Vampir Romantis

Vampir Romantis
Setelah Pengakuan Itu


__ADS_3

Aura berlari meninggalkan kedua makhluk penghisap darah itu sambil berderai air mata. Ben mengejar Aura dengan melesat. Ia harus melakukan itu agar bisa mencegah gadis itu pergi. Ia harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum semuanya terlambat.


“Aura, kumohon. Dengarkan kata-kataku. Kamu harus melupakannya. Apapun yang kau lihat dan kau dengar, kau harus menghapus ingatan itu.”


Setidaknya itulah yang dilakukan Ben untuk berusaha menghapus ingatan Aura. Namun, Aura bukanlah seseorang yang dapat terhipnotis dengan kekuatan seorang Vampir. Karena di dalam tubuhnya juga mengalih darah seorang Vampir, Ben benar-benar tidak bisa menghapus ingatannya. Ben benar-benar lupa.


“Kenapa aku harus melupakannya ?” Tanya Aura. Air matanya terus mengalir tak terbendung. Saat kekasihnya itu ingin menyeka buliran air matanya, Aura menghindar.


“Menjauhlah ! Kamu bukan manusia, lalu kenapa harus kemari dan membuatku jatuh cinta ?” Terdengar kalau kalimat itu menyimpan luka yang sangat dalam. Mengetahui dunia mereka yang berbeda, itu membuat Aura sangat terpukul. Ia bukan membenci Ben karena ia seorang Vampir, yang ia permasalahkan adalah ia yang tak sanggup jika harus berpisah dan melupakan Ben yang baru saja ia miliki.


“Aku tahu ini sangat sulit bagimu. Tapi, ini sangat sulit juga bagiku. Aku mencintaimu dan itu sesuatu yang tidak dapat aku atasi. Jati diriku yang sebenarnya sekarang, aku juga mempermasalahkannya untuk pertama kali setelah hidup beratus-ratus tahun.”


Ben memang tak pernah mengatakan kejujuran tentang siapa ia sebenarnya, namun ia tidak pernah berbohong tentang perasaaannya terhadap Aura. Sepertinya hidup beratus-ratus tahun tidak membuat seorang Vampir seperti Ben sekuat itu menghadapi cinta. Ia juga sama sakitnya seperti gadisnya itu, seperti manusia pada umumnya. Ia bahkan merasakan kesedihan ketika melihat Aura menangis di hadapannya.


“Biarkan aku pergi.” Ucap Aura. Lalu, gadis itu pergi tanpa bisa dicegah Ben.



Di sisa hari itu, setelah kepulangannya ke rumah. Aura tidak keluar kamar dan memilih mengurung diri di sana. Ia kehilangan nafsu makan dan berubah menjadi murung. Berulang kali Ben menelepon, tapi tak ia angkat. Jika saja kejadian ini tak pernah terjadi, ia akan menjadi orang yang paling bahagia karena pertama kalinya Ben melakukan panggilan ke ponselnya.


Semua kebahagiaan yang tersisa diingatannya terasa sangat menyesakkan dada. Ia sangat mencintai pria itu, tapi ia tak tahu apa yang sedang dialaminya. Apa harus serumit ini jalan baginya untuk berurusan dengan sesuatu yang disebut cinta, menurutnya.


“Kalau Ben adalah seorang Vampir, itu berarti semua keluarganya juga Vampir. Kak Vivian, Kak Gara, dan Om Alexander... mereka semua sama.” Pikirannya kembali dipenuhi kata-kata. “Jadi, apa mungkin Om Alexander adalah Vampir yang dulu menyelamatkanku dari bahaya ? Jadi aku tidak keliru ?”


Puteri dari Tuan Artanabil itu memejam mata seolah ingin menghapus ingatannya sendiri. Tapi, tidak bisa, tidak mungkin terjadi. “Lalu, Jason ? Apa dia berubah menjadi Vampir sejak sepuluh tahun lalu ? Apa hilangnya dia saat itu karena menjadi korban Vampir ? Pantas saja ia tak pernah ditemukan setelah itu.”


“Aura, ayo makan malam dulu. Nanti kamu sakit.” Panggil Larasati dari luar kamar. Berkali-kali sang Mama pergi untuk membujuknya keluar kamar, namun Aura menolak dan mengatakan ia masih ingin istirahat di kamar. Walau begitu, Larasati bisa menebak kalau ada sesuatu yang terjadi dengan puterinya itu.


