
Beberapa kendala terpaksa Vezda, Ragnulf, Syllia, dan Celaena hadapi di lantai 22. Hal yang aneh adalah 3 Monster Party sekaligus mengerubungi mereka, namun berkat Ragnulf dan Vezda semuanya aman terkendali meskipun itu harus memperlambat mereka hingga lebih dari 3 jam. Namun, memang Syllia jauh lebih banyak dilindungi Vezda, Ragnulf, dan Celaena karen kemampuan bertarung jarak dekatnya yang masih sangat sulit dia lakukan.
“Sebentar lagi kita menuju lantai 24. Ini lebih lama dari yang aku kira.” Ragnulf berkata kepada Vezda yang berada di belakang.
“Ragnulf, kita berhenti dulu.” Vezda memberikan perintah kepada Ragnulf untuk berhenti dan kelompok Vezda sekarang berhenti di sektor awal lantai 24.
“Ada apa?” Ragnulf bertanya kepada Vezda.
“Kita akan melakukan persiapan ulang. Monster party tadi benar-benar menguras tenaga kita semua.” Jelas Vezda.
“Tidak dengan Elf lambat itu.” Ragnulf menunjuk Syllia.
“Aku tidak akan menyalahkannya. Kita istirahat dulu 1 jam. Setelah itu kita langsung menerobos apapun yang ada di hadapan kita sampai ke Feeding Zone.” Vezda memberikan perintah untuk kelompoknya.
“Moonlight gives me power, let your shine penetrate everything. Reach and repeat. Light Ray.” Syllia menggunakan sihirnya untuk menghancurkan sarang monster serangga yang berada beberapa ratus meter dari mereka agar mereka semua bisa beristirahat dengan tenang.
“Heh? Aku rasa kau sedikit berguna dalam hal ini.” Ragnulf berkata dan tetap mengawasi sekitar selama Celaena, Syllia, dan Vezda duduk untuk menyiapkan beberapa hal.
“Tembakan yang bagus, Syllia. Celaena, kamu sudah terlalu banyak menggunakan sihir barusan. Pulihkan tanganmu dulu sebentar.” Vezda memberikan ramuan dari tasnya.
“Terima kasih, Vezda.” Celaena menerima ramuan yang diberikan Vezda.
Vezda lalu mengeluarkan dua bilah pedang pendek dengan bahan kelas A. Pedang itu adalah pedang yang sengaja dia beli untuk cadangan Ragnulf karena tahu persis kalau pedang milik Ragnulf sudah mulai rusak. Vezda lalu berjalan menuju Ragnulf untuk memberikan pedang tersebut.
“Ragnulf. Ini pedang untukmu. Jangan paksakan dirimu menggunakan pedang itu.” Vezda memberikan pedang yang masih baru itu kepada Ragnulf dan Ragnulf menukarkan pedangnya dengan yang Vezda berikan tanpa berkata apapun.
“Tunggu sebentar, ini bukannya bahan kelas A, Titanium?” Ragnulf memeriksa pedang yang diberikan Vezda.
“Iya. memang kenapa?” Vezda menjawab Ragnulf dengan santai, sementara Ragnulf terkejut karena tahu persis kalau pedang yang diberikan itu bukan pedang murah. Bahkan di markas pun tidak banyak yang memiliki bahan Titanium seperti itu.
“Kau yakin?” Tanya Ragnulf kembali kepada Vezda.
“Iya. Aku sengaja membelinya untukmu. Senjatamu akan aku perbaiki dulu setelah sampai di permukaan nanti.” Jelas Vezda.
“Baiklah. Terima kasih.” Ragnulf berterima kasih kepada Vezda dengan suara yang sangat pelan, namun tetap terdengar oleh Vezda.
