VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption

VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption
Chapter 16 - Penjinak Monster Berambut Putih


__ADS_3

Vezda, Samir, dan Syllia membawa perempuan itu menuju pinggiran kota karena sejara awal mereka melihat ekspresi perempuan itu sangat ketakutan dan terlihat sangat tidak tenang saat mereka kepung. Bahkan Syllia melihat kalau perempuan itu cukup ketakutan sebelum terlihat oleh Syllia. Vezda juga berpikir kalau perempuan ini mungkin saja berusaha kabur dari seseorang, namun di tasnya seperti membawa sesuatu yang sangat berharga untuknya.


“Coba perkenalkan dulu saja dirimu.” Syllia berkata dengan lembut kepada perempuan itu meskipun perempuan itu sebenarnya sedang diinterogasi.


“Aku Lilina Rudolf. Maafkan aku jika terlihat mencurigakan tapi sebenarnya aku sangat takut dan ingin keluar dari sini.” Perempuan itu bernama Lilina dan dia masih terlihat ketakutan.


“Kami paham ketakutanmu, tapi apa yang sebenarnya kamu lakukan?” Vezda bertanya juga dengan tenang.


“Aku sebenarnya sedang mendapat tugas dari Archonku, Archon Cathur.” Lilina berkata kepada mereka bertiga.


“Tapi bukannya itu adalah barang milik Grigg?” Samir bertanya kepada Lilina karena pembungkus barang tersebut memang serupa dengan bahan pembungkus yang ada di tas milik Grigg.


“Betul, tapi aku tidak mencurinya sama sekali. Aku diberi tugas untuk mengantar barang ini ke permukaan dengan cepat oleh Grigg dan Grigg memang meminta kepada Archonku.” Jelas Lilina.


Zirah dan helm yang serba hitam, tinggi sekitar 175. Pengguna pedang dua tangan. Vezda melirik dengan singkat sosok dari kejauhan dan Vezda melihat dengan jelas kalau orang itu mengawasi mereka berempat.


“Bolehkah kami memeriksanya?” Samir meminta Lilina untuk memperlihatkan barang tersebut.


“Ah, iya. Aku juga sebenarnya penasaran apa yang sebenarnya aku antarkan.” Lilina membuka bungkusan kain itu dan memberikannya kepada Samir.


Mereka berempat sebenarnya bingung apa itu. Barang itu berbentuk kubus dengan properti yang cukup keras untuk material tembus pandang dan di dalamnya ada seperti fetus tapi dengan 6 kaki atau tangan. Sebenarnya mereka berempat bingung.


“Apa ini?” Syllia bertanya kepada Lilina.


“Aku juga tidak tahu.” Lilina juga berkata hal tersebut, tapi Vezda melihat kalau ekspresi Samir berubah saat memegang dan melihat kubus tersebut.


Ini? Perasaan ini? Apakah betul? Pikiran Samir dan perasaannya tidak karuan saat memegang kubus berisi fetus tersebut.


Tunggu dulu kenapa ada sesuatu yang bergerak di bawah? Sial. Monster itu lagi ternyata. Vezda merasakan ada sesuatu yang bergerak di di bawah tanah.


“Syllia, Samir, Lilina. Siapkan senjata kalian.” Vezda berkata dan langsung mengeluarkan belati miliknya.


“Ada apa, Vezda?” Syllia bertanya kepada Vezda.


“Monster tanaman akan segera muncul.” Vezda dan bersiap untuk melompat.


GRAAKK!!!!


Monster tanaman muncul di seluruh bagian Kota Underground. Vezda tidak tinggal diam dan langsung memotong sambil menghancurkan monster tanaman yang muncul di depannya hanya dengan menggunakan belati. Samir juga langsung menerjang monster tanaman yang muncul dari bagian belakang mereka dan meninggalkan kubus tersebut.


“Syllia, Lilina. Pergi dari–” Vezda belum sempat memberi perintah kepada Syllia dan Lilina dan tubuhnya sudah terhempas dengan serangan monster tanaman yang lain hingga ke belakang bagian kota.


