
Di tengah gelapnya hutan terlarang. Ada Beno Raven, Vivian Raven, dan Virgo Orlando yang tengah membicarakan sesuatu. Virgo sengaja mengajak keduanya bicara tentang kesalahpahaman yang sedang terjadi, ia ingin meluruskan sesuatu kalau kedatangannya ke wilayah keluarga Raven adalah untuk menangkap manusia serigala liar yang menjadi pengacau. Ia sama sekali tidak tertarik ingin merebut wilayah ini. Ia juga mengatakan kalau ingin melindungi Romeo dan orang yang disayanginya.
Saat mereka membicarakan hal itu, lengkingan Aura menembus gendang telinga mereka bertiga. Ben sangat mengenal suara Aura dan ingin menyelamatkannya, namun ditahan Virgo yang meminta kesempatan untuk dirinya sendiri yang turun tangan. Walau Ben sangat ingin, atas permintaan Vivian pula ia mengizinkan Virgo melakukannya asalkan Virgo menepati janji untuk menyelamatkan Aura.
“Kamu baik-baik saja ?” Tanya Romeo kepada adiknya yang masih memeluknya erat. Di sana sangat gelap hanya ada cahaya rembulan dan senter Romeo. Setelah Aura sudah sedikit tenang, ia melepaskan pelukannya pada Romeo dan menghapus pipinya yang basah karena air mata.
“Siapa kamu ?” Tanya Romeo kepada Virgo yang masih berdiri menatap mereka. Virgo kemudian mengulurkan tangan.
“Virgo. Virgo Orlando.” Katanya dan Romeo menyambut jabatan tangan tersebut. Romeo mencoba menebak kalau Virgo yang telah menyelamatkan adiknya.
“Kamu yang menyelamatkan Aura ?” Tanya Romeo lagi. Virgo mengangguk.
“Tadi ada hewan buas yang mau menyerangnya, tapi untunglah hewan buas itu berhasil kabur sebelum menyakiti Aura.”
Untunglah Virgo berhasil mencari alasan yang logis seperti perkiraan Romeo, itu membuat Aura lega. Sebab ia tak ingin mengetahui semuanya dan itu akan membuat semuanya menjadi rumit.
“Kamu baik-baik saja ?” Tanya seseorang yang baru saja datang entah dari mana. Dia adalah Vivian dan itu sangat mengejutkan Romeo karena bertemu dengan wanita itu sekarang di tengah hutan terlarang. Vivian datang bersama Ben.
Baik Romeo atau pun Vivian, keduanya sama-sama terkejut kala saling menatap satu sama lain.
“Romeo ?”
“Vivian ? Apa yang kamu lakukan di sini ?”
Semuanya terkecuali Romeo bingung dengan pertanyaan itu. Vivian mulai khawatir kalau Romeo mengetahui identitasnya, karena ia tahu Aura tidak menceritakan apapun tentang keluarganya terhadap Romeo. Aura juga sangat takut kalau Romeo mencurigai Vivian.
__ADS_1
“Bang Rome... Sebenarnya, Aura yang memanggil mereka.” Elak Aura yang berusaha menyelamatkan Vivian. “Tadi Aura sangat takut sampai meminta bantuan kepada Ben. Sekarang mereka datang mungkin karena di sana hanya ada mobil kita di pinggir jalan.”
Sekiranya itulah yang dikatakan Aura, entah Romeo akan mempercayainya ataukah tidak. Jika sampai Romeo mengetahui siapa Vivian, pasti lelaki itu akan sangat kecewa seperti dirinya dahulu.
“Jadi begitu ?” Sepertinya Romeo mempercayai hal itu. “Baiklah, terima kasih dan juga aku minta maaf sudah merepotkan kalian.”
“Tak apa. Aku juga sangat mengkhawatirkan Aura tadi ketika mengetahui dia di dekat hutan terlarang.” Ucap Vivian. Gadis Vampir dari keluarga Raven ini pun masih diliputi rasa penasaran akankah Romeo melihat perkelahian hebat di antara Vampir dan manusia serigala tadi. Jika sampai Romeo melihat bagaimana Virgo bisa berubah wujud, itu akan sangat kacau.
Mereka pun berjalan untuk keluar dari hutan terlarang. Ben berusaha membantu Romeo untuk memperbaiki mesin mobil. Sementara Ben sibuk dengan Aura, Vivian mencoba memastikan sesuatu. Ia memegang tangan Romeo dengan eratnya. Ia tidak dapat membaca pikiran Romeo.
“Lupakan kejadian yang tak seharusnya tak kamu lihat.” Kata Vivian. Ia berharap bisa menghapus ingatan Romeo jika lelaki itu melihat kejadian perkelahian antara Virgo dengan Jason. Romeo terpaku menatap mata Vivian. Ia seperti orang linglung kini. Rasanya juga sangat aneh yang dirasakan Romeo ketika gadis yang dicintainya melakukan hal itu.
Pagi ini Ben sudah berada di depan rumah Aura untuk mengajaknya berangkat bersama ke sekolah. Romeo sangat terkejut karena baru mengetahui tadi malam sepulang dari hutan terlarang tentang Ben yang ternyata sudah resmi menjadi kekasih dari adiknya, Aura Zaskia.
Setelah mendapatkan pesan teks dari Ben, Aura begitu semangat bangun dan segera bersiap-siap agar Ben tak lama menunggu. Ia bahkan meninggalkan sarapan yang susah payah sudah disiapkan Romeo pagi ini. Nasi goreng keju buatan Romeo yang sangat disukainya itu masih tersisa banyak di piring.
