
"Abang kamu kenapa ?" tanya Laras kepada anak bungsunya yang sedang memakan roti lapis buatannya sore ini. Laras sejak kemarin mengamati perilaku Romeo yang menurutnya aneh, biasanya dia selalu heboh dan mengusili adiknya di meja makan. Tapi sekarang pria tampan itu sering melamun dan bisa dibilang sekarang kalau Romeo seperti orang galau.
Tingkah Romeo persis seperti yang dilakukan Aura ketika kesal, mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya. Tidak tahu dari mana kebiasaan kakak-beradik itu menurun dari siapa ketika suasana hati mereka tidak bagus selalu saja makanan di piring yang tak berdosa jadi korban.
"Rome, dimakan dong makanannya. Jangan cuma diaduk-aduk."
Romeo pun tersenyum masam kepada sang Mama yang menegur kegiatan aduk-mengaduknya.
"Kamu ada masalah ?" tanya Laras pada si sulung Romeo. Romeo pun menggelengkan kepala tanpa menyahut dengan membuka bibirnya.
"Kamu yakin ?" tanya Laras sekali lagi memastikan bahwa anaknya itu baik-baik saja dan sekali lagi pula disahut sang anak dengan hanya anggukan beberapa kali.
Aura juga memperhatikan tingkah abangnya yang terlihat galau ini. Aura yang menatap Romeo seolah menebak-nebak apa yang membuat abangnya sampai seperti ini. "Mungkinkah karena Kak Vivian ?" pikir Aura.
Mengingat kemarin Romeo begitu penasaran dengan Vivian, tetangga baru sekaligus mahasiswi baru di kampusnya, tentu saja Aura menerka semua ini ada kaitannya dengan kakak perempuan dari Ben, Vivian.
"Apa liat-liat ?" tanya Romeo kesal.
"Nggak ada." Jawab Aura singkat, kemudian melanjutkan makannya lagi.
Kegalauan Romeo tampaknya benar-benar serius sampai berlangsung selama tiga hari semenjak hari di mana Laras menanyakan keadaan Romeo waktu di meja makan, yang waktu adegan aduk-aduk makanan di piring itu loh.
Aura tampak tertawa terbahak-bahak siang ini. Wajah Aura bahkan sampai memerah dan perutnya pun sampai terasa sakit. Dia bahkan tak peduli jika lawan bicaranya mulai kesal karena ditertawakan olehnya.
"Oke, oke, aku berhenti ketawa." Ucap Aura yang berusaha menghentikan tawanya yang tadi pecah.
"Ini nih yang bikin Abang males curhat sama kamu, pasti diketawain kayak gini. Belum juga cerita." Ternyata lawan bicara Aura adalah Romeo.
"Sorry Bang, ya sudah makanya Bang Rome cepetan cerita."
"Jadi gini, beberapa hari yang lalu Bang Rome kenalan sama Vivian yang lagi duduk sambil baca buku di kursi. Sebenarnya Bang Rome juga nggak sengaja duduk di sana soalnya lagi nungguin si Eky yang lagi di ruang musik. Eh waktu Abang liat siapa yang duduk di samping itu ternyata Vivian." Kata Romeo yang mulai bercerita.
*Flashback
Waktu itu sama seperti pertemuan pertama mereka di parkiran, antara Romeo dengan si Juliet, Vivian. Sore itu keduanya kembali bertemu tanpa disengaja, ketika Romeo yang sedang menunggu sahabat karibnya, Eky, yang lagi di ruang musik mengambil kunci mobilnya yang ketinggalan di sana. Tanpa pria itu ketahui sebelumnya bahwa wanita yang telah dahulu duduk di sana adalah mahasiswi baru yang sudah memikat hatinya.
Beberapa kali Romeo telah menengok jam tangan dan pada kali dua menengok jam tersebut, Romeo baru melihat siapa yang tengah duduk di sampingnya.
"Kau..." ucap Romeo yang setengah kaget.
"Iya, kenapa ya ?" balas Vivian.
"Aku yang kemarin nabrak kamu tanpa sengaja di parkiran. Aku minta maaf karena kesalahanku kemarin, harusnya aku berhati-hati."
__ADS_1
"Ah jadi itu kamu. Nggak kenapa-kenapa juga aku kemarin, jadi kamu tenang saja."
"Syukurlah kau baik-baik saja. Aku penasaran, apa kau Juliet ?" pertanyaan Romeo membuat Vivian bingung apa maksudnya. Dahinya mengkerut dan satu alisnya terangkat.
"Maksudmu apa ?"
"Kupikir kau adalah Juliet, karena perkenalkan aku adalah Romeo."
Jawaban dari priaitu berhasil mengukir senyuman di sudut bibir Vivian.
"Perkenalkan aku Vivian Raven, panggil saja Vivi." Sahut Vivian yang juga membalas jabat tangan si pria.
Betapa bahagianya yang Romeo rasakan waktu itu. Setelah permohonan maafnya diterima, ia juga berhasil berkenalan dan sedikit bercanda dengan Vivian. Tapi, kebahagiaan yang Romeo rasa tak berlangsung lama.
Sebuah mobil hitam dari arah parkiran pun membunyikan klakson yang ternyata ditujukan untuk Vivian. Jarak antara bangku yang terletak di bawah pohon rindang tempat mereka duduk dengan mobil yang berada di halaman kampus tak terlalu jauh.
