VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption

VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption
Chapter 9 - Manusia Monster, Vina


__ADS_3

Vezda berdiri di depan pintu masuk restoran dan merasakan hawa membunuh dan haus darah itu sangat dekat dan melihat sekitar. Sekilas dia melihat sosok dengan jubah serba hitam hampir tidak terlihat dalam gelap. Saat itu juga dia paham, sosok itulah yang dicari oleh Vezda. Vezda langsung mengatur nafasnya menjadi jauh lebih tenang dan detak jantungnya semakin lambat. Setelah beberapa saat, dia melompat dengan sangat cepat dan tidak ada siapapun yang melihatnya, bahkan Aleratha.


Kemana dia? Dia menghilang? Tidak mungkin. Sosok yang menggunakan jubah hitam itu kebingungan saat melihat sosok Vezda menghilang dari pengawasannya.


“Kau mencariku?” Vezda berkata dari belakang sosok itu.


Bagaimana? Sosok itu terperanjat dan langsung menyerang Vezda menggunakan belati berwarna biru terlihat seperti tanaman, namun Vezda jauh lebih cepat dan menangkis serangannya dan menendang dengan keras sosok tersebut.


“Pisau yang kau gunakan menunjukkan kalau kau memiliki hubungan dengan monster misterius itu dan juga Carlos.” Vezda berkata hal tersebut dan sosok yang menggunakan jubah itu masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.


“Jangan seenaknya mengatakan nama itu. Kau sudah membunuhnya dan kau beserta Aliansi Aliviah harus menerima ganjarannya..” Sosok berjubah itu adalah wanita dan jubah itu masih menutupi seluruh tubuhnya dan batang pohon pipih itu menembus jubah tersebut.


“Apa yang terjadi dengan Carlos adalah sesuatu yang harus dia hadapai. Jika dia sudah memilih untuk melakukan hal tersebut, maka dia juga harus menerima konsekuensinya.” Vezda berkata dengan tenang di hadapan wanita itu.


“Kau tidak tahu apa penderitaan kami dan kau tidak pantas mengatakan apapun mengenai Carlos.” Wanita itu mengarahkan kembali pisaunya, namun sekarang dengan sesuatu yang muncul dari punggung wanita itu.


Wanita itu menumbuhkan sesuatu seperti batang kayu dalam bentuk pipih dan lentur, namun Vezda mengetahui sesuatu kalau batang kayu itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Dengan cepat, sosok wanita itu menyerang Vezda dengan 13 batang pipih tersebut dan saat Vezda  menangkisnya, akhirnya Vezda paham kalau batang pipih tersebut adalah batang pipih yang sangat tajam.


Setelah pembaharuan status dan menjadi level 5, aku merasa semua serangannya sangat sangat lambat. Penglihatan Veda kepada serangan wanita itu sangat jelas dan Vezda tidak terlihat kesulitan untuk memotong setiap bagian dari batang pohon pipih tersebut.


Terlalu dekat dengan restoran. Aku harus membawanya pojokan kota karena disana banyak bangunan yang ditinggalkan. Vezda dengan cepat memukul mundur wanita itu agar dapat menuju tempat yang lebih jauh dari tempat berpesta teman-teman aliansinya.


Setiap serangan Vezda banyak mendorong wanita itu untuk ke tempat yang Vezda tuju. Serangan Vezda sangat merusak wanita itu dan kemampuan wanita itu sebenarnya hampir setara dengan Carlos, namun Vezda saat ini juga sudah jauh lebih kuat dari Carlos karena status yang melebihi batas. Tidak lupa saat memukul mundur, Vezda memotong tangan wanita itu sehingga  dia tidak lagi memegang pisau.


Pertarungan mereka berdua di tempat itu sangat sengit serta setiap serangan mereka berdua sangatlah cepat hingga tidak bisa dilihat dengan mudah oleh orang biasa dan darah berwarna biru sudah banyak mewarnai tempat itu.


Tidak mungkin. Manusia ini hanya memiliki 1 lengan dan menggunakan pedang yang seharusnya digunakan 2 tangan dan aku masih dipukul mundur. Wanita itu mulai terlihat gelisah dan Vezda mulai merasakan kalau wanita itu mulai ragu dengan kemampuannya.


