
Serangan kelompok yang menggunakan bom bunuh diri semakin brutal dan garis depan yang dipimpin oleh Adrian semakin terpukul mundur. Persia yang dimiliki oleh tim Adrian juga semakin memburuk kondisinya. Serangan bom bunuh diri ditambah dengan serangan tanaman sangat sulit untuk dinetralkan.
“Hampir saja.” Stoner melindungi Adrian dari serangan monster tanaman yang mendekat.
“Terima kasih, Stoner. Tapi, kondisi kita tidak membaik.” Adrian berkata dan memukul mundur banyak orang-orang yang mau melakukan bom bunuh diri dalam sekali serang.
Lalu dengan cepat 1 monster tanaman memakan salah satu orang, namun tetap digigit di bagian mulutnya lalu menghantamkan dirinya menuju ke depan Adrian dan juga stoner.
“Yang benar saja. Adrian, Naria, mundur!!” Stoner memberi arahan kepada Adrian dan Naria.
BOOOOMMM!!!
Garis depan dan garis tengah semakin terpukul mundur karena ledakan yang dilakukan oleh orang dan tanaman tersebut.
“Sakitnya.” James berusaha untuk bangkit berdiri setelah terkena ledakan.
“TIANA, MENYINGKIR!” Nyllia berteriak kepada Tiana.
“!!!” Tiana langung mundur dan melindungi mukanya.
BOOOMMMM!!!
Ledakan berikutnya menghempas paksa tubuh Tiana dan juga Lilina setelah kelompok musuh maju saat garis depan mengatur kembali posisinya.
“Cih, mereka tidak peduli dengan kematian asalkan mereka bisa menghancurkan kita semua.” James berkata kepada semuanya sambil memukul mundur kelompok musuh dan menghindari ledakan yang terus menerus menghantam dirinya.
“Mereka sudah Gila!!” Lilina berkata dan semua yang berusaha bangkit memukul mundur kelompok itu sebelum garis tengah dihancurkan oleh bom bunuh diri.
Situasi ini sama sekali tidak bagus. Kita diserang oleh kelompok yang misterius dengan menggunakan serangan bom bunuh diri dan monster tanaman menyerang seakan mengetahui strategi terbaik untuk menerobos pertahanan kita dengan menggunakan orang dari kelompok misterius tersebut. Kalau kita mundur, semuanya selesai. Tapi, posisi kita sekarang sangat sulit untuk melakukan apapun, berarti hanya 1 cara. Orang dengan topeng tengkorak itu bisa menjadi jawaban. Racita berlari sambil mengamati sekitar dan membunuh monster tanaman dengan cepat.
Racita memperhatikan setiap gerak-gerik dari kedua orang yang tidak masuk dalam pertempuran dan pastinya sudah sadar mereka berdua adalah dalang dari kejadian di Feeding Zone ini, tapi yang paling membingungkan adalah kenapa seseorang yang menggunakan topeng tengkorak itu menggunakan gestur yang aneh. Racita memahami kalau orang itulah yang mengendalikan monster tanaman yang ada di sini dan orang tersebutlah yang akan menjadi target Racita.
Yang menggunakan jubah dan penutup mulut adalah komandan dari kelompok misterius tersebut dan seorang yang mengenakan jubah putih dan topeng tengkorak adalah Tamer yang mengendalikan monster tanaman. Seharusnya seperti itu. Racita maju dan melemparkan peledak khusus miliknya untuk menghabisi garis depan lawan dan membuat jarak dengan kelompoknya.
“Adrian, ambil alih komando! Kumpulkan semua anggota dan tahan selama mungkin serangan mereka. Aku akan langsung menghadapi mereka berdua.” Racita berkata dengan cepat kepada Adrian dan kembali maju menerobos pertahan musuh untuk langsung menuju kedua orang yang menajdi dalang kejadian ini.
“Racita, biarkan aku membantumu!” Seperti biasa, James dengan sukarela menawarkan dirinya untuk menjadi pendukung Racita.
“Lakukan dengan baik, James.” Racita melihat James sebentar yang membiarkan James menjadi penolongnya.
“Siap!!” James berkata dengan sangat gembira.