Vezda sengaja tidak menjawabnya dan hanya tersenyum saja. Ragnulf biasanya sangat kasar kepada orang baru dan yang terlihat lemah di matanya, namun sosok Vezda di mata Ragnulf sangat berbeda. Bahkan jika dibandingkan dengan Laris, Aleratha, dan Bromner, Vezda jauh berbeda. Entah kenapa Ragnulf tidak berani melakukan hal kasar kepada Vezda dan jauh lebih lembut jika harus berhadapan dengan Vezda. Seakan seperti menghormati. Vezda tidak tahu pesti kenapa, tapi setidaknya itu bisa memudahkan dirinya untuk membantu Ragnulf dalam banyak hal.
“Ternyata desamu berada di bagian timur ya?” Celaena bertanya kepada Syllia.
“Ah iya.” Jawab Syllia.
“Tidak heran kalau kamu memiliki kekuatan sihir yang sangat kuat. Desa Yolren dan beberapa desa lainnya di Timur juga terkenal memiliki tingkat mana yang tinggi.” Jelas Celaena.
“Ah, memang seperti itu. Tapi, aku tidak memiliki hal lain selain itu.” Syllia sebenarnya berbunga-bunga dipuji oleh Celaena.
“Kalian semua, urungkan niat untuk beristirahat. Intensitas monster bertambah di area ini.” Ragnulf memberikan perintah kepada Celaena dan Syllia, lalu mereka berdua menghampiri Ragnulf dan Vezda.
Jumlah monster yang sangat banyak ditambah ada beberapa yang diperkuat dan jalan menujuFeeding Zonemasih cukup panjang. Vezda memperhatikan dulu sekitar dan memahami kalau Samir beserta kelompoknya melewati rute yang lain.
“Mereka tidak melalui rute ini, tapi kita harus membereskan rute ini terlebih dahulu. Sekitar 40 petualang akan mati kalau kumpulan monster ini sampai lepas. Ragnulf, Celaena, Syllia, kalian berdua diam di sini.” Vezda memberikan hasil pengamatannya kepada yang lain.
“Cih, kau terlalu naif melindungi orang-orang lemah itu, Vezda.” Ragnulf berkata sedikit kasar kepada Vezda.
“Mau bagaimana lagi. Biar aku yang menyelesaikan ini. Aku ingin melatih kekuatan fisik milikku.” Vezda berkata sambil mengeluarkan kedua parang terkutuknya.
Vezda langsung menerjang segerombolan monster tanpa adanya rasa takut. Semua monster dia hadapi dengan mudah dan statusnya yang sudah menjadi level 5, melawan monster-monster di lantai 24 sendirian dengan jumlah yang banyak bukan menjadi halangan lagi. Sebelumnya saat melakukan penjelajahan bersama Laris dan yang lain, Vezda tidak banyak melawan musuh, namun tetap saja Vezda memiliki kontribusi yang sangat besar waktu itu. Sekarang Vezda hanya ingin melatih fisiknya lewat pertarungan.
Di sisi lain, Ragnulf sebenarnya mendengar semua yang dibicarakan oleh Celaena dan juga Syllia. Apa yang dikatakan mereka berdua selalu didengar dengan baik oleh Ragnulf, hanya saja responnya tidak mungkin sesuatu yang baik.
“O, Holy Lighting. Become a sword that destroys your enemies. Lighting Wave.” Cleaena menggunakan mantranya kembali untuk melindungi Syllia dari monster yang datang dengan memutari pertarungan Vezda.
__ADS_1
Indah sekali. Entah seberapa berapa banyak kumelihat cara Celaena bertarung pun, aku selalu terkesima. Ini adalah cara bertarung paling indah, Magic Swordsman. Syllia tertegun melihat bagaimana Celaena bertarung melawan banyak monster dengan mudahnya.
“Seandainya kau bisa seberguna dirinya.” Ragnulf berkata kepada Syllia.
“Egois jika kau meminta seseorang yang merupakan penyihir dengan sihir yang sangat kuat untuk bertarung di garis depan. Kemampuan Syllia sangat dibutuhkan pada waktu yang tepat dan itu adalah tugas kita dalam melindunginya.” Celaena berdiri untuk membela Syllia.
“Heh? Sepertinya kalian para elf sudah lebih dekat dari sebelumnya.” Ragnulf tersenyum sinis melihat mereka berdua yang mulai terseipu malu.
