
Pagi dimana matahari belum bersinar, Vezda sedang berlatih dengan pemanasan terlebih dulu. Masih belum ada siapapun di sana dan hanya ada Vezda sendiri. Vezda menghindari latihan meditasi hari ini karena emosinya yang masih bergejolak setelah pernyataan cintanya kemarin dan pastinya semua anggota aliansi sudah tahu kalau dia sekarang menjalin kasih dengan Aleratha.
“Gawat. Aku tidak bisa fokus sama sekali.” Vezda berkata sambil mengayunkan pedangnya sebagai pemanasannya.
“Ah betul. Sudah lama aku tidak melakukan tarian yang sesungguhnya.” Vezda akhirnya tersadar dengan Dance of Scorching Fire yang juga bisa diasosiasikan sebagai tarian yang sesungguhnya.
Vezda langsung mengambil katana yang biasa dia gunakan dan memulai pemanasan untuk tangan, tubuh, dan kakinya agar bisa memberikan sebuah gerakan yang bagus dan mengalir dengan lancar. Seluruh cabang yang didalami oleh semua orang yang belajar berawal dari Scorching Flame. Namun, meskipun semua orang bisa menguasai cabang yang lain, bukan berarti mereka bisa menggunakannya menjadi sebuah tarian meskipun beberapa gerakan yang dihasilkan dari cabang yang didalami itu sangat indah.
“Heaven, bless this weapon. Purgatory comes to those who oppose you. Let this flame blazing through darkness. Judgement.” Vezda menggunakan mantra api untuk menyelimuti pedangnya.
Sebuah tarian yang aku pelajari hingga menjadi sebuah teknik yang sangat mematikan. Sebelumnya aku sangat ragu untuk melakukan ini karena aku teringat akan semua teman-temanku di Aliansi Yvette, tapi aku harus bisa melepaskan mereka. Suatu saat mungkin aku akan bertemu dengan mereka lagi. Vezda sejenak berdiam diri sambil memejamkan matanya sambil mengingat semua gerakan tarian tersebut.
Dengan mengangkat pedangnya yang menyala dengan api, dia melangkah dan posisinya berada di tengah area latihan yang luasnya sama dengan halaman depan. Lalu dengan tenang Vezda memulai gerakannya. Semua gerakannya masih kaku, tapi setelah berjalan beberapa menit, semua gerakan Vezda menjadi lebih mengalir secara natural. Suasana yang tenang dan hanya suara jangkrik yang menemani tariannya. Semua lompatannya, semua gerakan pedangnya, dan semua yang menjadi gerakannya sangat kuat tanpa adanya penurunan stamina meskipun Vezda sudah melakukannya selama 2 jam hingga matahari sudah cukup terik.
Sudah berapa jam aku melakukan ini dengan mata tertutup? Aku sama sekali tidak sadar. Mungkin sudah ada beberapa yang melihatku latihan, tapi aku bisa jauh lebih fokus dan tenang. Sesekali melakukan tarian ini diluar akhir tahun ternyata tidak pernah ada salahnya. Vezda mengakhiri tariannya dengan mematikan api dari pedangnya dan memasukkannya kembali ke tempatnya yang ada di pinggang kirinya. Diakhiri dengan dirinya menghela nafas perlahan dan asap bisa terlihat jelas keluar dari mulutnya.
“He–HEBAAATTT!” Semua yang melihat tarian Vezda itu bersorak dan bertepuk tangan setelah melihat keindahan semua gerakan yang sudah Vezda selesaikan.
“Heeeee!!??” Vezda terkejut karena dia tidak menyangka kalau hampir seluruh anggota aliansi melihat dirinya yang baru selesai menari dengan pedangnya.
“Vezda, beristirahatlah dan ambil bagian sarapanmu. Kamu sudah melakukan itu lebih dari 2 jam.” Aleratha berkata dan menghampiri Vezda.
“Ah baru 2 jam ternyata?” Vezda bertanya dengan bingung.
“Iya, memangnya kamu sering melakukan tarian seperti itu?” Aleratha bertanya.
“Tidak sering, tapi setiap menjelang tahun baru dulu aku melakukan tarian ini sekitar 6 jam tanpa henti.” Vezda menjawab Aleratha dengan santainya.
