
Hari ini Aura benar-benar bersikap dingin kepada Ben. Itu ia lakukan tak lain karena Aura ingin mengetahui apakah Ben menyadari kesalahannya ataukah tidak. Sampai detik ini mereka berada di dalam kelas, Ben masih belum meminta maaf tentang pesan yang sama sekali tak ia balas, tanpa ia tahu sebelumnya kalau Aura sangat mengharapkan Ben memberikan kabar kepadanya.
“Lo serius ?” Tanya Zi. Aura menoleh, lalu mengangguk.
“Kenapa gue nggak yakin,ya ?” Ucap Zi lagi.
“Bodo !” Sahut Aura dengan kesal. Aura menceritakan kepada Zi kalau dia sudah bersikap dingin kepada Ben. Tapi, Zi malah tidak yakin kalau Aura mampu bertahan bersikap seperti itu karena Zi sangat tahu kalau Aura sebenarnya sangat merindukan Ben.
“Yakin lo bakal tahan dan nggak akan luluh gitu aja kalau dia bersikap manis sama lo ?” Tanya Zi dengan nada yang meledek.
“Rese lo !” Jawab Aura sekali lagi dengan ketus. Dia tidak ingin hal ini gagal, dia ingin sekali mengetahui bagaimana perasaan Ben untuknya selama ini. Apakah pria tampan nan mempesona itu menganggapnya istimewa ataukah tidak lebih dari sekedar teman biasa.
“Ok, ok, maaf ya nona. Tapi, kalau ini sia-sia gimana ? Maksud gue, gimana kalau dia sama sekali nggak peka sama perubahan sikap lo sekarang ?” Aura diam mendengar pertanyaan Zi. Aura juga sempat berpikiran begitu.
“Eh, kemarin gue ketemu sama cowok sepulang sekolah. Dia nolongin gue gitu.” Kata Aura kepada Zi.
“Kok jadi ganti topik gini ? Kenapa ?” Tanya Zi. Zi sempat kesal karena Aura tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya dan justru mengalihkan pembicaraan. Namun, Zi tetaplah Zi. Dia itu ada orang yang sangat kepo, apalagi terhadap masalah yang menyangkut sahabatnya ini.
“Ganteng, nggak ?” Pertanyaan Zi membuat Aura kesal.
“Elu tuh ya, bukannya penasaran sama kenapa dia nolongin gue, ini malah penasaran sama gimana wajahnya.” Zi tersenyum lebar.
“Maaf deh. Oke, sekarang lo cerita kenapa sampai kemarin dia nolongin elo ?”
Lalu setelah Zi menanyakan hal itu, kini justru Aura yang terdiam. Tidak seharusnya kejadian aneh yang kemarin ia alami bahkan terdengar tidak masuk akal itu harus ia ceritakan sekarang di dalam kelas. Apalagi bisa dibayangkan bagaimana nanti reaksi Zi.
“Woy !!” Teriak Zi mencoba menyadarkan Aura yang sedang melamun.
Aura menutup telinganya yang pengang karena ulah menyebalkan sang sahabat tercinta. “Lo kenapa pakai acara teriak segala di kuping gue ?”
“Abisnya lo tadi yang minta ditanya eh giliran ditanya malah melamun.”
Aura menatap Zi yang ia tahu kalau perempuan itu sudah sangat penasaran dengan ceritanya. Tapi kalau dia ceritakan, pasti akan sangat kacau jadinya.
“Ya dia tolongin gue dari orang jahat kemarin waktu di jalan sepulang sekolah.” Kilah Aura. Setidaknya jawabannya itu ada benarnya karena memang waktu itu Virgo menolongnya dari Vampir jahat.
__ADS_1
“Ya ampun, Aura. Makanya lo hati-hati dong. Kalau di jalan itu seenggaknya lo perhatiin sekitar. Jangan asik dengerin musik aja lewat headphone.” Nada kekhawatiran terdengar jelas dari perkataan Zi. Walau bagaimana pun Aura adalah sahabat satu-satunya dan paling ia cintai dan untunglah perempuan itu tidak bertanya apa yang akan dilakukan orang jahat itu.