“...” Mereka berdua tidak bisa berkata apapun.
“Lalu apa menurutmu itu adalah hal lumrah? Tidak bisa melindungi dirimu sendiri dan hanya bergantung pada orang lain?” Ragnulf berkata secara spesifik kepada Syllia.
“Itu..” Syliia sebenarnya tidak bisa berkata apapun.
“Sepertinya kedua kembar bodoh itu terlalu memanjakan dirimu. Untukku, kau hanya akan selalu menjadi beban jika kau bilang hanya sihir yang kuat yang kau miliki.” Ragnulf berkata kepada Syllia dan berpaling darinya untuk menghampiri Vezda.
“Teman-teman, kita gunakan rute utama menuju Feeding Zone.” Vezda berkata sambil menuju kembali ke tempat semua dia dan Ragnulf berbincang.
“Kau terlalu naif.” Kata-kata terakhir itu terucap dari mulut Ragnulf sebelum akhirnya mereka berangkat.
Kak Ragnulf benar. Kata-kata Kak Ragnulf benar-benar kejam dan aku kesal mendengarnya, tapi itulah kenyataannya. Kelompok Vezda mulai melaju dengan sangat cepat menuju Feeding Zone, namun dengan Syllia yang masih terpuruk dengan apa yang dibicarakan oleh Ragnulf.
Aku tidak memiliki kekuatan sihir yang sangat besar seperti Kak Aleratha, aku lemah dalam pertarungan jarak dekat, aku bahkan tidak bisa menggunakan perapalan dinamis. Itulah aku yang sekarang. Pemikiran itu membawa Syllia menjadi seperti ‘angin’ dan tidak sadar kalau mereka sudah menerobos masuk ke dalam rute yang dilewati persis seperti kelompok Samir.
Di sisi lain, sosok yang sangat aku idolakan berkata kepadaku agar terus melakukan apa yang bisa aku lakukan. Namun, kenyataannya aku harus melakukan apa yang bisa lakukan dan aku harus menentukan apa yang aku harus lakukan kedepannya. Hanya dengan itu aku bisa mengejar mereka semua dan tidak tertinggal dari yang lain. Syllia selalu memiliki pemikiran yang sadar seperti itu, namun itu sendiri bukan hal yang mudah untuk dirinya.
“Syllia, fokus. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu.” Vezda kembali menyadarkan Syllia.
“Kita berjalan perlahan dari sini. Ada yang meninggalkan pecahan kristal Feeding Zone sebagai jejak.” Ragnulf berkata dan menunjuk batu-batu berwarna merah yang ditinggalkan seperti sebuah jejak.
“Tetap berhati-hati. Kita masih belum tahu apa yang sedang kita hadapi di depan.” Vezda memberi perintah dan mereka semua kembali berjalan.
“Kak Vezda, apakah aku hanya menjadi beban untuk kelompok ini?” Syllia bertanya hal itu disaat mereka berjalan mnegikuti jejak yang ditinggalkan.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” pertanyaan lesu itu dilontarkan oleh Syllia.
“Lakukan apa yang harus kamu lakukan, jika ada yang kamu tidak bisa lakukan, latih itu sampai kamu muak.” Jawaban Vezda kali ini sedikit dingin, tapi Vezda paham kalau Syllia juga akan melakukan yang terbaik.
“Monster tanaman sudah datang. Kalian semua bersiap!” Ragnulf memberikan informasi dan mereka semua mulai berlari untuk menerobos musuh.
****
“Semuanya, tepat di depan kita adalah Feeding Zone. Mira, O’ Niel, Bagikan semuanya ramuan. Gunakan ramuan pemulih fisik 1 saja dan sisanya gunakan di saat genting.” Racita memberikan perintah kepada Mire dan O’Niel lalu mereka berdua langsung bergegas melakukan apa yang Racita perintahkan.
