalu tampan di mata seorang Aura.


Telinga tajam seorang Vampir seperti Ben tentu mendengar begitu jelas suara sepatu kets Aura yang berjalan ke arah dirinya, bahkan ketika Aura masih berada di tangga. Sesekali pula pria Vampir itu tersenyum mengingat sesuatu yang ia alami bersama Aura.


“Ada apa ?” Tanya gadis itu sesaat sebelum dirinya benar-benar tepat di sisi kiri Ben. Tangan Ben lalu menyodorkan sekaleng minuman kepada Aura, gadis itu menyambutnya dengan senang hati.


“Tidak banyak, hanya saja aku ingin kesini. Besok dan untuk beberapa hari ke depan, aku tidak masuk sekolah. Ada sesuatu yang harus kulakukan.” Kata Ben. Aura seketika diam. Minuman kaleng yang sudah Aura buka itu pun urung diminum.


Sesuatu yang mengusiknya hari ini kembali Aura rasakan. Ketakutan yang tak ia mengerti apa penyebabnya. Wajahnya yang tadi sempat menunduk ketika gelisah itu datang, kini ia beranikan diri untuk menatap wajah Ben. Sendu. Entah itu karena Ben yang ia khawatirkan atau orang lain, lebih jelas lagi ia ingin sekali agar pria itu agar tetap di sampingnya dan memastikan Ben baik-baik saja.


“Kenapa kamu hanya diam saja ?” Ben bertanya ketika manik hitam mereka bertemu.


“Jangan sampai kamu terluka. Itu saja. Jangan lama-lama.” Ucap Aura sedikit hati-hati, takut Ben akan salah paham dengan perasaan yang ia miliki jika pria itu sampai tahu.


“Baiklah. Aku akan baik-baik saja.” Ben tersenyum lagi. Lagi dan lagi, bahkan seolah senyum Ben tak hentinya mengembang ketika sedang bersama Aura. Dari semua cerita Vampir yang kalian baca, mungkin inilah Vampir yang cenderung aneh yang sikapnya tak pernah orang-orang menyangka kalau identitas sebenarnya yang ia miliki adalah bukan manusia, melainkan dirinya seorang Vampir. Vampir yang sangat ramah, juga manis.


“Memangnya kamu ada urusan apa sampai izin berhari-hari ?” Tanya Aura yang sedari tadi menyimpan rasa penasaran.


“Aku ada urusan sebentar. Urusan keluarga, jadi aku sama keluargaku akan pergi ke suatu tempat.” Ben terlihat begitu santai ketika mengatakannya, dia tidak ingin Aura mengetahui kalau hal ini berhubungan dengan fenomena yang sebentar lagi akan dialami.


Karena tidak ingin terlalu menunjukkan rasa khawatirnya terhadap si pujaan hati, Aura hanya bisa menerima alasan yang diberikan Ben. Sekaligus sebagai cara untuk menenangkan dirinya sendiri dan membuat pikirannya untuk hanya berpikir kalau Ben akan baik-baik saja.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2