Vampir Romantis

Vampir Romantis
Makan Siang


__ADS_3

Sore yang cukup indah sebenarnya, tapi hal itu belum cukup membuat kaki Aura beranjak dari sofa panjang tempat dia merebahkan diri sambil menonton siaran televisi. Aura sama sekali tak berniat untuk bangun meski hanya sekedar ke teras rumah.


Kedamaian Aura tidak bertahan lama ketika Romeo keluar dari kamar untuk mengacaukan aktivitas sorenya. Romeo yang sudah berada di sana langsung merampas remote dari tangan adiknya yang tengah berbaring cantik.


"Dasar cewek kebo, kerjaannya tidur mulu. Mending ke luar sana, siram tanaman kek."


"Iiihh Bang Rome apaan sih, nanti dulu lagi seru acaranya ini." Jawab Aura yang telah merubah posisi menjadi duduk. Tangannya juga terus berusaha meraih remote yang sekarang dalam genggaman Romeo, kakaknya.


"Loh Bang Rome kok siarannya diganti, kembaliin nggak !"


"Nggak mau. Pokoknya kamu keluar sana, siram tanaman nanti pada layu lagi." Ucap Romeo dengan santainya. Perdebatan kecil seperti ini memang sudah biasa terjadi.


Dengan sebal, Aura harus mengalah kepada abangnya ini dan berjalan menuju teras depan rumah. Alasan kenapa Romeo bersikeras menyuruh adiknya untuk menyiram tanaman karena sebenarnya tanaman itu memang milik Aura. Adiknya itu hobi sekali menanam bunga seperti mawar dan anggrek tapi masalahnya ia kadang bermalas-malasan untuk merawat walau hanya sekedar menyiramnya dan saat bunganya itu layu dia malah mengomel pada semua orang yang ada di rumah.


Sambil bersenandung kecil, Aura tampak menikmati kegiatan menyiram tanamannya sore ini. Kompleks perumahan tempat Aura tinggal memang selalu ramai, terlebih sore hari seperti sekarang.


"Bunganya bagus."


Pujian itu terdengar dari mulut laki-laki yang sedang memperhatikan Aura. Cowok yang walau hanya memakai kaos putih polos dan memakai celana training adidas hitam itu serta membawa handuk yang ia kalungkan di leher sudah membuat pria itu begitu tampan.


"Ben ? Oh, hai ! Mampir dulu sini."


"Hai juga. Kayaknya lain kali aja, aku mau jogging dulu."


"Oh gitu, ya sudah."


"Ehm, senyum kamu lebih indah dari bunga itu, bye." Ucap Ben yang kemudian pergi sambil melambaikan tangan.


Deg.


Jantung Aura kembali berdegup kencang ketika Ben mengatakan hal manis yang meluluhkan hatinya juga. Aura baru bertemu dengan cowok semanis ini tingkahnya. Ben yang dari tampangnya terkesan seperti pria dingin awalnya, tapi nyatanya semakin ke sini pria itu semakin hangat dan manis saja.


"Itu siapa ?" tanya Romeo yang tiba-tiba muncul mengagetkan adiknya, Aura.


"Bang Rome hobinya ngagetin aja sih, kalau Aura jantungan bagaimana ?" Aura kesal.


"Maaf, jadi tadi itu siapa ?"


"Oh itu tetangga baru."


"Maksud kamu rumahnya yang di depan sana itu ?"


"Iya Bang Romeee !"


Tampaknya Romeo sangat penasaran dengan tetangga baru yang Aura maksudkan sampai dia kembali bertanya dan membuat Aura semakin kesal karena pekerjaannya terganggu.


"Bukannya pemilik rumah itu cewek cantik ya Ra ?"

__ADS_1


"Cewek cantik ?" tanya Aura bingung siapa yang dimaksud kakaknya itu. "Ah, maksudnya Kak Vivian ?" timpal Aura.


