Vampir Romantis

Vampir Romantis
Bertamu


__ADS_3

Matahari sudah semakin naik. Terik juga semakin terasa. Aura yang terpesona dengan keindahan danau di hutan ini pun mengajak Ben segera pulang. Mereka kemudian keluar dari hutan yang dibarisi oleh beratus-ratus pohon pinus. Ini pertama kalinya bagi Aura untuk memasuki area hutan.


Laras, ibunya, selalu melarangnya memasuki hutan karena ketika anaknya itu masih kecil, Aura yang baru menginjak usia enam tahun hilang secara misterius dan penduduk kompleks menemukannya tak sadarkan diri di hutan yang telah Aura masuki bersama Ben tadi.


Terlebih Laras khawatir karena hutan yang terletak di belakang kompleks perumahan mewah itu konon adalah hutan terlarang, hutan yang dijaga oleh bangsa Vampir dan hutan itu juga menjadi saksi bisu mengenai sejarah peperangan antara bangsa Vampir dan bangsa Serigala sekitar tujuh ratus tahun yang lalu.


"Ternyata kamu juga suka olahraga pagi ya ?" tanya Aura di sela-sela langkah kaki mereka. Ben tersenyum mendengar pertanyaan dari Aura. Hanya saja pertanyaan itu terkesan konyol untuknya, seorang Vampir yang berolahraga di pagi hari padahal ia bisa lari secepat kilat.


"Kenapa malah senyum, memangnya ada yang lucu ?" gadis itu mengernyitkan dahinya ketika melihat bibir Ben menyunggingkan senyuman. Oh manisnya.


"Hm ya aku suka" jawab Ben. Aura mengangguk saja ketika mendengar jawaban Ben tersebut. Gadis itu sama sekali tak mengetahui apa yang pria itu lakukan di hutan pagi ini bersama dua orang saudaranya.


"Kau di sini ?" tanya seseorang yang muncul tiba-tiba. Vivian datang menghampiri keduanya. Kakak dari Ben ini langsung menatap ke arah Aura yang berdiri tepat di samping adiknya. Aura nampak bingung dengan siapa orang yang muncul secara tiba-tiba ini.


"Ada apa Kak ?" tanya Ben. "Ah perkenalkan, dia Aura, temanku" timpal Ben yang memperkenalkan Aura kepada sang kakak. Vivian tersenyum dan menyodorkan tangan ke Aura.


"Aku Vivian, kakaknya Ben" ucap perempuan Vampir itu kepadanya.


"Aku Aura, senang bertemu denganmu dan menjadi tetangga kalian" jawab Aura. Vivian terkekeh mendengar penuturan gadis ini.


"Kau mungkin akan ketakutan jika mengetahui tetangga barumu ini adalah bangsa Vampir" gumam Vivian. Ben menatap kakaknya, dia bisa mendengar apa yang dikatakan Vivian dalam hati.


"Ada apa ? Apa Papa memanggilku ?" tanya Ben kemudian. Ben khawatir jika kakaknya mengatakan sesuatu yang aneh terhadap Aura, temannya.


"Iya, Papa memanggilmu" sahut Vivian.


"Aura, kamu pulang duluan saja, aku akan bicara sebentar dengan kakakku di sini" kata Ben. Aura mengangguk dan izin permisi pulang sambil berlari kecil.


Aura telah berlari menjauhi kedua makhluk pengisap darah ini dan pulang. Ben dan Vivian pun langsung melesat melewati jalan lain menuju rumah mereka dan tak butuh waktu lama keduanya pun sampai.


Ben memasuki kamar Papanya, Tuan Alexander Raven,yang tengah terbaring lemah di sebuah kasur yang cukup besar dan mewah. Vampir yang satu ini terlihat begitu menyedihkan, wajahnya sangat pucat. Alex seperti ini karena kehilangan batu permata Vampirnya yang telah dicuri oleh Vampir lain.


"Bagaimana Ben, kau sudah menemukannya ?" tanya Alex terhadap Ben yang sudah berada di kamarnya. Ben memasuki area hutan itu bukan hanya untuk mencari hewan untuk diminum darahnya, melainkan di sana ia juga mencari batu permata Vampir milik ayahnya.


