Vampir Romantis

Vampir Romantis
Teman Lama


__ADS_3

Aura melihat ke sekitar taman bermain tersebut. Baginya tempat itu tak pernah berubah. Masih sama seperti dulu ia sering bermain di sana dan menyisakan luka.


“Ini tempat kesukaanku sewaktu kecil. Aku sering bermain di sini dengan teman kecilku. Tapi...” Raut wajah gadis itu berubah menjadi murung. “Juga menyimpan kenangan buruk.”


“Kenangan buruk apa ?” Rasa penasaran Ben muncul.


“Terakhir kali aku bermain di sini, itu hari di mana aku kehilangan teman kecilku itu. Dia menghilang di sini dan Mama bilang aku ditemukan tidak sadarkan diri di dekat hutan di sana.”


Keduanya menatap telunjuk Aura yang diarahkan ke hutan terlarang. Ben pun mengingat hari itu, di mana Ayahnya menyelamatkan gadis kecil. Itu adalah Aura kecil yang di dalam tubuhnya mengalir darah Jade Portman, maka dari itu ia berhasil menembus dimensi lain di sana. Sementara ia mencari teman kecilnya itu, ia tidak tahu kalau teman kecilnya itu bernasib malang karena telah dimangsa bangsa Vampir jahat.


Ben berpikir kalau itu semua ulah keluarga Willis yang benar-benar keterlaluan sudah menjadikan anak kecil tak bersalah menjadi pemuas dahaga.


“Kita pulang sekarang ?” Tanya Ben. Pria itu khawatir akan muncul seseorang tak terduga di sana. Indra penciumnya yang sangat tajam itu sudah mencium aroma tubuh bangsa serigala sejak tadi, tapi karena Aura terlihat masih ingin berada di sana, ia harus menuruti keinginannya.


Hari ini begitu banyak momen indah yang mereka ciptakan bersama. Seorang Beno Raven juga terlihat sangat baik ketika menjalankan perannya sebagai seorang kekasih dari seorang anak manusia. Lalu Aura, sangat bersyukur dicintai dan dimiliki oleh Ben. Ia hanya berharap ini bukan hanya sekedar cinta masa remaja, ia berharap Ben akan menjadi orang yang selalu ada untuknya.


Sesampainya ia mengantar Aura, alih-alih Ben pulang ke rumahnya, ia justru pergi ke hutan terlarang. Ia mencari serigala yang di sekitar sana untuk memberinya peringatan seperti tempo hari yang dilakukannya. Ia sangat membenci bangsa serigala.


Ben benar-benar tidak menemukan Virgo dan Viko yang tadi mengikutinya saat bersama Aura. Vampir yang satu ini tidak mengetahui kalau Virgo lah serigala yang ia cium aroma tubuhnya, juga Vivian tidak menceritakan kalau Virgo memasuki wilayah kekuasaan mereka. Kemudian setelah memastikan tidak ada bahaya lagi di sekitar sana, Ben kembali.



Pagi ini Aura mendapatkan masalah. Ia bangun sedikit kesiangan dan bergegas pergi ke sekolah dengan berlari. Jika saja Papanya belum berangkat ke luar kota, pastilah beliau yang mengantarkan anak bungsunya yang cantik itu. Di saat seperti ini, di saat ia bangun kesiangan, Papanya juga memiliki kesibukan.


Bagaimana dengan Romeo ? Huh, dia sedang lagi pulas-pulasnya tidur di kamar karena jadwal kuliahnya nanti siang. Mana mau ia dibangunkan untuk mengantarkan adik kecilnya itu, justru ia akan meledek terus-menerus tentang Aura yang tidak bisa naik sepeda. Jikalau ada keajaiban ia mau mengantar, pasti ia memiliki syarat tertentu.


Ben juga sudah berangkat, jadi tinggallah Aura sendiri yang berlari sangat kencang sebelum gerbang ditutup. Alasan mengapa Aura terlambat disebabkan ia tidak bisa tidur dan justru memikirkan kencannya dengan Ben yang sangat romantis. Jadilah ia terlambat tidur dan semoga saja ia tak mendapat hukuman pagi ini.


Aura masuk ke pintu gerbang tepat sebelum pintu itu ditutup. Sesekali ia menengok ke arah jam tangan dan memastikan mata pelajaran Bu Susan belum selesai. Bu Susan yang terkenal galak dan tidak menyukai orang yang tidak disiplin. Ia memiliki kemungkinan untuk menjadi bulan-bulanan Bu Susan jika sampai terlambat masuk ke kelas.


Karena kecerobohannya, Aura hampir saja menabrak seseorang. Ia langsung meminta maaf tanpa memperhatikan orang tersebut dan melanjutkan langkahnya. Sebelum Aura berjalan semakin jauh, orang itu mengikutinya dan menghadang jalannya. Aku tersentak.


“Ada apa ?” Tanya Aura sambil memperhatikan orang itu dari atas sampai bawah. “Aku sudah minta maaf ‘kan tadi ?”


Orang itu tersenyum. “Bukan itu.”


Aura mendengus kesal ketika kembali menengok ke angka-angka di jam tangannya. Ia benar-benar akan mati sekarang di tangan Bu Susan. “Kita nanti saja bicaranya, aku sudah terlambat.”

__ADS_1


“Sebentar saja.” Pinta orang itu.


“Oke, memangnya ada apa ?” Aura menyerah. Ia sudah terlambat sekarang kalau pun kabur dari orang ini. “Kamu Aura ‘kan ?”


