Vampir Romantis

Vampir Romantis
Di Masa Lalu


__ADS_3

Aura yang pulang ke rumah masih penuh di kepalanya dengan kata-kata dan pertanyaan. Tentang siapakah sosok Virgo yang baru saja ia temui dan ia hampir-hampir tidak mempercayai bahwa kenyataan telah mengatakan bahwa dirinya hampir saja menjadi mangsa untuk Vampir jahat. Sewaktu mengingat-ingat akan hal itu, ia selalu bergidik ngeri jika sampai hal buruk itu menimpa dirinya.


Entah dia melamun atau tidak namanya itu, Aura yang baru tiba di rumah tidak menyapa abang tercintanya sama sekali. Romeo sampai celingak-celinguk ketika Aura langsung masuk tanpa permisi, melewati dirinya yang sehabis selesai mencuci mobil. Biasanya Aura selalu menyapa dengan menggoda Romeo.


Aura yang baru masuk ke dalam rumah langsung disambut Laras. Setelah mencium punggung tangan sang Mama sehabis memberi salam pun, Aura meletakkan tas punggungnya itu ke sofa dan mengambil air mineral di dalam kulkas.


Romeo lalu menghampiri adiknya itu sambil menatapnya dengan begitu lekat dan tidak hanya itu, Romeo juga meletakkan telapak tangannya di dahi Aura seperti seseorang yang sedang mengecek suhu badan orang yang sedang demam. Aura yang tidak mengerti tentang hal itu pun langsung menepis tangan sang kakak.


"Apaan sih Bang Rome ??" Ucap Aura kesal. Tidak seharipun mereka berdamai dan menjadi kakak-beradik yang normal seperti orang pada umumnya.


"Kamu tuh yang kenapa ? Tumben banget main lewat gitu aja di depan Bang Rome." Jelas Romeo kepada sang adik. Aura kemudian bingung sendiri mendengar perkataan Romeo.


"Ah, Bang Rome ada-ada aja, kapan aku kayak gitu coba ?" Aura mengeles.


"Tadi !" Sekarang Romeo yang mulai kesal terhadap tingkah Aura. Tapi, bukannya pergi meninggalkan Aura, Romeo justru semakin berniat untuk mengetahui apa yang tengah terjadi dengan Aura karena memang adiknya tidak pernah bersikap sedemkian. "Serius, Bang Rome tanya, kamu kenapa ?"


Tidak langsung memberikan jawaban, Aura memilih menimbang-nimbang apakah ia harus menceritakan atau tidak terkait peristiwa aneh yang baru saja ia alami. Jika ia katakan bahwa telah bertemu dengan Vampir yang mana jika tidak ada Virgo di sana, ia sudah menjadi mangsa, jika begitu Aura berpikir akankah Romeo akan mempercayainya ataukah malah menertawakan.


Karena mana Romeo sangat tahu kalau Aura suka sekali membaca novel berkaitan dengan makhluk penghisap darah, tidak dimungkinkan kalau pernyataan Aura akan dikatakan sebagai efek dari hobi tersebut dan hanyalah ilusi atau khayalan dari seorang anak remaja.


"Nggak ada apa-apa." Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan lalu ke kiri lagi. Entah benar atau tidak tindakan Aura berbohong kepada Romeo sekarang ini, Aura hanya bisa melakukan hal itu. Ia tidak ingin nantinya Romeo dan orang tuanya akan mengkhawatirkan dirinya. Sesuatu yang ia bisa lakukan mulai sekarang adalah berhati-hati.


Aura yang selesai minum, kemudian pergi ke kamar meninggalkan Romeo yang tadinya juga ingin bertanya tentang kemana perginya keluarga Raven, tepatnya mengenai kabar dari Vivian. Tapi sebelum bertanya, Aura sudah keburu menghilang di balik pintu. Kalau sudah di kamar, Romeo tidak tega untuk mengganggu adik kecilnya itu yang pastinya ingin beristirahat.


"Ada apa Ben ?" Tanya Alexander ketika Ben merasakan sesuatu di hatinya dan Alexander bisa mendengar hal itu.


Di pertempuran itu Jordan mati di tangan Ben. Untuk itulah Jake memilih mundur dengan sangat terpaksa. Bukan hanya itu, ambisi dan dendamnya semakin memuncak teruntuk keluarga Raven.


"Ada yang kukhawatirkan, Ayah. Seperti ada sesuatu yang buruk sudah terjadi, tapi..." Ben seolah menyisir penglihatan Vampirnya yang tajam, tapi gagal. "Aku tidak melihatnya dengan jelas."

__ADS_1


"Kamu harus awasi orang-orang di sekitarmu, kamu tidak akan tahu siapa saja bisa menjadi ancaman." Pesan Alexander untuk Ben. "Terlebih untukmu, Jake pasti akan membalaskan dendam atas kematian Jordan. Kau tahu kalau Jake bisa melakukan apa saja agar dendamnya terbalas, bahkan mereka tidak sungkan untuk mengganggu orang-orang yang berada di pihakmu."