Meskipun James terlihat melakukannya karena menyukai Racita, James tidak main-main dalam menghentikan kelompok yang berusaha menghentikan mereka menerobos maju. James menggunakan batu yang ada di sekitarnya sebagai proyektil untuk menghentikan kelompok tersebut.
DUG!! DUG!! DUG!!
Orang dari kelompok misterius itu mulai berjatuhan dan kehilangan konsentrasi karena lemparan batu James yang tepat mengenai kepala mereka. Lemparan yang cukup keras itu juga membuat beberapa dari mereka menjatuhkan senjatanya.
“Jangan takut! Itu hanya proyektil yang dilempar dan pasti ada batasnya.” Orang dengan jubah hitam tersebut memberi ‘semangat’ untuk pasukannya.
“Kau tahu kalau ini adalah dungeon, kan?” James bertanya hal tersebut dan Racita terus menerobos semua musuh yang ada di depannya.
“Aku tidak akan kehabisan batu di dalam dungeon, bodoh!” James berkata dan Racita sudah sampai di di depan pemimpin kelompok itu dan langsung dengan cepat menebas bahu orang tersebut.
Di belakang Racita, semua orang dari kelompok misterius itu sudah berjatuhan karena menahan sakit dari batu yang dilempar oleh James. Racita lalu langsung maju untuk menyerang Tamer dengan jubah putih dengan topeng tengkorak tersebut.
“Seharusnya kau jadi makanan dari Naea. Naea, bunuh dia!” Orang itu memberi perintah kepada monster tanaman tersebut dan monster itu menyerang Racita dengan tentakel dari bawah tanah, namun Racita bisa menghindar dengan mudah.
Naea, nama monster tanaman pemakan daging. Ternyata dia bisa mengendalikannya dengan baik bahkan dengan jumlah yang sangat besar. Racita berpikir sambil tetap mengamati setiap serangan monster tanaman tersebut.
“Kau bergerak dengan sangat baik. Petualang. Atau mungkin lebih tepatnya, Mastercraft. Meskipun begitu, Matilah.” Tamer tersebut mengetahui siapa Racita.
Seketika kepala monster tanaman itu muncul dari tanah dan hendak melahap Racita dengan. Namun, Racita memiliki alat rahasia.
“Flugel!” Racita mengeluarkan aura sayap burung dari punggungnya.
Flugel adalah alat sihir rahasia yang diciptakan oleh Racita. Dia membuat 3 pasang sayap di jubah putihnya. Dengan begitu Racita dapat terbang di udara dengan mudah dan pergerakannya dikendalikan langsung oleh tubuhnya sendiri seakan ketiga pasang sayap itu adalah bagian dari tubuhnya. Alat sihir ini harus dirahasiakan karena kemampuannya tersebut.
“Apa!?” Tamer yang mengendalikan monster tanaman tersebut terkejut melihat Racita terbang tinggi ke udara. Begitu juga dengan kelompok misterius itu juga terkejut melihat Racita bisa terbang layaknya seekor burung.
“Kalian semua memaksaku menggunakan ini. Maka dari itu, aku akan membunuh kalian dengan baik dan benar.” Racita berkata dan melemparkan setiap peledak khusus miliknya untuk meledakkan semua monster tanaman yang baru muncul dan juga memberi distraksi kepada Tamer yang sedang dia lawan.
“Sial!!” James tiarap sebelum bombardir dari Racita dimulai.
BOOOM BOOOM BOOOM BOOOM!!!
Racita melakukan Carpet bombing dan menghabiskan semua monster tanaman yang ada dan Tamer tersebut melindungi bagian kepalanya dengan tenang dari gelombang kejut ledakan yang dihasilkan oleh Racita. Tentu saja itu adalah distraksi yang Racita gunakan untuk menyerang orang itu dari belakang.
“Lambat!” Racita berteriak saat tepat di depan Tamer tersebut dan siap untuk menghumuskan pedang miliknya.
“Kau yang lambat!” Tamer tersebut langsung menahan pedang Racita yang sudah tepat berhenti di tubuhnya.
“Bagaimana–GAH!!!” Racita terkejut karena orang tersebut sangat cepat menggunakan refleksnya dan dengan cepat membanting Racita.
Kuat sekali! Aku tidak bisa melawannya dari jarak dekat. Aku harus membuat jarak terlebih dulu. Racita berusaha bangkit dan membuat jarak dengan Tamer tersebut karena pedang yang dipegangnya terjatuh.