"Romeo sorry ya aku pulang duluan. Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa."
Mata Romeo terfokus pada siapa sosok lelaki yang menjemput Vivian. Dia penasaran lebih lagi karena pria itu tak keluar dari mobil.
Setelah mobil hitam yang membawa tambatan hatinya itu pergi, Romeo bergegas menuju mobilnya untuk mengejar Vivian. Romeo sungguh tidak memedulikan Eky yang sedari tadi ia tunggu. Sebenarnya salah Eky juga kenapa sampai lama sekali untuk mengambil kunci mobil yang tak sengaja ketinggalan di ruang musik.
Mobil yang dibuntutinya sedari tadi berhenti di salah satu rumah di kompleks perumahan yang ia masuki yang tak lain adalah kompleks perumahan tempat Romeo tinggal. Romeo memang sudah tahu jika Vivian adalah tetangganya karena sehari setelah pertemuan mereka, di pagi yang masih berembun ketika pria itu berolahraga dia melihat Vivian yang keluar rumah.
Vivian sudah keluar dari mobil, tapi tidak dengan seseorang yang bersamanya, mobil itu kemudian kembali melaju. Romeo yang di dalam mobil tampak kesal dengan memukul setir mobilnya. Baru saja ia ingin mengejar mobil itu, teleponnya berdering dengan menampilkan layar panggilan telepon dari Eky yang ia tinggalkan di kampus.
"Lo di mana sih Rom, gue cariin di kampus nggak ada. Temen-temen bilang lo tadi udah pulang."
"Sorry Ky, tadi gue ada urusan sebentar. Gue langsung ke tempat Andi nih, tunggu aja."
"Ok, jangan lama."
Setelah sambungan telepon itu terputus, Romeo putar balik menuju rumah Andi, tempat mereka akan mengerjakan tugas
*Flashback off
Selesai Romeo menceritakan sebab mengenai kenapa dia murung tiga hari belakangan adalah karena Vivian yang dijemput seseorang, membuat Aura yang menyimak kata demi kata yang tertutur dari mulut saudara lelakinya itu kembali menahan tawa.
"Kamu ngeledek Abang ?"
"Maaf Bang. Begini, Bang Rome jadi memang kasmaran nih judulnya sama Kak Vivian ?" kali ini pertanyaan Aura terdengar serius.
__ADS_1
"Sepertinya..." lirih Romeo.
"Lalu waktu itu memang Bang Rome benar-benar nggak liat siapa pria itu ? Siapa tahu itu teman sekampus Bang Rome"
"Bang Rome benaran nggak liat. Tapi, dia sempat panggil pria itu dengan sebutan 'Gar' kalau nggak salah dengar."
"Gar ?" Aura memutar bola matanya seolah berusaha memutar memori otaknya sekalian.
"Itu pasti Kak Gara. Sepupu Ben dan Kak Vivian. Ben pernah cerita kalau dia juga tinggal sama kakak sepupunya, namanya Gara. Mungkin saja itu dia."
"Masa iya itu sepupunya, soalnya setelah Vivian turun, mobil itu langsung pergi lagi. Lagi pula mereka akrab banget kayak orang... pacaran." Tampaknya Romeo masih belum percaya kalau pria itu adalah sepupu Vivian, seperti yang adiknya itu katakan.
"Cie yang udah cemburu padahal baru aja kenal. Ahaha. Lagian, bisa saja kan dia mau pergi kemana gitu, nyari sesuatu atau apa."
"Nggak usah ngeledek. Eh, kamu nggak becanda kan Ra kalau mereka benar-benar punya sepupu laki-laki." Tanya Romeo sekali lagi untuk memastikan.
"Iya Bang Rome, masa adikmu yang cantik dan manis ini bohong." Jawab Aura dengan nada bercanda dan langsung mendapat tatapan tajam dari Romeo.
"Bicaramu itu de, kamu nggak kesurupan kan ?" ejek Romeo pada sang adik.
"Sembarangan Bang Rome, emang aku cantik, masa dibilang kesurupan."
"Iya deh iya maaf, kamu emang cantik. Siapa dulu abangnya ?"
"Emangnya siapa ?" tanya Aura dengan muka polos membalas ejekan Romeo.
"Minum obat dulu sana, Bang Rome mau pergi dulu. Kamu jaga rumah ya." Kata Romeo yang beranjak dari sofa tempat dia curhat tadi.
"Bang Rome mau kemana ? Masa aku ditinggal sendiri." Protes Aura.
"Mau ke rumah Eky, kenapa ? Mau ikut ?"
"Ogah, nanti malah dikacangin lagi. Jangan lama-lama ya Bang, nanti aku kangen." Canda Aura.
"Bawel." Sahut Romeo yang sudah di depan pintu.
Akhirnya tinggallah Aura sendirian di rumah. Papanya tentu saja masih di kantor, Mamanya baru saja pergi ke rumah Tante Dian, sepupu Laras, dan sekarang Romeo pun pergi ke rumah Eky, sahabatnya.
Kasmaran, mungkin itulah yang sedang dirasakan oleh kedua kakak beradik tersebut dengan pujaan hati mereka masing-masing. Tampaknya keluarga Raven mempunyai daya pikat yang luar biasa sampai Aura dan Romeo tak sadar telah terjerat. Mungkin tak banyak yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama, tapi sekarang itulah yang mereka alami.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next ?
__ADS_1