
Aura sedang tergesa-gesa sekarang karena tidak seperti biasanya dia seperti ini, terlambat. Hari ini dia bangun kesiangan dan hasilnya ya dia harus rela kehilangan sarapan nasi goreng dengan taburan keju di atasnya yang dibuat oleh sang Mama. Ah, enak sekali jika Aura sempat mencicipi nasi goreng itu apalagi Laras tahu betul jika anaknya itu suka sekali dengan keju. Saking terlambatnya dan tak sempat sarapan, ia juga menuruni anak tangga sambil memakai dasi di lehernya.
"Aura pakai dasinya jangan sambil turun tangga, hati-hati nanti jatuh." Teriak Laras sembari menaruh nasi goreng keju itu ke piring Aura.
Di sana juga ada Romeo yang telah selesai sarapan sedang meminum kopi dan memainkan smartphone-nya.
"Aura berangkat dulu ya Mah, udah telat ini." Pamitnya.
"Kamu minum dulu susu cokelatnya, kamu bisa sakit kalau perut kamu kosong. Itu nasi goreng kejunya udah siap."
Aura pun meraih gelas yang diberikan Mamanya dan langsung menenggaksemua isi di gelas tersebut. Mama serta Abangnya itu kompak menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Aura yang tidak biasa ini. Biasanya itu Aura bangun paling pagi dari semua yang ada di rumah. Bahkan dia sering bikin kesal jika bangunnya terlalu pagi. Contoh, dia suka bangunin Romeo sampai Abangnya itu benar-benar bangun dan mandi, entah dengan cara apapun itu dia akan menjadi orang yang menyebalkan bagi Romeo.
"Aura berangkat sekarang ya Mah, nggak ada waktu lagi." Katanya yang sambil terus menengok jam tangan.
Dia bisa saja tidak diizinkan masuk oleh satpam sekolah jika sampai terlambat karena pintu gerbang ditutup. Pak Maman, Satpam SMA Harapan Bangsa, meskipun dia orang yang ramah tapi dia bukan orang yang bisa menoleransi siapa saja siswa yang terlambat. Belum lagi jika ia sampai ketahuan Bu Susan yang akan siap menjewer telinga siapa saja yang terlambat. Siapakah Bu Susan ? Bu Susan adalah kepala sekolah di sana.
Sebenarnya jewerannya itu tidak sakit, mungkin karena Bu Susan takut dilaporkan orang tua siswa ke polisi karena dituduh melakukan kekerasan di sekolah ahaha, tapi yang parahnya itu tersangka yang terlambat akan dipermalukan di depan umum sampai jam istirahat pertama selesai di lapangan.
"Aarrgghh kenapa juga gue harus bangun kesiangan. Semoga aja pintu gerbangnya belum ditutup."
Gadis itu terus saja merutuki perbuatannya selama ia berlari menuju sekolah. Jika ia bisa naik sepeda, mungkin hal ini bisa ia atasi karena akan lebih cepat sampainya.
"Huh kayaknya gue benar-benar harus kursus naik sepeda kalau begini jalan ceritanya."
Dia juga sudah mulai berkeringat sekarang, habislah ia jika sampai sahabatnya, Zi melihat keadaannya yang kacau seperti ini. Mungkin Zi akan meledeknya dengan menanyakan, "Lo habis hujan-hujan lagi Ra ?".
"Belum olahraga pagi ya Nona ?"
Aura langsung memalingkan wajahnya ke samping tempat ia mendapati suara pria yang dikenalnya. Beno Raven. Gadis itu sempat berpikir kenapa Ben masih belum sampai di sekolah, padahal sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup pikirnya. Apakah Ben juga bangun kesiangan ?
"Naik." Ucap Ben yang mempersilakan Aura yang terlihat ngos-ngosan berlari untuk ikut naik bersepeda dengannya. Tanpa pikir panjang, gadis itu sudah duduk di depan Ben, posisi duduknya sekarang justru membuat jantung Aura semakin berdebar. Di sana diabisa melihat wajah Ben yang begitu rupawan dari jarak yang cukup dekat.
"Kenapa sampai kesiangan ?" tanya Ben yang sambil mengayuh sepeda menuju sekolah. Aura yang sedang mengamati wajah pria itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ben barusan.
"Tadi malam aku... ngerjain tugas. Iya... aku ngerjain tugas... buat dikumpul hari ini." Jawab Aura dengan terbata-bata dan lebih ke arah bingung mencari jawaban yang tepat karena bukan itu yang sebenarnya ia lakukan. Ada hal yang mengganggu pikirannya tadi malam dan membuatnya sampai susah tidur dan begadang.