“Kemana dia?!” Racita terkejut melihat kalau Tamer itu menghilang dari pandangannya.
“Sepertinya kau melupakan sesuatu.” Tamer itu muncul di belakang Racita.
JLEEEEB!!!!
“AAAAARRRGGHHH!!” Racita berteriak sekuat tenaga untuk mengurangi rasa sakit dari tusukan pedang miliknya sendiri.
“RACITA!!!” Adrian berteriak dari baris depan dimana mereka ditahan oleh kelompok misterius itu.
“Aku sangat paham seberapa kuatnya seorang petualang. Tentunya kau pasti akan sembuh dengan mudah kalau hanya ditusuk seperti ini.” Tamer itu menusuk Racita dari punggung bagian tengah Racita dan tembus hingga ulu hati Racita.
__ADS_1
“Tapi–” Tamer itu berkata dan menarik sedikit pedang itu lalu memutarkannya dan menaikannya ke atas lagi menuju antara paru-paru.
“AAAARRRGHHHH!!!!” Rasa sakit yang luar biasa dirasakan oleh Racita.
“Dengan begini, kau tidak akan langsung sembuh, tapi tentunya masih jauh dari kata cukup untuk membunuhmu.” Tamer itu berkata kepada Racita.
“JANGAN SENTUH RACITA DENGAN TANGANMU YANG KOTOR, BAJINGAN!!” James menyerang Tamer tersebut dengan menggunakan batu-batu yang dia kumpulkan selagi berlindung dari ledakan.
“Cih.” Batu-batu yang James lembarkan mengenai topeng dari Tamer itu sehingga Tamer itu terdistraksi dan menjatuhkan Racita.
“RACITA!!! GUNAKAN INI!!” James mengeluarkan ramuan tingkat tinggi yang dimodifikasi bahannya agar lebih efektif.
Ramuan itu, ramuan yang aku berikan padanya sebelumnya. Racita sambil menahan sakit di tanah dan melihat dengan tidak begitu jelas ke arah James.
“Naea.” Tamer itu memberi perintah pada monster tanaman miliknya.
JLEEEEB!!!
Tentakel tanaman tersebut menembus tubuh James dengan mudahnya. Semua rekan-rekan di kelompoknya terkejut termasuk Racita. Tanaman tersebut dapat menembus tubuh petualang level 4 dengan mudah. Lalu tentakel tersebut membanting James lalu meninggalkan James dengan tubuh di bagian tengah yang berlubang karena serangan itu.
“Ja-mes! James!” Racita merangkak perlahan menghampiri James sambil menahan rasa sakitnya.
Aku bisa mendengarmu. James berusaha bangun dan menggenggam ramuan tersebut untuk diberikan kepada Racita.
Aku tidak peduli dengan petualangan atau penjelajahan dungeon. Aku hanya ingin berada di dekatmu. James merangkak untuk sedikit lebih dekat kepada Racita agar dia bisa melempar ramuan itu tepat kepada Racita.
“James, gunakan ramuan itu– padamu. Jangan pedulikan aku!” Racita berkata dengan sedikit berteriak kepada James.
“Mana mungkin aku melakukan itu. Ramuan ini hanya akan menyelamatkan satu diantara kit–” James mulai kehilangan kesadarannya.
Aku tidak bisa kehilangan kesadaran di sini!!! James langsung tersadar kembali.
“JAMES!” Racita berteriak, namun James sudah tidak bisa mendengar itu. Seluruh fokusnya hanya untuk menghantarkan ramuan itu kepada Racita.
Ini adalah sebuah kehormatan untuk pria mati menyelamatkan wanita yang dia kasihi. Aku tidak sempat menyatakan perasaanku yang sebenarnya kepada Racita, tapi setidaknya hal terakhir yang bisa kulakukan adalah memberikan ramuan ini kepadanya. James menggunakan seluruh tenaga terakhir yang dia miliki untuk melempar ramuan tersebut kepada Racita.
“Matilah!” Tamer itu berdiri di belakang James lalu dengan kakinya dia menginjak hancur kepala James tepat setelah James melemparkan ramuan pemulih kepada Racita.
