VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption

VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption
Chapter 10 - Vezda dan Aliansi Aliviah


__ADS_3

Saat semuanya sudah tidur dan markas Aliansi Aliviah sudah senyap, Vezda sudah membuka kedua buku di ruang utama tempat anggota elit Aliansi Aliviah berkumpul. Hanya lampu ruangan itu saja yang menyala dan Vezda masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di dungeon saat ini setelah melawan 2 manusia monster.


“Monster jenis baru dengan kristal yang berbeda dari umumnya, manusia yang menjadi monster, dan lebih buruk lagi kenapa ada manusia monster itu di permukaan juga memiliki hubungan dengan Carlos.” Vezda menaruh juga buku catatan miliknya bersama buku kedua  buku catatan yang manusia monster di permukaan jatuhkan dari jubahnya.


“Jadi, bagaimana pertarungan tadi?” Aleratha bertanya kepada Vezda setelah masuk ke dalam ruangan.


“Manusia yang menjadi monster serupa dengan Charlos, namun memiliki kekuatan yang berbeda. Kekuatannya memiliki tingkat kekuatan setara Carlos dengan bentuk serangan yang berbeda.” Vezda menjelaskan setiap hal yang berhubungan dengan monster yang baru dia lawan secara diam-diam.


“Jadi, siapapun yang membuatnya menjadi monster itu ternyata dapat memberikan kekuatan yang unik untuk manusia atau siapapun yang menjadi monster.” Aleratha berkata sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


“Hanya manusia dan elf.” Vezda menjawab Aleratha singkat.


“Hah?” Aleratha langsung melihat ke arah Vezda.


“Vina menulisnya di buku ini.” Vezda menunjuk bagian dari buku harian milik Vina yang menjelaskan tentang hal tersebut kepada Aleratha.


“Vina?” Aleratha bertanya kepada Vezda.


“Vina adalah nama manusia monster yang kulawan tadi. Dia adalah kekasih dari Carlos dan jika aku mengikuti apa yang terjadi di buku ini, setidaknya mereka memiliki 3 kawan lagi yang serupa.” Vezda menjelaskan kepada Aleratha dan Aleratha membaca catatan milik Vina.


“Apakah kekuatannya sama?” Aleratha bertanya sambil mencari juga jawabannya di buku yang sedang dia baca.


“Jawabannya ada di buku catatan milik Carlos. Setidaknya 1 diantara 3 itu memiliki kepribadian asli monster, dan keduanya lagi masih seperti orang pada umumnya. Masalahnya mereka bertiga sangat kuat. Mungkin level 6 atau lebih.” Jelas Vezda.


“Elf, ya? Ternyata memang menurut yang Vina tulis di sini, ada 1 Elf yang berubah menjadi monster.” Aleratha berkata kepada Vezda dan menunjukkan bagian tulisan Vina.


“Tapi tidak ada petunjuk apapun yang mengenai nama mereka. Jadi, kita hanya bisa berasumsi.


“Mungkin ada baiknya kita membaca perlahan setiap halaman buku-buku ini dan mencari setiap hal penting yang bisa menunjukkan sesuatu pada kita.” Aleratha membuka setiap halaman buku itu dengan seksama.


“Ide bagus.” Begitu juga dengan Vezda.


Vezda dan Aleratha sangat fokus dengan masing-masing buku yang mereka baca dan mereka mengingat setiap bagian yang penting dan juga menandainya dengan sebuah lipatan kertas untuk menjadi petunjuk yang akan diberikan pagi nanti. Lalu setelah beberapa jam, Vezda terkejut saat kepala Aleratha sudah mendarat di bahu kanannya karena tertidur. Vezda lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Aleratha agar kepalanya dapat bersandar dengan lebih natural dan nyaman. Lalu Vezda menutup buku yang dipegang Aleratha dan menaruh buku tersebut di pangkuan Vezda. Vezda lalu melanjutkan membacanya untuk beberapa halaman lagi. Namun, tubuh Vezda pun sudah lelah karena pertarungan juga dan kegiatan yang dia lakukan. Vezda pun akhirnya tertidur dengan kepalanya bersandar sedikit kepala Aleratha. Mereka sekarang seperti sepasang kekasih.


****


Hmmm? Kenapa lampu ruangan utama masih menyala? Seingatku sejak kita pergi kemarin  sudah kumatikan lampunya. Laris yang baru saja bangun melihat kalau ruangan utama masih dalam keadaan terang. Laris langsung masuk dan cukup terkejut menemukan Vezda dan Aleratha sedang tertidur dalam posisi duduk dan kepala mereka saling bersandar.


