
Di kompleks tempat tinggal Aura dan Ben ada sebuah gedung olahraga. Mereka berdua sedang berada di sana untuk bermain basket karena lapangannya berada di dalam ruangan, sebab Ben tidak bisa bermain basket di tengah teriknya matahari. Di sana mereka bisa bebas bermain basket, sebab baik Ben maupun Aura, mereka sama-sama menyukai permainan tersebut.
Sesampainya di sana, mereka lega karena hanya mereka yang berada di sana dan mereka benar-benar bisa bermain sepuasnya tanpa harus berbagi lapangan dengan yang lain. Sebelumnya Aura berpesan untuk Ben jangan terlalu keras melemparkan bolanya, karena itu akan menyebabkan kekacauan dan kerusakan barang-barang di sana.
Aura sangat bersemangat karena ini kali pertamanya duel dengan kekasihnya di lapangan basket. Biasanya ia hanya bertanding basket dengan teman-teman sekelasnya saja dan Ben hanya ikut bermain basket dengan teman-teman sekelasnya jika mereka bermain di lapangan indoor. Setelah bermain cukup lama, wajarlah jika Aura kelelahan dan menatap tajam ke arah Ben.
"Hei, kamu curang ! Bagaimana mungkin kamu tidak kelelahan sedikit pun, huh." Omel Aura. Ben terkekeh.
"Hei, apa kamu lupa siapa kekasihmu ini ?" Balas Ben yang dengan mudahnya menembakkan bola dari jarak yang sangat jauh. Pria itu benar-benar bisa mengendalikan kekuatan super yang dimilikinya.
"Kamu mengejekku ? Kamu pikir hanya kamu yang bisa menembak dari jarak yang sejauh itu ? Aku juga bisa !" Kata Aura yang tak mau kalah.
Ben justru semakin ingin mempermainkannya, karena di matanya Aura semakin menggemaskan. "Benarkah ? Aku meragukannya."
Di tengah perdebatan romantis di antara mereka, datanglah seseorang lagi ke tengah lapangan. Ia menatap geli ke arah Ben dan Aura. Pria tinggi itu mendekat dan merebut bola basket dari tangan Ben.
"Kak Gara mau apa di sini ?" Tanya Ben yang heran mengapa kakak sepupunya itu juga berada di gedung olahraga. Gara yang ditanya justru perhatiannya tertuju penuh pada bola basket yang ia pegang. Ia menatap aneh dengan benda tersebut.
"Kak mau main basket juga ?" Sekarang giliran Aura yang bertanya. Gara menatap Aura.
Lelaki yang jauh lebih lama hidup dari Aura tersebut sudah sangat sering melihat benda yang disebut orang bola basket, ia sering melihat Ben memainkannya, namun ia belum pernah mencoba memainkannya. Entah mengapa baru sekarang bola itu menarik perhatiannya, sedangkan ia sudah hidup ratusan tahun, bahkan sebelum istilah basket lahir.
"Bagaimana caranya ?" Gara akhirnya menanyakan hal itu pada keduanya. Ia sangat penasaran dengan apa yang membuat bahkan Vampir seperti adiknya itu begitu menyukai permainan ini. Ben tersenyum dan meraih kembali bola itu dari tangan Anggara Raven.
Aura menyerahkan tugas untuk mengajari Gara bermain basket kepada Ben, sebab ia sudah begitu kelelahan. Ben mengingatkan bahwa Gara harus bisa mengendalikan kekuatan miliknya, lalu ia mengajari Gara sembari membuat kakaknya itu jengkel. Aura tertawa ketika melihat kekasihnya itu mempermainkan seorang Gara yang memang mudah kesal jika diperlakukan seperti itu.
Tak perlu menunggu waktu lama, keponakan Alexander Raven itu pun sudah sangat mahir memainkan bola basket tersebut. Aura bahkan sampai terkagum-kagum, karena Gara begitu jenius. Tidak seperti manusia yang harus berlatih untuk menjadi yang terbaik.
Kedua pria dari bangsa Vampir itu kemudian menghampiri Aura yang sedang duduk di pinggir lapangan. Bahkan seorang Aura juga baru mengetahui kalau Vampir juga memiliki perasaan layaknya dirinya, manusia. Dan batas pembeda dari mereka hanyalah jati diri mereka itu sendiri.
