Vampir Romantis

Vampir Romantis
Pertemuan


__ADS_3

Karena letak toko buku tidak terlalu jauh, jadi mereka hanya naik sepeda pergi ke sana. Selesai mencari buku, makan Es Krim juga sudah, kini mereka memutuskan pulang. Ben si Vampir tampan kembali membonceng Aura dan kembali pula menjadi sorotan gadis-gadis yang iri akan hidup Aura yang bisa dekat dengan sosok Ben. Juga, jalanan cukup ramai, apalagi waktu melewati Departmen Store, untuk membuat patah hati massal.


“Kenapa Headphone kamu tidak dipakai.”


“Emm, ketinggalan. Memangnya kenapa ?”


“Biasanya kamu selalu pakai itu. Di hari kita pertama kali bertemu, saat kamu hujan-hujanan aku juga lihat kamu pakai itu. Juga kemarin waktu kamu telat, aku lihat kamu selalu pakai Headphone itu.”


“Karena aku perginya sama kamu, aku nggak memerlukan benda itu hari ini.” Gumam Aura dalam hati.


“Kamu melamun ?” Tanya Ben.


“Kenapa Ben ?” Aura justru bertanya balik.


“Kamu suka musik ? Musik jenis apa ?”


“Iya, suka. Genre-nya bebas sih. Sesuai sama suasana hati waktu dengar aja maunya apa.”


Sementara Ben terus saja mengayuh sepedanya. Hembusan angin menerpa wajah keduanya terasa sejuk. Cukup banyak hal yang mereka bicarakan untuk hari ini, termasuk soal Vampir yang suka sekali ceritanya dibaca oleh Aura, yang menurut manusia lain hanya sebuah omong kosong. Ya, walau Aura juga tak bisa mengatakan kepastian bahwa ia mempercayai keberadaan makhluk tersebut atau tidak. Tetap saja, hal yang dianggap orang lain tak masuk akal itu selalu menjadi bagian menarik bagi Aura.


Pergi ke toko buku berdua, makan es krim di kedai, dibonceng naik sepeda sambil bercanda dan bercerita tentang segala hal. Kegiatan minggu mereka hari ini seperti dua orang yang sedang berkencan. Menghabiskan waktu bersama dan menciptakan kebahagiaan. Romantis.


Beralih ke sisi yang lain. Arta yang rasa khawatirnya kian besar mencoba menenangkan pikiran dengan berjalan santai di sekitar rumahnya. Biasanya kalau ada tetangganya bernama Dharma mereka selalu bermain catur. Namun, temannya itu sedang berada di luar kota karena ada acara keluarga. Sekarang, Arta hanya berjalan-jalan mungkin ingin menuju gerbang kompleks menemui penjaga keamanan di sana untuk diajak berbincang seperti biasa ia lakukan.


Arta menghentikan langkahnya ketika mendekati sebuah rumah yang awalnya masih kosong ketika beberapa waktu lalu ia ke luar kota. Rumah itu sekarang ditinggali oleh keluarga Raven. Rumah itu tampak sepi, jadi Arta berniat kembali melanjutkan perjalanannya.


Masih dari tempat tersebut, sebuah pintu di salah satu rumah di kompleks tersebut terbuka. Itu memang pintu rumah Ben yang terbuka. Arta kembali menghentikan langkahnya, kakinya seketika tercekat melihat seseorang yang berdiri di sana. Bibir Arta terbuka sedikit dan matanya membulat layaknya tidak percaya siapa orang yang sedang dilihatnya kini. Kakinya bagai terkunci dan tidak dapat kemana-mana ketika orang itu menghampiri.


Orang yang kini berada di hadapan Arta tidak lain yakni Alex Raven. Tak hanya terjadi pada Arta, Alex pun seperti orang yang begitu terkejut ketika melihat manusia yang berdiri di hadapannya sekarang.


“Kau…” Entah apa maksud Arta, ia seolah mengenal Alex tapi juga ada keraguan akankah orang ini adalah orang sama seperti dalam benaknya.


“Aku akhirnya menemukanmu.” Kata Alex yang juga mengenali siapa Arta sebenarnya.


“Papa, Om Alex !” Sapa Aura ketika ia mendapati Papanya dan Ayah Ben bertemu di halaman rumah keluarga Raven.

__ADS_1


“Papa mau apa di sini ?” Tanya Aura pada Arta. “Oh iya Pah. Perkenalkan ini Ben dan ini Ayahnya, Om Alex.”


“Saya Beno Raven.”


“Saya Alex. Alexander Raven.”


“Oh. Saya Arta, Papanya Aura.”


Setelah Arta berjabat tangan dengan Ben. Kini, berganti dengan Alex yang berjabat tangan dengan Arta. Arta semakin terkejut setelah orang yang di hadapannya itu memperkenalkan diri, terutama ketika di bagian lelaki itu menyebutkan namanya. Alexander Raven, nama itu persis seperti yang selalu dikatakan Ayahnya ketika ia masih kecil. Seseorang yang ada hubungannya dengan dirinya dan keluarga terdahulu.