Di bagian pusat kota, Celia, Calia, Laris, dan Aleratha langsung bersiap untuk bertarung dan melindungi pada petualang yang lain. Semua monster yang terus menerus berdatangan ke arah mereka. Meskipun Celia, Calia, Laris, dan Aleratha merupakan petualang tingkat tinggi yang sudah melawan banyak sekali kejadian aneh dan serangan monster tanaman ini, bukan berarti ini menjadi hal yang mudah untuk mereka.


“Celia, Calia, prioritaskan mengamankan petualang yang lain. Aleratha, kita fokus untuk melawan monster.” Laris memberi perintah kepada Aleratha dan Alerahta langsung mengikuti Laris.


“Baik, Kapten.” Calia berkata dan bersama kembarannya, mereka langsung menyelamatkan petualang-petualang yang membutuhkan bantuan.


“Kapten!” Samir datang membawa Syllia dan Lilina ke pusat kota.


“Samir, dimana Vezda?” Laris bertanya sambil mendekati mereka bertiga.


“Vezda terhempas ke belakang kota. Ada musuh yang harus kutahan. Dia pelaku dari pembunuhan yang kita cari dan menyamar menjadi petualang lelaki dengan zirah serba hitam dan pedang dua tangan.” Samir berkata dan semua teka-teki di kepala Laris akhirnya terpecahkan.


“Pelakunya adalah seorang penjinak. Ini bisa jadi masalah. Samir, kalau memungkinkan tangkap hidup-hidup pelakunya.” Laris memberi perintah kepada Samir.


“Baik.” Samir menjawab dengan singkat dan kembali melawan sosok yang menjadi pelaku pembunuhan.


Serangan Samir menggunakan rapier sangatlah cepat dan kuat sehingga dia dapat menghabisi banyak monster tanaman dengan mudah dan langsung menghadapi pelaku pembunuhan tersebut. Saat melawan pelaku itu, pelaku pembunuhan tersebut masih menggunakan zirah hitamnya lengkap, namun serangan Samir sangat efektif hingga memukul mundur pelaku tersebut.


“Zirah ini sangat sempit.” Pelaku itu membuka semua zirahnya dan mengekspos tubuhnya serta wajahnya terlihat jelas dengan rambutnya berwarna putih dengan panjang hingga pinggang.


“Kau lebih baik menyerah sekarang.” Samir memberi peringatan kepada pelaku tersebut.


Pelaku tersebut tidak bergeming dan langsung menyerang Samir dengan pedangnya yang besar. Samir terkejut karena kekuatan dari pelaku itu sangat kuat dan kemampuan berpedangnya sangat hebat sampai membuat Samir terpojok dan terpaksa menggunakan sihir angin miliknya.

__ADS_1


“Zephyr - Aster!” Samir menggunakan sihirnya dan menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang sangat hebat, namun masih bisa ditahan oleh pelaku itu meskipun pelaku tersebut terpukul mundur.


“Zephyrus. Ya, tidak salah lagi kemampuan itu hanya dimiliki oleh Zephyrus dan wajahmu juga sangat cocok dengan kekuatan yang kau miliki.” Pelaku itu berkata nama Zehpyrus dan mengejutkan Samir sampai Samir terdiam sejenak.


Bagaimana dia mengetahui Zephyrus? Samir terdiam sejenak.


Tanpa sepengetahuan Samir, fetus yang berada dalam kubus yang tertinggal saat Samir menyelamatkan Syllia dan Lilina menjadi aktif karena merasakan sihir milik Samir. Fetus itu menghancurkan tempatnya sendiri dengan meluncurkan dirinya sendiri ke arah Samir, tapi Samir menghindar dan fetus itu masuk ke monster tanaman.


“Cih, ternyata sia-sia.” Pelaku itu berkata sambil melihat monster tanaman yang bereaksi menjadi sangat agresif.


