Vampir Romantis

Vampir Romantis
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Di meja kantin itu sangat terlihat suasana tidak nyaman di antara Aura, Ben, dan Jason. Di sana Jason terus mengajak Aura berbicara seolah Jason tidak peduli dengan yang lain di sana. Zi bahkan bingung apa yang harus dilakukannya, ia tahu kalau Aura merasa tidak enak dengan Ben yang seperti tak diberikan ruang.


Namun, Aura juga tak enak jika mengabaikan Jason yang sepertinya sangat merindukannya. Karena bagaimana pun juga, Jason adalah temannya sejak kecil. Ia akan merasa sangat bersalah dan merasa menjadi buruk jika meninggalkan Jason dan pergi bersama Ben dari kantin.


“Kamu tahu, aku sangat merindukanmu.”


Pernyataan Jason itu membuat ketiganya terkejut. Aura semakin merasa terjepit di antara Ben dan Jason. Ia sangat takut kalau Ben akan marah karena terbakar cemburu.


“Hentikan. Kau membuatnya tidak nyaman.” Ucap Ben. Karena bagaimana mungkin Ben akan diam saja jika kekasihnya dirayu pria lain. Jason tersenyum sinis. Sepertinya ia senang berhasil membuat Ben terpancing emosinya.


“Aku tidak mempunyai urusan denganmu. Kalau tidak suka, kau boleh pergi.” Jawaban Jason begitu kasar. Aura dan Zi terkejut karena Jason yang tadinya bersikap sangat ramah kepada Aura, sekarang berbicara seperti itu.


Ben yang benar-benar tidak tahan lalu berdiri dari kursinya. Amarahnya benar-benar terpancing karena Jason. Akan sangat buruk dampak yang ditimbulkan jika Ben tak dapat mengontrol emosinya, karena jati dirinya bisa saja terkuak. Jason merasa senang karena Ben pergi dari tempat itu.


Baru beberapa langkah Ben pergi, ia kembali ke sana dan meraih tangan Aura. Baik Aura, Zi, dan Jason terkejut karena Ben membawa Aura pergi bersamanya. “Ayo, pergi.”


Aura tak dapat mengatakan apa-apa lagi, ia hanya bisa mengikuti kemana langkah kekasihnya itu membawanya pergi. Ia senang karena Ben mengajaknya pergi, tapi di sisi lain ia juga takut kalau Ben akan cemburu dan marah. Mereka pergi ke tempat duduk di sisi lapangan basket. Tak ada yang memulai pembicaraan sekarang dan mereka hanya duduk sambil melihat beberapa orang bermain basket.


“Aku tidak marah padamu.” Kata Ben yang akhirnya memulai pembicaraan. Aura menatap ke arah Ben yang sekarang juga menatapnya. Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya karena masih merasa sangat bersalah. Walau itu bukan kesalahannya, ia bisa menebak kalau ada rasa tidak suka dari Ben terhadap teman kecilnya itu.


“Karena dia temanku, aku tidak bisa mengabaikannya. Rasanya sangat tidak sopan.” Sesal Aura. “Maaf juga karena tadi aku terpaksa mengabaikanmu dan terus bicara dengannya.”


“Tidak apa-apa.” Jawab Ben sambil mengelus rambut gadisnya tersebut. Alhasil jantung si gadis berdebar dengan kencang. Ia bingung kenapa Ben masih bisa bersikap sangat manis, padahal tampak jelas Ben tadi cemburu dengan kehadiran Jason di antara mereka.


“Kamu sangat baik. Kamu harus ingat, aku dan dia hanya sebatas teman. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman karena itu suatu saat nanti.” Aura sekarang memberanikan diri menatap wajah Ben. Ah, suasananya sangat romantis di siang itu. Bahkan sesekali pemain basket yang sedang bermain menatap ke arah mereka yang di sana.


“Iya, baiklah. Aku mengerti.” Ben tersenyum seperti tidak pernah terjadi apapun. Ia sangat pengertian. Namun, jangan berpikir kalau Ben bisa melupakan apa yang sudah dilakukan Jason yang tentu saja melukainya. Apalagi Ben mengetahui siapa Jason sebenarnya.


__ADS_1


Hari ini semuanya terasa melelahkan bagi Aura dan itu di mulai sejak ia bangun pagi. Ia harus berlari ke sekolah dan merasa dibayang-bayangi wajah Bu Susan yang galak jika sudah murka. Tapi, untunglah ia dapat melalui semua itu dan tidak seburuk itu yang terjadi.


Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi sebagai penanda kalau seluruh kegiatan pembelajaran berakhir. Aura segera membereskan buku-bukunya ditambahkan mendapatkan ledekan dari orang di sampingnya. “Cie yang buru-buru mau pulang.”


Ledekan itu membuat pipi yang diledek bersemu. Sesaat setelah ledekan itu ketika Aura mengarahkan pandangan ke sisi lain, ia tak dapat menemukan Ben yang ia cari. Padahal baru saja ia melihat Ben masih di kelas. Entah kapan perginya pria itu, ia bahkan tidak mengatakan apapun terhadap Aura jika ingin pulang lebih dulu.


“Kemana perginya dia ?” Gumam Aura dalam hati, ia tak ingin Zi mengetahui apa yang ia pikirkan karena ingin langsung pergi mencari Ben untuk pulang bersama.


“Gue pergi duluan.” Pamit Aura yang langsung meninggalkan Zi, sahabatnya. Dan Zi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang sedang kasmaran dan berbunga-bunga.


Aura mencari Ben sepanjang jalan, namun ia tak menemukan. Rasanya aneh karena kekasihnya itu pergi begitu saja, seperti ada hal mendesak yang harus diurus. Ia harus berpikir positif, walau di hatinya masih sangat takut kalau Ben masih marah karena kejadian di kantin.


