VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption

VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption
Chapter 11 - Vezda dan Aleratha


__ADS_3

Setelah kegiatan sarapan itu, Vezda bersama dengan Aleratha dan Aliviah menuju balkon markas yang mengarah ke halaman depan kediaman Aliansi Aliviah. Mereka melihat Samir tengah berdiam diri di bangku halaman depan. Sebenarnya Aliviah dan Aleratha cukup terkejut karena melihat Samir hanya berdiam diri di sana karena biasanya Samir akan langsung kembali ke dungeon untuk berlatih agar menjadi lebih kuat.


“Bagaimanapun juga ini adalah pemandangan yang sangat langka.” Aliviah berkata kepada Aleratha dan juga Vezda yang bersama dirinya.


“Seorang Samir bisa ‘membuang-buang’ waktunya.” Aleratha berkata hal tersebut sambil.


“Apakah itu karena kejadian yang baru terjadi kemarin di restoran?” Vezda bertanya kepada Aleratha dan Aliviah.


“Sepertinya begitu. Celotehan Ragnulf memang membuat ekspresi Samir berubah saat itu.” Jawab Aleratha.


“Tenang, karena pelakunya sudah mendekap dalam perasaan bersalah ketika aku memberitahu apa yang sebenarnya terjadi saat dirinya mabuk berat kemarin.” Jelas Aliviah.


“Pasti itu terjadi saat aku sedang bertarung bukan?” Tanya Vezda.


“Betul. Ragnulf menertawai petualang baru itu yang memiliki rambut berwarna hitam karena lemah dan pada akhirnya dia malah secara tidak sengaja menyatakan cintanya pada Samir.” Alertaha menjelaskan kepada Vezda apa yang terjadi kemarin malam di restoran.


“Kalau begitu aku menyerahkan tugas ini pada Aleratha.” Aliviah berkata dengan senangnya kepada Alratah dan Aleratha sudah memperlihatkan wajahnya yang kesal kepada Aliviah.


“Hei.” aleratha tidak bisa berkata apapun pada Aliviah.


“Sudahlah tidak perlu malu-malu. Aku yakin meski wajahmu tidak peduli juga, kamu pasti akan melakukan sesuatu, bukan?” Aliviah berkata kepada Aleratha sambil menunjukknya.


“...” Bahkan Aleratha tidak bisa berkata apapun.


“Itu baru yang namanya, Mama dari Aliansi Aliviah. Hehehe. Aku serahkan padamu ya, mama.” Aliviah berkata sambil tertawa dan meninggalkan Aleratha dan Vezda yang terdiam di tempat.


“Siapa memangnya yang mama di sini?” Aleratha berkata dengan kesal, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia juga sadar kalau saat ini hanya dirinya yang bisa membantu Samir di kondisi Samir saat ini.


“Bicaralah sebentar dengan Samir, Aleratha. Aku akan menunggu di luar lagipula urusan kita dengan Aliansi Kyana tidak akan lama juga.” Vezda berkata kepada Aleratha.


“Baiklah kalau begitu. Tolong tunggu sebentar, ya. Aku akan segera menyusulmu.” Aleratha berkata kepada Vezda dan dia langsung menuju ke tempat Samir yang sedang duduk.


“Oke.” Vezda tersenyum pada Aleratha dan beranjak untuk ke depan gerbang masuk kediaman Aliansi Aliviah.


****


Samir hanya melamun sambil melihat ke atas langit dengan wajah tanpa ekspresi yang menjadi ciri khasnya. Tatapannya yang kosong sambil memeluk pedang cadangan yang diberikan sampai pedangnya selesai diperbaiki benar-benar sesuatu yang sangat mengesankan. Tentu ada beberapa orang juga yang melihat dirinya seperti itu selain Aliviah, Aleratha, dan Vezda. Hanya saja, mereka tidak mau ikut campur jika hal itu berhubungan dengan Samir.