“Iya, iya. Maaf. Lain kali gue bakal lebih hati-hati lagi.” Aura merasa bersalah karena membuat orang-orang yang menyayanginya khawatir. Ia kembali memikirkan bagaimana dengan reaksi keluarganya jika reaksi sahabatnya pun sudah seperti ini. Apalagi jika ia katakan semuanya tanpa terkecuali.
“Oh ya, Ra. Gantengan mana sama Ben ?” Goda Zi.
“Ganteng Ben.”
Percayalah, jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Aura. Wajahnya jadi langsung merah karena malu. Meski ia tahu Zi mengetahui bagaimana isi hatinya untuk Ben, tetap saja mengatakan hal itu membuatnya malu sendiri. Ia tak pernah menjadi seperti Aura yang sekarang sebelumnya.
Tentu saja ia kembali mendapat ledekan dari Zi dan membuatnya salah tingkah. Tepat saat wajah Aura sedang memerah karena ulah Zi, saat itu Ben memasuki kelas. Tanpa menyapa atau pun tersenyum pada gadis itu, Ben hanya menatap bisu ke arah Aura. Raut wajah Aura yang tadinya bersemu berubah menjadi datar.
Dadanya terasa sesak melihat Ben yang bersikap dingin padanya. Tentu saja, ini pertama kalinya ia seperti orang yang begitu asing untuk pria itu dan semua ini ia sadari sepenuhnya karena sikapnya juga. Aura ingin mengetahui akankah Ben memahami apa yang tengah terjadi padanya saat ini dan bagaimana perasaan lelaki itu padanya.
Dengan melihat sikap Ben yang seperti ini, akankah ini pertanda kalau ia memang bukan siapa-siapa bagi orang itu dan semua perlakuan istimewa dari Ben padanya selama ini tak berarti apapun.
Baru sebentar saja Aura berpura-pura untuk menjauhi Ben, yang didapatnya kini justru di luar bayangannya. Ben semakin menjauh, menurutnya. Tapi, jika ia sekarang berjalan ke arah pria itu dan meminta maaf, gadis itu juga ragu apakah dia akan dimaafkan ataukah kemungkinan terburuk akan terjadi yakni Ben sudah terlanjur marah dan benar-benar menjauhinya.
Gadis bernama lengkap Aura Zaskia Portman itu seharian ini di sekolah merasakan kegalauan yang luar biasa. Karena ulahnya sendiri dan ia hanya merutuki dirinya dengan ide bodoh tersebut. Padahal wajah itu sangat ia rindukan beberapa hari belakangan.
Aura berjalan pulang menuju rumah seperti biasanya. Ia tak memperhatikan jalan sambil pikirannya terus berkata-kata sepanjang jalan. Ia bahkan sama sekali tak mengetahui ada seseorang yang mengikuti jejak kakinya. Seorang pria yang terlihat sangat mencurigakan. Tidak seperti manusia lainnya, hidungnya terlihat terus mengendus sesuatu, kemudian mulutnya menunjukkan gigi taring yang sangat tajam.
Pria yang mengikuti Aura itu adalah manusia yang baru saja berubah menjadi serigala. Untuk itu pula ia sangat liar dan tidak bisa mengendalikan diri. Ia semakin dekat dengan gadis itu dan sesaat ketika tangannya berhasil meraih tubuh Aura, gadis itu kemudian menghilang begitu saja dari hadapannya.
Ben membawa Aura melesat pulang ke rumah. Begitu cepat sampai Aura sendiri tidak menyadarinya.
“Ke... kenapa aku di sini ? Kamu ?”
Tentulah Aura keheranan mengapa dirinya sudah berada di sana, di halaman rumah. Padahal tadi ia sangat ingat kalau baru saja berada di depan gerbang kompleks.
“Apa maksudmu ? Kamu hampir saja tertabrak !” Jawab orang itu, Beno Raven.
“Tertabrak ? Lalu kenapa aku bisa berada di sini ?”
__ADS_1
Ben sempat kebingungan menjawab pertanyaan Aura. Bagaimana mungkin ia katakan kalau tadi dia yang sudah membawa gadis itu melesat. Pasti Aura akan menaruh kecurigaan padanya atau mungkin menganggap Ben sudah gila.