“Nanti, Aura lagi ngerjain tugas.” Elaknya lagi.


Ketika suara Mamanya sudah tak terdengar, Aura kembali menenggelamkan wajahnya di bantal.


Bruk !!!

__ADS_1


Pintu kamar Aura berhasil terbuka berkat Romeo yang mendobraknya. Itu ia lakukan atas inisiatifnya sendiri tanpa sepengetahuan orang tua mereka. “Ahh !! Bahuku.”


Aura terlonjak kaget melihat Romeo yang sudah berada di sana dengan meringis akibat mendobrak pintu kamarnya. “Bang Rome ?!”


“Kamu lagi ngapain sih di dalam ? Bikin orang khawatir tahu nggak ?” Celoteh Romeo dan duduk di samping adiknya itu setelah ia menutup pintu kamar Aura kembali. Sebab Romeo ingin Aura menceritakan sesuatu yang dialaminya hari ini yang membuatnya mendekam dalam kamar, tidak seperti biasanya.


“Bang Rome juga ngapain pakai acara dobrak pintu segala ? Emangnya aku ngapain ? Pakai kunci serep ‘kan bisa ?” Ucap Aura dengan polosnya.


“Yee... biar kelihatan keren.” Kakak lelakinya itu masih sempat untuk bercanda. Itu dilakukan untuk membuat Aura tersenyum walau sedikit saja.


“Maaf deh karena bikin semuanya khawatir.” Sesal Aura.


“Kamu kenapa ? Kamu jangan pakai alasan mendekam di kamar cuma buat kerjain tugas dari Bu Susan atau siapapun itu. Sekalipun tugasnya segunung, kamu nggak bakal seperti ini.”


Perkataan Romeo ada benarnya, karena ia memang sangat mengenal siapa adiknya. Romeo benar-benar peduli dengan Aura, sekalipun ia sering menjahili dan membuat Aura kesal.


“Ada masalah sama Ben ?” Ah, pertanyaan Romeo tepat mengenai sasaran. Dia ternyata sangat paham dengan kondisi adiknya sekarang. Sebab ia tahu kalau Ben adalah satu-satunya teman pria yang dekat dengan Aura. Aura mengerucutkan bibir ketika mendengar tebakan Romeo.


“Muka kamu itu jelek banget kalau lagi bohong. Lagian udah kebaca juga kalau kamu lagi ada masalah sama dia.” Ucap Romeo. Pria ini bertingkah seperti peramal yang mengetahui apapun soal Aura, walau sebenarnya ia masih belum mengetahui status di antara adiknya dengan adikdari Vivian tersebut.


“Iya sih.” Gadis itu akhirnya mengakui kalau ini adalah tentang Ben.


“Ada masalah apa ? Galaunya sampai kayak begini.” Tanya Romeo sekali lagi. Ini benar-benar membuktikan kepeduliannya terhadap Aura, walau ia lebih sering menjadi seorang kakak yang menyebalkan.


Aura bingung dengan apa yang harus diceritakannya, jika ia katakan sejujurnya maka itu tidak akan masuk akal bagi Romeo, terlebih jika Romeo sampai mengetahui kalau Ben adalah seorang Vampir maka itu berarti pula Vivian yang dicintai Romeo juga merupakan seorang Vampir. Itu terdengar seperti hal gila di telinga seorang manusia.


“Bagaimana menurut Bang Rome kalau orang yang kita sayang justru berbohong dan menyembunyikan sesuatu yang penting dari kita ?”


Romeo terdiam mendengar pertanyaan seperti itu. Sekarang ia mengetahui dengan jelas kalau Aura memang telah jatuh cinta dengan Ben. Ia senang akhirnya Aura bisa merasakan indahnya mencintai seseorang, walau itu tak lepas dari rasa sakit.


“Kamu mencintai Ben ? Sudah berapa lama ?”


“Apa itu penting sekarang ? Jawablah pertanyaannya. Memangnya hanya Bang Rome yang boleh jatuh cinta sama seseorang ?”

__ADS_1


Mendengar Aura yang sudah kesal itu semakin membuatnya terlihat lucu di mata kakaknya. “Adikku ternyata sudah dewasa, dia bahkan sudah bisa merasakan apa itu cinta. Tapi, sebenarnya Bang Rome juga bingung harus memberikan jawaban tentang pertanyaan kamu. Jika Bang Rome yang dihadapkan keadaan seperti itu, Bang Rome masih tidak bisa membayangkan apa yang harus Abang lakukan.”