*Flashback


Di malam bulan purnama yang terang, batu permata milik satu keluarga Vampir turut bercahaya dengan sinar biru indahnya. Wajar saja jika semua makhluk Vampir ingin memiliki permata indah yang diwariskan kepada keluarga Raven tersebut karena itu adalah permata istimewa yang mana mereka bisa menjadi pemimpin tertinggi dan takkan terkalahkan.


Di malam itu pula, sekitar 10 tahun yang lalu, terjadilah peperangan antara keluarga Raven dan keluarga Willis. Johan Willis berhasil masuk ke dalam rumah keluarga Raven dan mencuri batu permata dan lari ke dalam hutan pinus.


Melihat cahaya terang benderang dari kawasan hutan Vivian melaporkan hal itu terhadap sang Ayah dan mereka kemudian ke tempat penyimpanan permata, namun nihil, mereka tak menemukan apapun.


Ben yang sudah berada di belakang Johan dalam pengejarannya menuju hutan berhasil menghalau Johan. Johan yang sudah berhasil dihalau itu pun berniat ingin melemparkan permata itu ke arah Jordan yang menantinya di dalam hutan.


Jordan melihat permata dengan sinar biru itu pun segera berlari dengan secepat kilat untuk meraihnya. Namun, seketika sebelum permata itu jatuh ke tangan Jordan, Gara sudah berhasil meraihnya lebih dulu dan membuat Jordan geram.


Gara yang membawa batu permata di tangannya itu pun berniat hendak menyerang Johan dan Jordan, namun sebelum ia melancarkan aksinya ia melihat Pamannya, Alexander, telah dijadikan sandera oleh musuh bebuyutan mereka, Jake Willis.


"Kau hanya perlu melawan mereka ! Cepat Gara, jangan biarkan mereka mempengaruhimu !" teriak Alexander agar Gara segera menghabisi musuh mereka.


Gara terdiam sejenak melihat pamannya menjadi sandera keluarga Willis, bagaimana pun ia sangat khawatir jika Jake benar-benar akan melukai Alex, pamannya. Kelemahan Gara adalah ia begitu mudah terpengaruh oleh apa yang ia takutkan. Untuk itu juga Alexander mengatakan bahwa Gara tak boleh diam dan segera melawan Vampir jahat itu.

__ADS_1


Dengan kekuatan batu permata itu pula Gara berhasil melumpuhkan serangan dua bersaudara itu.


"Serahkan batu permata itu sekarang juga atau paman tercintamu ini akan segera ku lenyapkan"


Gara bungkam ketika melihat tubuh Alexander telah bersimbah darah karena pertarungannya dengan Jake tadi ketika Gara berkelahi dengan Johan dan Jordan.


Pertahanan Gara mulai goyah ketika melihat Alex tersungkur ke tanah. Tangannya yang memegang batu permata mulai gemetar dan bayangan akan peristiwa kematian orang tuanya kembali terulang dalam memori otaknya.


Jake berjalan ke arah Gara yang mulai melemah karena ketakutannya sendiri. Dia bukan takut pada Jake, pembunuh kedua orang tuanya, Julian dan Diana. Melainkan Gara takut karena pada saat itu ia hanya bisa menyaksikan kedua orang tuanya dibantai oleh Jake si Vampir yang berambisi ingin menguasai dunia.


Sesaat sebelum permata itu jatuh ke tangan Jake, Ben dan berhasil menyerang Jake. Alex yang melihat permata itu jatuh ke tanah langsung berusaha berjalan dengan tergopoh-gopoh. Permata itu begitu berarti untuk hidupnya dan akan membahayakan jika sampai batu permata itu jatuh ke tangan yang salah.


Kekuatan Alex sudah kembali setelah permata itu berhasil ia rebut, namun luka di sekujur tubuhnya tetap saja membuatnya lemah.


Alexander Raven memutuskan menghentikan larinya ketika luka itu menyiksanya. Darah pun terus saja mengalir.


