
Romeo terjatuh setelah berhasil melenyapkan Jake Willis. Dengan berhasil dikalahkannya pimpinan dari keluarga Willis itu membuat seluruh pasukannya bertekuk lutut di hadapan keluarga Raven dan Romeo. Vivian menghampiri Romeo dan penuh dengan darah akibat diserang Vampir tadi.
Vivian sangat sedih melihat keadaan Romeo. "Rome, maafkan aku. Kamu seharusnya tidak di sini."
Romeo menatap Vivian dan merapikan rambut wanita itu yang menutupi sebagian wajahnya.
"Bukan kesalahanmu, jadi kamu tidak perlu minta maaf."
"Rome..."
"Vivi, biarkan aku bicara dulu." Sela Romeo. "Apa benar aku sudah jatuh hati dengan seorang wanita Vampir ? "
Vivian mengangguk lemah, ia sudah mengetahui sejak dulu kalau Romeo memiliki perasaan terhadapnya, sama seperti perasaan yang ia rasakan kini. Namun, ia tidak mengira kalau Romeo menyatakan cintanya ketika selesai pertempuran ini dan dalam keadaan seperti sekarang.
"Apa kamu tahu aku sangat mencintai kamu ? Itu bermula sejak pertemuan pertama kita. Aku sangat terkejut mengetahui siapa kamu sebenarnya, tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaanku hanya karena mengetahui hal itu. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku ingin bersamamu."
Vivian menangis mendengar pernyataan Romeo yang sangat menyedihkan di telinganya. "Aku juga ingin bersamamu. Aku juga merasakan hal yang sama seperti dirimu. Tapi, semuanya tidak akan berlangsung lama."
"Apa maksudmu ?" Romeo menyeka air mata di pipi Vivian.
"Kami harus pergi segera setelah permata itu ditemukan."
Sontak hal itu membuat Romeo semakin sakit hatinya. Ia tidak sanggup menerima kenyataan itu, ia tak menginginkannya. "Kumohon, jangan pergi. Tinggallah di sisiku, aku benar-benar tidak peduli siapa dan dari mana kamu berasal."
__ADS_1
"Cepat serahkan permata itu kepada Ayahku." Pinta Vivian. Baru saja Romeo berjalan beberapa langkah, ia kembali terjatuh. Kali ini bukan disebabkan luka akibat serangan Vampir, melainkan karena kakinya melemah membayangkan dirinya akan kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu. Tak sadar, batu permata dalam genggamannya itu pun terjatuh ke tanah.
Kesempatan itu dilihat oleh Henry Miller, sekutu Jake Willis, yang juga berniat menguasai seluruh bangsa Vampir. Namun sebelum Henry melakukannya, Alexander menyerang Henry dengan sisa-sisa kekuatannya. Permata itu kemudian berhasil dibawa Aura bersamanya. Alexander kemudian terjatuh karena terluka parah saat beradu kekuatan dengan anak-anak Jake Willis tadi.
Henry Miller akhirnya lenyap dengan tangan Alexander. Tinggallah Alexander yang terbujur tak berdaya. Karena batu itu sekarang milik Aura, Ben mengatakan kalau kekasihnya itu harus segera meminta permohonan untuk mereka.
"Cepat katakan permohonannya sebelum Ayah menghilang." Pinta Ben. "Kumohon lakukan, kamu tahu betul apa permintaan kami."
"Aura, kumohon. Maaf sudah memintamu melakukan hal ini. Kamu harus tahu, aku sangat mencintaimu. Sangat." Aura menangis mendengar permintaan Ben. Ia tidak menyangka akan diperintahkan melakukan permohonan dengan batu permata biru ajaib tersebut. Itu berarti ia akan segera kehilangan Beno Raven.
Gadis itu atas desakan Ben, ia akhirnya melakukan apa yang dikatakan keluarga Raven. Ia memegang permata biru tersebut sambil membayangkan ketika Ben mengatakan keinginan terbesar keluarganya beberapa waktu lalu. Dengan air mata yang terus mengalir sekalipun matanya tertutup, permata itu kembali bersinar sangat terang.
"Batu permata biru, kumohon penuhilah keinginan keluarga Raven. Kumohon, penuhilah." Ucap Aura dalam hati.
Aura membuka matanya dan melihat cahaya yang begitu terang berjalan ke arah keluarga Raven. Ben berdiri di sana sambil tersenyum ke arahnya yang sangat terpukul dengan keadaan ini.