“Samir.” Aleratha memanggil Samir yang sedang melamun.


“Aleratha.” Samir hanya berkata hal itu dan Aleratha duduk di sebelahnya.


“Samir, hari ini kamu sangat lesu dan tidak seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang terjadi?” Aleratha bertanya kepada Samir.


Samir menceritakan setiap kronologi kejadian yang terjadi saat dirinya menyelamatkan seseorang dari minotaur di lantai 5 dungeon yang menjadi titik dimana hal tersebut menjadi candaan untuk Ragnulf. Petualang yang lari dari restoran kemarin adalah petualang yang dimaksud oleh Samir. Hal itu juga tidak disadari oleh Aleratha sejak awal karena dia juga tidak mengira kalau Petualang itu berada di restoran tersebut.


Aku tidak mengira kalau petualang itu benar-benar ada di restoran tempat kita berpesta tadi malam. Aleratha mulai berpikir apa yang harus Samir lakukan.


“Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” Aleratha bertanya kepada Samir.


“Aku….tidak tahu.” Samir menjawab Aleratha.


“Apa yang kamu rasakan saat ini merupakan sesuatu yang kompleks dan hal ini sangat bagus untuk dialami oleh dirimu sesekali.” Aleratha berkata sambil beranjak berdiri.


“Aleratha?” Samir bertanya pada Aleratha yang akan beranjak pergi.


“Jika kamu bingung, tidak akan menjadi masalah untuk bertanya. Aku juga akan memikirkan solusinya untukmu.” Aleratha berkata dan tersenyum kepada Samir.


“Terima kasih, Aleratha.” Samir berterima kasih kepada Aleratha dan tersenyum sambil melihat Aleratha beranjak pergi.


Saat ini kondisi mental Samir yang mungkin sedang bermasalah. Aku, bahkan Aliviah sekalipun tidak memiliki kualifikasi untuk menenangkan Samir. Hanya mereka gadis-gadis yang bisa menjadi sosok yang membuat Samir merasa lebih baik. Aleratha sebenarnya sudah memiliki jawaban untuk masalah Samir, tapi mungkin teman-teman yang lebih sepadan dengan Samir bisa menjawab kebutuhan Samir jauh lebih baik untuk saat ini.


***


Celia berjalan melewati lorong-lorong di markas dan berusaha mencari dimana Samir sedang berdiam diri. Kemanapun dia mencari, Samir tetap tidak ada. Lalu Celia berpikir untuk mencari Samir di kamarnya karena mungkin Samir sedang bersiap untuk turun ke dungeon dalam waktu dekat.


“Samiir!!” Celia berteriak memanggil temannya dan berharap mendapat jawaban, namun tidak ada jawaban apapun dari Samir.


“Samir sedang berada di halaman depan.” Ragnulf menghalangi jalan Celia yang akan menuju kamar Samir.


“Heh?” Celia langsung melihat ke arah halaman depan dari markas dan terlihat jelas kalau Samir sedang duduk terdiam juga Aleratha akan beranjak keluar dari markas.


Celia berlari dengan cepat menuju halaman depan. Saat di perjalanan dia juga berpapasan dengan Calia dan Syllia yang juga akan menghampiri Samir. Jadilah mereka bersama menuju tempat Samir berdiam diri.


“Samiir!” Celia memeluk Samir dari belakang dengan wajah ceria.


Samir hanya terdiam dan memegang tangan Celia sambil melihat juga Calia dan syllia menghampiri dirinya. Samir sedikit tenang dan tidak merasa cemas atau bimbang seperti saat berbicara kepada Aleratha.


“Ayo kita hari ini pergi berbelanja. Aku yakin ada sesuatu juga, kan yang ingin kamu lihat.” Celia berkata dengan gembira.


“Belanja?” Samir menjawab kegembiraan Celia dengan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


“Betul. Kami akan pergi berbelanja. Karena kamu sedang ada di sini lebih baik ikut saja bersama dengan kami.” Calia juga mengajak Samir untuk ikut.