“TIDAK!!! JAMESSS!!!!” Teriakan Racita terdengar sangat jelas dan saat itu juga dia merasakan banyak penyesalan.
“Ja-James.” Lilina tertegun dan tidak bisa bergerak.
“LILINA!” Adrian melindungi Lilina dari orang yang akan menyerang Lilina.
“!!” Lilina dengan cepat melindungi dirinya dan ledakan terjadi setelah orang tersebut terlempar dari serangan Adrian.
“Dasar bodoh! Jangan sampai kehilangan fokus!” Adrian berkata dan kembali memukul mundur orang-orang yang akan menyerang mereka.
“Tapi, James–”
“Kita juga akan terbunuh kalau tidak fokus di sini.” Adrian berkata dan terus memukul mundur musuh bersama Naria dan Stoner.
“Tenang saja. Berikutnya giliranmu dan aku akan membunuhmu dengan cepat.” Tamer itu berkata sambil mendekati Racita.
“Racita akan terbunuh!!!” Nyllia berteriak dan semua anggota kelompok berusaha menerobos pertahanan kelompok misterius itu meskipun ledakan bom bunuh diri terus membombardir mereka.
“ARRHHH!! SIALAN!” Stoner menghempaskan kekuatannya untuk membuat jarak dengan kelompok misterius itu, namun monster tanaman sudah siap untuk menyerang mereka.
“Kumohon sampailah kemari, Samir.” Lilina berusaha membantu untuk menghancurkan tentakel dari monster tanaman.
“Kamu sudah meninggalkan jejak?” Naira bertanya kepada Lilina.
“Sudah. Aku sudah meninggalkan jejak untuk Samir. Samir akan datang sebentar lagi!” Lilina berkata kepada kelompoknya.
“War Dancer tidak akan datang kemari.” Tamer itu berkata dengan keras agar semua yang ada di sana mendengar.
“...” Racita berusaha untuk menyembuhkan dirinya sedikit demi sedikit,
“Teman, pasangan, sahabat, Archon. Tidak ada 1 pun yang bisa menyelamatkan kalian.” Tamer itu menghancurkan sayap-sayap milik Racita dengan menginjak punggung Racita.
“ARRRGH!!” Racita masih terus menahan rasa sakit.
“Setelah semua orang yang kau andalkan mati, kau akan sadar dan menyesal seumur hidupmu karena telah percaya dan hidup berdampingan bersama Archon. Lalu kalian akan mati.” Tamer itu berkata dan kakinya sudah ada di atas kepala Racita.
BOOOOMMMM!!!!
***
Jalan masuk yang ditutup rapat monster tanaman dihancurkan dengan ledakan yang sangat dahsyat hingga terdengar ke seluruh ruangan Feeding Zone. Semuanya juga bisa melihat dengan jelas ledakan tersebut.
“Apa?!” Tamer itu terkejut dan mengalihkan pandangannya kepada ledakan tersebut.
“Tidak peduli seberapa banyak monster lemah yang kalian kirim. Itu tidak akan menghambat kita!” Suara itu terdengar jelas dan Lilina langsung mengetahui siapa itu.
“Dia–” Lilina Tahu persis suara laki-laki itu dan semua kelompok Racita tahu persis siapa dia.
“Ghost of Aliviah.” Stoner berkata perlahan dan semuanya yang ada di sana terhenti sejenak.
“Siapa kalian? Lalu apa yang terjadi di sini?” Ragnulf bertanya saat melihat kelompok Racita dan kelompok misterius bersama dengan monster tanaman yang sangat banyak bersiap menghancurkan kedua kelompok tersebut.
“Aku sepertinya tahu kelompok dengan tudung dan jubah putih itu. Kalau benar dugaanku, maka mereka adalah Pecahan Demons.” Vezda berkata kepada Ragnulf.
“Lalu itu sepertinya Aliansi Cathur.” Syllia berkata saat melihat ada beberapa orang yang dia ingat.
Tapi, tidak ada Kak Samir di antara mereka. Kemungkinan besar Kak Samir terpisah. Syllia memandang wajah setiap orang yang ada di sana 1 per 1.
“Vezda, Syllia, aku kan mengulur waktu sebentar. Singkirkan semua tanaman sialan itu.” Ragnulf berkata dan semua monster tanaman mulai menyerang Ragnulf, Celaena, Vezda, dan Syllia.
