Vampir Romantis

Vampir Romantis
Mr. Beno Raven


__ADS_3

Riuh suara para penghuni ruang XI IPA 1 terdengar kencang sampai terdengar dari luar. Semakin hari kelakuan mereka semakin aneh, di sana ada biang gosip, gerombolan cowok tengil, ada juga beberapa orang kutu buku yang matanya masih sangat terfokus pada bahan bacaan mereka tak peduli seberapa ricuh ruang tersebut dan tak luput dari penglihatan jika di sana juga ada Aura dan Zi yang tengah mengobrol. Katanya anak IPA, tapi ya mau bagaimana lagi, begitulah adanya mereka.


Tepat di jam 8 pagi, seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahunan berjalan memasuki kelas ricuh yang tadi dimaksud. Langkah kakinya dibuntuti seseorang pria tinggi.


Dalam sekejap, suasana ricuh tak terkendali tadi berubah drastis. Semua yang awalnya tak bisa diam, kini justru bungkam akan kehadiran wanita itu. Bukan karena killernya sang guru, tidak. Dia wanita yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, eh. Melainkan bungkamnya mereka karena segan. Ditambah mata mereka terfokus kepada pria yang berdiri di samping kanan Bu Diana. Pria tinggi, dingin tanpa ekspresi, tapi sungguh membuat hati perempuan yang di sana meleleh.


"Hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari luar kota. Silakan nak perkenalkan dirimu" ucap Bu Diana seraya memberi kesempatan kepada pria itu untuk memperkenalkan diri. Tak kenal maka tak sayang, udah kenal kok masih belum sayang, eh ?. Haha.


"Pria itu..."


"Perkenalkan nama saya Beno Raven. Salam kenal" ucap pria tampan yang diketahui bernama Beno Raven atau Ben. Seketika riuh kaum hawa terdengar lagi, terutama dari golongan biang gosip.


Keberadaan Aura nampaknya sudah terdeteksi oleh mata Ben. Aura sungguh kaget mendapati Ben yang ia temui beberapa hari yang lalu. Dia adalah pria payung itu. Dialah pria tampan yang sudah membuatnya baper di tengah hujan.


Mereka saling bertukar pandang. Senyum Ben mengembang ke arah Aura, walau hanya sebentar, tapi itu sungguh manis. Ben, pria yang memberikan payung waktu itu, dia benar-benar ada di sana, di samping Aura. Apa ini mimpi ? Aura tak pernah menduga pertemuan ketiganya kali ini. Bahkan Ben tepat duduk di sampingnya.


Zi yang dari tadi memanggil Aura dengan berbisik takut ketahuan Bu Diana kian bingung mengapa sahabatnya terpaku seperti itu. Siapa pria itu hingga membuat sahabatnya sampai terpana seperti hari ini, tanyanya dalam lubuk hati.


Sungguh aneh bagi Zi melihat Aura yang segitunya melihat seorang cowok, ini bukan dirinya seperti biasa. Rizky yang sudah segitu gantengnya dan terus mengejar gadis ini pun tak Aura hiraukan.


*Istirahat pertama

__ADS_1


Pelajaran Bahasa Indonesia dari Bu Diana akhirnya berakhir. Masih dari arah biang gosip, setelah Bu Diana keluar dari kelas mereka langsung menyerbu ke arah meja Ben.


Heboh. Ben hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan dari mana asal sekolahnya secara singkat. Salah satu dari mereka juga mengajak pria itu untuk makan bersama di kantin sekolah, namun sayangnya ditolak Ben. Kasihan.


"Kamu di sini ?" tanya Ben yang menghampiri meja Aura. Zi tampak bingung dengan perkataan pria itu.


"Iya, oh perkenalkan, aku Aura dan ini Raziya atau Zi sahabat aku" ucap Aura memperkenalkan diri. Sekali lagi, tak kenal maka tak sayang, 'kan ?. Pria itu tersenyum sembari berjabat tangan. Zi terpukau dengan senyumnya yang terlihat sungguh keren.


"Oh iya payungmu waktu itu..."


"Untukmu bukan. Aku tak ingin kamu terus hujan-hujanan" ucap Ben yang memotong omongan Aura yang membahas soal payung dan hujan kemarin. Hati gadis ini kembali bergetar seraya mendengar perkataan Ben. Di tiga kali pertemuan mereka, terhitung sudah dua kali Ben membuatnya baper dan membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.


"Apa dia sedang merayu ? Argh tidak. Sungguh dia tulus bukan modus. Jangan kayak gini lagi, gue..." gumam Aura.


"Ah tidak, aku hanya... Aku ingin pergi ke kantin. Kamu mau ikut ?" Aura sungguh gugup sekarang. Sahabatnya yang dari tadi bengong menatapnya kini semakin heran dan penasaran tentang hubungan Aura dan Ben si murid baru.


"Kamu duluan saja" jawab Ben.


"Kita duluan ya Ben" ucap kedua gadis itu bersamaan.


Kedua gadis itu telah menghilang di balik pintu dan bayangan gadis bernama Aura masih tinggal dalam pandangan Ben. Pria itu kemudian beranjak dari tempatnya tadi berdiri menuju Perpustakaan Sekolah.

__ADS_1


"Siapa dia Ra ?" tanya Zi kian penasaran bin kepo.


"Ben kan namanya, emangnya lo nggak dengar tadi ?" jawaban Aura ini membuat Zi kesal.


"Bukan itu maksud gue oneeengg. Maksud gue dia siapa lo ? Kok kalian bisa kenal ? Kenal di mana ? Sejak kapan ?" cecar Raziya alias Zi. Aura memasang wajah badmood-nya. Ia paling kesal kalau dijejali pertanyaan Zi yang keponya sudah kambuh.


"Ya ampun Zi tu mulut apa rel kereta sih" ucap Aura dan sekarang Zi yang terlihat kesal. Aura terkekeh melihat muka bĂȘte sahabatnya yang pura-pura ngambek.


"Beberapa hari lalu gue ketemu dia di kompleks perumahan gue dan dia ngasih payung gitu waktu gue lagi hujan-hujanan" jelas Aura. Seketika mata Zi membulat mendengar pernyataan bahwa Ben tinggal di kompleks yang sama dengan Aura.


"Hah ? Dia tetangga lo ? Gue jadi pengen pindah ke sana deh biar gue bisa lebih lama liat muka gantengnya" ucap Zi. Astaga.


"Tuh kan mulai lagi lebaynya. Tapi iya juga emang ganteng banget" puji Aura.


"Gue kaget loh dengar lo muji cowok kayak gini Ra, Rizky aja lo cuekin" Zi. Rizky ? Astaga Aura tak ingin mendengar nama itu. Bukannya nggak suka, hanya saja Aura bosan mendengar Zi yang terus memuji-muji pria itu.


Hari itu adalah hari yang tak pernah terduga. Pria yang beberapa hari pernah muncul secara tiba-tiba, hari ini pun begitu, secara tiba-tiba pula entah asalnya dari mana. Di sinilah dia sekarang berada. Di sekolah dan di kelas yang sama dengan Aura Zaskia.


Mr. Raven terus memandanginya dengan senyum yang memukau. Kehidupan sekolah Aura tampaknya mendapat warna baru dan kehadiran Ben punya warna tersendiri dalam hidupnya.


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next ?


__ADS_2