GGROOOWWWWLLL!!!


Fetus itu membentuk sebuah monster lain yang sangat kuat dan membentuk tanaman itu menjadi seperti tubuh manusia. Suara tanaman itu membangunkan Vezda yang pingsan dan tertimbun di bawah puing-puing kota.


“Overkill.” Vezda mengaktifkan Overkillnya dan langsung menhancurkan setiap monster yang ada di sekitarnya sambil menyelamatkan petualang yang bisa dia selamatkan.


“Semuanya tolong ikuti arahan Jays dan yang lain untuk berlindung. Jika tidak memliki level yang cukup untuk melawan monster-monster yang ada, jangan sekali-sekali melawan karena itu sangat berbahaya.” Vezda memberi perintah untuk setiap orang yang ada di sekitarnya sambil memegang kedua parang terkutuk miliknya.


Vezda melihat kondisi yang sangat menakutkan sudah terjadi di Kota Underground. Vezda langsung mengambil elixir miliknya dan memandikan kepalanya dengan elixir tersebut untuk memulihkan lukanya dan menggunakan injectornya. Vezda melihat ada monster yang sangat besar di dekat pusat kota dan Laris bersama dengan Aleratha dan Syillia sedang melawan monster tersebut.


“Dance of Scorching Flame - Flashing Dragon Dance.” Vezda berkata dan semua yang ada di sana bisa merasakan sebuah hawa yang sangat berat dari Vezda serta mendengar sesuatu seperti suara udara yang dihirup.


Dalam kedipan mata, seluruh monster yang muncul sepanjang jalan dari bagian belakang kota hingga pusat, semuanya terbunuh dan Vezda akhirnya berada di pusat kota. Laris, Aleratha, dan Syllia bisa merasakan hawa yang sangat berat dari Vezda berbeda dari hawa yang pernah mereka rasakan sewaktu Vezda melawan Carlos.


“Vezda.” Aleratha lansgung menghampiri Vezda.


“Aku baik-baik saja, Aleratha. Tapi, kita punya masalah lain.” Vezda berkata sambil melihat monster yang besar itu.


“Vezda, Kita habisi monster ini.” Laris berkata kepada Vezda dan Vezda lansgung berlari bersama dengan Laris.


“Syllia, persiapkan mantramu. Kita akan menyerang secara penuh.” Aleratha lansgung memberi perintah kepada Syllia dan mengambil busur panah yang tergeletak di sana.


“Baik!” Syllia mempersiapkan rapalannya dan Aleratha mengumpulkan mananya dalam anak panah yang akan dia lontarkan tepat setelah dia mengikat tali di anak panah tersebut.


“Laris tangkap talinya.” Alertaha melontarkan anak panahnya dan Laris menangkap tali dari anak panah yang terbang itu lalu tubuhnya tertarik ke udara.


“Celia, Calia bantu Vezda mengejar monsternya.” Laris memberi perintah kepada Celia dan Calia yang baru kembali setelah melihat Vezda harus menyelamatkan petualang yang lain dan Celia bersama Calia langsung bergegas mengejar monster tersebut yang mengarah ke sungai untuk kabur.


Celia dan Calia masih kurang cepat saat mengejar monster itu, namun saat monster itu menerjunkan dirinya ke sungai, Celia dan Cali langsung terjun dan mengejar monster tersebut.


“Celia, apa senjatamu kuat untuk menebas monster itu?” Calia bertanya denga nnada yang meledek.


“Tentu saja. Aku sudah memiliki hutang yang banyak untuk senjata ini.” Celia berkata dan mereka berdua menebas monster itu bersamaan sebelum terjun ke air.


****


Di sisi lain, Samir masih berjuang melawan pelaku pembunuhan yang merupakan penakluk monster atau petualang lain biasa menyebutnya Tamer. Meskipun Samir menggunakan kekuatan Zephyr-nya, itu masih belum kuat untuk melawan Tamer tersebut dan hal tersebut memicu ingatan masa lalunya dan balas dendam yang jauh lebih gelap daripada sesuatu yang berwarna hitam. Aura yang hanya beberapa orang bisa rasakan saja di Aliansi Aliviah dan Vezda yang anggota baru dapat merasakan aura tersebut.