__ADS_1
“Syllia kita rapal bersama sihir Thousand Lights.” Vezda memberi arahan kepada Syllia dan mengambil kristal yang berasal dari monster tanaman.
“Baik.” Syllia berkata lalu Ragnulf dan Celaena melawan semua monster tanaman yang datang kepada mereka.
Saat melawan tanaman yang menyerang mereka, salah seorang dari kelompok misterius dapat mendekati mereka dan langsung melompat ke arah Ragnulf untuk meledakkan dirinya.
“Awas dia akan–” Lilina berteriak kepada Ragnulf dan Ragnulf langsung menendang orang itu dengan sangat cepat lalu meledak di kejauhan.
“Hebat. Kalau dia bisa menendang musuh secepat itu berarti–” Nyllia belum sempat menyelesaikan kata-katanya.
“Semuanya, tiarap!! Mereka berdua memiliki sihir sangat besar.” Sheryl berteriak kepada semuanya sebelum Nyllia menyelesaikan kalimatnya lalu semuanya tiarap.
“Lights in the sky, send your judgement onto earth. Moonlight in the forest, show us your wisdom. Fall into earth, bless the good and burn every savages. Nothing shall stand against the weak. Only your lights guide them.” Vezda dan Syllia merapal sihir yang sama.
“THOUSAND LIGHTS!!” Syllia mengangkat tongkat sihirnya.
“LIGHT’EM UP! THOUSAND LIGHTS!!!” Vezda mengangkat kepalan tangan kanannya dan kristal yang dia genggam hancur memperkuat sihir yang Vezda gunakan.
Aura dua ekor naga terlihat sangat jelas dan langsung menghujai semua bagian dari Feeding Zone dan menghancurkan semua monster tanaman yang ada. Kekuatan mereka berdua cukup untuk menghapus semua monster tanaman yang ada di sana.
“Hah hah hah.” Syllia berusaha mengatur nafasnya karena itu adalah sihir yang sangat kuat.
“Kerja bagus Syllia.” Vezda berkata seperti tidak terjadi apapun dan memberikan Syllia ramuan pemulih mana.
“Terima kasih, Kak Vezda.” Syllia meminum ramuan tersebut.
“OOI!! Syllia, Vezda!!!” Lilina berteriak dan menghampiri mereka berempat.
“Oi, sialan! Dimana Samir?” Ragnulf langsung menarik baju Lilina dan bertanya dengan kasar.
“Samir tadi bersama dengan kita, tapi dia terpisah.” Jawab Lilina.
“Terpisah?” Ragnulf bertanya kepada Lilina.
“Iya. Selain itu, aku mohon selamatkan Racita. Orang bertopeng itu pasti memiliki semua jawaban untuk pertanyaan kita.” Lilina menunjuk Tamer yang hampir membunuh Racita dan Ragnulf melihat Tamer tersebut tepat di matanya.
“...” Ragnulf melihat Tamer tersebut sangat mengesalkan.
“Setelah semuanya berakhir aku akan menjelaskan semuanya. Kumohon selamatkan Racita.” Lilina memohon kepada Ragnulf.
“Ragnulf?” Vezda bertanya kpada Ragnulf.
“Cih. Menyusahkan, tapi akan kulakukan.” Jawab Ragnulf.
“Lakukan dengan baik.” Vezda memberikan perinah kepada Ragnulf.
“Misi kita di sini adalah mencari Samir, tapi aku tidak suka dengan tatapan orang itu.” Ragnulf berkata dan langsung menuju Tamer itu.
“Syllia, Celaena, kalian bantu Ragnulf. Di sana ada mayat petualang aku yakin itu anggota dari kelompok Lilina. Bawa mundur mayatnya lalu berhati-hatilah. Aku yang akan membantu di garis depan melawan orang-orang bertudung ini.” Vezda memberikan perintah kepada Syllia dan Celaena.
“Baik!” Jawab Syllia dan Celaena dan mereka berdua langsung menuju tempat Ragnulf.
Bukan kondisi yang ideal, tapi aku harus melakukan ini. Beberapa petualang dari kelompok Lilina sudah dalam kondisi yang buruk. Serangan tanaman sudah berhenti sementara. Kristal pusat dari Feeding Zone dimonopoli oleh monster parasit. Aku bisa paham apa yang terjadi di Feeding Zone. Vezda mengamati sekitar dengan seksama.