“Samir, aku akan sangat senang kalau kamu juga ikut bersama dengan kita.” Syllia juga sangat ingin mengajak Samir.


Mungkin aku bisa menemukan jawabannya jika aku pergi bersama. Sejenak Samir terdiam dan melihat teman-temannya yang sudah menunggu jawaban dari dirinya.


“Baiklah aku akan ikut.” jawab Samir dengan singkat dan bangkit berdiri untuk beranjak menuju distrik perbelanjaan bersama Celia, Calia, dan Syllia.


Mereka berempat berencana untuk mencoba beberapa pakaian dan memang mau belanja busana untuk Samir karena sudah sangat lama dari terakhir Samir membeli pakaian yang lain selain yang sehari-hari dia kenakan dan pakaian yang dia kenakaan untuk tidur. Meskipun banyak sekali pilihan dalam menggunakan pakaian, tapi setiap pakaian yang ditunjukkan oleh mereka tidak ada yang dicoba untuk dikenakan oleh Samir satupun dan hanya berakhir dengan khayalan seorang Syllia akan Samir yang menggunakan pakaian-pakaian yang sudah dia tunjukkan.


“Nah, Samir. Hal sesederhana memilih pakaian adalah sebuah dasar atau awal dari dimana kamu mengekspresikan apa yang sebenarnya kamu mau saat ini terlepas dari kamu ingin menjadi lebih kuat dengan berlatih ke dalam dungeon.” Calia berkata sambil memegang bahu Samir sambil menghadap wajah Samir.


Lakukan apa yang menjadi kerinduan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Setelah bersama Celia, Calia, dan Syllia aku menyadari kalau aku ingin berdamai dan berbicara dengan petualang yang baru tersebut. Aku mau bertemu dengannya. Samir akhirnya mendapatkan kepercayaan dirinya dan mulai melakukan hal yang memang diinginkan oleh dirinya dan tidak mau hanya terfokuskan pada satu hal, sementara hal yang lain dia abaikan.


“Aku ingin melihat baju ke toko itu.” Samir menunjuk toko baju yang beberapa saat lalu juga sebenarnya dia sudah lirik karena memiliki beberapa pakaian yang menarik perhatiannya.


“Oh, itu memiliki banyak baju yang menarik untuk manusia. Mungkin Samir akan sangat cocok dengan beberapa gaya busana yang ada di toko itu.” Cellia berkata kepada Samir dan mereka semua beranjak menuju ke toko tersebut.


Samir memiliki menggunakan atasan berwarna putih dan menggunakan bawahan rok berwarna ungu terang dan perpaduan tiu sangat cocok digunakan olehnya. Samir terlihat sangat cantik mengenakan setelan tersebut. Lalu setelah membayar bajunya, mereka menuju kembali ke pusat kota.


Aku akhirnya mengetahui apa yang menjadi keinginanku. Aku ingin bertemu dengannya dan berbincang dengannya. Sekarang mungkin bukan saatnya, tapi sekarang ini adalah waktu untuk kembali berlatih sampai waktunya tiba bertemu dengannya. Tekad Samir semakin bulat dan teman-temannya sudah menunggu Samir untuk bergabung dan menjelajahi dungeon.


****


Vezda tengah menunggu Aleratha di pintu depan Kediaman Aliviah dan melihat beberapa 3 anak kecil sedang bermain bersama seorang gadis yang kelihatannya masih remaja kalau Vezda melihat dari postur tubuh gadis itu karena wajahnya ditutupi topeng yang menutupi bagian mata dan hidungnya. Hanya mulut dan rambut yang terlihat dan topeng serta perlengkapan yang dia gunakan berwarna hitam.


“Ah. Vajra sudah kembali~” Seorang penjaga gerbang berkata sambil terlihat tersipu melihat gadis yang menggunakan perlengkapan penuh itu.


