
“Samir, kita sudah kembali lagi ke lantai 50 ini setelah sekian lama. Apakah kamu siap menghadapi lantai 58 lagi seperti dulu?” Celia berkata kepada Samir yang berjalan tanpa ada ekspresi.
“Iya. Kita akhirnya bisa kembali lagi ke sini setelah sekian lama.” Samir berkata dengan senyumannya yang kecil dan nyaris tidak terlihat.
“Tunggu sebentar. Sepertinya sudah ada petualang lain yang kemari.” Laris, Kapten Aliansi Aliviah berkata kepada semua anggotanya.
“Sepertinya orangnya baru saja pergi sekitar 1 jam yang lalu, namun sangat cepat karena aku tidak bisa merasakan auranya.” Ragnulf yang merupakan werewolf mempunyai penciuman yang sangat tajam sehingga dia mengetahui tentang bekas api unggun yang ada di dekat mereka.
“Aneh, tapi memang hanya 1 orang yang sudah pergi dari sini.” Laris berpikir sejenak karena hanya ada 1 api unggun kecil, sedangkan untuk sampai ke lantai 50 bukan hal yang mudah bahkan untuk kelompoknya yang merupakan kelompok yang disiapkan untuk ekspedisi.
“Laris, tidak perlu bimbang atau apapun. Hanya ada 1 orang.” Ragnulf berkata kepada Laris.
“Betul. Namun, kita tidak perlu mencarinya atau apapun karena setiap lantai yang ada di 40 ataupun 50 sangat berbahaya.” Laris berkata kepada teman-temannya yang berada di garis depan. “Perhatian semuanya! Kita akan berkemah di sini dulu.” Laris memerintahkan semua anggota ekspedisinya untuk mempersiapkan kemah di lantai 50.
Aliansi Aliviah merupakan aliansi yang berfokus pada ekspedisi dan merupakan salah satu Aliansi terkuat dari Kota Femi. Saat ini Aliansi Aliviah akan melakukan ekspedisi menuju lantai 58 dan bertujuan untuk menaklukan lantai tersebut. Seluruh anggota dari Aliansi Aliviah memang tidak semuanya berada di level 5 atau 6, namun mereka semua sangat kuat dan solidaritas mereka tinggi serta dipimpin oleh kapten yang sangat pintar dalam pertarungan dan strategi.
“Samir, apakah kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?” Laris bertanya kepada Samir yang sudah duduk berlutut dengan muka yang bersalah.
“Iya. Aku tahu.” Samir berkata sedikit dan mengangguk.
“Lalu, kenapa kamu mengabaikan perintah untuk tetap di barisan pertahanan dan malah maju ke gerombolan monster?” Laris bertanya dengan serius kepada Samir.
“...” Samir tidak berkata apapun.
“Kami sangat paham kalau kamu itu kuat, tapi kamu tetap adalah anggota dari tim. Setiap tindakan yang kamu lakukan akan berpengaruh pada anggota yang lain.” Aleratha, adalah 1 dari 3 petualang level 6 di Aliansi Aliviah.
“Apakah posisimu saat ini mengganggumu?” Laris bertanya hal itu dan kata-kata itu sangat menusuk ke hatinya.
“Iya, Kapten. Maafkan aku.” Samir berkata dengan pelan.
Posisi pertahan berada di tengah sangat menahan Samir untuk maju ke garis depan. Samir sangat ingin menjadi lebih kuat, maka dia langsung menerjang gerombolan monster ke arah depan yang seharusnya menjadi tugas para garis depan.
“Jangan begitu, Laris. Samir juga meringankan tugas dari garis depan dan menyelesaikan gerombolan monster dengan lebih mudah.” Bromner yang juga merupakan anggota level 6 di aliansi berkata untuk membela Samir.
“Karena pada dasarnya aku juga membuat kesalahan saat berada di garis tengah dengan terlalu fokus merapal hingga sejenak lupa dengan garis pertahan dan garis belakang.” Aleratha juga berkata hal tersebut kepada Laris.
Meskipun Laris, Bromner, dan Aleratha adalah petualang level 6, mereka juga bisa melakukan kesalahan dan hal itulah yang mereka terus pelajari meskipun sudah berada di tahap yang tinggi sebagai seorang petualang.
“Samir, aku ingatkan sekali lagi kalau dungeon itu adalah tempat yang penuh ketidakpastian. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam dungeon ini. Apakah kamu mengerti, Samir?” Laris bertanya kepada Samir.
“Iya, aku mengerti dan aku minta maaf.” Samir berkata pelan.
