Vampir Romantis

Vampir Romantis
Sang Juliet


__ADS_3

Kasmaran yang melanda bukan hanya kepada Aura, juga pada kakak tercintanya. Jatuh hati kepada si pujaan hati yang bahkan belum begitu ia kenal, hanya sekedar mengobrol biasa, itu pun hanya sekali dan bisa dibilang juga mereka baru berkenalan pada saat itu, ya dua kali pertemuan mereka jika itu dihitung dengan pertemuan alias tabrakan tak sengaja di parkiran waktu itu.


Romeo yang lihai memikat perempuan dengan dentingan-dentingan pianonya rupanya melodi itu belum sampai ke telinga si Juliet pujaan hati. Ragu juga menggelora dalam hati kecilnya, takut-takut wanita itu akan menghindar jika ia akan melakukan pendekatan padanya atau ia dianggap terlalu agresif atau boleh juga yang terpikir takut kalau gadis cantik itu sudah ada yang memiliki.


Laki-laki yang mengantarnya pulang, mengantar Vivi, pada saat itu pun belum juga ia temui lagi untuk menjemput gadis itu. Resah hati Romeo jika benar ketakutannya akan lelaki itu bukanlah saudara misan dari Vivi. Bagaimana nasibnya nanti, tidak lucu juga kalau pria setampan Romeo ini akan merasakan patah hati ketika ia sudah lama berkelana mencari seseorang yang tepat untuk mengisi hatinya yang kosong semenjak kepergian kekasihnya yang dulu.


Walau tak ada lagi komunikasi lebih lanjut di antara mereka semenjak saat itu, pada waktu ketika keduanya bertemu saat Romeo sedang menunggu sahabat karibnya, Eky. Namun, diam-diam Romeo selalu ingin melihat wajah Vivian walau dari jarak jauh.


Dari semua tempat ia diam-diam memperhatikan Vivian, Romeo paling suka melihat gadis itu kala sedang duduk membaca buku atau pula mengerjakan tugas di Perpustakaan. Karena itu adalah saat di mana wajah Vivian akan semakin jelas terlihat keindahannya ketika sedang diam.


"Awalnya yang kuingin adalah berkenalan denganmu, tapi sekarang kuingin tahu siapa priaitu." Gumam Romeo.


Rupanya dia benar-benar jatuh hati dan benar-benar sudah cemburu sebelum waktunya. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu ? Tapi rasa penasaran itulah yang membuatnya begini. Pria bernama Gara itu, Romeo ingat yang dikatakan adiknya kalau dia juga kuliah di tempat yang sama dengannya, dan jika pula pria kemarin yang mengantar Vivi adalah Gara, pria itu seharusnya terlihat di area kampus. Tapi justru pria itu tak muncul-muncul dan membuat Romeo resah karena mungkin ia harus menyiapkan mental jika orang itu bukanlah Gara yang Aura ceritakan.


Gundah gulana tidak ia hadapi dengan murung seperti kemarin, seperti tingkah perempuan. Hanya saja dia harus mengobati gundah dan rindunya dengan melihat si yang tersayang. Eky dan Andi juga menyarankan kalau Romeo harus bergerak maju bukannya harus menjadi pengecut dengan hanya sebagai penonton yang mengagumi pemeran utama di layar kaca tanpa bertindak apapun.


Sejauh ini yang dilakukannya wajar saja dianggap teman-teman lelakinya sebagai pengecut, karena pria itu seharusnya bertindak. Pria itu bukan tak ingin melakukan hal yang lebih, hanya ia takut jika nanti Vivi akan salah beranggapan tentang dirinya dan justru akan memutuskan hubungan kecil yang baru saja terjalin.


Di suatu ruangan pada saat ini, di mana hanya ada dia dengan beberapa alat musik yang salah satunya sedang ia mainkan, apalagi kalau bukan piano. Ah, juga dengan dipandangi oleh semua kursi-kursi kosong para penonton di sana. Tanpa ragu melodi indah menyeruak ke seluruh sudut ruang pertunjukan musik. Pada saat ini ruang itu berada penuh dalam kekuasaannya.


Nada-nada yang terdengar begitu menyentuh dan terdengar kerapuhan hati si pianis juga. Dari banyaknya judul musik klasik yang ia kuasai entah mengapa selalu Fur Elise. Itu adalah kesukaan Romeo. Nada yang terdengar adalah deskripsi dari suasana hati yang tak pernah bohong. Musik itu akan terdengar berbunga-bunga, membuat hati terenyuh atau pula malah menyayat, itu tergantung kepada emosi si pianis.


Jika saja di antara kursi kosong penonton ada gadis yang sedang ia pikirkan, itu pasti akan sangat bagus. Romeo juga berharap jika suatu hari nanti di salah satu kursi penonton akan ada di sana Vivi yang melihat penampilan dirinya.