“Aku tidak tahu siapa kau dan mengapa kau bisa mengenal Carlos, tapi yang pasti keberadaanmu dan juga monster-monster itu bukan hal yang wajar. Maka dari itu, kamu harus mati.” Vezda mengatakan itu dan dia merasakan lagi kekuatan Overkill.


Betul. Sekarang aku dapat menguasai Overkill dengan baik dan dengan ini, Overkill bisa menjadi kekuatan yang sangat membantu jika kita berada di dalam bahaya. Vezda paham kalau sekarang Overkill bisa menjadi ‘Kartu AS’ untuk membalikkan keadaan.


“Kau pikir aku akan kalah? Aku belum mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya.” Wanita itu membuka jubahnya dan memperlihatkan kalau tubuhnya serupa dengan Carlos dan dapat mengendalikan racun di udara.


Vezda hanya fokus untuk bertarung. Karena dia sudah melihat sosok wanita itu yang sebenarnya, target berikutnya adalah menebas lehernya secepat mungkin atau kekuatannya bisa menghancurkan beberapa blok kota. Dengan cepat, Vezda langsung memukul 13 kayu pipih itu dengan pedangnya daripada memotongnya langsung hingga bertumpuk menjadi 1 dan menusuknya untuk ditahan di tanah. Tujuannya adalah memotong semua kayu itu sekaligus sampai dia membutuhkan waktu yang lama untuk regenerasi dan racunnya tidak akan terlalu memberikan efek padanya kalau serangan yang akan Vezda lancarkan berikutnya gagal.


“Kau tidak akan bisa bergerak dan sekarang adalah waktunya kau mati.” Wanita itu mengencangkan semua kayunya dan Vezda yang menahan kayu tersebut terkunci di tempat dan semua racun yang terbang siap menebas Vezda dengan racun-racun yang persis seperti milik Carlos.


Namun, hal yang wanita itu lupa adalah kecepatan dari seorang Vezda. Dengan cepat Vezda melompat dan kecepatannya tidak bisa diikuti oleh mata wanita itu. Vezda menebas semua kayu itu dengan sangat cepat hingga kurang dari 1 detik Vezda sudah berada di depan wanita itu dimana Vezda sebelumnya menahan 13 lapis kayu pipih 15 meter dari wanita tersebut.


“Heh?”

__ADS_1


CRAAAT!!


Kepala wanita itu dipenggal dan tubuhnya berlutut. Kepala Wanita itu terjatuh dengan ekspresi yang masih terkejut karena apa yang baru dia rasakan. Vezda dengan cepat menebas bagian  tengah tubuh wanita itu lalu melempar pedangnya ke samping dan mengambil kristal yang ada di tubuh wanita itu.


“Vina, maafkan aku. Terima kasih kamu juga sudah menjaga Carlos selama dia menjadi petualang di kota Femi. Sekarang beristirahatlah dengan tenang bersama Carlos. Di kehidupan berikutnya, tolong jangan pernah mau menjadi monster lagi begitu juga dengan Carlos.” Vezda berkata kepada Vina yang merupakan wanita monster tersebut.


Vezda? Jadi itu adalah sosok Vezda yang selalu Carlos tulis. Ya, ternyata dia memang baik hati. Jadi, itulah mengapa Carlos begitu menghormatinya meskipun sudah menjadi monster bahkan meskipun dia tahu kalau dia tidak bisa melawan Vezda, Carlos tetap memaksakan dirinya. Wajah Vina yang melihat Vezda merubah ekspresinya menjadi kagum karena mengetahui orang yang membunuhnya adalah Vezda, teman baik dan sahabat Carlos.


“Sampai jumpa lagi di kehidupan berikutnya, Vezda.” Vina berkata hal tersebut dan tubuhnya serta kepalanya berubah menjadi abu.


Setelah itu Vezda mengambil pedangnya dan berjalan menuju jubah yang dilempar oleh Vina. Di jubah tersebut terdapat beberapa barang dan terdapat 2 buku yang lebih mirip seperti buku harian yang sudah sangat sering dibuka.  Lalu ada kalung dan beberapa aksesoris yang lainnya.