Laris melihat kalau mereka berdua mungkin habis membaca sesuatu, jadi Laris mengambil buku yang Vezda pegang dan dia menemukan kalau itu adalah buku harian Carlos. Laris tahu persis apa yang mereka lakukan semalam dan mulai berpikir kembali tentang Carlos yang mereka lawan waktu berada di lantai 50 beberapa hari yang lalu.


“Ya, aku juga tidak tahu menge–” Celia yang sedang berbincang bersama Calia sambil menuju ruangan utama terkejut saat melihat Aleratha dan Vezda yang masih tertidur sementara Laris hanya tersenyum.


“Ya, Meskipun Ragnulf sudah murung dan merasa terpuruk, dia mungkin akan selalu seperti itu.” Aliviah berkata kepada Syllia.


“Kak Celia, Kak Calia kenapa kalian hanya diam di luar?” Syllia bertanya dan melihat apa yang Celia dan Calia lihat.


“Ohhhh. Vezda ternyata sangat cepat dalam mengambil tindakan bukan?” Aliviah berkata hal tersebut dan muka Syllia menjadi merah saat melihat Aleratha dan Vezda yang sedang tidur seperti sepasang kekasih.


Karena kebisingan yang mereka timbulkan, Vezda dan Aleratha perlahan membuka mata mereka. Mereka berdua masih belum menyadari kalau Celia, Calia, Syllia, Laris, dan Archon mereka sedang memperhatikan mereka. Setelah membuka mata, mereka saling bertatapan sebentar dan mereka berdua sadar apa yang terjadi diikuti dengan kedua muka mereka menjadi merah merona karena malu dan Vezda yang menyadari duluan saat melihat Laris yang hanya tersenyum karena bingung apa yang harus dia katakan.


“Kapten Laris.” Vezda berkata dengan sangat gugup lalu Aleratha juga menyadari kalau sudah banyak yang memperhatikan mereka.


“Bagaimana malam per–.”


DUUUAAGGHHH!!!

__ADS_1


Belum selesai Aliviah bertanya, pukulan Aleratha sudah melayang terlebih dahulu ke wajah Aliviah dan meninggalkan bekas pukulan yang sangat jelas terlihat.


“Mari kita kesampingkan dulu soal itu, Aliviah. Buku ini adalah buku harian milik Carlos. Apakah Vezda atau Aleratha mau menjelaskan mengenai buku harian ini? Aku yakin kalian berdua sudah membaca buku-buku ini semalaman untuk mencari informasi mengenai setiap hal yang berhubungan dengan mereka.” Laris bertanya lalu Vezda dan Aleratha saling bertatapan sebentar.


“Baik. akan aku jelaskan semuanya, Kapten.” Vezda langsung menjelaskan setiap hal yang terjadi saat semua anggota aliansi yang lain sedang menikmati  makanan di restoran malam tadi.


****


Semua anggota elit selain Ragnulf, Samir, dan Bromner mendengarkan apa yang baru saja terjadi kemarin malam saat mereka berada di restoran. Vezda sengaja tidak  mau memberitahu siapapun karena mereka semua tidak  membawa senjata apapun dan sebagian dari mereka sudah mabuk. Sementara itu manusia monster yang bernama Vina tersebut sedang mengincar Vezda dan bukan anggota aliansi yang lain.


“Kalau kondisi yang sebenarnya begitu, aku mengerti dan Vezda juga mempunyai killer instinct yang sangat membantunya saat itu.” Laris Berkata kepada Vezda.


“Lalu kedua buku ini adalah buku harian milik Vina dan sepertinya menurut informasi dari Vina dan Carlos, hanya mereka berdua yang membuat buku catatan atau buku harian seperti ini.” Jelas Vezda dan Aleratha membuka kedua bukunya.


“Tidak ada informasi apapun yang penting mengenai siapa mereka dan apa yang sebenarnya terjadi, namun yang pasti manusia dan elf bisa menjadi monster.” Jelas Aleratha.


“Tapi, kita mendapat informasi kalau setidaknya ada 5 orang yang menyerahkan dirinya menjadi monster.” Laris berkata hal demikian sambil tetap memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.


“Terlepas dari situ, kita tidak memiliki informasi apa-apa lagi.” Aleratha melanjutkan.


“Hal yang membuatku curiga adalah serangan monster dan manusia monster terkoordinasi. Firasatku mengatakan, ada Archon yang terlibat di sini.” Aliviah berkata kepada mereka semua.


Masuk akal. Karena tidak mungkin monster bisa keluar ke permukaan dengan mudah seperti Vina yang sudah tidak memiliki aura manusia. Vezda berpikir hal tersebut dan mengangkat pisau yang sebelumnya Vina gunakan.


