
Selang beberapa langkah, langkahnya terhenti mendengar perkataan Aura yang diiringi suara derasnya hujan siang itu. "Lihatlah bagaimana aku memakainya ! Payung pemberianmu !"
Orang itu kemudian menatap heran ke arah Aura yang di belakangnya. Pria itu kembali menghampiri Aura. Ia menatap Aura dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Apa aku salah dengar ? Katakan sekali lagi."
"Payung pemberianmu."
Pria itu kemudian melihat payung milik Aura. "Bagaimana mungkin ? Apa kamu mengingatnya ?"
"Ben, aku merindukanmu." Ucap Aura dengan seseorang yang sekarang di hadapannya. Wajahnya dan sikapnya sangat mirip dengan kekasihnya bernama Beno Raven. "Apa kamu benar-benar kembali ? Aku tidak sedang berhalusinasi bukan ?
"Aura... Aku juga sangat merindukanmu." Ben kemudian meraih tangan Aura. Sekarang tangan Ben terasa hangat menurut Aura. "Aku nyata, aku sungguh ada di hadapanmu. Tapi, bagaimana mungkin kamu masih mengingatnya ?"
Ben menyeka air mata yang membasahi pipi Aura Zaskia Portman. Air mata itu begitu hangat.
"Entahlah. Mungkin karena akulah yang terakhir kali memegang permata itu dan permata itu juga mengabulkan permintaanku untuk tetap mengingatmu. Tapi, bagaimana bisa kamu kembali ?" Aura begitu penasaran.
Ben tersenyum, sangat manis seperti biasanya. "Nanti ku ceritakan. Ayo, aku akan mengantarmu."
Mereka berjalan beriringan untuk pergi ke rumah Aura. Ben sengaja menutup payung yang ia bawa dan meraih payung yang Aura pakai untuk memayungi mereka berdua.
Ben benar-benar kembali. Kali ini dengan jati diri yang berbeda dari sebelumnya ia pernah bertemu dengan Aura. Keinginan terbesar keluarga Raven yang dimaksudkan Ben waktu itu bukan hanya sekedar mereka lenyap dari dunia mereka karena sudah terlalu lama hidup sebagai Vampir, melainkan itu sebagai pernyataan kalau mereka ingin mengikuti jejak Jade Portman dan istrinya yang mengubah diri mereka sebagai manusia biasa.
Selama satu bulan terakhir penampakan Aura yang ceria itu hanya berlaku di hadapan orang lain, sedangkan jika ia sedang sendiri ia sering menangis mengingat Ben yang sudah tak ada di sampingnya, ia sangat tersiksa dengan kerinduan yang semakin hari semakin bertambah yang ia rasa. Gadis itu benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya karena ia mengerti kalau memori ingatan orang-orang tentang keluarga Raven sudah menghilang.
Aura pasti dianggap sedang berhalusinasi jika sampai menceritakan siapa itu keluarga Raven dan menunjukkan kesedihan di hadapan orang lain menurutnya tidak akan merubah apapun yang telah terjadi.
Sekarang Aura sungguh tidak menyangka kalau Ben akan kembali kepadanya. Kembali muncul ketika ia sedang di tengah hujan dan jika dulu ia sedang hujan-hujanan mengikat tali sepatunya yang lepas lalu Ben datang membawakan payung untuknya, sekarang justru Ben yang datang-datang langsung mengikat tali sepatunya dan Aura memayungi Ben dengan payung yang menjadi legenda itu terkait dengan hubungannya dengan Ben.
"Aku bahagia." Kata Aura kepada Ben.
Setelah kembalinya Ben untuk Aura, ia kembali membawa cerita baru yakni tentang keluarganya telah resmi menjadi manusia biasa dan menikmati sisa hidup mereka sebagai bagian dari dunia Aura. Selama sebulan terakhir mereka mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada dan setelah itu mereka pindah ke kompleks perumahan Aura, tempat yang dulu mereka tinggali.
Kedua insan yang kembali bersama itu tengah menikmati waktu bersama di sebuah kedai es krim kesukaan Aura. Keduanya kompak memesan es krim cokelat dan ini pertama kalinya bagi Ben untuk mencicipinya. Pria itu juga tampak menyukai es krim yang ia pesan.