*Flashback off


Riuh penduduk sekolah hampir saja membuat telinga Aura tuli. Teriakan yang ditujukan kepada orang-orang yang tengah memperebutkan bola basket di tengah lapangan. Terlebih Aura merasa jengkel karena teriakan yang sebagian besar dari perempuan itu tertuju bukan karena melihat permainan mereka, tetapi karena pemain basketnya.


Hal di atas demikian tak terkecuali untuk Zi, dia juga bergabung di sana untuk menonton pertandingan meskipun Aura menolak menemani. Begitu sampai di depan perpustakaan, lantas ia masuk.


Dicarinya bangku kosong dan tempat paling nyaman untuknya membaca novel miliknya. Hanya ada beberapa orang di sana, ya perpustakaan biasanya tak sesepi ini jika bukan karena pertandingan basket antar sekolah yang dilaksanakan di sekolahnya kini.


Aura bukan tak suka pada permainan basket melainkan ia hanya sedang malas jika harus berdesakan dengan teman-temannya yang lain untuk menontonnya karena di sana hampir semuanya hanya terfokus melihat pemain lawan yang katanya ganteng-ganteng.


Di tengah asik menjelajahi alur cerita Vampir yang sedang kejar-kejaran di tengah hutan, Aura yang berniat membalik halaman kemudian dikejutkan oleh suara seseorang yang sudah duduk di hadapannya.


"Ya ampun Ben, kamu bisa nggak sih datangnya nggak ngagetin" ucap Aura dengan mengecilkan volume suaranya karena mereka kini sedang di perpustakaan.


Kedatangan Ben yang tak disadari Aura membuat gadis ini berpikir bahwa perilaku cowok itu benar-benar mirip dengan perilaku tokoh Vampir yang ia baca.


"Maaf, mungkin kamu terlalu asik membaca sampai tak menyadari kedatanganku. Hem, memangnya kamu percaya kalau Vampir itu ada ?" tanya Ben sekali lagi. Pria itu hanya penasaran apakah di masa modern seperti sekarang masih ada orang yang percaya akan keberadaan Vampir seperti dirinya.


"Iya, aku maafin. Mmm gimana ya, mau percaya atau nggak aku juga nggak tahu sih. Tapi, aku lagi kecil pernah mimpi ketemu sama Vampir loh Ben, tapi Vampirnya baik banget nggak yang jahat yang suka minum darah manusia gitu kalau ketemu. Aku konyol banget ya Ben ?"


Ben tersenyum mendengar penuturan Aura. Dia bisa memahami kalau manusia takkan mudah mempercayai keberadaan makhluk seperti bangsanya yang dalam opini manusia adalah makhluk menyeramkan dan berbahaya.


"Kenapa kamu cuma senyum setelah mendengar jawabanku ?" Aura heran.


"Kalau makhluk itu sungguh ada dan kamu ketemu dia, apa yang akan kamu lakuin, seperti Vampir baik yang di dalam mimpi kamu"


"Kayaknya aku mau diajak terbang atau melesat, kayak di dalam novel ini"


Aura terkekeh sambil mengatakan keinginannyajika bertemu dengan Vampir yang baik, meskipun dengan nada seolah bercanda, tapi Ben menangkap hal lain. Ben akan mengingat hal itu jika jati dirinya ketahuan oleh Aura suatu hari nanti dan takkan ada hal yang perlu ia rahasiakan lagi, Ben akan mengabulkan permintaan Aura.


"Sore ini, mau belajar bareng ke rumah aku nggak ?" ajak Ben.


"Boleh, aku kan belum bertamu ke rumah kamu kan semenjak kalian pindah ke sini"


Keduanya kemudian melanjutkan obrolan di taman sekolah karena takut mengganggu ketenangan ruang bacaan tersebut. Keduanya terlihat begitu asik mengobrol sampai tiga puluh menit berlalu tak terasa.

__ADS_1


Aura pikir hari ini ia akan boring karena pelajaran ditiadakan sementara pertandingan basket dan ia harus sendirian karena Zi juga asik bersorak-sorai menonton basket. Tapi, alur cerita kemudian berubah menjadi begitu manis ketika Ben tiba-tiba muncul untuk menemaninya hari ini dan berbagi cerita.


