Vampir Romantis

Vampir Romantis
Portman dan Willis


__ADS_3

Keluarga Raven melihat ke arah cahaya biru yang keluar dari danau di hadapan mereka. Semuanya terperangah melihat cahaya yang luar biasa terangnya itu dan justru keluar dari dalam danau dalam beberapa detik sebelum Vampir lain melihatnya. Cahaya itu lalu menghilang.


Aura merasakan sakit di kepalanya karena bagian terpenting dari ingatannya kembali, ia melihat bayangan kalau batu itu terlempar ke dalam danau. “Di sana, aku sudah melemparkannya ke dalam sana.”


“Kamu yakin ?” Tanya Alexander.


“Saya yakin Om.”


Vivian mulai mencari keberadaan batu permata itu lewat pikirannya. “Benar, batu permata itu berada di dasar danau.”


Batu ajaib itu juga memiliki nyawa dan baru menampakkan wujudnya ketika pemilik aslinya berada di dekatnya, yakni Aura Zaskia Portman, yang sekaligus orang yang terakhir kali memegang batu permata tersebut.


“Kalau begitu kamu harus menyelam ke dasar danau dan mengambilnya.” Ucap Gara.


Aura menatap heran ketika tatapan keluarga Raven mengarah padanya. “Siapa ? Aku ?”


“Iya, kamu.” Ben mengiyakan. Aura menatap gelisah ke arah danau yang sepertinya sangat dalam dan terlalu luas dikatakan sebagai danau.


“Masalahnya adalah aku tidak bisa berenang.” Ucap Aura penuh penyesalan. Semuanya menghela napas berat.


“Wah, kamu benar-benar multi talenta. Kukira kau bukan hanya tidak bisa naik sepeda.” Cibir Gara. Ini sudah menjadi kebiasaan kalau Gara sering mengajak Aura bercanda dan membuat Aura kesal.


“Kenapa bukan Kak Gara saja ?”


Vivian menggeleng-gelengkan kepala. “Ya ampun, Gara. Sudahlah jangan membuat Aura kesal.”


Ben mencoba berbicara dengan Aura dan mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti Aura. “Aura, hanya kamu bisa melakukannya, karena kamu orang yang terakhir menyentuh permata itu dan kamu harus tahu, batu itu telah memilihmu sebagai pemilik barunya.”


Aura berusaha mencerna kata-kata Ben, ia harus melawan rasa takutnya sendiri, apalagi danau itu menyimpan misteri tentang batu permata dan siapa yang tahu akan ada makhluk semacam apa lagi di dalam sana.


“Aku akan menyelam bersamamu. Jadi kamu tidak perlu takut lagi.” Ben berusah menenangkan kekhawatiran Aura. Permohonan Ben memang meluluhkan hati Aura, namun ketakutan itu masih besar. Bagaimana mungkin ia menyelam ke dasar danau dan mencari permata biru itu. Pasti butuh waktu lama.


Aura memejamkan matanya, mencoba meyakinkan dirinya kalau ia harus benar-benar siap melakukannya. “Baiklah.”


Keluarga Raven sangat lega mendengarnya. Meski Ben juga tak ingin menyusahkan  kekasihnya, namun hal ini harus dilakukan karena akan sangat berbahaya kalau batu tersebut jatuh ke tangan yang salah.

__ADS_1


Mereka sekarang berjalan menuju perahu yang letaknya di sisi danau. Aura sedikit demi sedikit berusaha menghilangkan kegugupannya. Ben terlebih dahulu turun ke perahu untuk menyambut Aura dan memastikan perahunya tidak goyang saat ia naiki. Sebelum Aura naik ke perahu itu, Alexander sempat mengatakan sesuatu kepadanya.


“Aura, anakku. Kamu mengingatkan saya kepada mendiang istrinya Jade yang juga sahabat saya. Kamu tahu bukan siapa dia ? Dia nenekmu. Kamu memang anak yang pemberani karena sudah bersedia melawan ketakutanmu sendiri, sama seperti Darla yang menghadapi apapun untuk terus berada di sisi Jade. Saya sangat menghargainya. Saya sangat bersyukur bisa berjumpa dengan kamu.”