"Jadi namanya Vivian ? Kamu kenal ?" tanya Romeo melototkan mata.


"Biasa aja kali Bang ekspresinya. Iya kenal, orang kemarin Aura ke rumah mereka buat belajar bareng sama Ben."


"Kok kamu nggak kasih tahu Bang Rome ?" tanya Romeo lagi.


"Lah emangnya kenapa ? Aneh banget Bang Rome. Ah, jangan-jangan Bang Rome suka ya sama Kak Vivian ? Ngaku !" Aura curiga dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan kakaknya tadi.


"Emangnya kenapa ?" Romeo mulai salah tingkah, tangannya juga tampak menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.


"Lah dia malah balik nanya. Tadi nyuruh Aura buat nyiram bunga, sekarang malah digangguin. Udah sana Bang Rome masuk aja ke dalam." Suruh Aura kepada Romeo yang terus mengganggu.


"Dasar bawel." Kata Romeo yang kemudian meninggalkan Aura.


"Bodo."


Sekesal apapun Aura sekarang dengan Romeo, hatinya masih saja berbunga-bunga mengingat apa yang telah dikatakan Ben kepadanya. Sejak dia bertemu Ben, cowok itu sering sekali membuat jantungnya serasa melompat-lompat.


Aura baru sadar kenapa kali ini kakaknya itu menjadi aneh, biasanya Bang Rome-nya itulah yang selalu dikejar-kejar cewek-cewek tapi kali ini beda, justru Romeolah yang terlihat mengejar Vivian. Apa jadinya mereka nanti jika mengetahui seseorang yang mereka sukai itu sebenarnya bukan dari bangsa manusia, melainkan dari bangsa Vampir.


Wajar saja jika kali ini Romeo yang gilirannya terpikat akan pesona Vivian. Gadis itu pasalnya sungguh menawan sampai hati Romeo pun tertawan olehnya. Romeo memang bukan pria yang terkenal karena kepintarannya di kampus, tetapi dia bukan badboy juga. Dia hanya pria biasa yang mempesona karena dentingan pianonya.


Sosoknya yang ramah dan mahir memainkan alat musik piano membuat gadis-gadis di kampus dengan mudahnya jatuh hati. Tapi yang ia inginkan bukanlah deretan gadis itu, melainkan Vivian. Romeo juga baru tahu bahwa nama gadis itu adalah Vivian, si mahasiswi baru, yang telah merampas hatinya sejak pertama kali mereka bertabrakan di parkiran kampus kemarin.


*Flashback


Seorang wanita, cantik, dengan memakai celana jeans, kaos biru malam, serta ditambah dengan cardigan hitam. Pertemuan tidak sengaja mereka ini membuat Romeo terpukau akan kecantikan perempuan itu. Vivian yang melihat Romeo yang terperangah menatapnya hanya membalas dengan senyuman, barulah kemudian berlalu meninggalkan pria sebenarnya ingin berkenalan dengannya.


Romeo benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang ketika itu melamun sampai belum sempat mengajak perempuan yang baru saja ia tabrak bahkan ia sama sekali belum meminta maaf atas kesalahannya.


"Aarrgghh ! Harusnya gue ajak kenalan tuh cewek. Kenapa coba gue bengong aja, pasti deh tadi muka gue konyol banget kayak orang bego di mata dia." Ucap Romeo frustasi.


Dilihatnya lagi ke arah belakang, namun Romeo sudah tak dapat menemukan jejak si wanita.


"Kayaknya mahasisiwi baru. Cantik."


Sekali lagi senyum Romeo mengembang dengan manisnya seolah dirinya telah menemukan Juliet yang selama ini cari.


*Flashback off


"Ya ampun Zi, parah banget masa baru cerita kalau lo udah jadian sama Bayu."