“Baiklah kalau begitu. Kamu bisa kembali dan mempersiapkan tenda.” Laris berkata dan memperbolehkan Samir untuk pergi dari tenda utama.
Saat ini semua anggota ekspedisi Aliansi Aliviah sedang mempersiapkan pertahan pasif di lantai 50 dan setelah malam mereka berkumpul untuk melakukan penyebaran tim dan penyelesaian misi yang diberikan oleh Aliansi lain dan juga serikat. Setiap dari mereka bersenda gurau satru dengan yang lainnya, ada juga yang saling mendukung satu dengan yang lain, dan ada juga yang mempersiapkan apa saja yang bisa dipersiapkan untuk penyerangan ke lantai 58.
Setelah malam tiba, semua anggota berkumpul di sekitar api unggun yang cukup besar. Setiap dari mereka sudah mempersiapkan diri dengan baru sebelum pagi menyingsing untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh aliansi lain dan juga serikat.
“Baik, kita semua sudah berkumpul.” Laris memulai diskusi dengan seluruh anggota Aliansi Aliviah.
“Ekspedisi kita kali ini adalah untuk menaklukan lantai yang lebih dalam dari rekor kita sebelumnya dan juga menyelesaikan beberapa tugas yang sudah diambil. Calia, apa saja tugas yang sudah kamu ambil?” Laris melanjutkan diskusi mereka dan meminta Calia untuk menjelaskan tugas yang harus diselesaikan.
Calia bersama dengan Celia adalah wanita ras Kvenalf yang merupakan ras yang diisi dengan populasi wanita dan memiliki ciri khas kulit yang berwarna coklat. Ras ini bisa disebut sebagai wanita yang sangat kuat karena pada dasarnya mereka memiliki masa otot yang lebih dari manusia biasa meskipun terlihat seperti manusia biasa.
“Untuk tugas yang kita terima adalah permintaan dari Aliansi Kyana. Permintaannya ada Air Murni yang hanya ditemukan di area menengah dari lantai 51. Sementara itu, tugas yang Serikat berikan kepada kita adalah membawa ke permukaan 35 tanduk dari Humperdink.” Jelas Calia.
Air Murni ini berbeda dengan air yang biasa. Dalam pembuatan ramuan penyembuh ‘Elixir’, air murni sangat dibutuhkan agar menghasilkan Elixir dengan kualitas yang tinggi. Namun, karena sistem penyaringan air di permukaan hanya mendekati air murni 98%, maka saat ada kelompok ekspedisi menuju lantai 51, Aliansi Kyana yang bergerak di bidang kesehatan dan penyembuhan memberikan tugas kepada mereka. Tentu pembayarannya adalah sesuatu yang fantastis, yaitu 200 Elixir.
“Baik. Aku akan bagi 3 tim. Tim pertama adalah tim untuk berburu, tim kedua adalah tim yang akan mengambil Air Murni, dan tim ketiga adalah tim yang akan berjaga di sini.” Laris menyampaikan pembagian tim kepada setiap anggota ekspedisi.
“Tim pertama ada aku, Ragnulf, Bromner, dan Alfred. Kami akan fokus dalam pengumpulan drop item Tanduk Humperdink. Berikutnya tim kedua terdiri dari Samir, Celia, Calia, dan Syllia yang akan fokus dalam pengambilan Air Murni. Untuk tim ketiga yang akan berjaga di sini akan dipimpin oleh Aleratha dan dianggotai oleh yang lain selain tim pertama dan tim kedua.” Laris membagi setiap peran dan anggota untuk setiap tim.
Pembagian ini dilakukan Laris untuk membuat setiap tugas dapat selesai dengan baik dan juga efektif. Meskipun hanya ada 2 tim yang menyerang dan menyelesaikan tugas, setiap dari anggota tim adalah mereka yang kuat dan setiap tim terdiri dari 3 anggota elit. Jadi, penyelesaian misi akan lebih efektif serta 2 anggota lain yang diikutsertakan akan mendapat pengalaman yang berguna untuk kedepannya.
“Eh? Aku yang ditugaskan dan bukan Kak Aleratha?” Syllia terkejut karena dirinya dipilih untuk masuk tim 2 dan fokus pada pengambilan Air Murni.
__ADS_1
“Aku bertanggung jawab untuk pertahanan perkemahan. Kali ini kamu yang akan turun karena kamu juga adalah penerusku, jadi kamu harus belajar juga ya.” Aleratha berkata dengan tenang kepada Syllia.