"Aku mengerti, Ayah. Jake adalah musuh yang sudah tentu akan kita hadapi kembali. Dan yang aku khawatirkan adalah musuh yang tak pernah kita duga sebelumnya juga terlibat dan sedang mengincar kita." Kata Ben kepada sang Ayah. Sesuatu yang Ben khawatirkan tersebut ada kaitannya dengan penglihatan yang tidak jelas beberapa saat lalu.


Keesokan harinya. Matahari kembali terbit setelah terbenam di tengah kegundahan yang Beno Raven rasakan. Ben masih belum menemui Aura setelah ia pulang dari hutan terlarang. Ditambah dengan telepon pintar yang ia bawa sekarang sama sekali lupa untuk diisi dayanya, jadi Ben masih belum membaca pesan dari Aura yang ia nanti-nanti.


Alih-alih Ben mengisi daya ponsel miliknya, ia justru memilih untuk menemui Aura secara langsung sewaktu di sekolah nanti dan menanyakan bagaimana kabar gadis manis pujaan hatinya. Memang pria Vampir seperti Ben tidak mengetahui kalau sikapnya yang seolah mengabaikan pesan tersebut bisa membuat perempuan yang baru pertama kali merasakan cinta rasanya akan seperti seseorang yang sedang dicampakkan.


Hari ini tepat Ben kembali ke sekolah, hari yang ditunggu Aura. Namun, berhubung ia mendapat tugas piket hari ini, gadis itu berangkat pagi-pagi sekali dan melepaskan kesempatan untukberangkat bersama Ben ke sekolah.


Sementara di tempat lain,ada Romeo yang juga sedang dilanda kegalauan akan rindu yang tengah ia rasa. Sama seperti yang adiknya rasakan. Romeo mengetahui kalau Vivian dan keluarganya bepergian ke suatu tempat karena ada sesuatu hal yang harus diurus, itulah yang Aura katakan padanya. Romeo, pria itu, tidak peduli dengan apa yang Vivian lakukan bersama keluarganya, sebab ia hanya mengerti kalau kerinduannya begitu mengganggu.


Sejak hari ketika Romeo mempunyai kesempatan untuk pertama kalinya menghabiskan waktu bersama Vivian di sebuah taman untuk membaca buku sekaligus membahas kisah mengenai Romeo dan Juliet karya Shakespeare, pria itu mempunyai kesempatan untuk maju satu langkah ke arah sang Juliet.


"Bagaimana ini, apa aku harus pergi ke dokter mulai sekarang ? Lama-lama aku bisa jatuh sakit karena rinduku setelah sebelumnya aku jatuh cinta kepadamu." Lirih Romeo yang sedang mengemudikan mobil menuju kampus. "Ahh ! Bahkan aku tidak berani menghubungimu lebih dahulu. Aku... tidak menemukan alasan yang kuat."



Ketika siswi-siswi lain bergerombol mengikuti langkah kaki Ben, dari belakang tanpa perlu melihat siapa yang mereka ikuti, waktu itu tebakan Zi sudah benar kalau mereka tengah mengikuti Ben menuju kelas.


"Ah, mereka sangat bersemangat pagi ini." Lalu Zi tersenyum mengingat Aura dan membayangkan betapa bahagianya sahabatnya hari ini karena Ben sudah kembali. "Akhirnya gadis itu bisa tersenyum hari ini."


Ben yang memasuki kelas langkah mencari di mana keberadaan Aura. Namun, belum ia dapatkan, ia hanya melihat tas Aura sudah berada di tempat duduknya. Ben memutuskan untuk mencari Aura ke luar dan berpapasan dengan Zi yang akan memasuki ruang kelas. Ketika itu Aura ke halaman belakang untuk membuang sampah bersama Sara, teman sekelas yang memiliki tugas piket bersamanya hari ini.


Selesai membuang sampah, Sara yang berbalik ke arah belakang terkejut karena kehadiran Ben yang mengamati mereka. Setelah Sara, kini ada Aura yang turut terkejut melihat Ben yang benar-benar ia rindukan. Si Vampir tampan itu berjalan ke tempat kaki dua gadis itu berpijak.


"Ben !" Sapa Sara. Ben lalu memberikan senyum sebagai sahutannya, memang sedikit kurang sopan karena Ben tidak menjawabnya, namun itulah Ben dan ia selalu seperti itu. Pria itu tidak selalu menjawab sapaan dari orang lain dan walau demikian para gadis sudah merasa melayang kala mendapat senyuman sang Vampir.


Pria tinggi penuh pesona tersebut sudah berdiri tepat di hadapan Aura yang sehabis membuang sampah. Bukan tersenyum dan bukan juga marah, Aura hanya menatap wajah Ben dengan raut wajah yang sulit ditebak. Raut wajah yang terlukis itu menggambarkan perasaannya yang juga campur aduk mengenai perasaan sepihak yang ia miliki teruntuk pria bernama lengkap Beno Raven.