Lokasi mereka semua sudah berada tepat di depan rungan raksasa Feeding Zone. Apapun yang ada di depan sana, harus mereka hadapi apapun resikonya. Dengan berjalan perlahan mereka melihat sesuatu yang sangat mengejutkan. Seluruh Feeding Zone sudah berubah menjadi ladang daging hijau dan kristal besar yang menjadi inti Feeding Zone dimonopoli oleh 2 monster raksasa. Setiap monster itu seperti batang tanaman yang bergabung menjadi 1 dan ukurannya sangat besar.
“Tanaman parasit? Itu pasti monster.” Adrian berkata saat melihat 2 monster raksasa di pilar kristal tersebut.
“Sepertinya itu adalah penyebab sektor ini berubah.” Nyllia berkata kepada yang lain.
“Lihat!” Lilina menunjuk kepada gumpalan daging hijau yang di tengahnya terdapat sesuatu yang bersinar.
“Fetus?! Itu adalah Fetus yang sama seperti di lantai 18 tempo hari.” Jelas Lilina.
“Bukan hanya itu. Monster tanaman juga terlahir di sini dan ada kandang. Dengan kata lain, ada hubungan dengan petualang juga.” Racita berkata saat melihat monster tanaman keluar dari dinding di sebelah mereka.
“Racita, lihat kedepan.” Chaleed menunjuk ke arah depan.
Terlihat sekelompok petualang menggunakan tudung, penutup mulut, dan jubah berwarna putih dan mereka seperti siap untuk bertempur. Mereka dipimpin oleh seorang petualang menggunakan tudung berwarna hitam. Lalu ada seorang yang lain hanya menggunakan jubah putih dan topeng yang terbuat dari tengkorak kambing bagian dadanya terekspos.
“Sepertinya itu adalah pimpinan dari orang-orang ini.” Racita berkata kepada yang lain.
__ADS_1
“Mereka kelihatannya juga siap melawan kita. Lalu apa rencanamu?” Lilina bertanya kepada Racita.
“Tentu saja kita akan melawan balik dan kita akan menginterogasi mereka. Sebisa mungkin jangan membunuh mereka. Kita memerlukan mereka hidup-hidup.” Racita memberi arahan kepada anggota lainnya untuk melawan kelompok yang bertudung tersebut.
“Lalu aku ingin baris depan fokus dalam memukul mundur musuh. Jika sudah dekat, baris tengah yang akan melakukan pertempuran. Tentunya mereka juga dibantu oleh Monster tanaman, jadi kalian semua juga harus fokus pada musuh dan monster yang ada.” Racita melanjutkan perkataannya.
“Kalau begitu, bagaimana jika kamu memberikan komando kepadaku? Kamu pasti mendengar juga apa yang James katakan. Kamu adalah inti dari aliansi ini. Kamu bisa melakukan pengamatan secara keseluruhan dan itu akan menjadi senjata yang sangat kuat untuk kami.” Chaleed memberikan penjelasan kepada Racita.
“Sepertinya itu adalah ide yang bagus. Aku juga akan mengamati semuanya yang terjadi di tempat ini. Kalian semua harus berhati-hati. Chaleed kamu pimpin mereka dengan baik.” Racita mempercayai Chaleed.
“Jangan takut! Habisi mereka semua.” Seorang yang menggunakan tudung dan jugbah hitam itu memberikan perintah kepada semua pengikutnya untuk menyerang Racita dan kelompoknya.
“Tangkap mereka! Sebisa mungkin hindari membunuh mereka!” Racita memberikan perintah untuk kelompoknya dan semuanya maju selain Racita yang tinggal di belakang.
Kelompok yang dipimpin Racita sudah siap di formasi mereka dan mulai maju melawan salah 1 anggota kelompok musuh yang terpisah karena terlalu jauh maju sendirian. Saat Adrian menahan orang tersebut, Chaleed, Lilina dan Tiana dapat dengan mudah melumpuhkan orang tersebut dan menahannya agar tidak bergerak.
“He? Kau pikir dapat dengan mudah melawanku?” Chaleed berkata kepada orang tersebut dan membantingnya sekuat tenaga agar tubuhnya tidak bisa bergerak.