Syllia adalah Elf muda yang sedikit ceroboh dalam banyak hal, namun di dalam lubuk hatinya dia tidak ingin menjadi beban untuk teman-temannya. Saat ini Aleratha melatih Syllia dan juga beberapa penyihir yang lain. Syllia adalah salah satu penyihir terbaik yang Aliansi Aliviah miliki. Meskipun hanya level 3, dia bisa meniru setiap sihir yang digunakan oleh ras Elf apapun itu. Bahkan Aleratha yang berada di level 6, sihirnya dapat digunakan oleh Syllia. Permasalahan dari Syllia adalah, Syllia sangat rendah diri.
“Ayo, Syllia. Kamu pasti bisa. Kamu juga harus percaya pada kami.” Celia berkata dengan ceria kepada Syllia.
“Iya, kamu harus percaya pada rekanmu yang lain.” Calia berkata dengan tenang.
“Ba-Baiklah.” Syllia berkata dengan pelan.
“Asik!! Kita bisa menjadi tim dan kita akan menyelesaikan tugas kita!” Celia bersorak sambil memeluk Calia, Samir, dan Syllia.
Aleratha sedikit tersenyum saat melihat mereka bisa bersorak. Aleratha sangat berharap pada Syllia dan Aleratha sendiri ingin melihat seorang Syllia tumbuh menjadi sosok yang pemberani dan percaya diri seperti rekan-rekannya yang lain. Di sisi lain juga, ini adalah kondisi yang cukup baik untuk membantu Samir agar dapat menolong teman-temannya yang lain.
“Kalau begitu, semuanya beristirahatlah. Kumpulkan setiap tenaga kalian untuk besok. Untuk Calia, temui aku di depan tenda utama.” Laris membubarkan diskusi malam itu dan memanggil Calia.
Calia dengan sangat senang menghadapi Laris dan ditemani wajahnya yang sangat berbinar ketika berada di hadapan Laris.
“Calia, aku akan berada di tim 1 bersama dengan Bromner dan Aleratha akan menetap di sini. Jadi, aku akan menyerahkan komando tim 2 kepadamu. Tolong bekerjalah dengan baik dan jangan merusak kepercayaanku padamu.” Laris meminta Calia untuk mengambil alih pimpinan tim 2.
“Baik. Aku tidak akan mengecewakanmu, Kapten.” Calia sangat sangat ceria dan menerima permintaan Laris.
Wajah berbinar Calia setiap kali berbicara dengan Laris adalah bukti sebuah cintanya pada Laris. Meskipun begitu, laris tetap menjaga profesionalitas saat bertugas. Meskipun setelah wajah berbinar Calia itu sedikit meragukan keputusannya, Laris tetap percaya pada Calia dalam memimpin tim 2.
***
Perjalanan tim 1 dan tim 2 menuju lantai 51 sudah dimulai. Tim 1 di awal bergerak bersama untuk menembus monster dan berpisah untuk pengalihan monster ke tim 1. Sementara itu tim 2 bergerak menuju sumber Air Murni dan diperbolehkan mengambil kristal ataupun drop item yang mereka dapat sebagai penghasilan untuk Aliansi ataupun pribadi. Dalam tim 1, Alfred sangat mudah membawa beban di punggungnya hingga berkali-kali lipat berat badannya, sehingga posisi mereka sangat menguntungkan untuk menyelesaikan tugas dari Serikat. Sementara di tim 2, Samir yang paling kuat dipercaya untuk memperlihatkan cara bertarung garis depan dan mempelajari cara untuk percaya pada rekan di bagian belakang.
“Wah, menyegarkan sekali ya setelah tidur yang nyenyak kita langsung turun untuk membantai monster untuk uang.” Celia berkata setelah di sekitar mereka tidak ada monster yang tersisa.
“Kalian harus lebih berhati-hati. Jangan lupa kalian adalah Garis depan dan jangan sampai terpisah dari garis pertahanan dan juga pendukung.” Calia berkata kepada Samir dan Celia yang maju terlalu dalam untuk menghabisi para monster.
Sementara mereka berkumpul kembali, Syllia mengumpulkan beberapa drop item dan memasukkan kristal yang monster jatuhkan ke kantung yang sudah dia siapkan. Meskipun begitu, Syllia terlihat sedikit memaksakan diri dengan berusaha membawa semua drop item yang ada karena Syllia tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukan itu.
“Benar. Tidak apa kalau kamu mau membawa drop item, tapi jangan memaksakan diri. Lagipula itu bukan fokus kita sekarang.” Calia memberi pencerahan kepada Syllia dengan tenang.
“Teman–teman! Lihat!” Celia memanggil teman-temannya dan mereka semua menghampiri tempat Celia.