*Sorenya


Aura sudah berada di depan pintu rumah keluarga Raven. Ben yang sudah menunggu kedatangannya langsung membukakan pintu ketika suara bel berbunyi. Vivian yang duduk menonton siaran televisi pun heran siapa yang bertamu sore ini, bertamu ke rumah keluarga Vampir.


"Selamat datang" ucap Ben terhadap Aura yang terlihat membawa beberapa buah buku pelajaran. Gadis itu pun langsung dipersilakan masuk.


"Hai Aura !" sapa Vivian melihat kedatangan Aura, teman adiknya.


"Hai Kak Vivian" balas Aura dengan tak kalah ramah.


Vivian mengarahkan pandangan kepada beberapa buku yang digenggam Aura. Dia tersenyum geli jika membayangkan Ben akan belajar karena sebenarnya Ben tak perlu melakukan itu berhubung Vampir memiliki kemampuan untuk menguasai seluruh mata pelajaran.


"Kak Vivian kenapa senyum gitu, ada yang lucu ya Kak ?" tanya Aura heran.


"Nggak kok, nggak ada apa-apa. Aku cuma lagi ingat sesuatu yang lucu aja. Oh ya kalian mau belajar ya ? Yaudah selamat belajar ya, ajarin Ben sampai pinter ya Ra soalnya dia jarang belajar"


Ben yang merasa diledek sang kakak pun langsung memberikan tatapan tajam ke arah Vivian. Vivian yang mendapati wajah Ben yang dianggapnya cukup konyol pun tertawa geli melihatnya. Aura juga melihat Ben yang kesal akibat candaan kakak perempuannya ini.


Pandangan Aura beralih ke arah seseorang yang tengah duduk di kursi teras belakang. Walaupun tak begitu jelas karena kaca jendelanya sedikit berembun akibat hujan satu jam yang lalu, namun keberadaan orang itu masih bisa ditangkap oleh mata jernih Aura.


"Ah iya, itu siapa Ben yang lagi duduk di kursi teras ?"


"Itu Ayahku, dia memang suka duduk di sana kalau sore. Itu kayaknya Ayah juga mau masuk, kamu mau kenalan ?"


"Boleh"


Alexander Raven kemudian memasuki rumahnya. Ben dan Aura sudah berada di hadapannya. Alex memandangi ke arah manusia cantik ini dengan tatapan ramah, tidak seperti Vampir lain yang bernafsu ingin mengisap darah manusia yang ia temui.


"Siapa gadis manis ini Ben ?"


"Perkenalkan Om, saya Aura, teman sekelas Ben yang juga tinggal di kompleks ini. Senang berkenalan dengan Om" kata Aura memperkenalkan diri.


"Saya Alexander, Om juga senang Ben bisa berteman dengan kamu. Dia perlu teman" Aura terkekeh mendengar ucapan Alexander mengenai Ben memerlukan teman. Ya karena sampai sekarang Ben memang tak terlihat bergaul dengan teman cowok di kelasnya, dia terlalu kaku.


"Aneh kenapa aku seperti pernah melihat Om Alex sebelumnya ya, tapi kapan dan di mana ?"


Aura menggumam dalam hati mencoba menyelisik ke ingatannya mengenai orang yang pernah ia temui yang wajahnya mirip dengan Alexander.


"Kamu kenapa ? "


Pertanyaan Ben membuat gadis itu tercekat.


"Aku nggak kenapa-kenapa"


Ben dan Alex tentu saja bisa mendengar kata hati Aura yang mengatakan bahwa sepertinya dia pernah bertemu dengan Alex sebelumnya karena wajahnya seolah tak asing baginya. Ben penasaran apakah benar Ayahnya pernah bertemu dengan Aura sebelumnya dan kapan tepatnya ?


Ben hanya teringat akan cerita Aura bahwa ia pernah bermimpi bertemu dengan seorang Vampir baik. Rasa penasaran yang muncul tiba-tiba yang membuatnya menghubung-hubungkan mimpi Aura dengan apa yang hati gadis itu katakan beberapa menit lalu.


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next ?


__ADS_2