Vampir Romantis

Vampir Romantis
Firasat


__ADS_3

Malamnya, Aura turun dari kamarnya yang terletak di lantai atas untuk melihat apa yang sedang Mamanya lakukan. Baru beberapa langkah menuruni anak tangga ia sudah menemukan pemandangan Romeo yang sedang asik entah sedang berbincang apa kepada Mamanya, tapi tebakan Aura sangat tepat kalau yang Romeo ceritakan adalah mengenai dirinya yang pulang bersama Ben.


“Kok diam ? Kalian lagi omongin aku, ya ?” Tanya Aura yang mendapati Romeo menghentikan bicaranya setelah adiknya itu sudah berada di sana.


“Percaya diri banget kamu. Kita lagi obrolin soal cicak… yang lagi pacaran. Hahahaa” Tawa Romeo pecah setelah berhasil meledek hubungan Aura dan Ben yang katanya teman tapi terlihat lebih dari sekedar itu.


“Hahaha. Cicak yang menarik. Lucu, Bang. Kenapa nggak jadi petinju aja.” Balas Aura yang kesal.


“Rameo, Aura. Sudah jangan berantem. Sudah malam nanti apa tetangga kalau dengar.” Seru Laras menghentikan perdebatan agar tak berlanjut ke arah yang lebih fatal. Hehe.


“Iya, Mah. Entar apa kata tetangga yang itu kalau tahu anak gadis di sini galak.” Sekali lagi Romeo meledek adiknya hanya untuk melihat wajah kesal Aura. Jail sekali.


“Iya, nanti apa kata tetangga yang itu juga kalau dengar anak laki-laki di sini mulutnya rempong banget.” Balas Aura.


Laras menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya. “Romeo, Aura. Potong uang jajan, ya.”


Tiba-tiba adu mulut yang terjadi di antara kakak beradik ini lantas diam.


“Jangan, Mah. Please.” Keduanya kompak memohon setelahnya.


“Makanya kalian diam. Jangan debat melulu. Sudah malam, malu sama tetangga. Oke ?”


“Ya, Mah.” Hampir saja uang jajan keduanya kena potong. Ancaman Mamanya yang satu ini sungguh selalu berhasil membuat kedua anaknya itu tak berkutik.



Beralih keesokan harinya. Semua hari di kehidupan Aura memang selalu bersinar cerah dan membahagiakan, walau ada hujan badai sekalipun menurutnya. Karena apa ? Karena Aura suka hujan.


Di meja makan sudah ada Romeo, Laras, juga Arta yang menunggu kedatangan Aura.


“Beri salam. Tuan Puteri sudah tiba.” ucap Romeo dengan membungkukkan badan seperti memberi salam ala kerajaan. Lagi.


“Rome. Jangan buat adik kamu kesal pagi-pagi.” Tegur Arta pada anak sulungnya, Romeo. Aura langsung memeluk Papanya yang beberapa hari yang lalu pergi ke luar kota untuk urusan bisnis dan baru pulang tadi malam saat Aura dan Romeo sudah terlelap.


“Pagi, Papa.” Sapa Aura hangat. “Oleh-oleh buat Aura ada, ‘kan ? Hehe.”


“Kamu ini bukannya tanya kabar Papa justru lebih penasaran sama oleh-oleh.” Jawab Arta. “Tenang, oleh-olehnya ada di kamar Papa.”


“Yeay.” Seru Aura yang kemudian mengolesi selai cokelat di roti. “Topi baru Bang ?”


“Kamu dilarang minjam.”


“Pelit, dasar. Tapi kalau Bang Rome yang pakai begini kok malah kayak abang-abang kenek, ya ? Haha.”


“Bodo.” Jawab Romeo. “Kamu mau kemana hari Minggu sudah rapi ?”

__ADS_1


“Mau ke toko buku.” Jawab Aura yang kemudian mulai memakan roti yang telah ia olesi selai kesukaannya.


“Sendiri ?” Tanya Romeo lagi dan Aura yang tidak suka banyak pertanyaan ini mulai memandang sebal ke arah Abangnya karena ia mengerti kalau Romeo tengah menginterogasinya.