Ternyata Celia menemukan sumber Air Murni. Jumlah yang bisa diambil sangat banyak, namuna kebutuhannya hanya 2 tempat yang sudah disiapkan Aliansi Kyana. Dengan cepat, Syillia langsung mengisi kedua tempat yang dia bawa sampai penuh. Sementara sesuatu yang aneh terjadi karena monster Humperdink di lantai 51 biasanya muncul dengan fase yang cepat, namun selama Syillia mengisi tempat dengan Air Murni, tidak ada satupun monster yang muncul.
“Aneh. Tidak ada monster yang muncul.” Calia berkata sambil mengamati sekitar.
“Iya. Perasaanku tidak enak.” Celia berkata sambil menyiapkan senjatnaya.
“Aku sudah selesai. Bagaimana sekarang?” Syllia datang saat Samir, Celia, dan Calia sedang berdiskusi.
“Kita akan melalui rute yang lain untuk kembali ke lantai 50.” Calia berkata dan langsung memimpin jalan menuju jalan keluar ke lantai 50 yang berbeda.
“Bagaimana kau bisa tahu mengenai jalan keluar yang lain, Calia?” Celia bertanya sambil terus berlari bersama tim 2.
“Karena sebenarnya petulang yang dulu pernah ada di sini membuat jalan rahasia untuk naik dan tidak ketahuan oleh monster. Itu dia jalannya.” Calia menjelaskan dan tepat setelah berlari sekitar 2 blok, mereka menemukan sebuah jalan kecil yang menuju ke lantai 50 dan tidak bisa diakses oleh monster lain selain monster yang terbang.
Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menaiki jalan tersebut dimulai dari Calia, Syillia, Celia, dan terakhir Samir. Mereka terkejut melihat daerah lantai 50 diserang monster yang berbentuk ulat berwarna biru.
“Tunggu sebentar, Monster apa itu? Spesies baru?” Celia terkejut dan monster itu langsung mengalihkan perhatiannya ke tim 2.
Dengan cepat, Samir, Celia, dan Calia menyerang beberapa monster yang akan mendekati mereka. Mereka semua terkejut karena monster tersebut dapat menyerang menggunakan cairan asam dan juga jika diserang, darah monster tersebut adalah cairan asam.
“Devastator!!! Tidak mungkin.” Celia panik saat melihat pedangnya meleleh karena darah monster tersebut padahal pedangnya itu terbuat dari titanium yang paling kuat.
“Pedangku tidak apa, sepertinya ini hanya beberapa monster yang terlempar dari garis depan. Kita harus langsung berkumpul di sana.” Samir memberi arahan untuk menuju kemah dan garis depan pertahan kemah.
***
Di sisi lain, Tim 1 sudah sampai terlebih dahulu ke kemah melalui jalan utama. Mereka juga terkejut dengan monster-monster yang baru pertama kali mereka lihat tersebut. Namun, mereka berusaha membunuh monster-monster itu dengan cepat dan tidak menanamkan senjata mereka sehingga tidak ada permasalahan dengan cairan asam itu. Permasalahannya adalah, jumlah monster yang datang itu terlalu banyak.
__ADS_1
“Alfred, mundur dan bantu para pendukung lain.” Laris memerintahkan Alfred untuk mundur.
“Baik!” Alfred langsung berlari menuju Garis belakang.
“Laris, mereka tidak ada habisnya.” Ragnulf mulai mengeluh dan terus mendorong mundur semua monster yang ada serta berusaha untuk tidak terkena darah ataupun serangan dari Monster tersebut.
Untuk sementara Laris, Ragnulf, dan Bromner menghalau monster-monster itu dan meminimalisir kerusakan dari perlengkapan mereka yang terbatas. Jadi, mereka bertiga berusaha untuk memukul mundur setiap monster itu agar memberikan waktu untuk setiap penyihir dapat membantu mereka.
“Laris!” Aleratha datang dan membantu mereka dengan menembakkan panah.
“Alertaha! Dimana penyihir yang lain?” laris bertanya di tengah pertaringannya.
“Mereka tidak bisa maju karena kerusakan juga terjadi di kemah dan cukup banyak yang terluka.” Jelas Aleratha dengan cepat.
Kondisi pertarungan semakin memburuk karena mereka mulai terpukul mundur ke kemah dan monster itu merayap hingga ke langit-langit dungeon. Semua monster itu sudah hampir menutupi setengah dari Lantai 50.
“Zephyr.” Mantra angin milik Samir terdengar dan dengan cepat langsung memotong setiap monster yang dihadang oleh Ragnulf, Bromner, dan Laris.