Sekitar dua puluh menit mungkin Romeo berdiam dalam ruang pertunjukan musik tersebut dengan memainkan Fur Elise berkali-kali. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan menemui Eky yang katanya sedang minum kopi di kantin.


"Hai Kak Romeo."


"Siang Romeo."


"Halo Kak."

__ADS_1


Setidaknya itulah sapaan dari penggemar Romeo ketika dirinya keluar menuju kantin. Pria itu dengan ramah membalas sapan-sapaan tersebut dengan sesekali hanya menjawabnya dengan seutas senyum.


"Hai Romeo."


"Hai ju...ga." Jawabnya. "Vivi !".


Gadis terakhir yang menyapanya adalah Vivian. Tidak tahu dari mana Vivian sebelumnya, tahu-tahu dia sudah ada di hadapan Romeo. Romeo kembali tersenyum membalas senyuman Vivi yang mengembang. Tentu saja memandangi perempuan itu dari jarak dekat terasa lebih baik, semakin cantik pula Viviannya, serta semakin berdebar pula jantung Romeo.


"Mau kemana ?" tanya Romeo.


"Mau ke taman baca buku. Kamu ?" Vivian.


"Aku... Juga mau ke sana." Jawab Romeo.


Terdengar aneh di telinga Vivian ketika itu terucap dari mulut Romeo. Semua orang juga tahu kalau jalan yang tadi dilalui Romeo akan berakhir di satu tempat yaitu kantin, belum lagi kalau taman letaknya berlawanan arah dari sana.


"Yakin ?" tanya Vivian padanya, pada Romeo.


"Ya sudah, bareng kalau begitu." Ucap Vivian kemudian.


Mereka pun berakhir di taman kampus dan sedang duduk di atas rerumputan hijau. Tidak hanya mereka di sana, mahasiswa dan mahasiswi di sana juga tampak menikmati siang itu sambil menunggu kelas berikutnya, tak terlewat juga kalau di sana juga ada yang pacaran.


"Shakespeare penulis yang romantis, walau hal itu berakhir tragis. Tapi tetap saja kisah cinta yang ia tulis itu sungguh luar biasa. Bagaimana menurutmu ?"


Kebetulan sekali buku yang dibawa Vivian ke taman itu adalah sebuah novel yang tulis oleh William Shakespeare, Romeo dan Juliet. Kebetulannya adalah karena seseorang yang sekarang bersama Vivian adalah Romeo, meski bukan orang yang menjadi tokoh di buku tersebut. Novel tersebut bukan pertama kalinya gadis itu membacanya, tapi Vivian tak pernah bosan untuk membacanya.


"Kisah cinta itu pada akhirnya tidak relevan dengan kisah cinta di zaman sekarang." Kata Vivian.


"Kenapa ?"


"Maksudku sekarang tidak ada kisah yang seperti itu, mana ada di zaman modern seperti sekarang ada yang rela mengorbankan nyawa demi kekasihnya ? Kata cinta yang selalu diucapkan orang-orang saat ini kebanyakan hanyalah berawal di mulut dan berakhir di sana juga. Omong kosong. Tidak berasal dari sebuah ketulusan. Sebagian mungkin seperti itu dan sebagian lainnya lagi yang benar-benar penuh kesungguhan." Tutur Vivian.

__ADS_1


"Mungkin. Kisah yang indah dan membuat iri siapa saja yang ingin merasakan cinta yang sesungguhnya. Kata orang cinta sejati hanya datang satu kali dalam seumur hidup. Mungkin itu pula alasan mengapa Romeo mengakhiri hidupnya dan menjadikan Juliet sebagai cinta sejati yang ia miliki." Tukas Romeo.


"Kamu benar, kisah mereka membuat iri siapa saja yang membacanya." Ucap Vivian.


"Kamu iri ?" tanya Romeo padanya. "Memangnya tidak ada orang yang ingin memperjuangkanmu selama ini ?"


Vivian terkekeh mendengarnya.


"Aku tahu kemana arah pembicaraan ini."


"Lalu, jawabanmu ?" Mungkin ini saatnya untuk mengakhiri rasa penasaran yang sekarang melandanya, pikir Romeo.


"Sekarang tidak ada."


"Benarkah ?" tanya Romeo lagi. "Kalau begitu kau boleh menganggapku sebagai penjagamu."


"Bodyguard ? Security ?" Canda Vivian.


"Haha. Aku punya sebutan yang lebih baik." Jawab Romeo. "Guardian Angel."


"Bagaimana bisa ? Kau punya sayap memang ?"


"Kau tidak percaya ? Ingin melihatnya ?"


"Haha. Aku begitu penasaran akan hal itu."


Keduanya tampak asik bercanda seolah sudah saling mengenal lama. Berawal kebohongan Romeo yang berniat hanya ingin lebih dekat dengan pujaan hati, lalu di mulai dengan membahas mengenai novel yang sedang dibaca Vivian, berakhir dengan candaan disertai derai tawa keduanya.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?

__ADS_1


__ADS_2