
Seorang gadis kecil sedang asik bersenandung menikmati perjalanan pulangnya ke rumah. Langkahnya begitu riang sambil menatap langit yang mulai menggelap karena mendung. Sudut bibirnya mengembangkan senyuman. Dengan tingkahnya sekarang yang beberapa kali menatap ke langit, menandakan bahwa ia seolah sedang menanti sesuatu yang turun dari atas sana.
Selang beberapa saat kemudian turunlah apa yang sedang ia nanti-nantikan. Hujan turun membasahi tubuh gadis kecil itu. Sambutannya akan turun hujan itu begitu hangat, sehangat senyumannya sekarang. Jelaslah tingkahnya ini mengingatkan kepada seorang gadis penyuka hujan dan suka bersenandung di tengah guyurannya. Aura Zaskia Portman.
Namun, gadis kecil ini bukanlah Aura yang dimaksud. Tak lain ia adalah Naura Putri Raven, gadis kecil nan manis ini merupakan putri dari Tuan Beno Raven dan Aura Zaskia Portman. Usianya baru tujuh tahun, namun ia sudah menampakkan kemiripannya dengan sang Ibu dulu. Suka sekali main hujan-hujanan sepulang sekolah dan pulang dengan basah kuyup.
Naura masuk ke dalam rumah. Kakinya sedikit berjinjit seperti ingin menghindari sesuatu. Kakinya yang berjalan dengan pelan tersebut kemudian terhenti otomatis ketika menyadari kalau di sudut rumah yang lain sudah ada seseorang yang sedang memperhatikan gerak-geriknya.
"Naura, kenapa pulangnya hujan-hujanan lagi, Nak ?" Kata Aura, Mama Aura, yang merasa penat terus-menerus mengingatkan anaknya untuk jangan main hujan lagi. Bagaimana pun Aura sangat mengkhawatirkan kalau-kalau anak tercintanya itu akan sakit.
Alih-alih merasa takut karena sudah ketahuan, Naura justru tersenyum lebar ke arah Mamanya. "Mama cantik kalau lagi marah."
Sampai sekarang Aura tidak mengerti dari mana anaknya itu belajar seperti itu, persis seperti yang ia katakan ketika dulu ia ketahuan pulang hujan-hujanan oleh Mamanya. Aura menghampiri Naura. Namun Naura justru berlari ke arah yang lain.
"Kamu kenapa ke sana ? Mama masih mau bicara sama kamu, Nak."
Aura menatap tajam ke arah sosok yang berdiri tegap di depannya, di mana Naura berlindung di belakangnya. Pria itu terlihat sudah semakin dewasa sekarang, namun ketampanannya tak pernah berkurang. Justru dengan penampilannya yang sekarang dengan kumis tipis menambah gaya kharismatik dalam dirinya. Siapa lagi pria itu kalau bukan Tuan Beno Raven, pria tampan nomor satu kata anaknya.
"Ada apa ini ? Kenapa kamu lari dari Mama ?" Tanya Ben kepada sang anak.
Belum sempat Naura menjawab pertanyaan sang Papa, Mamanya sudah mendahuluinya mengatakan sesuatu. "Kamu jangan coba belain dia terus. Bagaimana kalau dia sakit kalau masih main hujan-hujanan ?!"
Ben terkekeh mendengar penuturan bernada kekesalan, ancaman, atau apapun namanya itu yang keluar dari mulut istrinya. "Sekarang kamu mengerti bukan bagaimana perasaan Mama waktu kamu sering pulang sekolah basah kuyup karena kehujanan ?"
Kata-kata itu mengena sekali untuk Aura. Sebagai seorang Ibu, ia sekarang benar-benar mengerti bagaimana kekhawatiran yang dirasakan Mamanya yang begitu kesal melihatnya pulang basah kuyup. Pasti Mamanya juga mengkhawatirkn kesehatan dirinya dulu, pikir Aura.