“Aku tidak terkejut apalagi mendengarkan pernapasan yang sangat teratur.” Aleratha berkata kepada Vezda sambil tersenyum.
“Teman-teman, maafkan kalau aku mengambil terlalu banyak waktu dan tempat area berlatih. Silahkan untuk yang mau berlatih bisa berlatih dulu.” Vezda berkata kepada semua anggota yang masih senang dengan tarian yang Vezda lakukan.
“BAIK!!” Banyak menjawab perkataan Vezda dan Vezda beranjak menuju ruang makan bersama dengan Aleratha.
“Kamu bangun lebih pagi dari biasanya. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Aleratha bertanya kepada Vezda.
“Sepertinya mimpiku terlalu indah sampai aku memilih untuk bangun daripada hal-hal yang tidak diinginkan bisa kulihat.” Vezda berkata dan Aleratha sudah bisa menebak kemana arah perkataan Vezda.
“Aku tidak akan menyalahkan. Aku juga terlalu senang sampai aku hampir tidak bisa tidur. Meskipun begitu, kita harus lebih membiasakannya. Kedepannya mungkin kita akan bertengkar dan banyak hal lainnya menanti. Jadi, tetap bersikap dengan baik.” Aleratha berkata kepada Vezda dan itu justru membuat Vezda menjadi lebih tenang.
***
Setelah sarapan dan berbincang bersama banyak anggota yang lain di ruang makan, Vezda berpisah dengan Aleratha karena Vezda akan menuju tempat berlatih untuk melihat apakah Catherine dan Alfred ada di sana. Sementara itu, Aleratha mau memulai pembelajaran teori dengan beberapa penyihir baru dan beberapa Magic Swordmen.
“Yo, Vezda.” Celia memanggil Vezda yang sedang menuju tempat berlatih.
“Celia, Syllia.” Vezda melihat kalau Celia bersama Syllia.
“Kamu mau ke tempat berlatih lagi?” Celia bertanya kepada Vezda karena sebelumnya Vezda sudah berlatih tanpa henti.
“Iya. Aku mau melihat apakan Catthy dan Alfred sedang berlatih atau tidak. Aku ingin coba melatih Catthy dan Alfred melawan Samir.” Vezda berkata kepada mereka berdua.
“He Samir? Bukannya Samir sudah level 6 dan mereka berdua masih level 4?” Celia melanjutkan perkataannya.
“Kita lihat nanti. Kemampuan mereka berdua sekarang mungkin bisa mengimbangi kemampuan bertarungmu dan juga Samir.” Vezda mengajak Celia dan Syllia untuk melihat ke tempat latihan.
Saat Vezda, Celia, dan Syllia sampai ke tempat latihan, mereka melihat Catherine dan Alfred sedang berlatih bersama dengan menggunakan pedang kayu yang pernah Vezda berikan sebelumnya. Mereka bertika melihat kemampuan bertarung Catherine dan Alfred yang berubah dan jauh lebih berhati-hati dalam menyerang. Saat itu juga terlihat Samir yang sepertinya masih murung dan entah kenapa.
“Samir? Apa yang terjadi?” Vezda bertanya kepada Samir yang sedang duduk dan murung.
“Petualang baru itu kebur lagi setelah aku di dekatnya.” Samir berkata dengan lemas.
“Ah. Baiklah aku mengerti. Aku mau meminta tolong untuk kamu berlatih sparring melawan Alfred dan Catthy. Apakah kamu mau?” Vezda bertanya kepada Samir dan wajah Samir terlihat bingung.
“Aku mau, tapi bukannya mereka masih level 4?” Samir bertanya kembali.
“Tidak apa. Kamu gunakan pedang kayu ini saja untuk melawan mereka. Mereka juga harus bisa menghadapi seseorang atau monster yang memiliki level lebih tinggi dari mereka.” Jelas Vezda dan memberikan pedang kayu miliknya.
“Baiklah.” Samir berkata dan berdiri untuk menuju tempat latihan sambil menitipkan pedangnya kepada Vezda.
__ADS_1
“Alfred, Catthy. Kemari sebentar.” Vezda meminta Catherine dan Alfred untuk menghampirinya.
“Ada apa Vezda?” Catherine bertanya kepada Vezda.