“Kenapa ? Bang Rome mau ikut ?”


“Emm, ikut tidak, ya ?” Kata Romeo yang melayangkan pertanyaan pada dirinya sendiri. “Tidak. Nanti malah jadi obat nyamuk.”


“Obat nyamuk ?” Laras kemudian bersuara. “Kamu mau pergi sama siapa ? Pacar ? Memang Aura sudah punya pacar ?”


“Ih, apaan sih ini kok pagi-pagi sudah bahas tentang Aura ?” Ucap Aura kesal. “Lagian Aura cuma pergi ke toko buku nanti sama Ben, itu loh Mah tetangga yang pernah Aura ceritain, yang kasih payung itu.”


“Oh si ganteng itu ?” Ledek Laras.


“Ih, sudah ah jangan bahas ini. Ganti topik.”


“Siapa Ben ?” Kini Arta yang bersuara sebab penasaran siapa Ben yang dibicarakan mereka. Selama Ben dan keluarganya pindah dan menjadi tetangga mereka, Arta, Ayah Aura dan Romeo, sering bepergian ke luar kota untuk urusan bisnis sehingga si bungsu itu hanya bisa menceritakan soal pria pujaannya itu kepada Laras saja.


“Tetangga baru, Pah.” Jawab Aura. “Bang Rome juga dekat Pah sama keluarga mereka, dekat banget, iyakan Bang ?”


“Katanya jangan dibahas lagi.” Ucap Romeo yang mulai salah tingkah. “Rome pergi dulu. Soalnya mau kerjain tugas di rumah Eky.” Pamit Romeo. Namun, Aura justru tertawa melihat kakaknya yang salah tingkah.



Selesai acara sarapan pagi dengan berbagai cekcok mulut antara kakak-beradik di keluarga ini. Terlihat Arta sedang melamun duduk di sofa, Aura yang masih belum berangkat ke toko buku pun sempat heran dengan apa yang sedang Papanya pikirkan. Seolah ada sesuatu yang lelaki itu khawatirkan, ada kecemasan yang menyelimuti perasaannya serta pikiran. Entah apa itu.


“Eh, iya. Kenapa sayang ? Kamu belum berangkat ?” Kata Arta berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan anak gadisnya ini.


“Belum, Pah. Sebentar lagi. Papa baik-baik saja ‘kan, tadi Aura lihat Papa kayak melamun, kenapa ?”


Arta tersenyum berusaha meyakinkan Aura.


“Papa baik, jangan khawatir. Hanya saja ada sesuatu yang mengusik Papa sekarang.”


“Sesuatu apa, Pah ?” Aura begitu penasaran karena baru pertama kalinya ia melihat wajah Papanya yang resah seperti ini, meski Arta sudah berusaha menutupi.


“Ada. Kamu tenang saja, selama kalian baik-baik saja itu artinya Papa juga baik.”


Tidak tahu kenapa ketika mendengar perkataan Arta, Aura justru semakin khawatir akan hal besar yang akan terjadi. Tingkah Papanya juga sangat aneh di mata Aura, walau Papanya tersebut telah meyakinkan semuanya dalam keadaan baik.


“Aura tahu pasti ada sesuatu hal yang besar yang Papa takutkan. Tapi, Papa jangan khawatir lagi, Aura juga akan memastikan semuanya akan baik-baik saja selama kita bersama. Aura juga akan selalu peluk Papa seperti ini tiap kali Papa takut. Aura tidak akan tinggalin Papa sendirian. Mulai sekarang, Aura akan jadi pelindung Papa dari rasa takut itu.”


“Anak pintar.” Puji Arta sambil mengusap-usap pucuk kepala Aura, anak bungsunya.


“Hanya itu ?” Tanya Aura sambil mendongakkan wajahnya yang kini sedang memeluk Papanya. “Harusnya aku juga dipuji cantik. Curang sekali kalau hanya Mama yang cantik di sini.”

__ADS_1


“Iya, kamu cantik. Aura Zaskia…” Perkataan Arta terdengar menggantung, seolah ada lagi kata yang seharusnya ia katakan setelah menyebut nama Aura. “Paling cantik.”