Kata-kata itu sarat dengan makna. Juga, terdengar seperti sebuah kalimat perpisahan yang menyedihkan. Mata gadis itu sampai berkaca-kaca karenanya. Ia tahu apa maksud dari itu semua dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena itulah Aura sangat sedih.


“Saya juga sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian. Aura juga ingin mengucapkan terima kasih karena sepuluh tahun yang lalu Om Alexander telah menyelamatkan Aura dari Vampir jahat, walau Aura tahu ini sudah terlambat mengucapkannya. Dan Aura janji akan menemukan batu permata biru yang selama ini kalian cari.”


Ben menyeka kristal bening yang terjatuh dari mata kekasihnya, lalu ia memalingkan wajah untuk menyembunyikan kesedihan yang juga ia rasakan.


“Ayo.”


Mereka pun duduk di perahu dan mencari di mana titik yang tepat untuk mereka menyelam. Ini sama sekali bukan adegan romantis, sebab Aura bisa dibilang pertama kalinya menyelam dan ini di danau yang sangat dalam pula. Tanpa aba-aba, Ben menyelam lebih dahulu dan membuat Aura sangat terkejut.


Setelah meyakinkan diri, Aura ikut menceburkan diri ke air dan Ben segera meraih tangan Aura. Di dalam air tersebut, mereka bahkan bisa bernapas seperti di atas air. Mungkin karena adanya batu permata tersebut yang ingin segera ditemukan tuannya. Itu memudahkan mereka berdua untuk menyelam lebih dalam lagi.


Ben menunjuk ke satu arah yang bercahaya. Cahaya itulah yang membuat air di danau berubah menjadi biru. Mereka berenang ke arah batu permata itu. Ben sama sekali tidak bisa menyentuh benda tersebut sebab itu akan membahayakan nyawanya. Aura kemudian meraih batu tersebut dengan mudahnya. Batu tersebut kembali bercahaya sangat terang.


Silau dari cahaya permata itu membuat Aura dan Ben berteleportasi ke daratan tempat keluarga Raven menunggu. Setelah membuka matanya, Aura heran dengan keberadaannya sekarang yang sudah di daratan. Permata itu sudah berada di tangannya.


“Kerja bagus gadis manis.” Ucap Jake Willis yang sangat senang mengetahui di mana letaknya batu permata yang ia buru. Jake Willis memang tidak melihat pancaran cahaya itu berasal dari dalam danau, namun ia sudah mengetahui kalau sekarang ada di tangan Aura.


Aura sangat ketakutan melihat seseorang yang baru saja datang itu dan ia dapat menebak kalau orang itu merupakan Jake Willis yang selama ini mencarinya dan batu permata biru.


“Terima kasih, gadis manis, sekarang kembalikan permata biru itu kepadaku.” Ucap Jake Willis yang semakin mendekat.


Ben menghadang jalannya Jake. Begitupun anggota keluarga Raven yang lain. Mereka seperti membentuk formasi untuk melindungi Aura dan permata yang ditangannya.


Tidak lama setelah itu Romeo beserta bangsa serigala datang ke tempat tersebut. Baik keluarga Raven, Aura, sampai Jake Willis sampai terkejut dengan kehadiran Romeo. Jake sampai mengira kalau Oliver hidup kembali.


“Oliver Orlando ? Wah, benar-benar sebuah kejutan bahwa bangsa serigala ada di sini bersama Pangeran yang telah kembali dari tidur panjang.” Kata Jake Willis. “Kalian juga ingin memburu batu permata biru milikku seperti yang dilakukan keluarga Alexander ?”


Dengan penuh keberanian, Romeo maju ke depan. “Aku bukan Pangeran serigala yang kamu maksud ! Aku Romeo Sebastian Portman.”


Romeo baru mengetahui dari Tuan Orlando kalau ia merupakan keturunan Jade Portman yang sangat dimusuhi Jake Willis, saudara kandungnya sendiri. Romeo menatap Vivian dengan pandangan sendu. Ia benar-benar melihat Vivian dengan di tengah makhluk yang benar-benar menyeramkan baginya. Rahang Jake Willis mengeras melihat siapa sosok anak muda yang sangat berani berkata seperti itu di hadapannya.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan ? Kau adalah Tuan Portman ?”


Jake Willis kemudian tertawa karena dia benar-benar menemukan keturunan Jade yang akan ia lenyapkan setelah berhasil merebut permata itu dengan tangan seorang Portman. “Kemarilah keponakanku. Sudah lama sekali, akhirnya bertemu.”