“Kalian berdua sudah menguasai secara mendasar pengaturan pernapasan dan tubuh dengan cabang yang kalian pelajari masing-masing. Sekarang aku mau kalian sparring 1 lawan 2 melawan Samir.” Vezda berkata kepada Mereka berdua.
“Tapi, bukannya Samir sudah level 6?” Alfred terlihat ragu.
“Ini untuk latihan mental kalian berdua dan juga membuat kalian memikirkan taktik untuk menyerang musuh yang lebih kuat. Juga untuk menyelaraskan serangan kalian. Free Wind dan Flowing Water biasanya sangat sulit untuk bekerja sama, tapi kalian harus bisa menguasai itu.” Jelas Vezda kepada mereka berdua.
“Kalian juga harus menjadi kuat untuk dapat melindungi teman-teman yang lain.” Samir berkata juga ekapada Catherine dan Alfred.
“Baik. Kami akan berusaha.” Alfred berkata kepada Samir dan Vezda.
“Baik. Kalau begitu kalian bertiga silahkan mengambil posisi. Aku akan berada di dekat kalian bertiga kalau ada sesuatu yang terjadi.” Vezda berkata dan mereka bertiga mengambil posisi untuk bertarung.
Vezda sudah mengira meskipun Alfred dan Catherine menjadi lebih kuat karena pengaturan pernapasan dan tubuh, mereka tetap gemetar kalau harus melawan sosok yang sangat kuat di hadapan mereka. Tentunya ini adalah sebuah latihan yang Vezda memang arus berikan kepada mereka berdua sebelum mereka berdua bisa melatih yang lain.
“Pernapasan kalian terlalu dangkal, dalam situasi hidup atau mati kalian harus bisa tenang.” Samir berkata dan bersiap untuk menyerang.
Alfred dan Catherine memperlambat pernapasan mereka dan menjadi lebih tenang. Meskipun mereka takut, mereka tetap berdiri tegak di hadapan lawan yang lebih kuat mereka. Tatapan Samir juga cukup serius. Lalu, serangan Catherine dan Alfred mulai meluncur. Vezda terkejut melihat setiap gerakan mereka yang selaras dan saling melindungi. Pada umumnya gerakan mereka saling bertolak belakang dimana Catherine jauh lebih agresif dan Alfred jauh lebih tenang, meskipun begitu setiap gerakan mereka selaras dan mereka berusaha untuk tetap saling melindungi. Sayangnya Samir tetap lebih kuat dari mereka dan masih bisa memukul telak Alfred dan Catherine dalam 1 serangan beruntun.
“Gerakan kalian selaras, tapi kalian masih melakukan beberapa gerakan yang tidak penting. Bergeraklah dengan efektif.” Samir berkata sambil menunggu Alfred kembali berdiri.
“Kamu benar-benar melatih mereka dengan baik, Vezda.” Celia terkejut melihat Alfred dan Catherine menjadi lebih kuat meskipun mereka berdua tetap dikalahkan oleh Samir.
“Kak Vezda, apa ini hasil dari latihan pengaturan pernapasan dan tubuh?” Syllia juga terkejut melihat hasil dari latihan mereka.
“Betul. Seharusnya nanti semua yang berada dibawah level 4 akan menerima pelatihan itu juga. Aku yakin kamu juga membutuhkannya meskipun tidak melakukan pertarungan jarak dekat dengan intensitas yang sering.” Jelas Vezda kepada Syllia.
“Lalu bagaimana untuk kami yang berada di level 5 atau 6?” Celia bertanya kembali sambil melihat Allfred, Catherine, dan Samir berlatih.
“Aku hampir selesai menulis salinan petunjuk pelatihan pengaturan pernapasan dan tubuh untuk bisa dipelajari oleh anggota elit yang lain. Lagipula untuk saat ini kalian sudah cukup tanpa pengaturan pernapasan dan tubuh.” Vezda menjelaskan kepada Celia.
“Syllia, apakah kamu lupa ada pembelajaran hari ini?” Suara Aleratha itu mengejutkan Syllia hingga Syllia sedikit ketakutan.
“EEEK!!” Syllia terkejut dan Vezda hanya tertawa melihat Syllia yang sudah dihampiri oleh Aleratha.
“Maaf kak. Aku ingin melihat Kak Samir.” Syllia berkata kepada Aleratha.