__ADS_1


Aura begitu paham kalau ini tidak adil juga bagi Ben kalau sampai pria itu mendapatkan marah, kecewa, atau apapun itu namanya oleh dirinya. Karena mana pria itu sama sekali tidak bersalah atas apa yang telah ia rasakan kini, cinta yang sudah tumbuh cukup lama itu kian hari kian besar dan Ben sama sekali tidak mengetahui. Itulah alasan mengapa Aura bingung dengan keadaan yang seharusnya ia bahagia dapat kembali melihat pujaan hatinya, namun ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan sangatlah itu mengganggunya.


"Aku mau ke kelas." Kata Aura yang membuka pembicaraan setelah sebelumnya mereka saling berpandangan. Baru beberapa langkah Aura melewati Ben, pria itu justru menghalanginya untuk ke kelas, setidaknya untuk beberapa saat.


"Bagaimana kabarmu beberapa hari ini ? Baik-baik saja, bukan ?" Tanya Ben. Gadis itu lalu melirik sebentar ke arah wajah Ben yang menampakkan benar-benar ada kekhawatiran yang dirasakannya.


"Aku baik." Jawab Aura singkat. Namun, hatinya kembali dipenuhi kata-kata. "Entahlah."


Kata-kata dari hati yang tengah gundah dari seorang Aura sungguh terdengar jelas di telinga Ben. Pria itu tentu khawatir dengan apa yang tengah Aura rasakan dan ia sungguh peduli dengan kegelisahan ataupun hal yang mengusik dari gadis yang sudah membuat hatinya terpikat itu.


Sedang di Perpustakaan. Suasana pagi ni masih agak sepi, karena mana mahasiswa lain sedang melangsungkan perkuliahan di kelas. Ataupun masih ada yang belum datang sebab kelasnya belum dimulai atau tidak ada kelas pagi. Saat itulah, di salah satu pojok ruang baca tersebut ada Romeo. Tidak tahu kenapa pula dia datang pagi sekali, padahal kelasnya di mulai siang nanti.


Dengan ditemani satu buku yang lebih tepatnya ia abaikan karena pikirannya jauh melayang, Romeo tampak menyedihkan selama beberapa hari belakangan. Seolah di sana, ada seseorang yang sedang ia tunggu.


Romeo bukan pria melankolis, dia lebih cenderung ke arah seseorang yang menyebalkan, itu kata Aura. Kalian mungkin bisa menyimpulkan kenapa pria itu bisa berubah. Benar, itu karena si Juliet yang perrgi entah kemana. Dari luar ruangan, ada seseorang, dia wanita, yang memandang Romeo lamat-lamat.


"Kenapa kalian begitu mirip ?" Kata wanita itu. Dialah Juliet yang sedang dinanti sang Romeo. Vivian Raven. Entah apa maksudnya. "Setiap kali aku melihatmu, sejak pertama itu. Aku tidak mungkin keliru, kamu mirip dengan Oliver."


Perlu kalian ketahui, Oliver atau Oliver Orlando adalah kakak dari Virgo Orlando. Pria itu adalah seorang manusia serigala yang pernah terlibat cinta dengan Vivian Raven sekitar dua ratus tahun yang lalu. Kisah cinta mereka sangat ditentag oleh Alexander Raven, ayah dari Vivian yang seorang dari bangsa Vampir.


Bagaimanapun di dunia mereka, cinta yang terjalin antara bangsa Vampir dengan bangsa serigala, itu dilarang dan harus dihapuskan. Ketika itu terjadi pertempuran antara dua bangsa tersebut, bangsa Vampir dan serigala. Dari bangsa Vampir, hanya keluarga Raven yang tidak turut ikut dalam pertempuran. Pertempuran itulah yang menewaskan Oliver yang hendak menyelamatkan saudaranya, Virgo dari serangan Vampir lain.


Wajah antara Oliver dengan Romeo menurut Vivian memiliki kemiripan. Sejak kali pertama pertemuan mereka, Vivian yang seolah tidak peduli dengan Romeo sesungguhnya selalu memperhatikan pria itu. Vivian bersikeras untuk menjauh dari Romeo karena masa lalu yang menurutnya menyakitkan itu selalu terbayang olehnya.


Vivian hanya tidak ingin kalau luka lama akan kembali terjadi dan ia sangat takut akan kembali jatuh cinta dengan wajah yang mengingatkannya kepada Oliver. Walau bagaimanapun, Oliver yang pernah membuat bahagia hari-harinya dahulu, juga meninggalkan luka yang masih belum sembuh di hati gadis Vampir itu ketika Oliver harus lenyap akibat pertempuran mengerikan.


"Ayah pasti terkejut melihat Romeo. Romeo yang wajahnya mirip dengan manusia serigala yang ia benci. Maaf Rome, aku membuatmu menunggu. Harusnya dari awal aku tidak perlu bertemu denganmu ataupun memberikan kesempatan untukku sendiri membuatmu berharap padaku. Aku tahu bagaimana perasaanmu." Vivian merasa begitu buruk karena seolah memberikan harapan untuk pria itu, sedang Vivian hanya berniat melihat wajah Oliver yang ia rindukan lebih dekat. Karena ketika ia mengobrol dengan Romeo, seolah ia sedang bicara dengan Oliver. Vivian juga mengetahui kalau Romeo mulai menaruh perhatian padanya.


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next?


__ADS_2