Buku? Vezda melihat kalau di jubah wanita itu terdapat 2 buku. Vezda paham kalau itu bisa menjadi sumber informasi untuknya dan Aliansi Aliviah, namun itu bukan informasi utama. Buku tersebut adalah buku harian milik Dirinya dan milik Carlos. Informasi yang minor, tapi setidaknya Vezda dan Aliansi Aliviah tidak akan terus berada dalam kegelapan. Setidaknya untuk saat ini karena Aliansi Aliviah harus mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk beberapa hari ini.


“Bertarung hanya menggunakan 1 tangan itu memang menyulitkan.” Vezda memasukkan kedua buku dan barang-barang yang ada di jubah Vina tersebut ke dalam tas kecil yang dia bawa dan menghampiri tempat dimana Vezda menjatuhkan pisau milik Vina saat bertarung.


Pisau tersebut ternyata memiliki properti seperti mithril dan adamantine, namun bagaimanapun itu sangat terasa dan memiliki berat seperti batang pohon yang dibentuk. Lalu Vezda menggunakan jempolnya untuk memeriksa efek yang ditimbulkan jika melukai dan nampaknya tidak ada perasaan apapun dan hanya melukai seperti biasa dan lukanya langsung sembuh karena regenerasi level 5 bisa dibilang cukup cepat.


****


Saat Vezda kembali, dia melihat petualang yang baru itu berlari dan Vezda tahu kalau petualang itu sedang menangis. Setelah itu, Samir ikut keluar seperti akan mengejar petualang itu. Vezda langsung membuat spekulasi kalau Ragnulf yang berbuat hal seperti ini. Namun sepertinya spekulasi Vezda benar karena Aleratha juga sedang berdiri dan terlihat memarahi Ragnulf.


“Ragnulf, kau sudah terlalu mabuk!” Aleratha memarahi Ragnulf yang sudah menjadi bulan-bulanan bahan tertawaan oleh anggota yang lain.


“Kau baik-baik saja?” Aleratha bertanya pada Vezda yang baru kembali.


“Ya. Yang lain mungkin sudah mabuk. Kita bahas saja dulu berdua setelah pulang dari sini.” Vezda berkata kepada Aleratha.


“Baiklah.” Aleratha menjawab Vezda dan Vezda keluar untuk menghampiri Samir.


“Samir, ayo lanjutkan saja makanmu. Kita akan bertemu lagi petualang itu nanti.” Vezda berusaha menghibur Samir sedikit.


“Baik.” Samir menjawabnya dengan singkat dan kembali ke tempat duduknya.


Aleratha tersenyum melihat sosok Vezda yang ternyata sangat peduli kepada teman-teman aliansinya yang bahkan belum ada 1 hari bersama. Mungkin secara resmi karena mereka sudah banyak berinteraksi dengan Vezda saat perjalanan kembali ke permukaan karena itulah Vezda dapat mengerti semua kepribadian dari setiap orang yang ada di dalam Aliansi Aliviah meskipun dalam waktu yang sangat singkat.


“Syllia? Kamu mabuk?” Vezda terkejut melihat wajah Syllia sangat merah dan seperti seorang yang sempoyongan.


“Ah~ Tidak~ Aku hanya~...” Belum sempat menyelesaikan kata-katanya Syllia sudah terjatuh dan untungnya sempat tertahan oleh tubuh Vezda.


“Aleratha.” Vezda berkata kepada Aleratha sambil menahan tubuh Syllia.

__ADS_1


“Seingatku dia bahkan hanya mencoba 1 teguk wine.” Aleratha berkata kepada Vezda.


“Bukan ide bagus untuk seorang anak berumur 15 tahun mencoba wine.” Vezda berkata dan memegang bahu Celia untuk memanggilnya.


“Aku juga tidak tahu kalau dia bisa sampai seperti itu. Celia, tolong bantu Syllia, ya.” Aleratha berkata kepada Vezda dan Celia.


“Baiiik!!” Celia masih tetap ceria seprti biasa.


