
Masih di tengah derasnya hujan siang itu. Aura yang berjalan sambil menangis di tengah derasnya hujan yang membasahi tubuhnya. Ben tidak kuasa menahan kesedihan melihat Aura yang dilihatnya seperti saat ini. Vampir itu lalu melesat dan menghadang jalan Aura.
Aura sangat terkejut dengan kemunculan Ben yang memakai kekuatan Vampir di depan matanya. Gadis itu bahkan hampir saja terjatuh dan ditangkap Ben.
“Aura, jangan menghindariku lagi.” Ucap Ben. Sedang Aura melepaskan tangan yang menahan tubuhnya yang hampir saja terjatuh tadi. Gadis itu kembali mengabaikan Vampir tampan itu, meski hatinya sangat sakit.
“Beberapa hari ini rasanya sangat lama waktu berlalu. Sepanjang aku hidup, ini pertama kalinya aku merasa jenuh menjalaninya dan tersiksa karena seorang anak manusia. Itu karena kamu. Aku sangat menyesal sudah membuatmu sedih dan menangis. Aku minta maaf.” Jelas Ben. Pria itu tidak mampu lagi menunggu Aura memberinya kesempatan untuk bicara.
“Aku takut. Lalu apa kamu bisa mengatasinya untukku ?” Pada akhirnya Aura mengatakan sesuatu.
“Aku akan melakukan apa saja. Percayalah. Karena aku mencintaimu, jadi kumohon tetaplah di sisiku.”
Flashback on
“Sekarang, apa yang kamu inginkan ?” Aura berpikir beberapa lama untuk menjawab pertanyaan Romeo. Bertanya pada hatinya yang terdalam. Di antara cinta dan kebimbangan.
“Aku ingin terus bersamanya. Tidak peduli apapun. Aku akan melawan rasa takut itu sendiri.” Jawabnya.
Gadis cantik itu ingin terus bersama kekasihnya, meski ia sangat takut akan kenyataan bahwa pada akhirnya ia dan Ben tidak bisa bersatu. Bukan karena takut Ben merupakan seorang Vampir, melainkan dunia yang berbeda itu, yang menghalangi mereka untuk saling memiliki.
Flashback off
Aura kemudian berlalu, melewati Ben tanpa memberitahukan jawaban yang dimintanya. Ia masih dilema dengan perasaannya sendiri. Ia hanya ingin pulang sekarang, karena sejujurnya ia sudah sangat kedinginan. Lalu, Ben tidak dapat menghadang jalannya lagi.
Sekarang Aura sudah berada di kamarnya yang hangat dan berbaring di tempat tidurnya yang sangat nyaman. Ia menyunggingkan seutas senyuman ketika mengingat betapa hebohnya Mamanya yang melihat keadaannya yang pulang dengan basah kuyup lagi. Baginya Mamanya terlihat sangat cantik ketika sedang mengomel. Tidak hanya itu, Aura juga terharu bercampur dengan bahagia karena ternyata dirinya berharga untuk Ben.
“Maaf ya Ben. Bukannya aku masih marah, tapi aku hanya malu di hadapanmu tadi siang. Apalagi setelah kamu mengatakan kalau kau mencintaiku. Aku sangat tidak tahan melihat kau bersikap semanis itu.”
Kekasih dari sang Vampir itu ternyata sudah luluh hatinya. Walau itu masih ia tutupi, karena ia ingin melihat kesungguhan Ben yang lainnya, ia ingin melihat apa yang rela Ben lakukan demi membuat ia kembali padanya.
“Huh, kuatlah Aura ! Karena hidup memang penuh kejutan, setidaknya yang harus kau lakukan adalah menerimanya dengan lapang dada.”
__ADS_1
Perasaannya sudah berangsur membaik dari sebelumnya. Malam ini mungkin ia bisa tidur dengan nyenyak karena ia sudah berusaha berdamai dengan lukanya. Ia mungkin akan berpisah dengan Ben, tapi itu masih suatu hari nanti yang ia sendiri belum tahu kapan itu. Yang jelas, ia tak ingin menyia-nyiakan waktu yang memberinya kesempatan untuk bisa melihat Ben dengan lebih lama.
Aura berangkat ke sekolah dengan hati yang sudah lebih tenang. Ia juga dapat tersenyum manis. Hujan kemarin ternyata memiliki dampak yang dahsyat untuk hubungannya yang di ambang perpisahan. Karena jika saja Ben tidak mengatakan perasaannya, mungkin saja Aura tidak akan membuka pintu hatinya secepat itu kemarin. Mungkin saja akan lebih lama waktu yang dibutuhkan.
Baru saja melewati gerbang sekolah, sudah ada seseorang yang tanpa permisi melilitkan tangan ke lehernya.
“Bisa nggak sih lo jangan kagetin gue ?” Protes Aura pada Zi.
“Maaf. Sudah jadi kebiasaan.” Kata Zi lalu ia tertawa kecil. “Gimana hubungan lo sama dia ? Sudah baikan ?”
Aura mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab.
“Ya ampun Aura, cerita dong.” Pinta Zi pada Aura yang berjalan mendahuluinya.
Mereka kemudian masuk ke kelas dengan Zi yang terus mencecar Aura dengan pertanyaan yang sama. Kaki keduanya terhenti di meja yang mereka, namun bukan karena itu tempat tujuannya, melainkan karena mereka terfokus pada seikat bunga Lily yang berada di atas meja Aura.
