Vampir Romantis

Vampir Romantis
Blue Moon


__ADS_3

Di tengah kemesraan sepasang kekasih yang berbeda dunia itu, Ben mencoba memastikan sesuatu lagi kepada Aura.


"Kamu baik-baik saja 'kan ?" Tanya Ben.


"Memangnya aku kenapa ?"


"Kamu pasti masih terkejut dengan kenyataan yang kukatakan kemarin dan kamu juga pasti terbebani tentang keberadaan permata itu."


Aura tersenyum. Ia sama sekali tidak seperti yang dikatakan Ben. "Tidak juga. Awalnya aku memang sangat tidak mempercayainya dan itu bahkan mengganggu waktu istirahatku. Tapi aku menyadari sesuatu, mungkin inilah alasan mengapa kita dipertemukan setelah batu itu awalnya mengabulkan permohonan agar Kakek Jade dan keturunannya tidak ditemukan oleh Vampir lain."


"Maksudmu ?"


"Aku akan menemukan batu itu untuk kalian. Aku akan mencarinya juga agar keinginan kalian bisa diwujudkan. Meski akhirnya aku ditemukan mereka, tak ada, mungkin itu memang seharusnya terjadi. Setidaknya batu itu bisa kembali ke tangan kalian sebelum diambil Vampir lain."


Ben menggunakan tangan satunya yang tidak memegang gagang payung untuk mengelus pucuk kepala Aura. "Kamu memang gadis pemberani. Tapi, aku belum siap untuk melibatkan kamu. Aku bahkan sudah merasa bersalah meminta kamu mengingat kejadian itu. Kamu pasti kesakitan mengingatnya."


Aura menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku serius. Aku ingin membantu kalian. Kapan ?"


Pernyataan Aura yang sangat bersikeras itu membuat Ben tidak dapat berbuat apa-apa. Ia kembali mempertimbangkan semuanya, mengingat keadaan Ayahnya yang semakin melemah. "Baiklah. Kita akan pergi saat terjadi bulan biru, besok malam."



Fenomena langka kembali terjadi setelah beberapa waktu sebelumnya terjadinya fenomena bulan merah. Di dunia Vampir, bulan biru terjadi akan menyebabkan adanya pancaran dari batu permata biru yang telah hilang. Malam itu, semuanya akan mengetahui di mana keberadaan batu ajaib tersebut.


Jake Willis selalu menanti saat itu tiba. Jake mengerahkan seluruh pasukan untuk mencari batu permata biru, walau ia mengetahui kalau ia takkan bisa menyentuh batu itu melainkan melalui tangan pewaris batu permata itu sendiri atau dapat dikatakan entah itu dari keluarga Raven ataupun bisa dari keluarga Portman yang masih belum ditemukan Jake.


Aura harus bersiap dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Ia juga harus menyiapkan mental untuk menjadi incaran Jake yang selama ini mencari keberadaan keluarga mereka. Dan, seperti yang dikatakan Ben, ia pasti dijadikan Jake Willis sebagai cara mendapatkan permata biru itu.


Di tengah malam yang panjang, Aura terbangun dari tidurnya. Kali ini ia mengingat sesuatu yang selama ini terlupakan dalam ingatan. Malam ini ia kembali bermimpi dan di mimpi itu jelaslah ia melihat kalau batu permata biru memang diserahkan Alexander Raven kepadanya yang masih kecil. Saat itu ia disuruh untuk pergi membawa batu tersebut sebelum direbut keluarga Willis.


"Ah, danau itu. Pasti di sekitar sana danau itu."


Danau yang dimaksud Aura adalah danau yang pernah didatanginya bersama Ben saat awal-awal mereka dekat.


"Pasti Ben sering ke danau itu karena dia mencari permata yang hilang itu. Aku harus memberitahu dia."


Keinginannya ia urungkan setelah ia melirik ke arah jam yang menunjukkan waktu tengah malam dan Aura sangat takut dengan kegelapan. Berulang kali ia mencoba menelepon Ben, namun tak diangkat. Malam seperti ini Ben tidak mungkin tertidur, melainkan ia sedang mencari benda ajaib itu di tengah lebatnya hujan, tebak Aura.



"Kamu mengingatnya ?!" Sontak ketiga Vampir di hadapan Aura.