Aura menatap wajah Romeo yang sepertinya sedang memikirkan jika itu terjadi di antaranya dengan Vivian.


“Tapi, manusia tetaplah manusia. Sekalipun ia berbohong, dia pasti melakukannya karena sebuah alasan. Walau mungkin alasan itu terdengar tidak masuk akal untuk kita.” Kini Aura mencerna kata-kata yang dikatakan Romeo. Ia kemudian teringat ketika Ben mengatakan betapa ia mencintai dirinya sampai harus menyembunyikan rahasia sebesar itu.


“Tapi, Aura takut. Sekalipun itu adalah alasan yang kuat, tapi keadaan, bagaimana kalau keadaan tidak berpihak kepada kita ?” Aura mencoba mengatakan kalau dunia yang ia miliki dengan Ben sangat berbeda dan itu mustahil untuk bersatu.


“Sekarang, apa yang kamu inginkan ?” Aura berpikir beberapa lama untuk menjawab pertanyaan Romeo. Bertanya pada hatinya yang terdalam. Di antara cinta dan kebimbangan.



Sudah beberapa hari sejak terbongkarnya jati diri yang selama ini disembunyikan keluarga Raven, Aura tidak memberikan Ben kesempatan untuk bicara atau mendekat ke arahnya. Ini sangat menyulitkan Ben. Ia sangat memahami kalau Aura masih sangat takut dengan identitasnya yang merupakan makhluk penghisap darah.


Sama seperti yang dialami Ben, Jason pun tidak mendapatkan apa-apa sejak perkelahian itu. Ia yang berencana ingin menyingkirkan Ben dari sisi Aura, kini justru ia juga mendapatkan dampak dari itu semua. Identitasnya juga terbongkar kalau ia sudah berubah menjadi makhluk penghisap darah yang jauh lebih menyeramkan dibandingkan dengan seorang Beno Raven.


Ini juga sangat menyesakkan bagi Aura ketika ia menghadapi masalah serumit ini, ia justru tidak dapat menceritakan semuanya secara detail kepada orang lain. Sekalipun hatinya sangat sakit akan kekecewaan yang diterimanya, ia tidak ingin membongkar rahasia dua makhluk itu kepada orang lain. Ia memilih menyimpannya sendirian.


Terlepas dari sikap Aura yang memilih menghindar dari Ben, pria itu masih terus menjaganya dari kejauhan. Saat di sekolah Ben selalu mengawasi gerak-gerik Jason agar tidak memiliki kesempatan untuk mencelakakan Aura yang sekarang masih berstatus kekasihnya. Ia juga mengawasi Aura sepanjang jalan karena takut akan muncul makhluk tidak terduga lagi yang ingin memangsanya. Baik dari bangsa serigala maupun bangsa Vampir.


Meskipun sudah hidup sangat lama, Ben pertama kalinya merasakan cinta dan sakit hati layaknya manusia. Usianya juga terpaut sangat jauh dari Aura, meski wajahnya terlihat masih sangat muda. Itulah kekuatan yang dimiliki seorang Vampir, ia takkan menua dan hanya bisa lenyap di sebuah pertempuran.


Tidak ada lagi hal-hal manis yang dirasakan seorang Aura yang hari-harinya dulu penuh keceriaan. Sore itu cuaca sangat mendung dan akan turun hujan. Langit yang kelabu seolah melukiskan perasaannya yang juga bergemuruh dilanda kekecewaan akan sebuah kenyataan.


“Kuharap hujanakan segera turun.” Lirihnya.


Tidak lama setelah itu hujan benar-benar turun. Hujan yang menjadi awal pertemuan keduanya. Di tengah hujan yang semakin lebat itu, bayangan ketika Ben pertama kalinya datang dan membawakan payung untuknya itu kembali muncul di depan matanya. Sangat jelas. Sangat romantis. Tapi, juga sangat menyedihkan akhirnya.


“Kamu seharusnya tidak datang waktu itu dan mencuri sebagian hatiku.” Katanya lagi sambil berjalan dengan pelan menuju rumah. Ia tidak mengetahui kalau Ben juga di belakangnya dan mendengar dengan jelas kalimat yang keluar dari bibirnya. Walau Ben cukup jauh. Pria itu bisa mendengar isakan tangis kekasihnya tersebut. Ben juga terluka.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2