__ADS_1
"Kamu suka ?" Tanya Aura wajah yang tersenyum geli ingin menggoda kekasihnya. Ben hanya mengangguk sambil terus menyendok es krim itu ke mulut.
"Hei ! Sepertinya memang sangat menyukainya." Aura membuat wajah pura-pura kesal karena diabaikan Ben. Namun, Ben yang mengerti kalau gadisnya itu hanya berpura-pura, ia semakin ingin menggodanya.
Aura menatap tajam ke arah Ben yang masih menyuap es krim itu ke mulutnya, lalu beberapa detik kemudian tawa keduanya pecah.
"Hei, percayalah aku lebih menyukaimu dibanding es krim ini." Kata Ben. Alhasil ucapan Ben tersebut membuat pipi gadisnya merona.
"Ben, hentikan. Kau bisa membuatku terkena diabetes karena terus mendengar kata-katamu yang manis itu." Bisik Aura.
Ben membalas bisikan Aura dengan ikut berbisik sedikit. "Baiklah. Aku mengerti."
Tidak hanya kisah cinta Aura dan Beno Raven yang kembali bersemi, melainkan juga kisah cinta antara Romeo dengan Julietnya, Vivian Raven. Mereka kembali bertemu di sebuah parkiran ketika Romeo hendak pulang ke rumah.
Romeo dan Vivian tidak sengaja lagi bertabrakan seperti pertemuan awal mereka.
"Maaf." Ucap keduanya berbarengan. Mata keduanya bertabrakan dan Vivian terlihat sangat bahagia bertemu dengan Romeo kembali. Bahkan situasi sekarang tidak dibuat-buatnya sendiri, melainkan keduanya bertemu tanpa disengaja.
Senyuman Vivian berhasil mencuri hati Romeo untuk kedua kalinya. Ketika perempuan itu hendak pergi, Romeo mengambil langkah berani untuk mengajaknya berkenalan. Saat itulah kembali dimulainya perjalanan cinta mereka, kisah si Romeo yang kembali menemukan Julietnya, yakni Vivian Raven.
Satu orang lagi yang tak bisa dilupakan. Anggara Raven, pria tampan yang pesonanya tak kalah dengan adik sepupunya itu juga berubah menjadi manusia dan sekarang ia memilih menjadi pelatih basket di sekolah Aura dan Ben. Jadi tak heran jika para gadis sangat bersemangat berlatih basket dengan melihat ketampanan pelatih basket yang baru di sekolah mereka.
Aura terbahak-bahak tertawa ketika melihat sosok Gara yang sekarang dikelilingi teman-temannya yang mengidolakan Gara sebagai pelatih basket. Bahkan Gara sempat kebingungan menghadapi satu penggemarnya yang terang-terangan merayunya. Siapa lagi kalau bukan Raziya, sahabat Aura, yang sepertinya benar-benar menyukai Gara.
Perempuan itu, Zi, dia menaruh sebotol minuman isotonik untuk Guru Olahraga tampan itu di meja kerja Gara.
"Kamu mau apa di sini ?" Tanya Pak Yogi, Guru Matematika, yang sekarang memergoki Zi di ruang guru. Zi gelagapan bagai seorang maling yang tertangkap basah.
"Ehmm, saya mau cari Pak Anton." Kilah Zi yang mengatakan ia ingin mencari Guru Biologi.
Pak Yogi menatap curiga dengan tingkah siswinya yang satu ini, mengatakan ingin mencari Pak Anton namun malah berdiri di meja kerja Pak Anggara. "Lalu kenapa kamu berdiri di depan meja Pak Anggara ?"
Mata gadis itu terbelalak melihat Pak Anggara sudah berada di ambang pintu ruang guru. Ia pun permisi dari hadapan Pak Yogi dan Guru Matematika itu pun pergi. Namun, Pak Anggara sudah berada di dekat Zi yang berdiri di depan meja kerjanya.
__ADS_1
"Permisi, Coach." Ucap Zi dengan malu-malu ketika Gara sudah ada di depannya. Gara pun melihat botol minuman isotonik di atas mejanya.