"Menyenangkan sekali jika kita terus bisa melakukan hal ini." Tutur Ben tiba-tiba. Aura menoleh ke arahnya kemudian. Gadis itu tidak memahami apa yang dimaksud kekasihnya itu.
"Apa maksud kamu kita tidak bisa terus melakukannya ?" Pertanyaan Aura itu membuat Gara bahkan terpaku. Ia memahami betul apa maksud pembicaraan itu.
"Kurasa kita tidak bisa hidup dengan keadaan yang seperti ini. Itu sangat tidak adil bagimu." Batin Beno Raven dan terdengar jelas di telinga Gara.
Aura rasa ia sudah mendapatkan jawaban dari diamnya Ben. Dunianya dengan dunia yang dimiliki Ben, itu sungguh berbeda dan dunia pasti akan menentang keras jika ia memilih hidup bersama seorang Vampir.
__ADS_1
"Apa keinginan terbesarmu ?" Aura melayangkan pertanyaan lain.
"Baik aku ataupun keluargaku, keinginan kami sama. Karena kami sudah terlalu lama hidup sebagai Vampir, kami ingin mengakhirinya." Jawab Ben.
Setelah mendengar jawaban dari Ben, hati gadis itu sakit mau tidak mau. Itu sangat bertentangan dengan keinginannya yang terus berharap bisa bersama Ben. Sebab, jika keinginan keluarga Raven sampai terwujud, itu berarti saatnya mengucapkan selamat jalan dengan mereka. Dengan pria yang ia cintai.
Aura berusaha mengendalikan perasaannya sendiri dengan menanyakan hal itu kepada Anggara atau Gara yang di sebelahnya. "Kalau Kak Gara ? Apa itu juga benar-benar yang Kak Gara inginkan."
Gara mengangguk. "Itulah tujuan kami pindah ke wilayah ini. Tapi, itu tidak semudah yang dibayangkan. Hanya ada satu cara yang dapat mewujudkan impian itu, tapi kami belum menemukannya."
"Apa itu ?" Gadis itu semakin tertarik dengan perkataan Gara.
"Batu permata biru yang diwariskan kepada kami. Itulah yang selama ini kami cari. Batu itu memiliki kekuatan ajaib dan bisa mengabulkan permohonan pemiliknya." Jawab Gara.
Aura mengernyitkan dahinya. "Kalau batu itu milik kalian, mengapa kalian harus mencarinya ?"
Vampir bersaudara itu lalu saling menatap dan mungkin inilah saatnya mereka mengakhiri perburuan batu bertuah tersebut.
"Batu itu ada hubungannya dengan hilangnya kamu sepuluh tahun yang lalu." Ucap Ben. Aura membulatkan bola matanya. Ia sama sekali tidak menyangka.
"Hah ? Bagaimana bisa ?"
"Hubungannya denganku apa ?"
Ben menghela napas karena ia tidak mampu melanjutkannya. Kini giliran Gara yang menjelaskan semuanya kepada Aura. Gadis itu tubuhnya seolah kaku mendengar satu kenyataan lagi yang di luar nalarnya. Ia sama sekali tidak bisa percaya dengan pernyataan Gara dan Ben yang seolah sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuknya.
Bahkan setelah ia pulang ke rumah dan jam sudah menunjukkan waktu kalau ia harus segera tidur, ia masih mengingat apa yang dikatakan kakak beradik dari bangsa Vampir tersebut. Aura bahkan mencoba menenggelamkan wajahnya di bantal dan menutup telinga dengan tangannya, namun tetap saja kata-kata itu terus menggema.
"Karena kamu adalah keturunan dari keluarga Portman yang sedang dicari keluarga Willis keberadaannya. Jade Portman yang sangat dibenci Jake Willis, saudara kandungnya sendiri dan memilih hidup bersama keluarga Willis. Batu berkekuatan ajaib itu diberikan Tuan Tonny Portman kepada Jade Portman, tapi Jake ingin mengambil batu itu."
Suara Gara itu terus menghantui Aura. Selang beberapa detik, suara Ben ikut menghantui pikirannya.
"Singkatnya Tuan Jade dan istrinya menggunakan satu batu permata ajaib itu untuk mengubah mereka menjadi manusia biasa dan meminta agar keturunannya tidak ditemukan oleh Vampir lainnya. Sampai itulah cerita bagaimana kamu merupakan keturunan dari manusia yang dulunya juga Vampir. Sebelum membuat permohonan itu, Tuan Jade menemui Ayah untuk memberikan permata itu. Kami terus menjaganya sampai akhirnya kami kehilangan batu itu sepuluh tahun lalu."