“Zephyrus, apa yang terjadi? Kenapa anginmu sekarang semakin lemah?” Tamer itu berbicara sambil bertarung menandakan sebuah kepercayaan diri.


“Aku bukan Zephyrus.” Samir berkata dan terus menerus harus berada di posisi bertahan karena kekuatan yang sangat besar dari Tamer tersebut.


“Sudahlah. Angin milikmu itu sangat khas dengan kekuatan milik Zephyrus.” Tamer itu berkata dan berusaha menahan serangan angin dari Samir.


CRACK!!


Pedang milik Tamer itu hancur karena manahan kekuatan Samir yang sangat besar, namun kekuatan Tamer itu sangat besar hingga menggunakan tangan pun, masih cukup untuk memukul mundur Samir.


“Kau tidak akan berdaya tanpa alat ini.” Tamer itu berkata dan memukul tangan Samir yang memegang pedang hingga pedang tersebut telepass dari tangannya.


“...” Samir terkejut karena pedangnya lepas dari tangannya.


DUUUGHH!!


Pukulan telak Tamer itu mengenai tubuh Samir dan Samir tehempas sangat cepat hingga menghancurkan bebatuan di belakangnya. Benturan yang sangat kuat itu membuat tubuh Samir kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali.

__ADS_1


“Nah, sekarang matilah. Aku hanya membutuhkan tubuhmu.” Tamer itu hendak memukul hancur Samir.


Tepat sebelum pukulan Tamer itu menghantam Samir, Laris dan Aleratha sudah menahan pukulan Tamer itu dengan tombak milik Laris dan tongkat sihir milik Aleratha. Dan Vezda datang dari atas untuk melakukan serangan kejutan menggunakan belati miliknya, namun intuisi Tamer itu sangat bagus dan menghindar dari serangan Vezda.


“Dari belati yang kau gunakan, sepertinya Vina mati di tanganmu ya?”Tamer itu melihat belati yang digunakan Vezda dan berkata hal tersebut.


“Benar. Aku yang membunuh Vina dan Carlos.” Vezda hanya berkata hal yang singkat.


“Lagipula kebodohan Vina itulah yang membuatnya terbunuh dan kau mungkin hanya beruntung bisa membunuh Vina dan Carlos.” Tamer itu berkata seakan Vezda dan semuanya yang ada dihadapan matanya lemah.


“Kau mau mencobanya? Jangan salahkan aku kalau kau mati di sini. Lagipula aku tidak membunuh mereka sendiri. Teman-temanku yang membantuku menghabisi mereka berdua.” Jelass Vezda sambil tersenyum.


“Aku tidak peduli. Tujuanku hanya mengambil Zephyrus dan membunuh kalian bukanlah hal sulit.” Tamer itu berkata dengan sombong.


“Kau yakin?” Vezda berkata hal tersebut lalu Aleratha dan Laris berdiri di antara Vezda.


“Hanya ada 3 orang bodoh di depanku.” Tamer itu berkata dan Vezda menaruh belatinya dan beralih menggunakan katana miliknya.


“Kapten, Aleratha. Mari kita mulai.” Vezda berkata dan mereka bertiga bersiap melawan Tamer itu.


“Jangan sampai kamu mati, Vezda.” Laris berkata kepada Vezda.


“Jika kau mati, aku akan mengutukmu setelah kau dilahirkan kembali, Vezda.” Aleratha berkata kepada Vezda.


“Dengan senang hati. Dance of Free Wind - Cyclone Slash!” Vezda berkata dan memutarkan katananya lalu serangan itu membuat udara di sekitarnya menjadi sangat tajam untuk Tamer tersebut.