__ADS_1


"Di mana batu permata itu ?" Tanya Ben.


"Aku ingat melemparkannya di dekat danau. Tapi aku tidak melihat di mana itu jatuhnya karena saat itu sangat gelap."


Vivian kemudian memeluk Aura. Erat dan sangat nyaman, Aura bisa merasakan kalau ia seperti memiliki kakak perempuan berkat Vivian. "Terima kasih Aura. Kamu sangat baik karena bersedia membantu kami. Tapi, Kak Vivi tidak ingin kamu terluka karena ikut bersama kami."


Setelah pelukan itu terlepas, Aura menatap heran kepada ketiganya. Ia seolah sedang dibohongi Ben yang mengizinkannya pergi bersama mereka. "Kenapa aku tidak boleh ikut ? Aku ingin ikut bersama kalian. Aku berjanji bisa menjaga diriku. Ben... kumohon."


"Baiklah, ajak gadis cantik ini Ben. Dia pasti akan sangat membantu." Ucap Alexander yang tiba-tiba datang. Aura sangat senang mendengarnya. Selain dengan kakak-kakak Ben, Aura juga sangat dekat dengan Ayah Ben, Alexander. Ia bersyukur karena Alexander mengizinkan dia ikut bersama para Vampir itu.


Sore itu Ben dan yang lainnya pergi ke dimensi lain di hutan terlarang. Ben juga selalu memastikan agar Aura selalu di sisinya saat berada di dalam hutan. Sebab malam ini semuanya akan bertemu dan batu itu akan bercahaya dengan sangat terang. Perlu waktu yang lama menunggu kesempatan bulan biru bersinar.


Aura terperangah sesudah menembus dimensi lain di hutan terlarang. Ini memang bukan kali pertamanya menembus dimensi itu, tapi ini pertama kalinya ia melihat danau biru yang sesungguhnya. Sebelumnya ia hanya melihat hutan yang ditumbuhi pepohonan lebat, ia tidak sampai berjalan ke dalam hutan yang sebenarnya sangat luas dan seperti sebuah negeri dalam buku cerita.


Saat matahari sudah tenggelam, keluarga Raven mulai mencium aroma tubuh dari musuhnya yang sudah mendekat. Ben mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Aura. Gadis itu yakin ia akan kalau permata itu berhasil ditemukan keluarga Raven.


Di sisi lain hutan terlarang, seorang pria berjalan membelah pepohonan besar. Dengan penerangan di tangannya ia mencari seseorang yang tadi ia ikuti dan sampai gelap tiba belum ia temukan. Dia adalah Romeo Sebastian Portman yang sedari tadi mengikuti adiknya yang pergi ke arah hutan bersama keluarga dari Vivian. Ia sangat penasaran dengan apa yang mereka lakukan bersama adiknya.


Romeo sungguh tidak mengetahui bahwa tindakannya mengikuti keluarga Raven akan menyebabkan dirinya dalam bahaya. Pria itu tidak mengetahui kalau telah menembus dimensi lain hutan terlarang dan segalanya yang menyangkut dunia makhluk penghisap darah seperti Vampir.


Di tengah gelapnya hutan terlarang itu, rembulan mulai menunjukkan esensinya di dunia ini. Warnanya biru dan sangat terang di banding malam-malam purnama lainnya. Cahaya bulan biru tersebut memicu makhluk seperti Vampir bermunculan untuk mencari keberadaan batu ajaib itu.


"Siapa kalian ?" Romeo melihat ke sekitarnya yang tiba-tiba banyak orang yang mengelilinginya. Mereka yang memiliki taring dan wajah yang putih pucat, mereka tentulah bukan manusia, pikir pria itu.


Vampir yang di sana tidak menghiraukan pertanyaan Romeo dan berlomba untuk menghisap darahnya. Lengan Romeo bahkan dengan mudahnya dicengkram salah satu Vampir di sana. Romeo yang kekuatannya jauh lebih kecil dari mereka berusaha tetap melawan untuk mempertahankan diri. Ia sekarang dapat menerka siapa makhluk yang mengincarnya sekarang.


Tiba-tiba suara serigala mengaum dengan sangat keras di dekat Romeo dan bangsa Vampir tersebut. Romeo semakin cemas dengan suara auman yang telah didengarnya. Vampir yang ada di sana kemudian mengalihkan perhatian mereka ke belakang, ada bangsa serigala yang juga muncul di hutan terlarang tersebut.