"Iya, aku tahu. Sekarang aku mengerti perasaan Mama. Aku takut Naura sakit." Ucap Aura dengan wajah yang terlihat imut di mata Ben ketika ia sedang menampakkan wajah penyesalan. Ingin sekali rasanya ia mencubit pipi istrinya karena sangat menggemaskan.
Aura melihat tingkah anaknya yang terlihat merasa telah menang karena Mamanya tidak dapat memarahinya ketika ada Papanya, Beno Raven. Aura kemudian berlari kecil untuk menangkap Naura yang bersembunyi di belakang suaminya. Naura pun berhasil ia raih dalam pelukan.
__ADS_1
Aura tidak peduli jika sekarang tubuh anaknya masih basah. Sedang gemas ia menciumi pipi Naura. Alhasil Naura berteriak sambil tertawa ingin dilepaskan pelukannya oleh sang Mama. Ben ikut memeluk anaknya dan mencium gemas Naura seperti yang dilakukan Aura.
"Ya sudah kamu gantikan pakaian Naura dulu di kamar, nanti dia masuk angin." Pinta Ben kepada Aura. Naura dan Mamanya kemudian pergi ke kamarnya seperti yang dipinta Papanya.
"Oh ya, Ra..." Panggil Ben.
Baik Aura maupun Naura, keduanya kompak menoleh ke arah Ben yang memanggil baru saja. Ben sampai bingung ketika istri dan anaknya menoleh secara berbarengan, ia baru ingat kalau nama istri dan nama anaknya mirip.
"Kamu memanggilku ?" Tanya Aura.
"Ih Mama percaya diri sekali. Papa itu memanggil Naura. Iyakan, Pah ?" Protes Naura.
Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Sebenarnya ia ingin memanggil Aura, namun mendengar ucapan Naura yang sangat percaya diri tadi membuatnya bingung, sebab bisa saja Naura pura-pura merajuk karena ia penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Ben.
"Emm, tidak jadi." Jawab Ben singkat sambil tersenyum tidak jelas. Ibu dan anak itu kemudian kompak memberikan tatapan kesal pada pria yang berstatus sebagai suami dan Ayah itu.
Ketika malam tiba dan Naura sudah terlelap dalam mimpi, Mama dan Papanya sedang menikmati indahnya langit malam. Duduk di kursi yang terletak di balkon kamar mereka. Saat itu langit malam sangat cerah dan indah dengan bertaburan bintang dan dihiasi rembulan.
Ben menaruh cangkir teh di meja sehabis menyeruput teh hangat buatan istrinya. "Soal liburan kemarin, aku minta maaf ya. Aku lagi sibuk-sibuknya di kantor dan tidak memungkinkan untuk bepergian ke luar kota."
Ben masih tidak enak karena telah membatalkan janjinya kepada Aura dan Naura yang sangat ingin berlibur bersamanya di liburan semester Naura seminggu yang lalu.
"Sudahlah. Kamu jangan merasa tidak enak begitu lagi, aku tidak apa-apa. Lagi pula Naura juga bilang tidak apa-apa. Dia sangat mengerti kalau Papanya adalah orang yang sibuk."
Ben mengusap pucuk kepala Aura. "Terima kasih, sayang. Aku bahagia memiliki kalian."
"Langitnya indah." Kata Aura sambil menatap langit itu seperti sang suami. Sebenarnya ia berusaha mengalihkan perhatian Ben agar tidak melihat wajahnya yang bersemu merah.
"Kamu benar, langitnya sangat indah." Ben juga setuju. "Kamu sadar tidak, menatap langit malam sudah menjadi kebiasaan kita sejak dulu dan kita tidak pernah bosan. Mau itu langitnya cerah atau mendung. Setiap malam kalau kita lagi sama-sama, kita selalu duduk di sini."