Sampai di situ Aura masih belum bisa tertidur.
__ADS_1
"Batu itu berhasil dicuri dari tangan kami oleh anak dari Jake Portman walau akhirnya kembali berhasil direbut. Dan malam itu, Ayah yang kamu temui menyerahkan batu permata biru itu kepadamu."
Begitulah pernyataan dua saudara itu kepada Aura.
"Tapi aku sama sekali tidak mengingat di mana aku menaruh permata biru yang dimaksud Ben dan Kak Gara." Aura mencoba memutar ingatannya ke sepuluh tahun yang lalu. "Apa itu ada hubungannya dengan munculnya lagi mimpi itu beberapa waktu lalu ?"
Aura teringat dengan mimpi buruk yang mengganggu tidurnya beberapa malam terakhir. Mimpi itu menurutnya ada hubungannya dengan jawaban di mana letaknya batu permata yang hilang itu.
"Aku harus mengingat kejadian itu dan menemukan permata yang dicari itu."
Tidak seperti hari biasa, hari ini cuaca cukup terik ketika waktu pulang sekolah. Aura yang menyadari hal itu ia berniat kembali kelas sebelum Ben pulang karena itu pasti akan membahayakan bagi Vampir. Sebab jika sampai Ben terkena cahaya matahari secara langsung itu membuat kulitnya terbakar.
"Kamu tunggu sebentar di sini. Jangan kemana-mana, aku mau ke kelas dulu." Pinta Aura pada Ben untuk tetap berada di koridor menunggunya sampai kembali. Aura berlari kembali ke kelas.
Ia berlari menuju lokernya yang terletak di dalam kelas dan memerika apakah payungnya masih ada di sana. Payung yang kadang lupa ia bawa pulang.
"Syukurlah masih ada di sini." Pertama kalinya Aura begitu senang melihat payung yang biasanya saat hujan deras pun tak ingin ia sentuh. Sekarang ia melihat payung itu dengan berbinar-binar sebab itulah penyelamat untuk kekasihnya.
"Di luar hujan ya Ra ?" Teman sekelas Aura, Bagas, bingung dengan payung yang dipegang Aura.
"Bukannya hujan, cuma gue tadi diminta Mama buat bawa balik payungnya lagi soalnya kalau besok pagi tiba-tiba hujan 'kan gue sendiri yang repot." Untunglah ia memiliki alasan yang logis. Walau selogis-logisnya alasan itu jika saja Bagas tahu bagaimana sebenarnya Aura yang malas pakai payung saat hujan, ia pasti takkan mempercayainya.
Aura segera kembali kepada Ben yang menunggunya di koridor. Ben menatap payung yang dibawa Aura, sedang Aura tidak mengatakan apapun. Mereka kemudian melanjutkan langkah untuk pulang dan ketika mereka hampir sampai ke lapangan, Ben menghentikan jalannya.
Ia menatap lapangan yang disapu oleh teriknya matahari. Itu jelaslah terlihat panas dan akan membakar kulitnya. Jika itu semua terjadi, ia pasti akan menjadi pusat perhatian dan identitas aslinya terkuak. Saat itulah Aura membuka payung yang ia bawa dan meletakkannya di atas kepalanya dan Ben.
Ben menatap Aura yang melakukan hal tersebut.
"Kita bisa pulang sekarang." Kata Aura pada Ben. Pria itu tidak akan menyangka kalau Aura sungguh peduli terhadap dirinya. Mungkin karena Aura sering membaca tentang cerita Vampir, ia memahami kalau Vampir takut pada panasnya sinar matahari.
"Terima kasih." Ucap Ben. Kini Ben mengambil alih payung tersebut untuk ia pegang. Ia takkan membiarkan gadisnya itu yang susah payah memayunginya sampai ke rumah. Apa yang mereka lakukan itu sungguh membuat orang lain kembali merasa iri.
Menjadi kekasih dari seorang Vampir tidaklah mudah. Aura harus bisa memahami dunia yang dimiliki sang kekasih dan mencoba menghilangkan ketakutannya tentang persepsi manusia lain kalau semua Vampir itu makhluk yang kejam. Karena pada kenyataan yang ia temui, Vampir dari keluarga Raven adalah Vampir yang sangat menghormati manusia.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next ?