Setelah itu, Celia dan Calia langsung menerjang monster-monster itu dengan tangan kosong mereka. Mereka berdua memiliki julukan resmi ‘Savage Berserker’. Sebutan itu karena mereka memiliki sihir penguatan diri ‘Berserker’ yang membuat mereka mengkonversi kerusakan yang mereka alami menjadi serangan yang sangat kuat. Dengan kata lain, semakin besar kerusakan dan rasa sakit yang mereka terima maka kerusakan yang bisa mereka hasilkan akan semakin kuat. Namun, bukan berarti mereka imun terhadap kerusakan yang dihasilkan monster atau siapapun yang menjadi musuhnya. Mereka tetap bisa mati, hanya saja lebih lama untuk sampai benar-benar mati.
Smentara mereka bertarung, Syllia gagal menggunakan sihirnya karena ketakutan dengan monster yang akan menyerangnya. Itu membuatnya hampir menghasilkan ledakan karena ketidak seimbangan mana yang digunakan.
“Syllia, kamu harus percaya dengan rekanmu sendiri yang bertarung.” Aleratha berkata kepada Syllia.
“Maafkan aku.” Jawab Syllia dan Aleratha hanya tersenyum kecil.
“Fire, the guide in the dark.” Alreatha mulai menggunakan mantra sihirnya sambil memegang tongkat sihirnya.
Saat itu juga Syllia melihat gurunya, Aleratha menggunakan sebuah sihir yang bahkan untuk dirinya sangat sulit untuk digunakan. Aleratha adalah penyihir terkuat di Kota Femi dan itu bukan omong kosong belaka.
“The strength for those who desire. Soon, will come for destruction.” Di bawah mereka muncul lingkaran sihir milik Aleratha dan berwarna merah api.
“The end of all war, the end of suffering, the light in the dark.”
Banyak monster yang langsung menuju Aleratha karena sihirnya yang menarik perhatian monster dan semua yang berada di garis depan mencoba untuk menahan setiap monster yang datang.
“The resonance of scorching flame. Burn every enemy. Ash and dust will be thy reward.” Aleratha membuka matanya dan semua di sekitarnya sudah beraura merah seperti api.
“Semuanya, mundur ke belakang Aleratha!” Laris memerintahkan semuanya untuk mundur.
Samir membunuh monster terakhirnya lalu mundur. Celia dan Calia keluar dari tubuh monster dan mundur. Ragnulf dan Bromner langsung mundur setelah memukul mundur monster dengan kekuatan yang besar untuk memberikan waktu kepada Aleratha.
“My name is Aleratha.” Seluruh area yang berada di depan Alertha ditandai seperti ada jalan api baik di bagian bawah maupun di langit-langit dungeon lantai 50 dan suhu di depan mereka menjadi sangat panas.
“LEEGI TORN!” Aleratha mengarahkan tongkatnya kedapan dan munculah pilar api yang sangat panas di semua tempat yang berada di depannya dan membakar semuanya yang ada di sana sampai tidak ada monster yang tersisa.
Setelah pilar api itu menghilang semuanya menjadi lebih tenang, namun Laris tetap merasakan sesuatu yang aneh. Meskipun sudah selesai, tapi dia merasakan sesuatu yang lain dan dia tahu itu adalah hal yang berbahaya.
“Tetap siaga!” Semuanya kembali pada posisi bersiaga masing-masing.
“Ada sesuatu yang terbang ke arah kita!” Celia menunjuk sesuatu yang tebang mendekati mereka.
“Itu.. Ragnulf, tangkap dia. Itu petualang yang sekarat.” Laris langsung memerintahkan Ragnulf untuk menangkap petualang yang terlempar sangat jauh tersebut.
Ragnulf langsung melompat untuk menangkap petualang tersebut. Namun, karena kekuatan terlemparnya petualang itu sangat kuat, Ragnulf juga terhempas bersama petualang itu dan mendarat dibelakang Aleratha. Semuanya melihat sosok petualang itu yang lengan kirinya sudah putus, beberapa perlengkapannya sudah hancur, dan juga dua parang yang tersambung dengan rantai dan berlumuran darah. Lebih buruk lagi kondisi petualang itu tidak bernafas.
“Aliviah. Senang bertemu dengan kalian di sini.” Suara itu terdengar jelas meskipun jarak mereka cukup jauh dari pintu masuk menuju lantai 51.
“Suara itu!?..” Aleratha terkejut mendengar suara tersebut.
“Carlos.” Laris tahu persis suara itu.
Seorang petualang yang sudah lama mati karena kejadian abnormal di dalam dungeon. Sekarang dia kembali, namun bukan sebagai manusia. Melainkan sebagai seekor monster yang sangat kuat.
***
__ADS_1