“Aura berangkat dulu.” Pamit Aura tanpa meminta persetujuan Romeo. Ia bangkit dan berlari ke arah pintu. Romeo bisa melihat dengan jelas raut wajah berseri adiknya, ia juga menebak kalau Romeo sudah menunggu.
Naluri Romeo mengatakan kalau ia harus pergi ke luar. Ia mengintip dari dalam dan memang betul terkaannya kalau Romeo sudah menunggu di depan rumah mereka. Kejahilan Romeo tak hanya sampai di situ. Ia keluar dan mengagetkan Aura. Lebih tepatnya membuat Aura kesal.
“Cie yang dijemput pacarnya. Dek, sekolah itu buat belajar bukan buat pacaran. Awas ya kalau nilai kamu anjlok.”
Aura menatap tajam ke arah Romeo yang bersender di ambang pintu. “Dasar tukang iri. Makanya Bang Rome cari pacar, jangan cuma bisanya gangguin orang yang pacaran.”
Ben hanya tersenyum melihat kelakuan kakak beradik ini yang menurutnya lucu. Ben kemudian menatap arlojinya. “Kita berangkat sekarang ?”
__ADS_1
Aura dengan senang hati menerima ajakan Ben dan lekas pergi dari hadapan abangnya yang menyebalkan sekali pagi ini.
Setelah ditinggalkan Aura yang berangkat sekolah bersama Ben, Romeo mengingat kembali perkataan adiknya tentang Romeo yang harus mencari kekasih segera. Hal itu membuatnya pikirannya tertuju kepada Vivian Raven. Seseorang yang sudah merebut hatinya sejak pertama kali berjumpa.
Pria itu tentulah mengingat kejadian yang dialaminya tadi malam bersama Aura. Meski Vivian memintanya untuk melupakan kejadian yang tak seharusnya dilihatnya, itu rasanya sangat mustahil. Romeo bahkan mengingat betul dengan serigala besar yang berkelahi dengan seseorang. Namun, ia tak melihat kalau orang yang berkelahi dengan serigala waktu itu adalah Jason dan serigala itu kemudian berubah menjadi Virgo. Ia justru menganggap kalau Virgo lah yang berhasil mengusir serigala tersebut.
Entah apa jadinya jika Romeo sampai mengetahui yang sesungguhnya. Karena jalan pikirannya tak dapat ditebak, untuk itulah Aura menyembunyikan hal tak masuk akal ini darinya.
“Ah, itu pasti menjadi malam yang berat buat Aura. Apalagi ia menghadapi langsung bagaimana serigala sebesar itu. Sangat mengerikan.” Ia tidak tahu kalau serigala itulah yang menyelamatkan adiknya dari bahaya.
Ben dan Aura berjalan sambil berpegangan tangan. Sangat romantis. Walau Aura juga masih malu melakukan hal tersebut, ia ingin memegang tangan yang sedingin es tersebut. Ben sangat bersyukur karena Virgo menepati janjinya untuk menyelamatkan Aura.
“Apa kamu tidur nyenyak tadi malam ?” Tanya Ben.
“Mungkin karena kelelahan, jadi untunglah tadi malam bisa tidur dengan nyenyak. Dan pagi sekali Bang Rome sudah membuat keributan di rumah untuk membangunkanku. Huh.”
Ya, mengingat beberapa malam yang lalu Aura sering bermimpi buruk, untunglah tadi malam mimpi itu tidak muncul setelah Aura mendapatkan malam yang sangat menyeramkan. Gadis itu juga belum sempat mengatakan tentang mimpi buruk tersebut kepada Ben karena ia menganggap mimpi itu hanyalah berkaitan dengan traumanya sekitar sepuluh tahun yang lalu dan terlalu penting untuk dibahas. Hanya saja itu sangat mengganggu malamnya, tak lebih. Karena ia masih belum ingat kemana ia menaruh batu permata ajaib yang telah diberikan Alexander terhadapnya dulu.
Ben pernah menanyakan hal itu kepada Aura, namun saat Aura mencoba mengingatnya, dia tidak berhasil mengingat apapun tentang permata yang telah hilang tersebut. Ben juga merasakan kalau batu ajaib itu tidak berada di rumah keluarga Aura ketika beberapa waktu lalu ia berkunjung ke sana.
Ben tidak bisa memaksakan Aura untuk mengingatnya, sebab itu akan menyakiti gadis itu. Karena Ben benar-benar mengerti kalau kejadian itu pastilah membuat trauma manusia biasa apalagi seperti Aura yang saat itu masih kecil. Itu memang kejadian yang harus dilupakan. Ben hanya berharap mereka dapat segera menemukannya sebelum Vampir lain yang menemukan.
Karena batu permata itu sangat berharga, keluarga Raven yang sudah diamanahkan harus bisa menjaganya sampai akhir seperti permintaan Jade Portman kepada Alexander Raven. Setiap hari Anggara Raven atau Gara mencari keberadaan permata itu di hutan terlarang sendirian di saat Vivian dan Ben memiliki kesibukan di lain. Ia juga memiliki tanggung jawab itu, menemukan permata ajaib itu untuk membuat keadaan Pamannya, Alexander Raven, pulih seperti sedia kala. Juga, mereka harus segera menemukan batu ajaib itu untuk membuat sebuah permohonan.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next ?