“Haha. Papa bisa aja. Oh iya, Aura pamit dulu ya, sudah jam segini juga. Kasihan kalau Ben takutnya sudah lama nunggu. Aura tadi juga sudah pamit sama Mama di kamarnya.”



“Sesuatu apa yang sekarang ditutupin Papa. Sesuatu yang membuatnya terlihat gelisah. Semoga itu bukanlah hal buruk dan ketakutan itu tidak akan terjadi.” Batin Aura.


“Kamu kenapa ?” Tanya sebuah sura yang diketahui itu adalah Ben yang kini sedang bersama Aura di sebuah Toko Buku.


“Hah ? Ah, tidak. Aku baik-baik saja. Aku sudah dapat buku yang aku cari, kamu ?” Kata gadis itu yang juga menunjukkan bukunya pada Ben.


“Vampir, lagi ?” Ben bingung kenapa Aura begitu tertarik membaca buku tentang Vampir yang mana itu adalah identitas aslinya. “Kamu percaya mereka ada ?”


Aura mendongakkan kepalanya seperti orang yang tengah berpikir. “Entahlah. Aku hanya tertarik. Tapi kalau mereka benar ada, mungkin seru juga kali.”


“Seru apanya ? Bukannya kehidupan mereka tidak lepas dari bahaya ?” Ucap Ben. Aura menoleh kemudian, heran, mengapa pria itu bisa tahu.


“Darimana kamu tahu ?”


“Itu.” Telunjuk Ben mengarah pada buku yang sedang dipegang Aura, tepat di bagian judul. “Vampire Invasion, di hidup mereka selalu ada penyerangan dan perang.”


“Hehe. Aku pikir kamu benar tahu kehidupan mereka.”


“Kalau aku sungguh mengetahuinya bagaimana menurutmu ?”


“Mungkin kamu bohong.”


“Kenapa begitu ?” Ben mengernyitkan kening.


“Iya, bohong. Kemarin saja kamu ingkar janji, katanya mau beliin aku Es Krim.”


“Itu tidak bohong. Sepulang dari sini kita mampir ke Kedai Es Krim.”


“Janji ?” Aura mengacungkan jari kelingkingnya.


“Janji.” Sahut Ben sambil menautkan kelingkingnya di kelingking Aura.



“Kupastikan kau akan baik-baik saja bersamaku. Hanya perlu melindungimu dan itu tugasku yang telah kutetapkan sejak pertemuan pertama. Kau mungkin tak mengerti, sama sepertiku yang juga tak mengerti. Walau kutahu jika keputusanku untuk dekat denganmu itu sama artinya aku harus membuatmu dalam bahaya. Bisa saja nyawamu sedang orang lain inginkan, entah semenjak hari ini atau kemarin, dan entah untuk hari ini atau di hari esok. Kau dalam bahaya. Dengan kemungkinan besar pula kau akan meninggalkanku jika dirimu mengetahui siapa aku sebenarnya. ”


Ben terus saja memandangi Aura yang sedang asik memakan Es Krim di Kedai, sambil kepalanya terus saja berkata-kata. Ben sadar hari itu pasti akan segera datang, di mana keluarga Willis akan kembali merebut apa yang dianggap keluarga Raven berharga, Aura saat itu akan berada dalam bahaya untuk yang kedua kalinya. Kalian pasti ingat kalau Aura kecil dulu pernah terbunuh di tangan keluarga Willis ketika di hutan terlarang.


Memang batu permata biru yang keluarga Willis inginkan, tapi melalui Aura dan memanfaatkannya sebagai titik kelemahan Ben. Itulah senjata mereka agar keluarga Raven mencari di mana keberadaan batu luar biasa yang telah hilang tersebut. Sebab sekalipun batu tersebut sudah di depan mata Jake Willis, ia takkan mampu meraihnya. Batu berkekuatan magis tersebut bisa mengetahui siapa tuannya. Tidak tahu kenapa di malam purnama itu Johan Willis berhasil mencuri permata biru tersebut karena batu tersebut hanya bisa diambil oleh keluarga Raven dan seseorang yang diberikan amanat setelahnya.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?


__ADS_2