“Om, mau mampir dulu ?” Tawar Ben kepada Papa Aura, Arta.


“Ben benar. Aura, Arta kalian bisa mampir. Siapa tahu Papamu bisa menjadi teman main catur saya.”


“Baiklah. Saya akan mampir.”


Ada alasan mengapa Arta memutuskan setuju untuk mampir sebentar ke rumah keluarga Raven. Ada sesuatu hal yang masih menjadi teka-teki di benaknya tentang siapa sebenarnya keluarga Raven yang selalu disebut oleh Ayah dan Kakeknya selama mereka masih hidup.


Sementara Ben mengajak Aura berbincang dengan Vivian, ia juga memperkenalkan temannya itu kepada Gara sepupunya yang belum sempat Aura temui ketika bertamu beberapa waktu lalu. Aura sungguh bahagia bisa bertemu dengan mengobrol di tengah keluarga Ben.


“Senang bertemu denganmu, aku Gara. Sepupu Ben dan Vivian.”


“Halo Kak, aku Aura. Senang bertemu dengan Kak Gara juga.”


“Jadi kau gadis yang suka hujan-hujanan itu ? Gadis yang suka pakai Headphone, tapi kenapa kau tidak memakainya hari ini ? Kalian sekelas bukan ?”


Aura tercengang mengetahui kalau Ben cukup terbuka kepada keluarganya dengan menceritakan mengenai dirinya kepada anggota keluarganya. Juga sekaligus ia tersanjung dibuatnya. Tanpa Aura tahu kalau Gara mengetahuinya justru melalui kekuatannya untuk membaca pikiran Ben, sebab Ben tak pernah bercerita mengenai kejadian waktu hujan saat pertama kali mereka bertemu. Ben hanya mengatakan kalau tetangganya bernama Aura, tetangga mereka, adalah gadis yang sekelas dengannya di SMA.


“Iya. Aku gadis itu. Penyuka hujan dan musik.”


Sedangkan Alex mengajak Arta bermain catur di teras depan rumahnya. Ini pertama kalinya semenjak beberapa ratus tahun yang lalu ia pernah bermain catur dengan seorang manusia.


“Apa yang kau pikirkan ?” Ucap Alex.


“Kaukah Alexander Raven yang selalu diceritakan Ayahku ?”

__ADS_1


“Bukankah kau memang mengenalku, kau tahu betul ini benar diriku yang kau maksudkan.”


Sambil terus bermain catur, mereka melanjutkan pembicaraan mereka.


“Berarti kau…” Terka Arta. Papa dari Romeo dan Aura ini memang mengetahui identitas asli keluarga Raven yang selalu diceritakan Ayahnya dulu.


“Benar. Rupanya kau masih mengingat cerita itu. Awalnya kupikir keturunan Jade tidak akan mengingat mengenai bangsa kami lagi.”


“Rasanya aneh ketika mengetahui fakta kalau kau berasal dari masa lalu, jauh sebelum aku lahir. Kau sahabat Kakek dari Kakekku. Aneh karena kau justru terlihat seumuran denganku.”


“Bukankah memang seperti itu. Kami tak pernah menua dan hanya bisa terbunuh di sebuah peperangan. Aku tak menyangka jika akan bertemu kau dan keluargamu di tempat ini.”


“Walau aku masih terkejut, tetap saja, terima kasih sudah menjadi sahabat Kakek dari Kakekku. JadePortman.”


“Dunia memang tidak bisa ditebak. Jade sahabat yang luar biasa, kutahu kau juga sepertinya. Tapi, kenapa kau menghilangkan marga Portman sebagai nama keluargamu ?”


“Kau tahu betul kalau aku masih menggunakannya keluargaku akan dalam bahaya. Itu usul Ayahku, Sam Portman, sendiri agar aku menghilangkannya saja.”


“Ya, dunia kami memang menakutkan, Artanabil Danial Portman.”


“Berapa usiamu ?”


“Tujuh ratus tahun lebih.”


“Hahaha. Benarkah ? Tapi kemampuan caturrmu di bawahku. Skakmatt !”


“Aku hanya sengaja mengalah padamu, Nak.”


“Kau memang sungguh Alex. Rasa percaya diri dan harga dirimu itu memang terlalu tinggi untuk mengakui kemampuan caturku.”


Alex bersyukur pada akhirnya bisa menemukan keturunan dari sahabatnya, Jade Portman. Sekaligus, ia menemukan teman main catur yang bagus seperti Arta atau Danial.


Sementara di ruang tamu ada Vivian dan Aura yang sedang mengobrol. Aura juga sempat bertanya di mana tempat Vivian kuliah. Hingga akhirnya Vivian mengetahui kalau Romeo adalah kakak dari Aura. Sedang Ben dan Gara asik main Play Station a.k.a PS. Jika saja Aura juga mengetahui identitas mereka, mungkin ia akan merasa aneh melihat Vampir malah main PS seperti Ben dan Gara.


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next ?


__ADS_2