Dengan mudahnya beberapa serigala yang besar itu mengalahkan puluhan Vampir yang hampir memangsa Romeo. Tidak sampai di situ, satu serigala yang sepertinya merupakan pimpinan dari serigala lain mendekati Romeo. Sekarang Romeo berpikir kalau ia benar-benar akan mati.


Serigala itu kemudian menjelma sebagai manusia di hadapan Romeo yang sudah ketakutan. Serigala di belakangnya juga berubah menjadi manusia. Romeo mengucek matanya karena ia berpikir matanya sudah bermasalah.


"Bagaimana mungkin kalian ?" Romeo tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Kemarilah anakku." Ucap pimpinan bangsa serigala. Dialah Reuben Orlando, Ayah Virgo Orlando. Maka dari itu, Tuan Orlando sangat ingin melindungi Romeo yang mereka ketahui juga memasuki dimensi dunia mereka. Tuan Orlando juga sangat merindukan wajah mendiang anaknya yang sama persis dengan wajah Romeo. Mereka bahkan mengetahui kalau Romeo merupakan keturunan dari Jade Portman yang pernah menyelamatkan nyawa bangsa serigala dahulu dari tangan Jake Willis.


"Siapa Anda sebenarnya ? Mengapa Anda menyelamatkan nyawa saya ?"


"Karena kamu adalah Romeo, wajahmu sangat mirip dengan wajah mendiang anakku. Jadi, tak ada bedanya. Kamu juga anakku." Ucap Tuan Orlando.


Romeo tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia melirik ke arah Virgo yang ia ingat pernah menyelamatkan nyawa adiknya beberapa waktu lalu di hutan ini.

__ADS_1


"Apa kalian bangsa serigala ?" Tanya Romeo. Tuan Orlando mengangguk. "Berarti dia juga serigala ?"


Yang dimaksud Romeo adalah Virgo.


"Kamu sebaiknya pulang karena hutan ini sangat berbahaya untuk manusia." Ucap Virgo yang menghampiri Ayahnya dan Romeo.


"Tidak bisa. Aku harus menemukan adikku yang juga berada di hutan ini." Kata Romeo, ia semakin mengkhawatirkan keselamatan adiknya dengan makhluk apa yang telah menghadangnya tadi.


"Dia akan baik-baik saja selama bersama keluarga Raven." Tukas Tuan Orlando.


Romeo terkejut karena bangsa serigala yang di hadapannya mengetahui hal tersebut dan sepertinya mereka sangat mengenal siapa itu keluarga Raven, keluarga dari Vivian.


"Apa kalian mengenal keluarga Raven ?" Pria itu sangat penasaran apakah benar keluarga Raven mengenal bangsa serigala di hadapannya.


"Ya, kami mengenal mereka." Jawab Virgo mengiyakan.


Viko, pengawal Virgo, kemudian menghampiri mereka dengan mengatakan kalau keluarga Willis sudah mendekati keluarga Raven. "Jake Willis bersama Vampir sekutunya sudah mendekati tempat di mana keluarga Raven berada."


"Vampir ??!!! Adikku bersama keluarga mereka !!"


Romeo benar-benar tidak menyangka hal itu. Ia seperti sedang bermain film sekarang. "Di mana mereka ?"


"Romeo kau tenanglah, kami akan mengatasinya." Ucap Virgo.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, di sana ada adikku dan aku takut Vampir itu akan memangsanya." Romeo sungguh khawatir.


"Kamu harus tahu, keluarga Raven pasti bisa melindunginya."


Perkataan itu seolah menjelaskan fakta kalau keluarga Raven bukan makhluk yang bisa diandalkan.


"Bagaimana mungkin mereka bisa melindungi Aura ?"


"Karena mereka Vampir yang kuat, keluarga Raven pasti bisa mengalahkan keluarga Willis."


Hati Romeo mencelos mendengar kenyataan itu keluar dari mulut Virgo Orlando. Ini sama sekali tak pernah ia duga, ia tidak percaya kalau Vivian yang dicintainya berasal dari bangsa Vampir. Perasaan Romeo campur aduk sekarang, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan perasaannya terhadap Vivian.


"Berarti Vivi, dia..."


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?

__ADS_1


__ADS_2