Aura menghentikan langkahnya ketika melihat punggung seseorang yang ia kenal. Ia tersenyum dan berencana ingin mengagetkan orang itu. Tentulah Ben orangnya. Ia melihat Ben berjalan dengan terburu-buru dan itu membuatnya sedikit kesusahan untuk melakukan rencananya. Tiba-tiba Aura tersentak dan tubuhnya mematung melihat apa yang baru saja terjadi.


Ia tidak percaya apa yang sedang ia saksikan. Ben... melesat. Sungguh di luar nalarnya sebagai seorang anak manusia yang tak percaya dengan sesuatu seperti itu. Dia pasti sedang bermimpi dan berharap ia memang sedang bermimpi, batinnya. Aura mengikuti arah Ben pergi, walau ia jauh kalah cepat. Tapi, ia tahu kalau Ben masuk ke hutan terlarang.


Di tengah penasarannya yang mencari keberadaan sang kekasih, Aura mendengar suara keributan dari tempat yang tak jauh dari dirinya sekarang berada. Ia menemukan apa yang dicari, Ben sekarang berkelahi hebat dengan seseorang yang juga mengenakan seragam sekolah yang sama dengan mereka. Jason, Aura dapat melihat dengan jelas kalau itu seseorang yang dilawan Ben.


“Enyahlah kau dari tempat ini ! Ini wilayah kekuasaanku !” Ancam Beno Raven.


Jason kemudian menghantam Ben dengan kekuatan yang tak kalah dahsyat. “Kaulah yang harus pergi ! Aku tidak akan melepaskan keduanya, wilayah ini dan gadis itu. Dia bertemu denganku lebih dahulu.”


Ben bangkit secepat kilat dan berhasil menumbangkan Jason. “Jason teman kecilnya sudah lama mati. Sekarang yang tersisa hanya sebuah kepalsuan. Kamu, pergilah dari tempat ini !!!”


Beno Raven sangat mengetahui siapa identitas dari Jason yang sekarang. Dia bukan Jason yang dikenal Aura sewaktu kecil. Dia sekarang merupakan seorang Vampir seperti Ben, ia dari keluarga Miller yang merupakan sekutu dari keluarga Willis. Henry Miller yang merupakan ayah angkat Jason membuatnya menjadi Vampir setelah memangsanya sepuluh tahun lalu dan ia melatihnya untuk beradaptasi dengan dunia barunya itu.


Kembalinya Jason ke dunia ini adalah untuk bertemu dengan Aura dan menyerang keluarga Raven. Ia benar-benar menjadi seorang Vampir jahat, sejahat ayah angkatnya dan keluarga Willis. Meski ia telah berubah menjadi Vampir, Jason tidak bisa melupakan kenangannya dulu saat bersama Aura. Dan cintanya yang membuatnya bersikeras ingin bersekolah di sana.


“Kau juga bersikap sangat rendah. Kau menipu semua manusia itu untuk menutupi jadi dirimu yang sebenarnya. Kau... sampai kapan bersikap seolah kau itu adalah manusia ?” Ucap Jason. Di antara keduanya, kekuatannya setara dan tidak ada yang lebih unggul dari salah satunya.

__ADS_1


“Lalu, apa kau sekarang juga bukan seorang Vampir ?” Balas Ben. “Vampir rendahan yang berasal dari keluarga Miller.”


“Tidak mungkin.” Lirih Aura.


Suara kecil itu membuat perkelahian hebat di antara dua pria itu terhenti. Baik Ben maupun Jason, keduanya melepaskan cengkraman tangan mereka dari leher lawannya.


“Aura...” Ben berbalik dengan menampakkan taringnya dan melihat Aura yang memang benar sudah berada di belakangnya, Jason sama terkejutnya dengannya. Karena Jason tidak mengetahui kalau Aura merupakan keturunan seorang Vampir yang membuatnya dapat menembus dunia mereka.


Ia semakin terkejut melihat taring yang terlihat begitu tajam itu dari mulut Ben dan Jason. Hal itu membuat kekhawatirannya semakin kuat kalau mereka berdua bukanlah seorang manusia seperti yang ia dengar.


Ben mendekat ke arah Aura. “Aura... aku bisa jelaskan.”


Aura menjauh. Berjalan mundur karena ketakutan. Matanya mulai mengeluarkan cairan bening. “Tidak mungkin. Aku pasti sudah salah.”


Ben kembali melangkah. Namun, Aura yang semakin ketakutan kemudian berteriak kepadanya. “Berhenti !!”


Kaki Ben otomatis terhenti. Ia tak pernah melihat Aura bicara sekeras itu padanya. “Aura, kumohon.”


“Apa kamu benar seorang Vampir ?”


Aura benar-benar tidak percaya akan menanyakan hal sekonyol itu dari mulutnya sendiri. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak masuk akal tersebut justru terjadi kepadanya. Awalnya ia hanya percaya kalau makhluk seperti Ben dan Jason ada di dalam cerita fiksi yang selalu ia baca. Cerita yang dipikirnya menyenangkan, tapi justru kepahitan yang ia rasakan ketika itu datang kepadanya.


“Maaf karena aku tidak mengatakan yang sesungguhnya.” Jawab Ben.


Jawaban itu sangat jelas mengatakan kalau Ben memang makhluk yang disangkakan Aura. Pria Vampir itu tak dapat menyangkal. Saat itu, Aura menyesali sesuatu kalau ia seharusnya tidak mengikuti kemana Ben pergi, sebab itu membuat hatinya sangat hancur dengan kenyataan ini. Aura sangat menyesal.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?

__ADS_1


__ADS_2