“Vajra?” Vezda langsung bertanya kepada penjaga itu.


“Iya. Betul. Kamu pasti belum tahu, tapi dia adalah salah satu petualang terkuat di Kota Femi. Kita tidak pernah tahu bagaimana penampilan wajahnya dan dalam melawan musuh yang kuat di dungeon, ada rumor dia bisa mengalahkan bos tanpa menarik keluar pedangnya.” Jelas penjaga gerbang tersebut.


“Hoooo. Bahkan ada yang setara tau lebih kuat dari Samir.” Vezda berkata sambil memperhatikan gadis tersebut.


“Jika kekuatan, mungkin jauh lebih kuat Vajra karena Vajra sudah level 7.” Perkataan penjaga gerbang itu mengejutkan Vezda.


EEEKSS. Level 7? Kota Araga saja hanya memiliki beberapa level 5 dan dari Aliansiku hanya aku sendiri yang memang memiliki kualifikasi ke level 5. Vezda benar-benar terkejut tentang berita level 7 dan menurutnya beberapa level 6 di Aliansi Aliviah saja sudah hebat.


“Sepertinya aku terlalu baru di kota ini dan banyak hal yang tidak aku tahu.” Vezda berkata hal tersebut sambil mengusap kepalanya sendiri.


“Tapi, kita sebagai Aliansi Aliviah sebaiknya tidak ikut campur atau memiliki hubungan dengannya karena dia adalah anggota elit Aliansi Na’ava.” Penjelasan itu penjaga gerbang itu mengingatkan Vezda pada catatan milik Yvette mengenai Na’ava.


“Kalau dipikir-pikir bukannya Vajra terlihat sedikit lebih lembut dan peduli kepada setiap orang?” Vezda mengatakan itu dengan nanda yang bertanya-tanya.


“Vajra adalah anggota yang berbeda dari yang lain. Dia jauh lebih hangat ke semua orang dan petualang yang dia temui dibanding rekan-rekannya. Cuman, bukan berarti kita bisa memiliki hubungan dengannya.” Jelas penjaga gerbang tersebut.


“Sepertinya aku mengerti kalau soal itu.” Vezda menjawabnya dengan singkat.


Tunggu sebentar, kenapa ada 2 anak di atas bangunan tinggi itu? Tanpa adanya rasa takut. Vezda langsung tertuju pada bangunan 3 lantai dekat Vajra yang di atasnya ada 2 anak laki-laki seperti menggunakan kostum dengan akeseoris sayap.


“Aku yang akan terbang di depan kak Vajra.”


“Tidak. Aku yang akan terbang di depan kak Vajra.”


Apa? Mereka mau melompat? Yang benar saja. Vezda mendengar secara samar teriakan kedua anak alaki-laki itu yang berjarak sekitar 45 meter dan dengan cepat mengatur nafasnya untuk siap melompat ke arah anak-anak itu.


“Apa yang bocah-bocah itu lakuk–” Penjaga itu berkata dan seketika terdiam karena terkejut dengan Vezda yang sangat cepat menghilang dan meninggalkan debu di sekitarnya tepat setelah anak-anak itu melompat.


DAPAT! Sial aku lupa hanya memiliki 1 lengan. Vezda berhasil menangkap salah satu anak yang melompat, namun Vezda lupa kalau lengannya hanya 1 dan anak yang satunya terjatuh dengan bebas.


ZZZTT!!


Halilintar? Perasaan itu Vezda rasakan sesaat sebelum dirinya mendarat dengan aman dan anak yang 1 lagi menghilang dari pandangannya bersamaan dengan sebuah kilatan petir yang melewatinya.


Vezda bisa mendarat dengan aman dan teman-teman dari anak itu mendekati dia dan anak tersebut yang menangis. Vezda tidak bisa berkata apapun dan hanya mengusap kepala anak itu yang ketakutan dan melihat Vajra juga menenagkan sebentar anak yang dia tangkap lalu Vezda melihat Vajra berlari ke arahnya.