Serangan Vezda itu sedikit menahan Tamer tersebut dan Laris serta Aleratha langsung menyerang ke hadapan Tamer itu. Lalu Syllia datang ke pertarungan mereka setelah membantu beberapa petualang yang terluka parah.


“Vezda..” Syllia memanggil Vezda saat dia datang.


“Syllia cepat sembuhkan Samir dan bantu dia mencari pedangnya.” Vezda berkata kepada Syllia dan langsung melesat mambantu Laris dan Aleratha.


“Baik!” Syllia lansgung menggunakan sihir penymbuhannya untuk Samir.


Pertarungan Tamer melawan Laris, Aleratha, dan Vezda sangat sengit. Meskipun Vezda dan Laris yang lebih banyak melawan, tapi Aleratha jauh lebih hebat dalam mengalihkan pandangan musuh. Kemampuan bertarung Laris sangat hebat karena dia merupakan level 6 dan pernah berurusan juga dengan Aliansi yang jahat dulu dan itu juga berlaku untuk Aleratha. Itulah yang membuat mereka berdua dapat membawa arus pertarungan. Sementara Vezda jauh lebih banyak berurusan dengan orang dibanding monster sehingga meskipun masih di level 5, Vezda dapat memojokan Tamer itu dengan mudah. Lalu, Laris sudah melukai bagian tengah dari dada Tamer itu. Tamer itu mundur dan diam sejenak.


“Petualang tingkat tinggi 3 orang level 5, tidak, mungkin level 6.” Perkataan Tamer itu langsung membuat Vezda dan laris berpikir.


“Ho? Sepertinya kau sudah terpojokkan. Ada baiknya kau menyerah sekarang.” Vezda berkata kepada Tamer itu.


“Posisi yang tidak menguntungkan.” Tamer itu berkata dan langsung berbalik arah dan menjauh.


“Zephyr - Aster!” Samir langsung bangkit dan mengejar Tamer tersebut.


“Samir!” Laris berkata dan Samir berhenti di tepi tebing dimana Tamer tersebut melompat ke sungai dan menghilang.


Setelah Tamer itu menghilang, Celia dan Calia kembali berkumpul dan mereka bertujuh membantu semua petualang yang ada di Kota Underground untuk ke permukaan. Membantu semua pengungsi itu sendiri memakan waktu 6 hari dan itu adalah waktu yang justru direncanakan oleh Vezda untuk ke dalam dungeon dan berniat untuk melatih Alfred dan Catherine setelah kmebali dari dungeon.


“Seperti itulah laporan dari kami.” Laris, Vezda, dan Aleratha melapor kepada Aliviah mengenai apa yang terjadi setelah menyelamatkan semua petualang yang ada di lantai 18.


“Kapten, Aleratha. Karena kalian akan kembali ke dungeon, aku minta tolong untuk membawakan 2 Silver Coral dari lantai 27.” Vezda meminta tolong kepada Laris.


“Memangnya kamu tidak akan kembali ke dungeon?” Aliviah bertanya kepada Vezda.


“Tidak. Rencanaku hanya 1 minggu di dalam dungeon dan kembali untuk melatih Alfred dan Catherine terlebih dahulu mengenai pengaturan pernapasan dan tubuh.” Vezda menjawab pertanyaan Aliviah.


“Padahal aku belum menyuruhmu untuk melatih para petualang di kelompok 2.” Laris berkata sambil tersenyum.


“Memang betul, tapi setidaknya aku mau melihat dulu kemampuan mereka dan kalau mereka menguasainya dalam waktu singkat, itu bisa mempermudah kita melatih yang lain.” Jelas Vezda.


“Baiklah aku mengerti. Kalau begitu apakah kamu bisa membantu Bomner juga?” Laris bertanya kembali ke Vezda.


“Tentu saja aku akan membantunya.” Vezda berkata dengan santainya.


“Baiklah kalau begitu. Kalian yang akan melanjutkan penjelajahan, berhati-hatilah.” Aliviah berkata kepada Laris dan Aleratha.

__ADS_1


****


__ADS_2