"Oke, lalu kenapa nggak pakai sepeda buat pergi ke sekolah ?" tanya Ben lagi.
"Kalau aku bisa naik sepeda, ngapain juga aku tadi lari-lari."
"Jadi nggak bisa naik sepeda ? Mau aku ajarin ?" cowok itu kemudian menawarkan diri untuk mengajari Aura naik sepeda.
__ADS_1
Gadis itu tidak bisa bersepeda bukan karena tidak ada yang mengajari, karena Papa dan Abangnya sudah sering mengajari tapi hasilnya ya malah Aura yang kesal sendiri dan mengomel.
"Boleh."
Sangat, sangat, sangat bahagia hati gadis bernama Aura Zaskia itu sekarang. Bagaimana bisa dia sekarang bersikap biasa-biasa saja jika yang sekarang di dekatnya adalah pria populer di sekolah. Setidaknya dia bisa berteriak-teriak dalam hati untuk sebagai cara mengendalikan perasaannya.
Ben terkekeh ketika mendengar teriakan bahagia dalam hati Aura. Mungkin Ben akan dianggap pikirannya sedang terganggu jika sampai ada yang melihat dia yang senyum-senyum sendiri setelah kepergian Aura yang meninggalkan dia yang masih di parkiran sepeda. Untung saja Ben mengayuh sepedanya dengan cukup cepat jadi mereka masih sempat memasuki gerbang tanpa harus mempermalukan diri.
"Tumben lo jam segini baru datang." Sapa Raziya yang memang sedang menunggu kedatangan Aura di koridor.
"Gue bangun kesiangan." Bisik Aura.
Mereka juga sambil mengobrol ketika berjalan menuju kelas. Setelah hampir sampai di pintu kelas, mereka baru menyadari bahwa teman-teman yang berjalan di sekitar mereka sedang berbisik-bisik.
"Ah gue iri banget."
"Sama, gue juga. Kenapa bukan gue coba ?"
"Romantis banget tadi gue liat mereka berdua."
"Gimana bisa coba Aura sampai diboncengin Ben naik sepeda ?"
Teman-teman Aura, cewek-cewek pastinya, sedang patah hati karena sudah dapat dinyatakan mereka melihat Ben yang membonceng Aura pakai sepeda memasuki area sekolah. Di antara mereka juga ada yang menjerit tak karuan saking tergila-gilanya pada Ben siswa pindahan itu.
"Benar yang mereka bilang kalau lo abis dibonceng sama Ben ?"
"Iya." Jawab Aura cuek. Zi mulai kesal dengan tanggapan Aura yang cuek ini pun langsung melipat kedua tangannya di dada yang terus menatap tajam kea rah Aura.
"Apa ?" tanya Aura yang heran. Mungkin gadis ini tak sadar jika sahabatnya itu sudah kesal.
"Lo tuh ya bikin kesal aja. Cerita dong makanya."
"Kan tadi lo cuma nanya benar apa nggak kalau gue dibonceng sama Ben yaa gue jawab aja 'iya'. Selesai."
"Ya udah sekarang lo cerita gimana ceritanya lo bisa dibonceng sama dia ? Cepat cerita !" cerocos Zi yang tak sabaran mendengar cerita Aura.
"Lo ingat kan kalau gue sama dia itu tetangga dan hari ini gue itu kesiangan eh untung waktu di jalan gue ketemu sama dia, tumben juga sih diahari ini pakai sepeda, kan biasanya dia juga jalan kaki. Ya dia nawarin gue buat dibonceng sampai sekolah, gue mau lah. Masa iya gue lebih milih telat, bisa-bisa gue sampai nanti pintu gerbangnya udah ditutup Pak Maman."
Zi begitu memperhatikan kata demi kata yang keluar dari mulut Aura seolah tak ingin ia melewatkan satu kata pun. Matanya masih tetap menginterogasi Aura.
"Lo ada apa-apa ya sama Ben ?" bisik Zi. Kontan saja Aura membulatkan mata mendengar pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"What ???"
Untung saja Aura diselamatkan oleh pelajaran olahraga, Pak Arga datang dengan membawa bola voli di tangan. Kalau tidak dia akan terus mendengar pertanyaan Zi yang kelewat kepo dengan urusan Aura. Menjengkelkan bagi Aura terus ada yang menanyainya yang macam-macam.
Belum lagi, tatapan dari biang gosip yang terus mengarah kepada Aura. Takut ? Ya, nggaklah. Mana mungkin seorang Aura Zaskia takut hanya dengan tatapan sinis dari biang gosip, Aura tidak selemah itu.
Permainan bola voli hari ini cukup menyenangkan. Semuanya juga terlihat begitu bersemangat waktu di lapangan. Selesai permainan, Delia si biang gosip mendatangi Aura yang sedang beristirahat di pinggir lapangan.