“Petualang, terima kasih banyak sudah membantuku.” Vajra berkata kepada Vezda.


“Ah iya. Aku hanya melakukan tugasku.” Vezda berkata kepada Vajra dan Vezda dapat melihat ekspresi wajah Vajra yang khawatir dengan anak-anak ini meskipun hanya bagian mulutnya saja.


“Aku sungguh-sungguh berterima kasih.” Vajra berkata hal tersebut.


“Aku juga membangun sebuah gambaran dimana anggota Aliansi Aliviah bukan aliansi yang sombong seperti yang orang lain bilang.” Vezda berkata sambil mengusap kepada anak yang dia selamatkan.


“Ah iya,” Vajra sedikit ragu karena dia mendengar kalau Vezda adalah anggota Aliansi Aliviah.


“Kalau begitu aku pamit dulu karena ada yang harus aku lakukan di kota.” Vezda berkata kepada Vajra dan langsung meninggalkan tempat kejadian dengan Vajra yang dikerumuni banyak anak-anak.


“Eh tunggu.” Vajra mencoba memanggil Vezda, tapi Vezda sudah berlari lebih dahulu dan tidak mendengar panggilan Vajra.


Aku belum sempat berkenalan dengannya dan kemampuannya itu sangat cepat. Begitulah yang dipikirkan oleh Vajra.

__ADS_1


Vezda berlari kembali ke gerbang kediaman Aliviah dan sudah ada Aleratha yang menunggunya di sana sepertinya Alertha sudah mendengar cerita dari penjaga gerbang karena Aleratha hanya tersenyum melihat susuk Vezda.


“Maaaf, Alretha.” Vezda meminta maaf kepada Aleratha karena membuat Aleratha  menunggu.


“Bukan masalah. Kamu juga menyelamatkan anak-anak itu ditambah Vajra juga sesekali suka membantu kita dalam menyediakan perbekalan, jadi tidak akan ada masalah apapun. Ayo kita menuju ke Aliansi Kyana.” Aleratha mengajak Vezda.


Akhirnya lengan yang Vezda tunggu-tunggu akhirnya selesai. Tanpa ada penutup apapun, prostetiknya terlihat sekali terbuat dari adamantium. Bahan pembuatannya itulah yang membuat Vezda terkejut karena itu bukan harga yang murah, tapi setidaknya Vezda bisa merasa lega sedikit karena 8 juta platine miliknya juga digunakan untuk pembayaran untuk pembuatan prostetik tersebut.


“Vezda, apakah kau masih merasa sungkan dengan lengan itu?” Aleratha bertanya kepada Vezda karena wajah Vezda penuh dengan rasa yang tidak enak karena harus merepotkan Aliansinya.


“Iya, tapi aku juga bersyukur kalau sampai detik ini aku bisa hidup.” Vezda berkata dan Aleratha tahu suara vezda berubah.


“Entah kenapa, aku selalu merasa kalau kamu adalah sosok yang sangat ditunggu oleh anggota lain. Kamu baru bertemu dengan kami dan sudah berani mengorbankan nyawamu. Di sisi lain kamu juga banyak membantu anggota lain tanpa melihat siapa dan dari mana aliansinya.” Aleratha berkata hal itu kepada Vezda sambil berjalan kembali ke marks mereka.


“Untukku dan Yvette sangat ingin kalau kita tidak bermusuhan satu dengan yang lain. Aku diberitahu untuk tidak memiliki hubungan apapun dengan Vajra, tapi aku tidak merasakan apapun dari Vajra saat bertemu dengannya. Aku tidak ingin terjadi apapun antara Aliviah dan Na’ava, tapi aku juga tidak mau meninggalkan atau menelantarkan siapapun hanya karena perbedaan aliansi.” Perkataan Vezda itu memberikan sebuah pengenalan yang lebih akan seorang Vezda untuk Aleratha.