"Maaf ya, soalnya tadi malam gue hubungin lo nggak aktif. Padahal tuh ya gue mau ceritain gimana romantisnya Bayu nembak gue kemarin." Kata Zi yang berantusias, bukannya langsung bercerita malah membuat Aura semakin kepo saja.


"Ceritain sekarang pokoknya, lo udah bikin gue penasaran maksimal ini."

__ADS_1


Sesaat sebelum Raziya menceritakan momen terindah dalam hidupnya itu, ada sesuatu yang membuatnya bungkam.


"Gue ke sana dulu ya Ra." Ucap Zi tiba-tiba dengan tak lupa membawa mangkok mie ayamnya ke meja lain. Aura pun sempat menahan kepergian Zi.


"Eh lo belum selesai cerita Zi. Mau kemana ?"


"Pokoknya lo tenang aja, setelah ini pasti lo bakal berterima kasih karena gue pindah meja." Balas Zi.


Aura semakin kebingungan dengan perkataan sahabatnya itu. Ditambah dengan Zi yang terus tersenyum lalu kemudian pergi.


"Oh jadi ada Bayu, pantes Zi pindah meja." Ucap Aura yang melihat kemana sahabatnya itu pindah meja. Kemana lagi kalau bukan ke meja tempat Bayu berada.


"Kenapa manyun ?" tanya seseorang yang mengagetkan Aura dari arah samping.


"Eh kamu, duduk Ben." Setelah dipersilakan Aura, Ben pun duduk di kursi tempat Zi tadi duduk.


"Tumben sendirian, biasanya kamu makan sama Zi." Ben mungkin penasaran ada apa yang terjadi antara Aura dengan sahabatnya itu, karena biasanya mereka selalu terlihat bersama. Ditambah lagi, cewek yang sekarang sedang di depannya ini raut wajahnya begitu menggemaskan ketika sedang manyun.


"Tuh dia lagi makan siang sama Bayu, pacar barunya." Jawab Aura sembari menunjukkan di mana keberadaan Zi dan Bayu.


"Sudahlah, jangan cemberut lagi, nanti cantiknya berkurang. Lagi pula kan ada aku di sini."


"OMG ! Ben, kenapa kamu hobi banget bikin jantungku merinding disko kayak gini. Aduh dag dig dug jadinya." Batin Aura.


Ben yang bisa mendengar suara hati Aura sedikit terkekeh mendengarnya. Belum lagi Aura semakin hari semakin lucu di matanya.


Pipi Aura seperti udang rebus sekarang karena ulah Ben yang terus saja memujinya. Bukan karena pertama kalinya ia dipuji seseorang, melainkan karena orang memuji itu adalah seseorang yang telah memikat hatinya sejak pertemuan pertama mereka.


"Kamu nggak suka sama makanannya ?" tanya Ben.


"Hah ?" Aura heran akan ucapan pria itu.


"Itu kenapa nasi gorengnya cuma diaduk-aduk aja, buruan makan nanti dingin."


Sejak tadi Ben memperhatikan yang Aura lakukan pada nasi gorengnya hanyalah mengaduk-aduknya dengan sendok. Kebiasaan Aura jika ia sedang makan lalu suasana hatinya kesal memang seperti itu kelakuannya. Tak jarang jika Laras, sang Mama, acap kali menegurnya yang seperti itu.


"Makasih ya Ben udah nemenin aku makan siang. Aku tadi sedikit kesal karena Zi yang tiba-tiba pindah meja."


"Sudah jangan kesal gitu, namanya juga lagi kasmaran."


"Benar juga sih kata kamu."


"Sekarang kamu senyum jangan manyun-manyun lagi." Ucap Ben sambil mencubit pipi Aura.


Aura pun meringis karena cubitan Ben, padahal sebenarnya cubitan Ben juga nggak sakit. Haha.


Kedekatan keduanya membuat teman-teman Aura iri karena Auralah yang beruntung bisa sedekat itu dengan sosok Beno Raven.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2