"Tunggu !" Panggil Gara. Lantas Zi langsung berhenti. Jantung gadis itu berdegup kencang ketika langkahnya dicegah oleh pria tampan itu. "Terima kasih minumannya."
Zi menoleh dengan rasa tak percayanya ketika lelaki pujaannya itu mengucapkan terima kasih atas pemberiannya. Betapa bahagianya hati Zi mendengarnya, sampai-sampai ia ingin sekali berteriak untuk mengungkapkan isi hatinya yang tengah berbunga-bunga.
Gara bahkan tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Zi karena hatinya sudah mulai terbuka untuk gadis tersebut. Semenjak ia menjadi pelatih basket di sekolah itu, Zi merupakan satu-satunya gadis yang mencuri perhatiannya. Meski Zi tak ada bedanya dengan gadis lain yang mengejar-ngejar dirinya, hanya saja ia tertarik dengan gadis sahabat dari Aura tersebut.
Aura dan Ben duduk di pinggir lapangan basket sambil melihat Gara yang melatih anak-anak basket di lapangan. Keduanya sesekali tertawa ketika membicarakan Gara yang tak pernah dibayangkan akan berakhir menjadi pelatih basket di sekolah mereka.
"Oh ya, aku boleh tanya sesuatu ?" Kata Aura.
Ben menengok ke samping. "Tanya apa ?"
"Aku masih bingung kenapa waktu itu permata biru berhasil direbut oleh keluarga Willis ? Bukankah kamu bilang batu itu tak dapat disentuh oleh sembarang orang kecuali oleh pemilik atau pewarisnya ? Dan juga bukankah satu permata biru sebelumnya telah digunakan Kakek Jade untuk merubah diri menjadi manusia dan meminta agar keluarga kami tak pernah berurusan dengan dunia Vampir lagi ?"
Ben tidak menyangka kalau itu yang akan ditanyakan kekasihnya. Ia tersenyum.
"Entahlah. Aku rasa batu itu sedang menunggu pemiliknya datang. Saat itu bertepatan dengan malam kamu memasuki dimensi yang berbeda dan saat itulah batu permata menunggu kedatangan pemiliknya, kamu. Saat itu batu itu bisa dibilang tak bertuan lagi. Karena kamu masih belum mengambilnya. Jadilah keluarga Willis berhasil memilikinya walau sesaat." Tutur Ben dengan perlahan berusaha memahamkan yang dikatakannya kepada Aura.
"Lalu ?" Tanya Aura lagi dengan masih diliputi penasaran.
"Lalu mengenai permohonan Tuan Jade Portman, aku rasa semuanya ada alasan sendiri mengapa kamu harus berurusan dengan dunia Vampir. Bukan karena batu permata biru mengingkari janjinya. Melainkan sebagai alasan untuk menumpas kamu Jake Willis dan pasukannya. Sebagai pewaris asli dari batu permata biru. Jika semuanya tak terjadi, pasti kita juga takkan pernah bertemu. Seperti sekarang, aku bahkan masih tidak percaya mengapa kamu bisa tetap mengingat kenangan tentang kami."
"Walau itu masih seperti sebuah cerita khayalan di otakku, tapi kurasa pendapatmu masuk akal. Sekarang aku benar-benar lega bisa kembali bertemu denganmu dengan waktu yang lebih tepat."
"Aku juga bahagia, Aura. Kuharap perasaanmu tidak pernah berubah sedikit pun."
Aura tersenyum manis. Lalu menunduk malu. Beberapa detik kemudian ia menengok ke arah Ben. "Bagaimana mungkin perasaanku berubah kalau aku sudah pernah merasakan bagaimana kehilangan kamu kemarin, Tuan Vampir Tampan dan Romantisku ini."
Inilah akhir dari semuanya. Semuanya yang berawal manis juga telah berakhir dengan manis. Tidak ada lagi perbedaan yang membuat Aura merasa khawatir. Dan inilah kisah gadis penyuka hujan dengan kekasihnya si Vampir romantis. Ups, maksudnya pria romantis.
Semoga kalian suka akhir cerita ini. Salam manis, Bie. 💕💕💕
__ADS_1
~ Selesai ~