“Lebih mudah dari yang aku kira.” Lilina berkata dan menahan orang tersebut.
“Lilina, Force Status Reveal.” Chaleed meminta barang tersebut untuk mengetahui dari Aliansi mana mereka.
“He? Kamu ternyata cukup hina untuk seorang Elf. Kalau begitu, kita lihat darimana Aliansimu berasal.” Lilina dan Chaleed sudah tertawa dan orang tersebut tidak bisa terlihat jelas ekspresinya karena hanya mata mereka saja yang terlihat.
“Aku persembahkan ini untuk-Mu, Archon. Maafkan aku, Tiara.” Orang tersebut berkata sesuatu dan Chaleed menyadari sesuatu dengan cepat.
“LILINA, MENJAUH!” Chaleed mendorong paksa Lilina untuk menjauh dan terlempar karena dorongan Chaleed.
BOOOOOOMMM!!!
Sebuah ledakan menghancurkan tubuh orang itu dan melukai Chaleed. Chaleed langsung masuk ke dalam kondisi yang sangat kritis sehingga Adrian langsung memukul mundur banyak musuh dan membuat jarang yang cukup jauh. Lilina masih belum bisa merespon dengan apa yang baru saja terjadi beberapa detik yang lalu.
“CHALEED!!!” Lilina berteriak dan langsung menghampiri tubuh Chaleed yang terkapar.
“Mereka menggunakan bom bunuh diri untuk menyerang kita.” Adrian berkata dan Tiana langsung mundur untuk membantu Chaleed dibawa ke garis belakang agar dapat menggunakan ramuan pemulih.
“Dila, maafkan aku tidak bisa memenuhi janjiku! AKU AKAN MENYUSULMU!” Salah seorang dari kelompok musuh maju dan meledakkan dirinya di depan Adrian dan cukup untuk memberikan kerusakan untuk yang berada di belakang Adrian.
“Mereka sudah gila.” James berkata dan berusaha untuk berdiri.
“ARIA, BIARKAN AKU HIDUP BERSAMAMU!!”
“YURI, MAAFKAN AKU!!”
“SAN, AKU AKAN BERSAMA DENGANMU LAGI!!”
Setiap teriakan itu diakhiri dengan ledakan yang menghancurkan tubuh mereka tanpa tersisa apapun. James, Adrian, Naria, dan Blorie terus menerima ledakan demi ledakan.
“Ini tidak masuk akal. APA KALIAN SUDAH GILA??” James berteriak kepada kelompok musuh yang terus menyerang dengan pedang pendek dan bom bunuh diri.
“Blorie, mundur. Lukamu terlalu berat.” Adrian memberi perintah kepada Blorie dan Blorie langsung mundur sambil menahan sakit.
“Ini semua ramuan tingkat tinggi yang aku miliki! Berikan kepada Chaleed.” Racita memberikan semua ramuan yang dia punya kepada Mira.
“Baik!” Mira langsung bergegas untuk membantu Chaleed.
“O’Niel, bawa Sheryl ke sana dan Sheryl, gunakan sihir penyembuhan untuk setiap mereka yang membutuhkan gunakan sehemat mungkin.” Racita lalu memberi perintah untuk O’Niel dan Sheryl.
“Baik.” O’Niel dan Sheryl menjawab Racita dan langsung bergabung dengan garis tengah sementara garis depan menahan banyak ledakan dan serangan monster tanaman secara bersamaan.
Sebenarnya siapa dan apa yang sebenarnya kita lawan? Semua orang-orang itu meneriakan nama, tapi bukan nama Archon, melainkan nama seseorang. Apakah mereka menunjukkan kesetiaannya lewat kematian atau bagaimana? Racita terus memproses dengan apa yang terjadi di tempat tersebut karena semua hal yang sedang dilawan sangat tidak masuk akal.
__ADS_1
Yang benar saja!? Racita terkejut melihat monster tanaman muncul di belakangnya dan siap untuk menyerang dengan jumlah yang banyak.
****