“Vezda, kau yang membawa pisau itu, bukan?” Laris bertanya kepada Vezda.


“Iya. Pisau ini terbuat dari batang kayu yang sepertinya berasal dari tubuh Vina atau mungkin monster tumbuhan itu. Pisau ini memiliki karakteristik seperti gabungan adamantine dan mithril.” Vezda menjelaskan.


“Masuk akal kalau memiliki karakteristik seperti adamantin karena monster-monster itu sangat kuat dan mungkin tidak bisa terbunuh dengan kekuatan pukulan atau benturan benda tumpul. Kalau mithril aku tidak terlalu yakin.” Laris berkata kepada Vezda dan Vezda memberikan pisau itu kepada Laris untuk diperiksa.


“Pisau itu memang bisa mengalirkan sihir, tapi mungkin itu berasal dari Vina karena monster-monster yang pernah kita lawan memang bereaksi terhadap sihir, tapi tidak bisa menghantarkan sihir.” Jelas Vezda kepada Laris.


“Tidak. Aku sudah mencobanya dengan melukai tanganku kemarin setelah selesai pertarungan.” Kata-kata itu mengejutkan mereka semua karena seharusnya pisau itu bisa diperiksa oleh pandai besi mengenai karakteristik dan efek yang akan ditimbulkan bila melukai, tapi Vezda melakukan hal tersebut dengan cara yang ‘sulit’.


“Kalau kau sudah bilang begitu seharusnya ini hanya belati biasa saja. Mungkin bahan pembuatannya yang tidak biasa.” Laris berkata dan menaruh pisau itu di meja.


“Kapten, aku minta izin untuk menggunakan pisau ini.” Vezda berkata kepada Laris secara langsung.


“Bolehkan kami tahu alasannya? Karena Pisau ini digunakan oleh monster dan sudah membunuh banyak petualang yang dapat terlihat dari penggunaannya.” Laris bertanya kepada Vezda.


“Vina adalah sosok yang selalu bersama Carlos sampai mereka berdua menjadi monster. Setidaknya aku mau menghormati mereka berdua sebagai seorang manusia dan petualang. Pisau ini adalah pengingat untuk mereka berdua.” kata-kata Vezda tersebut menandakan sebuah hati yang penuh dengan empati seorang Vezda untuk rekan-rekannya.


“Kalau itu adalah alasanmu, aku mengijinkannya. Vezda, gunakan pisau ini dengan bijak.” Laris memberikan pisau ini kepada Vezda dan Vezda menerimanya.


“Laris, mungkin untuk sementara kita kesampingkan masalah ini dulu dan kita mulai berkeja untuk urusan administrasi yang lain. Lagipula kita juga harus mengurus beberapa hal di sini.” Aleratha berkata kepada Laris.


“Betul. Akan lebih baik kalau kita mulai dengan sarapan. Mari kita menuju ruang makan. Aku yakin semuanya sudah menunggu di sana.” Laris berdiri dan mengajak semuanya untuk menuju ke ruang makan di lantai dasar Markas Aliviah dan sarapan bersama anggota aliansi yang lain.


Saat yang lain sudah keluar, Vezda memasukkan pisaunya ke dalam tempat pisau yang merupakan barang milik Vina. Setelah itu menaruhnya di pinggang bagian belakang dengan gagangnya di kanan agar mudah untuk ditarik oleh Vezda. Tanpa sadar Aleratha menunggu Vezda di pintu agar mereka bisa bersama menuju ruang makan.


“Oh? Aku kira kamu sudah pergi bersama yang lain.” Vezda berkata kepada Aleratha.


“Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan juga kamu belum sepenuhnya familiar dengan tempat ini.” Aleratha berkata sambil sedikit tersenyum.


“Terima kasih banyak, Aleratha.” Vezda berkata dan berjalan bersama Aleratha.

__ADS_1


Tunggu sebentar. Aku berjalan bersama Aleratha, Aliviah mungkin sudah sampai ruang makan, dan kemungkinan besar aku dan Aleratha terakhir sampai. Vezda berpikiran sesuatu yang akan terjadi karena celotehan Aliviah saat di bar dan apa yang baru saja dia lihat tadi.


“Vezda.” Aleratha memanggil Vezda.


“Ada apa, Aleratha?” Vezda berkata sambil melihat Aleratha.


“Uh..terima kasih..sudah menemaniku tadi malam.” Aleratha berkata dengan wajahnya yang memerah karena mengingat kalau dia tidur di sofa bersama Vezda.