“Vezda, maafkan aku. Apakah kamu memiliki ramuan untuk pemulihan?” Lilina bertanya karena kelompoknya juga sudah mulai kehabisan ramuan.
“Aku membawa ramuan pemulih yang cukup untuk kalian semua.” Vezda berkata dan langsung berlari menuju garis belakang dimana Mira dan Sheryl berada.
“Lilina, Nyllia terluka parah karena ledakan yang barusan dan ramuan tingkat tinggi kita habis.” Mira menjelaskan sambil memegang luka Nyllia.
“Vezda, tolong.” Lilina berkata dan Vezda langsung menaruh tasnya yang khusus berisi banyak ramuan dan injector.
Vezda tidak memikirkan apapun lagi dan langsung menyuntikkan injectornya kepada Nyllia yang sudah sekarat. Injector tersebut langsung memulihkan Nyllia dengan cepat dan Vezda menggunakan ramuan yang biasa untuk menyembuhkan sisa luka di tubuh Nyllia.
“Mereka menggunakan peledak di tubuh mereka dan menyerang kami dengan serangan bom bunuh diri.” Jelas Lilina.
“Kalau begitu tidak ada harapan untuk menangkap mereka. Beberapa mayat mereka juga langusng dilahap oleh monster tanaman itu bukan?” Tanya Vezda kepada Lilina.
“Iya betul.” Lilina menjawab Vezda.
Aku tidak bisa membiarkan mereka hidup. Mereka hanya akan memberikan kesengsaraan. Monster tanaman juga sudah mulai kembali. Pasti parasit itu yang menghasilkan monster tanaman seperti ini. Vezda memahami dengan cepat apa yang sedang terjadi di Feeding Zone dan membuat keputusan untuk menghabisi seluruh kelompok misterius.
“Elf, kamu bersama dengan elf yang lain dan juga mereka yang dapat menggunakan sihir mulai merapal sihir penyerangan. Tembakkan sihir tersebut setelah ada aba-aba dariku.” Vezda berkata kepada Nyllia.
“Tapi–” Nyllia hendak memberitahu mengenai monster tanaman.
“Biarkan garis depan dan garis tengah yang akan menangani monster tanaman. Percayalah padaku.” Vezda berkata kepada Nyllia.
“Lilina?” Nyllia bertanya kepada Lilina karena menerima perintah dari petualang yang bukan berasal dari Aliansi Cathur.
“Kita lakukan apa yang Vezda katakan.” Lilina memberikan persetujuan.’
“Garis depan dan garis tengah masuk ke posisi kalian dan lindungi garis belakang! Kalian yang memiliki sihir dan para elf pindah ke garis belakang dan mulai merapal sihir penyerangan!” Vezda berkata, lalu Lilina dan Nyllia langsung menuju posisinya masing-masing sesuai dengan perintah Vezda.
“Adrian, ikut kata-katanya!” Lilina memberi arahan kepada Adrian agar mengikuti setiap arahan Vezda.
“Garis depan, gunakan semua perisai kalian untuk menahan ledakan!” Vezda memberi perintah dan semua garis depan yang menggunakan perisai langusng mengangkat perisainya.
BOOOOM!!!!
Vezda dengan cepat maju ke garis depan dan melemparkan banyak peledak khusus miliknya. Vezda melempar peledaknya di depan garis depan dan menyayatnya dengan parang miliknya. Ledakan itu langsung membunuh kelompok misterius yang berada di garis depan. Ditambah Vezda dapat mengatur kemana ledakannya akan terjadi sehingga garis depan tidak menerima banyak hentakan dari ledakan tersebut.
“Tidak mungkin.” Naria terkejut kalau ada orang lain yang bisa membuat peledak seperti seorang Racita.
“Kalian semua fokus pada serangan monster tanaman yang mendekat. Aku yang akan berurusan dengan orang-orang sialan itu.” Vezda memberikan arahan kepada garis depan.
“Baik.” Jawab Adrian dan Vezda langsung melesat ke arah depan
__ADS_1
“Kalau begitu. Kita mulai. Overkill.” Vezda berkata dan pertempuran mereka dimulai.
****