Aura heran kenapa orang ini bisa mengetahui namanya, ia lalu berpikir mungkin karena melihat papan namanya. Tapi, ia kembali melihat-lihat orang di depannya itu, ia sama sekali baru pertama kali melihatnya di sekolah. “Iya, benar.”


“Kamu tidak mengenalku ? Aku Jason.”


Gadis itu sangat terkejut ketika orang itu menyebutkan namanya. Ia langsung sadar siapa itu Jason, sebab ia hanya memiliki satu orang teman yang memiliki nama itu. “Ja... son ?”


“Sudah lama, ya.”


Aura begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bagaimana mungkin Jason kembali muncul di hadapannya dengan kondisi baik-baik saja. Ia tidak mungkin lupa kalau sejak hilangnya Jason ketika di taman bermain, orang tua Jason pindah ke luar negeri karena begitu terpukul. Bahkan polisi menyatakan ada kemungkinan Jason kecil sudah tidak ada karena hutan itu banyak menyimpan hewan buas.


“Bagaimana kamu bisa di sini ? Kamu menghilang sejak saat itu.” Aura tidak dapat menahan haru. Bagaimana pun Jason adalah teman masa kecilnya yang membuat harinya menyenangkan.


“Yang dulu sudah berlalu. Aku di sini sekarang untukmu.”


Aura terkejut dengan pernyataan pria bernama Jason tersebut dan penasaran bagaimana Jason mengenali dirinya yang mana mereka sudah lama sekali tidak bertemu.


Lepas dari Jason yang tadi membuatnya lupa waktu, Aura kembali frustasi ketika pintu kelas hampir di dekat. Ia berjinjit untuk memastikan tidak ada yang mendengar langkahnya. Suasana kelas juga terdengar sepi, ia semakin takut sekarang. Ah, ini hari sial, pikirnya.


Aura menegakkan tubuh dan berusaha bersikap senormal mungkin. Ia menarik napas dan menghembuskannya. Ia harus bersikap tenang agar tidak terlihat seperti orang yang sedang berbohong ketika mengatakan alasan kepada Bu Susan. Aura berjalan dan memasuki kelas. Namun, ia justru menundukkan kepala ketika ada seseorang yang menghadang jalannya ketika di ambang pintu.


“Kamu saaangaaatt terlambat.”


“Maaf, Bu. Saya...” Aura menyadari sesuatu. Ia kemudian membuka kelopak matanya dan menatap ke arah seseorang itu.


Betapa kesalnya Aura ketika ia mendapati seseorang yang sangat ia kenal justru bertingkah seperti Bu Susan. Raziya atau Zi. “Kok malah lo sih Zi ?”


Aura kemudian menerobos masuk tanpa permisi ke arah Zi dan memeriksa kelas. Lebih tepatnya mencari keberadaan Bu Susan. Suasana kelas juga sangat tenang. “Mana Bu Susan ?”


“Bu Susan sakit. Jadi kita dikasih tugas hari ini.”


Mereka berjalan ke tempat duduk. Aura dan Ben saling melempar senyum ketika mata keduanya bertemu. “Cuma tugas ?”


“Cuma tugas lo bilang ? Hei, tugasnya ada lima halaman.” Terdengar suara kekesalan dari Zi, tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

__ADS_1


“Pantes semuanya tenang. Lagi sibuk ngerjain tugas rupanya. Tadinya gue pikir gue bakal dijadiin daging cincang sama Bu Susan.” Aura sungguh bersyukur karena ia selamat hari ini. Ia harus lebih hati-hati lagi mulai sekarang, karena tak ingin kejadian seperti ini terulang.


“Gue dari tadi nungguin elo tahu nggak.” Ucap Zi dengan tatapan aneh. “Aura... yang cantik, yang pintar.”


Aura mendengus kesal. “Lo mau nyontek ‘kan ?”


Mendengar ucapan Aura seperti itu membuat Zi tersenyum lebar. “Hehe... tahu aja sih lo. Habisnya sih banyak banget tugasnya. Mana sanggup gue.”


“Iya deh iya. Tapi bagi tugas, lo juga harus kerjain.” Pinta Aura karena ia tak ingin Zi asik memainkan ponsel untuk melihat media sosial.



Mereka pergi ke kantin setelah jam istirahat. Rasanya mie ayam hari ini sangat lezat rasanya sehabis puas mengerjakan segunung tugas yang diberikan Bu Susan. Mereka lega sekarang.


“Eh, Zi. Gue tadi ketemu sama teman lama gue. Dia baru pindah ke sini, tapi nggak tahu di kelas mana.”


“Teman lama ? Siapa ?”


“Jason. Teman waktu kecil.”


Karena mendengar itu merupakan nama pria, Zi menjadi penasaran. Ia memang seperti itu. Aura mengerti itu dan sebelum mereka berbicara banyak, Ben muncul dan langsung duduk di sana.


Aura bahkan terkejut, apalagi yang sedang mereka bicarakan adalah seorang pria. Sekarang ia takut kalau Ben akan salah paham. Ditambah ia ingat apa yang dikatakan Jason sebelum mereka berpisah tadi.


“Kenapa diam ?” Tanya Ben. Aura menggeleng-gelengkan kepala. Sedangkan Zi hanya tersenyum aneh. Tidak jelas.


Di saat mereka asik membicarakan sesuatu. Tiba-tiba Jason muncul dan duduk bergabung dengan mereka. Ketiga menatap ke arah pria itu.


“Hai Aura !” Sapanya. Aura tersenyum, tapi ia merasa sedikit kurang nyaman.


“Kamu siapa ?” Tanya Zi. Matanya memancarkan kekaguman melihat sosok Jason.


“Jason. Temannya Aura.”


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?

__ADS_1


__ADS_2