“Kamu pasti masih sangat terkejut. Makanya kamu tidak mengingatnya. Kamu bahkan tidak memperhatikan jalan tadi.” Entah itu bisa diterima oleh nalar seorang Aura ataukah tidak. Aura menatapnya heran bercampur keraguan dari mulutnya yang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.
“Ada apa ?” Tanya Ben begitu tiba-tiba. Aura tersentak.
“Terima kasih.” Jawabnya pelan. Ben menatapnya yang menunduk. “Dan maaf.”
Satu alis pria itu terangkat mendengar kata-kata yang terakhir diucapkan temannya itu. Ben membelai pucuk kepala Aura dan membuat gadis itu mendongak ke arahnya. Ben tersenyum semanis biasanya.
“Maaf untuk apa ?” Tanya Ben dengan senyuman memukaunya itu. Lagi dan lagi dan selalu hal itu membuat jantung Aura berdebar dengan begitu kencang. Bahkan Ben bisa mendengarnya. Dengan sangat jelas.
“Soal tadi pagi, aku mengabaikanmu. Maaf.” Tutur gadis itu dengan penuh rasa sesal.
“Bukan masalah besar. Tenang saja. Selama kau baik-baik saja.” Yang masih tidak dimengerti Aura adalah mengapa temannya itu masih bisa tersenyum untuknya saat ini. Itu membuatnya semakin merasa bersalah karena Ben masih begitu baik terhadapnya.
“Kamu masuklah ke dalam. Aku akan pulang.” Ucap Ben.
“Kamu tidak mau mampir dan minum teh atau cokelat hangat ?” Tawar Aura padanya. Ini pertama kalinya ia menawarkan Ben untuk mampir ke rumahnya, walau ia tak tahu apa yang akan terjadi jika Ben benar-benar bersedia datang ke rumahny. Bagaimana reaksi Mama dan Bang Rome-nya nanti.
“Lain kali saja. Aku pulang dulu. Kamu cepatlah masuk ke dalam.”
Setelah Aura masuk ke rumah, barulah Ben kembali melesat. Tapi bukan pulang ke rumahnya, melainkan mencari keberadaan manusia serigala yang baru saja membahayakan nyawa Aura. Wajahnya yang manis berubah menjadi sangat menakutkan diselimuti oleh amarah.
Ben menemukan manusia serigala liar itu di dekat pintu masuk hutan terlarang dan terjadilah perkelahian sengit di antara mereka. Vampir itu tak henti menyerang si manusia serigala. Selain manusia serigala merupakan musuh terbesar dari bangsa Vampir, ada alasan kuat lainnya yang membuat dirinya begitu ingin menghabisi serigala yang satu itu. Karena nyawa Aura hampir melayang sia-sia karena makhluk tersebut.
Manusia serigala itu kewalahan melawan kekuatan Ben yang begitu besar. Sampai akhirnya ia terpental dan berakhir di sebuah pohon dengan leher yang dicekik oleh Ben. Manusia serigala itu terus meronta dan mencoba melepaskan cengkraman tangan Ben dengan sisa-sisa kekuatannya.
“Kuberitahu kepadamu, ini semua karena kau membuat kekacauan di wilayah ini !” Kemudian Ben melenyapkan serigala liar itu. Amarahnya tak langsung padam hanya dengan menghabisi serigala itu, tapi tangannya masih terkepal keras mengingat manusia serigal lainnya yang pasti berada di wilayah tersebut dan mungkin saja akan membuat kekacauan lainnya.
Di sebuah kamar, di atas tempat tidur ia berbaring lengkap dengan seragam sekolah yang masih belum ia ganti. Aura masih memikirkan kejadian aneh yang baru saja ia alami. Kejadian aneh ini benar-benar di luar nalarnya sebagai manusia. Karena ia masih sangat ingat kalau ia baru saja sampai gerbang kompleks dan dalam sekejap ia sudah berada di depan rumah. Sangat mustahil jika dibayangkan, pikirnya.
“Ah, tidak mungkin aku melesatkan ?”
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?