Aura merasa senang mendapat bunga dari kekasihnyaa. Ia kekasihnya yang ia anggap sudah melakukan kesalahan layaknya pria di luar sana. Ia tidak ingin memperpanjang masalah. Jika Ben berbohong ya sudahlah. Setidaknya Ben sudah meminta maaf dengan itu terdengar tulus.
Namun, di sana Aura tidak menemukan keberadaan Ben. Tidak tahu di mana sekarang pria itu berada. Beberapa menit kemudian ketika Zi bicara dengan Aura yang asik memandangi bunga pemberian Ben, pria tampan nan menawan itu datang. Pria itu menghampiri Aura, ia kembali memberikan sesuatu. Sekotak cokelat. Itu membuat gadis-gadis di sana menghela napas berat dan merasa iri terhadap sosok yang menjadi kekasih Ben saat ini.
Bahkan Zi merasa sangat iri. Sebab Bayu, pria yang beberapa waktu lalu pernah dekat dengannya tidak pernah memberinya kejutan romantis seperti yang dilakukan Ben untuk Aura. Tapi ia senang kalau seseorang yang berkencan dengan Aura, sahabatnya yang sangat berharga baginya, adalah Ben. Pria yang tak hanya terkenal dengan ketampanannya, melainkan dengan kebaikannya dan sikap sopannya terhadap wanita.
“Katanya ini sesuatu yang disukai wanita, pembelinya juga mengatakan kalau ini akan meluluhkan hati. Bagaimana menurutmu ?” Ah, Ben benar-benar romantis. Bahkan kata-katanya saja sudah membuat Aura melayang dan itu jelas bukan sebuah gombalan.
“Baiklah, aku terima. Aku hargai semua pemberianmu. Terima kasih.” Jawab gadis itu.
“Jadi ? Kamu mau memaafkanku ‘kan ?” Tanya Ben untuk memastikan. Aura tersenyum, senyuman yang sangat dirindukan Tuan Beno Raven.
“Iya, iya. Tenang saja. Aku juga tidak ingin terus marah, itu sangat menyiksaku juga.”
Mereka akhirnya berbaikan. Di situlah Zi merasa menjadi obat nyamuk di antara dua orang yang sedang berkencan yang saling melemparkan kata-kata romantis.
__ADS_1
“Eheemm... eheemmm... Ini kelas buat belajar, bukannya buat pacaran.” Goda Zi pada keduanya. Alhasil keduanya menjadi salah tingkah. Bahkan seorang Vampir seperti Ben bisa salah tingkah karena malu, dia tidak berbeda dari manusia dan tingkahnya tersebut membuatnya menggemaskan di mata Aura.
Di jam istirahat, Ben kembali mengajak Aura duduk di kursi samping lapangan basket. Cuacanya sangat teduh di sana sebab berada di bawah pohon. Angin juga bertiup sepoi-sepoi.
“Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk bersamamu lagi.” Kata Ben ketika Aura sedang memikirkan identitas Ben yang baru saja ia ketahui.
“Sampai kapan kamu mau berterima kasih. Aku juga salah karena sempat tidak memberikan kesempatan untuk kamu bicara. Sekarang aku paham, kenapa kamu tidak pernah makan di kantin dan itu semua bukan karena kamu vegetarian.”
Ben menegapkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di dada. “Aku memang vegetarian.”
Aura tertawa melihat Ben mengatakan itu dengan rasa percaya dirinya. “Benarkah ?”
“Kamu tidak percaya ? Aku tidak pernah meminum darah...”
Ucapan Ben terpotong ketika Aura tiba-tiba kekasihnya tersebut menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ben terkejut dan bingung. Ia menatap Aura yang bersikap aneh.
“Hei, kamu mau membuat pengumuman ?!” Pekik Aura. Ia lalu melepaskan tangannya dari mulut Ben dan menaruh telunjuk di bibirnya sendiri. “Ssssttt...”
Ben terkekeh. Ia kembali melanjutkan kata-katanya, tapi kali ini ia sedikit berbisik. “Aku hanya meminum darah hewan di hutan.”
Mendengar pengakuan Ben tersebut, Aura tersenyum masam karena itu sedikit membuatnya jijik jika membayangkannya. Ia bahkan tidak tahan hanya dengan melihat darah, sedangkan Ben justru meminumnya dengan nikmat.
“Ben, kita bicara yang lain saja, ya ? Itu sedikit, ya kamu tahu sendiri lah kenapa. Ohya, ditambah kamu jangan pernah menunjukkan gigi taringmu lagi seperti kemarin.” Ucap Aura dengan juga cukup pelan.
“Baiklah. Ah, kamu juga jangan dekat-dekat dengan Jason lagi. Dia bukan lagi teman kecilmu, dia sudah berubah menjadi sebuah ancaman yang sangat berbahaya. Kamu mengerti ?” Pinta Ben. Ia sangat takut Aura akan celaka karena Vampir jahat dari keluarga Miller tersebut.
Di kejauhan, Jason Miller sedang mengamati kebersamaan mereka. Ia sangat marah karena Ben berhasil mendapatkan Aura kembali. Meski ia tahu seseorang yang dicintai Aura adalah Ben, tapi ia tetap berusaha mendapatkan gadis itu untuk dimilikinya, karena hanya Aura gadis yang dicintainya selama ini. Juga, jika saja ini bukan di sekolah, ia pasti sudah menyerang Ben dan berniat akan melenyapkan Vampir yang satu itu. Ayahnya, Henry Miller, pasti senang.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next ?
__ADS_1