Romeo menatap ke arah Aura, adiknya, yang ia takutkan akan disakiti Vampir jahat seperti Jake Willis. Jake menangkap ke mana arah tatapan Romeo. Ke arah Aura yang dilihatnya memegang batu permata.


“Siapa dia ?” Tanya Jake Willis kepada Romeo. “Dia saudaramu ? Apa benar ?”


“Cukuplah Jake ! Cukup basa-basinya, sekarang kau lebih baik menyerah saja karena selamanya batu  yang telah kau buang itu takkan pernah menjadi milikmu lagi.” Perkataan Raja serigala tersebut berhasil membuat amarah Jake Willis memuncak.


Jake kemudian memerintahkan pasukannya menyerah siapa saja, entah keluarga Raven ataupun keluarga Orlando yang berasal dari bangsa serigala. Sementara Jake terus mengejar gadis yang membawa batu permata yang terus saja dalam pengawasan Beno Raven dan Alexander Raven.


Kekuatan yang dimiliki keluarga Raven bertambah setelah ditemukannnya permata tersebut. Mungkin inilah pertolongan dari batu permata yang telah lama dijaga keluarga Raven dari jangkauan Jake Willis. Keluarga Orlando dari bangsa serigala juga berada di kubu keluarga Raven sekarang untuk membantu mereka. Dengan kekuatan bangsa serigala yang sangat kuat, banyak Vampir yang berhasil mereka kalahkan.


Romeo kemudian menjadi sasaran Vampir anak buah Jake dan ia terpental cukup jauh. Aura berlari ke arah kakaknya yang sedang terluka parah. Sementara Ben terus menyerang Jake agar tidak memiliki kesempatan mendekati Aura. Romeo masih sadarkan diri dengan keadaan lemah ketika Aura menyerahkan permata itu ke tangan kakaknya tanpa sepengetahuan Jake.


Ketika Ben mengalihkan pandangan kepada Aura dan Romeo, Jake berhasil menumbangkannya. Itulah kesempatan Jake untung mendekati kedua keturunan Jade Portman yang selama ini ia cari keberadaannya. Meski Ben berusaha bangkit, Jake sudah berada di hadapan Aura dan menjadikannya tawanan.


Pertempuran itu terhenti dan mereka mengarahkan pandangan ke arah Aura yang ditawan Jake. Mereka yang ingin menyelamatkan Aura terus dihalangi pasukan Jake yang setia.


“Serahkan batu permata itu padaku, Nona Portman !”


Aura berjalan mundur ketika Jake ingin mendekat. Jake berhasil meraih tangan Aura yang ia pikir sedang memegang batu permata. Saat ia mengetahui permata itu tidak ada, ia murka dan ingin menyerang gadis tak berdaya tersebut. Kemudian secepat kilat ada yang menghantam tubuh Jake Willis.


Pimpinan Vampir jahat itu terpental sangat jauh dan membuatnya terluka parah. Ia bahkan tak mampu bangun dibuatnya. Romeo lah yang melakukannya, pria itu berhasil mendapatkan kekuatan dari permata yang diberikan adiknya tadi. Ia bahkan berhasil mengalahkan seorang Jake yang terkenal sangat kuat.


“Bang Rome !” Aura berlari memeluk Romeo karena ia sangat  ketakutan.


“Kamu pikir aku sudah kalah anak muda ?” Ucap Jake Willis yang masih bisa mengatakan sesuatu meski ia sudah terkapar tak berdaya.


Kekuatan dari permata biru memang sangat dahsyat. Bahkan berhasil membuat seorang manusia seperti Romeo berhasil menghantam Jake yang tak mudah dikalahkan dalam peperangan.


“Kalian benar-benar membuatku muak. Tingkah kalian sungguh persis dengan kakek kalian yang sangat rendah dan tidak memiliki harga diri !” Caci Jake Willis. Romeo berbalik dan kembali menghajar Jake yang baru saja ingin bangkit. Tanpa ada yang memerintahkan, Romeo kemudian berhasil melenyapkan Jake Willis dari muka bumi. Pria itu benar-benar tidak terima dengan siapapun yang merendahkan keluarganya.


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next ?


__ADS_2