__ADS_1
"Iya, aku juga baru menyadarinya. Waktu berjalan rasanya begitu cepat, perasaan baru kemarin pertama kalinya aku bertemu sama kamu." Aura mencoba mengingat-ingat masa itu. Di mana ia masih berpakaian seragam Sekolah Menengah Atas dengan wajah yang masih lugu dan sekarang penampilannya juga semakin dewasa.
"Saat itu rasanya seperti mimpi. Melihat kamu yang sangat gembira menikmati hujan, aku bisa menebak kalau kamu sangat menyukai hal itu. Tapi, aku mencoba menghampiri kamu dengan beralasan memberikan payung untuk kau pakai." Perkataan Ben membuat Aura penasaran. Bahkan sejak bertahun-tahun mereka bersama, ini pertama kalinya Ben membahas tentang hal ini.
"Kenapa kamu lakukan ?" Tanya Aura yang penasaran.
"Karena kamulah alasannya."
Mendengar kalimat sederhana itu keluar dari mulut Ben, jantung Aura sudah seperti dipompa dengan sangat cepat. Perasaannya tak pernah berubah, sama seperti awal-awal ia mencintai Ben. Seperti pertama kali merasakan yang namanya jatuh hati.
"Kamu mau menggodaku lagi ? Serius Ben !" Aura mencoba diri dan menutupi kalau ia sedang berbunga-bunga. Wajahnya bahkan sudah memerah.
"Aku serius. Karena kamulah alasannya. Aku ingin berkenalan denganmu. Melihatmu secara dekat. Walau jantungku tak dapat berdetak seperti manusia, tapi aku memiliki perasaan yang sama seperti manusia lain. Pertama kalinya aku tertarik dengan seorang perempuan setelah lama aku hidup."
Aura tak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah tersipu. "Kamu pandai sekali membuat jantungku berdegup kencang."
Ben terkekeh. "Kamu cantik saat kamu seperti ini."
"Berarti kemarin aku tidak cantik ?" Protes wanita itu.
Tingkah wanitanya ini membuat Tuan Beno Raven semakin ingin menggodanya. "Kamu selalu cantik. Tapi kamu itu semakin menggemaskan waktu wajahmu memerah seperti sekarang."
Pria itu tanpa sungkan mencubit pipi Aura yang katanya menggemaskan itu dan tak mau kalah dari Ben, Aura berusaha membalas perlakuan suaminya dengan berusaha mencubit pipi pria itu dengan keras.
Ben berusaha menghindari dari serangan Aura. Tingkah mereka saat ini membuat keduanya tampak seperti masih duduk di bangku sekolah, keduanya sangat bahagia, masih terlihat muda untuk dikatakan sudah memiliki anak sebesar Naura.
Waktu memang misterius. Rasanya memang baru kemarin pertemuan awal mereka dan kisah mereka dimulai. Seorang gadis yang menyukai hujan tidak pernah menyangka kalau ia akan dihampiri oleh seseorang yang akan menjadi kebahagiaan untuknya, meski pada akhirnya untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut ia harus menghadapi beberapa kejutan untuk hidupnya yang selama ini berjalan mulus-mulus saja.
Kini, mereka benar-benar bahagia. Seperti pasangan manusia lainnya, bersama keluarga kecil mereka. Meski banyak yang harus diceritakan lagi karena hidup mereka masih terus berjalan. Tapi, biarlah mereka menikmati bahagia dengan kehadiran Naura yang melengkapi dan mewarnai kehidupan mereka sebagai pasangan.
__ADS_1
Bahkan setelah bertahun-tahun mereka bersama, cinta yang tumbuh di hati keduanya tak pernah layu. Setiap hari bahkan semakin bertambah dan tak pernah terpikir dari salah satunya untuk mengkhianati. Itulah cinta, begitu sederhana. Hanya berpikir untuk membahagiakan tanpa pernah terlintas untuk melukai.
Ini benar-benar terakhir ya guys. Semoga suka. Salam manis, Bie. Sampai jumpa lagi. 💕