“Kebiasaan anak ini tidak pernah hilang.” Aleratha berkata kepada Vezda.
"Aleratha, mungkin kali ini biarkan saja Syllia memperhatikan pertarungan ini karena Syllia juga harus belajar dari mereka." Vezda berkata kepada Aleratha.
"Baiklah. Ini juga tidak ada salahnya." Jawab Aleratha sambil memperhatikan juga pertarungan Samir melawan Alfred dan Catherine.
Sementara mereka berbincang, pertarungan mereka bertiga semakin sengit ternyata. Samir sebenarnya berusaha untuk tetap menahan kekuatannya agar tidak menyerang Alfred dan Catherine dengan kekuatan penuhnya, tapi sepertinya itu sangat sulit untuk Samir. Namun, baik Alfred dan Catherine menunjukkan kalau mereka tidak mudah untuk dikalahkan sekarang.
Dance of Free Wind - Wind Cutter. Usaha terakhir dari Catherine adalah mempercayakan keselarasannya dengan Alfred.
Dance of Flowing Water - Waterfall Dragon. Alfred menunda sebentar serangannya setelah gerakan Catherine dimulai.
Serangan Vertikal dari Catherine sudah hampir masuk dan Alfred tepat di belakang Catherine. Posisi itu membuat Samir hanya bisa melihat Catherine. Serangan Alfred merupakan serangan dengan lebih dari 1 tebasan. Tepat setelah pedang kayu Catherine menyentuh pedang kayu Samir, Alfred datang dari kanan Catherine dan memukul lutut Samir agar berlutut lalu masuk ke antara Catherine dan Samir lalu melakukan tebasan vertikal untuk menurunkan tangan kanan Samir. Serangan itu berhasil menurunkan tangan Samir dan pedang kayu Catherine mengenai bahu Samir. Tentunya Catherine mengurangi kekuatannya sehingga saat pedang kayunya menyentuh bahu Samir, itu tidak terasa apapun.
“Hah hah hah…berhasil.” Alfred kesulitan mengatur nafasnya karena terlalu lama menahan nafas dalam serangannya.
“Kalian berdua sangat hebat.” Samir tersenyum dan berdiri membantu Catherine.
“Ini pertama kalinya kita bisa menyerang balik Samir.” Catherine berkata sambil dibantu oleh Samir berdiri karena kelelahan.
Bukan hanya Samir yang terkejut dengan kemajuan mereka. Semua yang memperhatikan mereka bertiga berlatih, terkejut melihat cara penyerangan Alfred dan Catherine yang sebelumnya mereka hanya menyerang seperti seorang pengguna pedang biasa, sekarang mereka berdua menggunakan gerakan yang sangat indah dan kuat.
“Catthy, Alfred. Selamat kalian akhirnya berhasil menyerang Samir meskipun ada pengorbanan yang harus dilakukan.” Vezda menghampiri Catherine dan Alfred bersama dengan Celia.
“Iya betul. Kalian hebat sekali. Memang kapten dari tim 2 sangat hebat.” Celia benar-benar takjub dengan kemajuan Alfred.
Catherine dan Alfred langsung mengambil posisi berbaring bersebelahan dan mereka terlihat sangat kelelahan karena serangan terakhir mereka. Vezda langsung menaruh tangannya ke atas dada Catherine dan Alfred.
“Atur nafas kalian dengan tenang dan jangan terburu-buru. Hirup dengan pelan dan dalam dari hidung dan keluarkan perlahan dari mulut.” Vezda berkata den merasakan detak jantung mereka sangat cepat.
__ADS_1
“Vezda, mereka hanya menggunakan gerakan itu dengan cepat, tapi kenapa mereka bisa sampai kelelahan seperti ini?” Samir bertanya kepada Vezda.
“Mereka menghirup banyak oksigen dan menyebarkannya ke seluruh tubuh 20 kali lebih cepat dari yang biasanya. Saat serangan terakhir, mereka menahan nafas, tubuh mereka akan panas, dan detak jantung mereka melebihi 200 per menit. Namun, karena mereka pertama kalinya merasakan ini, mereka hanya bisa bertahan beberapa detik saja.” Vezda menjelaskan kepada Samir sementara Alfred dan Catherine masih mengatur nafas mereka.