Setelah cahaya itu membawa keluarga Raven menghilang, Aura dan Romeo kembali secepat kilat ke kamar mereka masing-masing. Dua anak muda keturunan Jade Portman tersebut telah tertidur pulas di kamarnya dan seolah kejadian yang mereka alami setelah bertemu dengan keluarga Raven sampai detik-detik pertempuran tadi hanyalah sebuah mimpi. Karena setelah mereka bangun nanti semuanya akan kembali ke awal dan bahkan akan melupakan kejadian tersebut.
Satu bulan kemudian.
Aura terbangun dari tidurnya dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Ia tak ingin terlambat sedikit pun karena hari ini ia ada piket. Setelah selesai bersiap-siap dan menggantungkan headphone di leher, Aura segera keluar dari kamar tercintanya.
__ADS_1
Dengan riangnya Aura menuruni anak tangga sambil bersenandung kecil. Kedatangan Aura lalu disambut Romeo yang sudah lebih dahulu tiba di meja makan. Romeo kemudian bangkit dari kursinya dan kembali menggoda Aura.
"Beri salam, Tuan Puteri telah tiba." Goda Romeo. Ucapan pria itu berhasil merusak ekspresi ceria tadi di wajah adiknya.
"Bang Rome jangan mulai lagi. Belum pernah ditimpuk pakai headphone ya ?" Kata Aura yang sudah kesal pagi-pagi karena abangnya tersebut.
Romeo yang merasa menang karena berhasil membuat Aura kesal kemudian kembali menggoda. "Memangnya berani timpuknya pakai headphone itu ? Itu 'kan benda kesayangan kamu."
"Rome, sudahlah. Jangan ganggu suasana hati adikmu pagi-pagi." Tuan Artanabil berusaha menasihati anak sulungnya yang sudah semakin tua namun selalu menggoda adik kecilnya itu.
Aura senang sekali melihat wajah Romeo yang habis ditegur sang Papa. Ia kemudian bisa sarapan dengan tenang sambil menyaksikan kekalahan Romeo pagi ini tanpa ia harus benar-benar menimpuk dengan headphone.
Aura berangkat ke sekolah dengan bersenandung kecil mengiringi lagu yang terdengar di kupingnya. Ini sangat pagi dan ia jelas tidak akan terlambat. Hari-hari Aura berlalu seperti biasanya, ia bahkan tidak menampakkan kesedihan sekalipun.
Tidak hanya berlaku untuk Aura, semuanya yang pernah bertemu dengan Ben dan keluarga Raven lainnya akan melupakan ingatan itu seiring menghilangnya makhluk penghisap darah tersebut dari muka bumi. Inilah akhirnya, keinginan keluarga Raven terwujud berkat Aura yang memberanikan diri mempertaruhkan nyawanya juga berhadapan dengan Jake Willis yang sangat membenci keluarga Portman, termasuk dirinya. Dan seseorang yang tak terduga mengalahkan Jake Willis adalah Romeo, yang juga ikut berperan penting dalam pertempuran malam purnama biru tersebut.
Hujan kembali turun ketika jam pulang sekolah. Aura bersiap pulang dengan payung yang ia taruh di loker. Untunglah ia membawanya, sebulan terakhir sejak menghilangnya keluarga Raven, Aura tidak pernah lagi hujan-hujanan dan selalu memakai payung pemberian Ben itu. Ia juga sepertinya sudah lupa bagaimana dulu sangat menyukai tubuhnya yang basah karena air hujan.
Gadis itu lebih sering melamun ketika berjalan di tengah hujan, entah apa yang sedang dipikirkannya. Seseorang kemudian tiba-tiba datang dan meletakkann payung miliknya sendiri ke sembarang tempat lalu berjongkok di hadapannya sembari mengikat tali sepatu Aura yang lepas sebelah. Aura memayungi pria aneh tersebut agar tidak kebasahan. Selesai mengikat tali sepatu Aura, pria itu kembali berdiri.
"Ikat tali sepatumu kuat-kuat, kau bisa saja tersandung karena menginjak tali sepatu yang lepas." Katanya pada Aura.
"Terima kasih." Ucap Aura, lalu pria itu mengambil payung yang tadi ia taruh sembarangan dan berbalik dari hadapan Aura.
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next ?