Lalu Aleratha dan Vezda kembali duduk bersebelahan dan menikmati kembali makanan mereka berdua. Sesekali Vezda tertawa melihat tingkah anggota aliansinya dan juga memperhatikan setip anggota yang merupakan level rendah. Aleratha juga melihat Vezda yang sesekali memberikan perhatiannya kepada setiap anggota yang ada.


“Vezda, kamu benar-benar-benar seperti Ragnulf.” Aleratha berkata kepada Vezda saat memiliki kesempatan untuk berkata hal tersebut.


“Heh?”


“Hanya saja kau sangat jujur. Ragnulf tidak seperti itu. Dia menggunakan omongan kasarnya untuk memotivasi orang lain.” Perkataan Aleratha membuat Vezda malu dan wajahnya berubah menjadi merah.


“Te-Terima kasih.” Vezda membalas Aleratha dengan gugup.


“Mungkin kedepannya aku akan menyerahkan beberapa anak kepadamu untuk kamu ajarkan bertarung, tapi mungkin kamu akan banyak diledek oleh Ragnulf.” Aleratha berkata kepada Vezda.


Aku tidak tahu kalau kontribusiku bisa sangat besar untuk Aliansi Aliviah. Vezda hanya memandang sebentar sosok Aleratha dan kembali melanjutkan makanannya yang sebelumnya sempat ia tinggalkan dulu karena harus bertarung secara diam-diam.


“Nah, bagaimana kalau kita membahas seorang Elf yang menjadi pujaan hati seorang Vezda?” Aliviah berkata hal tersebut dan Vezda langsung batuk saat sedang minum.


Sakit. Aliviah, serius? Aleratha ada di sebelahku! Vezda batuk dan kesakitan karena benar-benar terkejut karena Aliviah berkata hal tersebut.


Semua anggota Aliansi Aliviah yang merupakan Elf terkejut mendengarkan apa yang baru saja dikatakan Aliviah. Pasalnya Elf adalah ras yang tidak suka melakukan kontak dengan ras lain dan bahkan sangat tidak ingin memiliki hubungan romantis dengan ras lain. Jadi, sebenarnya apa yang Alivia katakan adalah sebuah kebodohan. Namun, di sisi lain Elf yang berada di Aliansi Aliviah dan sebagian besar Elf yang berada di Kota Femi adalah Elf yang melarikan diri dari kampung halamannya dengan alasan tradisi Elf yang tidak masuk akal. Dengan kata lain, mereka sebenarnya mau melakukan banyak hal yang biasa tidak diperbolehkan dalam tradisi mereka di kampung halaman seperti membangun keluarga atau menjalin kasih dengan ras lainnya.


“Hee? Ternyata seorang Vezda menyukai Elf. kamu ternyata berani juga.” Celia menggoda Vezda dengan wajahnya yang sudah sangat ingin menjahili rekan barunya itu.


“Aliviah, apa kau lupa kalau aku baru saja masuk di Aliansi-Mu?” Vezda Berkata dengan senyuman jahatnya.


“Sial. Aku baru ingat hal itu karena kau terlihat seperti anggota lama. Vezda, maafkan aku.” Aliviah baru sadar kana hal itu karena Elf yang memiliki banyak interaksi dengan Vezda selama setidaknya 1 minggu terakhir hanya Aleratha saja.


“Vezda, Aliviah sangat benci perasaan yang menggelikan. Kamu pasti sudah paham apa yang harus kamu lakukan.” Aleratha memberikan petunjuk untuk Vezda.


“Terima kasih, Aleratha. Aku berhutang padamu.” Vezda langsung melihat pinggang Aliviah dan itulah yang akan membuat Aliviah tersiksa.


“TIIIIDAAAAK!!!!” Teriakan dan tawa itu menjadi satu saat Vezda mulai menggelitik pinggang Aliviah.


Vezda tetap bersikap senatural mungkin dan tidak memperlihatkan rasa sakitnya karena pertarungan tadi. Jauh di lubuk hati Vezda, makan malam itu adalah sebuah hal yang menyenangkan untuknya dan Vezda sudah lama sekali tidak merasakan hal tersebut.

__ADS_1


****


__ADS_2