“Ya, mungkin aku terlalu khawatir mengenai itu, tapi sepertinya kamu juga mengerti bagaimana cara kerja aliansi di Kota Femi.” Aleratha berkata dan dia merasa cukup tenang melihat wajah Vezda menjadi lebih baik dan bisa terbuka padanya.


Sepertinya aku memang ingin berbincang dengan Aleratha. Mungkin ini memang kesempatan yang bagus. Vezda berhenti sejenak dari perjalanannya dan melihat kedai kopi yang ada di sana.


“Vezda, ada apa?” Aleratha bertanya kepada Vezda karena secara tiba-tiba, Vezda berhenti.


“Aleratha, apakah kita ada waktu kosong sebentar? Aku sangat ingin berbincang sedikit lebih lama denganmu secara pribadi.” Vezda berkata kepada Aleratha.


“Hari ini aku memang ditugaskan untuk menemanimu. Memangnya apa yang mau kamu bicarakan?”


“Banyak hal.” Vezda hanya tersenyum kepada Aleratha.


Mereka berdua berjalan menuju ke kedai kopi yang berada di dekat mereka. Aleratha sendiri baru pertama kali menginjakkan kakinya di kedai tersebut meskipun dia sudah sering melaluinya. Kalau untuk Vezda, jelas itu adalah pertama kalinya, hanya saja itu bukan pertama kalinya dia datang ke kedai kopi.


“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” Aleratha bertanya setelah meminum kopinya.


“Aku ingin bertanya mengenai bagaimana seorang Vajra bertarung di dungeon dan beberapa petunjuk lainnya mengenai Vajra.” Hal yang dikatakan Vezda itu cukup mengejutkan Alerahta.


“Ada apa dengan Vajra?”


“Aku memiliki spekulasi, tapi sampai aku memiliki petunjuk lainnya, mungkin spekulasiku tidak bisa dianggap benar.” Jelas Vezda.


“Baiklah. Aku akan memberitahumu siapa dan bagaimana Vajra bertarung.” Aleratha mulai serius dalam menjelaskan.


Secara singkat Vajra bertarung dengan menggunakan katana yang mirip seperti Vezda. Kemampuan bertarungnya sangat cepat seperti kilat. Vajra juga jarang menunjukkan bilah pedangnya saat menyerang. Bilahnya lebih banyak terlihat saat dia menahan serangan musuh. Tapi suatu hal yang pasti adalah saat Vajra menggunakan sebuah serangan yang paling mematikan, tidak ada yang bisa melihatnya dan apa yang menjadi petunjuknya adalah hawa yang sangat berat dan suara halilintar yang terdengar setelah dia selesai menyerang. Bahkan dikatakan dia bisa melakukan gerakan tersebut berkali-kali tanpa menunjukkan bilah katana miliknya. Secara singkat, Vajra sangat cepat dan dia adalah 1 dari 2 petualang yang memiliki level 7. Perawakannya seperti manusia perempuan biasanya, hanya saja dia berbeda dengan anggota Aliansi Na’ava lainnya. Di saat anggota lainnya tidak ingin berurusan dengan siapapun yang tidak ada sangkut pautnya dengan Na’ava, Vajra sangat dekat dengan banyak orang dan sanga baik bahkan kepada petualang yang tidak 1 aliansi dengannya.


“Serangan yang sangat cepat dan menghasilkan suara halilintar setelah dia menyerang?” Vezda bertanya dan ada sesuatu yang terlintas di kepalanya.


“Iya betul. Bahkan kemampuan tersebut tidak bisa dikuasai oleh Samir yang merupakan Swordman paling hebat di Kota Femi.” Jelas Aleratha.


Sepertinya betul. Seharusnya itu adalah Shirokame Yui karena hanya dia yang dapat menggunakan serangan semacam itu dan dipersenjatai katana. Vezda berpikir keras karena kemampuan itu hanya dikuasai oleh Vajra.