“Ah. Itu. Harusnya aku yang berterima kasih.” Vezda berkata kepada Aleratha.


“Bahkan hanya saat aku tidur siang atau tidur di saat darurat ada orang lain yang menemaniku. Padahal aku hanya ingin memejamkan mataku sebentar, tapi ternyata tubuhku tidak berkata demikian.” Aleratha berkata kepada Vezda.


“Tidak perlu dipermasalahkan. Sebenarnya, aku senang bisa bersama denganmu.” Vezda berkata dan Aleratha hanya tersenyum.


“Kamu tidak sedang menyatakan cinta kepada seorang wakil kapten aliansi, kan?” Aleratha berkata hal tersebut dan wajah Vezda sedikit memerah.


“Tidak. Tidak. Aku hanya jujur dengan perasaanku saja.” Vezda berkata dengan gugup.


“Baiklah kalau begitu. Siang nanti kita harus mengambil tangan prostetik milikmu, jadi kita sekarang sarapan dulu sebelum melakukan aktivitas apapun.” Jelas Alertaha dan mereka berdua masuk ke ruang makan Aliansi Aliviah.


Saat Vezda masuk, seluruh anggota Aliansi Aliviah sudah berlalu lalang di sana berbincang, menikmati makanan, dan juga bersenda gurau di pagi hari. Vezda melihat tidak ada Ragnulf dan Samir di sana, tapi Vezda sudah berpikir untuk mencari mereka setelah makan. Vezda dan Aleratha juga langsung mengambil sarapan mereka dan duduk bersama dengan Syllia dan Aliviah.


“Oh iya, Vezda.” Aliviah berkata sambil dengan makanan yang ada di mulutnya.


“Hmm?” Vezda menjawabnya dengan suara karena masih mengunyah makanannya.


“Aliviah, telan dulu baru bicara.” Aleratha memarahi Aliviah.


“Tadi, aku menerima paket dari Serikat. Mereka bilang itu untukmu. Sepertinya Alfred sudah menyimpannya di ruanganmu.” Jelas Aliviah.


“Paket dari Serikat? Siapa yang mengirimkannya?” Vezda bertanya kepada Aliviah.


“Serikat Kota Araga. Di suratnya terdapat surat dari Yvette untukmu. Mungkin itu dikirim setelah mengetahui kalau dirinya akan kembali ke surga.” Aliviah menjelaskannya dengan santi, tapi Vezda terkejut mendengarkannya.


Tunggu sebentar. Loker Aliansi Yvette saat itu hanya ada Angst & Malice. Apakah mungkin Yvette memang tahu kalau aku akan mengembalikannya ke situ? Vezda berpikir sejenak dengan wajah yang terkejut.


“Alfred!!” vezda langsung memanggil Alfred yang sedang berjalan setelah menyelesaikan makanannya.


“Iya? Apa apa, Vezda?” Alfred menghampiri Vezda.


“Kamu tidak terluka setelah membawakan paket tersebut?” Vezda bangkit dari bangkunya dan memeriksa kedua tangan Alfred.


“Eh..? Tidak, Vezda. Kenapa?” Alfred sedikit terkejut dan beberapa dari mereka juga bingung melihat reaksi Vezda.


“Syukurlah. Benda yang kamu bawakan itu adalah senjata terkutuk. Jika kau terluka karena senjata itu, lukamu tidak akan bisa sembuh sama sekali selain menggunakan ramuan pemulih elixir dengan tingkat tertinggi atau seseorang yang memiliki sihir penyembuhan tingkat tinggi.” Vezda menjelaskan dan Aliviah sadar kalau senjata itu meaning bukan senjata biasa.


“Tunggu sebentar kenapa Yvette mengirimkan senjata seperti itu untukmu?” Syllia bertanya kepada Vezda.


“Bukan untuk Vezda. Senjata itu memang milik Vezda.” Aliviah berkata kepada Vezda.


“Iya betul senjata itu milikku yang juga kutinggalkan di Araga.” Jawab Vezda dengan singkat dan kembali duduk.


“Alfred, lanjutkan saja aktivitasmu. Terima kasih sudah membantu.” Aleratha berkata kepada Alfred dan Alfred bergegas melanjutkan kegiatannya.


“Kalau perkiraanku benar, maka senjata itu adalah senjata yang kau gunakan untuk…” Aliviah berkata dan Vezda sudah menjawabnya sebelum Aliviah selesai menjawab.

__ADS_1


“Betul. Senjata itu aku gunakan untuk pembantaian di Araga.” Jawab Vezda dan sejenak dia menjadi lesu.


****


__ADS_2