"Delia ?"
"Mau ngapain nih bocah ? Jangan-jangan..."
Mereka kompak menanyakan tentang keberadaan Delia sekarang dalam hati masing-masing. Bukannya Aura dan Zi tidak akrab dengan biang gosip and the genk, tapi karena adanya adegan dibonceng cogan tadilah yang membuat mereka bertanya-tanya karena sudah dipastikan bahwa Delia dan kawan-kawan merupakan penggemar Mr. Raven.
"Emm Ra, gimana bisa lo dibonceng sama Ben ?" tanya Delia dengan wajah manyun.
"Ketemu di jalan Del." Jawab Aura singkat, padat, dan jelas. Tapi walau pertanyaannya sudah terjawab, namanya juga Delia pasti dia akan bertanya lagi dan membuat Aura pusing. Seolah dirinya telah melakukan kesalahan sehingga harus menjawab pertanyaan tersebut sedetail mungkin.
Ya, awalnya Zi sempat berpikir kalau kedatangan Delia kepada mereka adalah untuk melabrak Aura, tetapi nyatanya tidak. Dan walau hal itu tidak terjadi, sebagai gantinya Aura dipusingkan dengan pertanyaan Delia yang seolah-olah tengah mengorek informasi mengenai pujaan hatinya, Ben.
"Oh jadi kalian tetangga." Kata Delia yang baru mengetahui kalau Ben merupakan tetangga Aura. "Lo bisa bantuin gue dekat sama dia nggak ?"
Anehnya bukan Aura yang bereaksi, melainkan Zi. Jadi pertanyaan Delia belum sempat dijawab oleh Aura.
"Del, kayaknya gue sekarang sama Aura mau ke kantin dulu deh soalnya gue laper banget sekarang." Ucap Raziya dengan senyum yang dibuat-buat. Ingin sekali rasanya dia teriak ke telinga Delia dengan mengatakan, "Memangnya lo pikir Aura mak comblang apa sampai lo minta deketin sama dia ? Helloow, usaha kali sampai berhasil."
Delia memang aneh juga sekarang, biasanya ia takkan diam jika cowok yang ia kejar itu dekat sama orang lain daripada dirinya. Dulu, dia pernah menyukai Rizky, pria tampan dari kelas XI IPA 2 yang kelasnya tepat di sebelah kelas mereka, XI IPA 1. Sayangnya, Rizky mengabaikan bentuk perhatian apapun yang diberikan Delia.
Oh ya, sebelumnya di awal cerita telah dikatakan bahwa Rizky adalah cowok yang mengejar Aura dari pertama kali mereka bertemu waktu MOS. Namun, Rizky tak pernah punya kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan gadis itu karena Aura terlalu tertutup mengenai pria yang mendekatinya.
Delia sama sekali tak mengetahui jika alasan kenapa Rizky selalu menolaknya itu adalah karena pria itu menyukai Aura. Justru yang ia dengar adalah mengenai kedekatan Rizky dengan teman sekelasnya di XI IPA 2, Vanessa. Hingga tersiar kabar kalau Rizky dan Vanessa pacaran.
Kabar itu sama sekali tak ditepis oleh Rizky walau itu hanya sekedar gosip belaka. Rizky melakukan hal itu karena ingin melindungi Aura, ia juga tak ingin gadis itu menjauh karena mengetahui jika ia memiliki rasa yang lebih dari sekedar teman. Satu-satunya orang yang peka kalau Rizky memiliki rasa kepada Aura adalah Raziya.
Setelah mengetahui gosip mengenai Rizky dan Vanessa, Delia tentunya bereaksi, ia dan genk biang gosipnya terus mengganggu Vanessa. Entah itu di kantin atau sepulang sekolah, Vanessa juga bukan cewek lemah, dia berontak ketika dikerjai Delia cs.
Tetap saja, Rizky menolong Vanessa ketika dia akan dikerjai Delia cs waktu itu karena dia merasa bertanggung jawab. Semakin kuatlah kebenaran dari kabar itu menurut yang lainnya. Sikap Rizky yang melindungi Vanessa, semua teman-temannya mengetahui termasuk Aura dan Raziya.
Hari itu adalah hari di mana penduduk sekolah, khususnya biang gosip and the genk, heboh mengenai gadis yang dibonceng Ben pakai sepeda. Bahkan mereka curiga kalau ada hubungan lebih dari sekedar teman yang mereka jalin berdua. Setidaknya itulah sifat alamiah dari remaja yang selalu ingin tahu mengenai urusan orang lain, apalagi hal yang berkaitan dengan seseorang yang mereka sukai.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next ?