“Kau menemukan sesuatu dari apa yang aku ceritakan?” Aleratha bertanya kepada Vezda.


“Sepertinya begitu, tapi aku juga masih belum yakin. Aku belum melihat wajah Vajra secara penuh, tapi kalau dari kemampuan yang kamu deskripsikan aku 90% yakin kalau itu adalah pengaturan pernapasan dan tubuh Dance of Roaring Thunder. Lalu kemampuan itu hanya dikuasai oleh 1 orang saja setahuku. Yaitu, kakakku sendiri.” Vezda berkata kepada Alerahta.


Kakak?! Tunggu sebentar Vajra adalah kakak dari Vezda? Tapi, kalau dia yakin dengan apa yang dia bicarakan itu, pengaturan pernapasan dan tubuh juga adalah kemampuan yang Vezda kuasai. Itu akan masuk akal mengingat mereka berdua menggunakan senjata yang sama. Aleratha terlihat terkejut dan berpikir dengan sangat keras.


“Tapi aku juga tidak cukup yakin karena aku belum tahu secara jelas siapa Vajra. Aku tetap harus melakukan konfirmasi kepada Archon Na’ava. Tapi, kalau memang benar itu adalah kakakku, aku sangat ingin berbincang dengannya setelah sekian lama terpisah.” Vezda berkata dan Aleratha merasakan kalau Vezda sangat berharap kalau Vajara itu adalah kakaknya dan Aleratha juga paham perasaan rindu akan keluarga yang Vezda Rasakan hari ini.


Kalau dipikir-pikir, sikap Vajra dan Vezda sangat serupa. Mereka tidak melihat darimana asal aliansi mereka berdua. Mungkin mereka memang bersaudara. Aleratha berpikir sambil menikmati kopi miliknya.


“Ngomong-ngomong, siapakan nama kakakmu? Kalau benar Vajra adalah kakakmu, seharusnya memiliki nama asli kan? Vajra itu adalah gelar miliknya.” Aleratha bertanya kepada Vezda.


“Ah iya. Namanya Yui Shirokame. Kalau kamu merasa aneh dengan namanya, kita tidak benar-benar memiliki hubungan darah, tapi sejak kecil, dia memang sudah merawatku seperti adiknya sendiri.” Jelas Vezda.


“Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi karena sudah masuk ke ranah pribadi.” Aleratha tidak melanjutkan pertanyaannya.


“Walaupun begitu, kamu akan jadi orang pertama untuk kuceritakan setiap hal yang aku alami.” Vezda mengatakannya dengan santai.


“Kenapa begitu?”


“Tentu saja karena kamu adalah sosok yang sangat spesial untukku, Aleratha.” Perkataan itu mengejutkan Aleratha.


Ini pertama kalinya ada seseorang yang berkata seperti itu kepadaku setidaknya secara langsung dan spontan. Mungkin dia memang sosok yang baik. Aku juga penasaran apa yang akan ayahku katakan jika aku terlalu dekat dengan seorang manusia. Aleratha tetap menjaga sikapnya dan tetap terlihat serius.


“Vezda, karena kamu bilang seperti itu apakah kamu mau berbincang dengan yang Bromner dan Laris? Aku sebenarnya penasaran, tapi mungkin mengenai dirimu dan kemampuanmu akan sangat efisien jika kamu mau menceritakannya kepada kita bertiga sekaligus.” Aleratha mengajak Vezda untuk berbincang bersama laris dan Bromner.


“Aku tidak keberatan, tapi tolong jangan sudutkan aku.” Vezda mengatakan hal itu dengan wajah yang sangat memelas.


“Aku tidak pernah menyudutkanmu, Vezda.” Aleratha berkata sambil tersenyum.


“Kamu tidak, tapi dengan kehadiran kalian secara bersamaan selalu memberikanku hawa yang berat. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.” Vezda berkata kepada Aleratha.


****

__ADS_1


__ADS_2