Saat Keadaan mulai tenang detak jantung mereka kembali turun menjadi normal. Tubuh mereka berkeringat dan masih panas karena serangan terakhir yang baru saja mereka lakukan. Aleratha yang melihat wajah Alfred dan Catherin yang sangat berkeringat juga langsung menghampiri mereka bertiga untuk memeriksa kondisi mereka berdua bersama dengan Celia dan Syllia.
“Suhu tubuh kalian sangat panas.” Aleratha berkata kepada Alfred dan Catherine steelah memegang dahi mereka berdua.
“Tapi, kami benar-benar baik-baik saja. Kami tidak demam.” Alfred berkata kepada Aleratha.
“Kalian berdua beristirahatlah dulu. Suhu tubuh tinggi kalian memang bukan karena demam, tapi tetap kalian harus beristirahat beberapa jam agar suhu tubuh kalian bisa kembali normal.” Jelas Vezda.
“Vezda, apakah ini hasil dari pelatihanmu? Determinasi mereka bisa sampai mengalahkan Samir yang merupakan level 6.” Aleratha bertanya pada Vezda.
“Betul dan ini adalah hasil kerja keras mereka.” Vezda mengusap kepala Catherine dan Alfred.
“Vezda, kali ini aku berjanji untuk bisa mengejar yang lain dan menjadi kapten seperti yang seharusnya di kelompok 2.” Alfred berkata kepada Vezda.
“Dasar.” Catherine hanya berkata singkat dan tersenyum.
Lalu Vezda membantu mereka berdua berdiri dan semua anggota yang lain membantu untuk menyiapkan beberapa medikasi untuk menurunkan panas mereka berdua. Karena bukan demam, mereka seharusnya bisa pulih dengan sangat cepat. Setelah mereka berpisah, Syllia, Aleratha, dan Vezda berjalan bersama menuju ruangan belajar yang digunakan untuk melatih para penyihir yang ada di Aliansi Aliviah. Pengetahuan akan sihir dan petualangan adalah senjata yang sangat hebat setelah informasi di dalam pertempuran.
“Syllia, apakah kamu tahu apa yang dilihat oleh Alfred dan Catherine saat melawan Samir?” Vezda bertanya kepada Syllia karena dia terlihat bingung saat melihat bagaimana mereka berdua bisa melihat serangan yang sangat cepat dari Samir.
“Tidak. Aku juga penasaran. Aku yakin Samir jauh lebih cepat dari mereka, tapi mereka berdua seakan bisa melihat gerakan Samir yang cepat.” Syllia menjawab dengan singkat.
“Saat mereka dalam kondisi seperti itu, mereka masuk ke dalam fase Hyper Perspective dimana semua yang mereka berdua lihat menjadi sangat-sangat lambat dan mereka bisa bergerak dengan cepat untuk menghindari atau menangkis serangan Samir yang juga sangat cepat.” Jelas Vezda.
“Mereka bisa melakukan itu meskipun masih di level 4 ya?” Aleratha juga sedikit terkejut mendengar penjelasan Vezda.
“Sayangnya mereka baru bisa melakukan itu sebentar saja. Tapi jika mereka bisa naik ke level 5 atau menguasai dengan sempurna pengaturan pernapasan, mereka bisa secara konstan melihat banyak hal dalam sudut pandang Hyper Perspective.” Jelas Vezda.
“Selain iu, justru aku sangat terkesan melihat betapa percaya dirinya Alfred. Biasanya dia takut untuk menghadapi Samir, tapi tadi dia melawannya tanpa ada rasa takut.” Aleratha berkata kepada Vezda.
“Dia selalu takut kalau harus berhadapan dengan Samir, tapi saat itu dia paham kalau mundur bukan pilihan dan tekad dia untuk menjadi lebih kuat sangat besar.” Jelas Vezda.
“Sepertinya aku terlalu khawatir mengenai pelatihanmu untuk mereka.” Alertha berkata kepada Vezda.
Mereka bertiga sampai di ruangan belajar untuk memulai pembelajaran singkat mengenai banyak pengetahuan yang dibutuhkan dalam dungeon ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Tidak lama dan pelajarannya cukup padat. Bahkan meskipun Aleratha dan Vezda berpacaran, Aleratha tidak memberi kelowongan apapun untuk Vezda. Namun, nampaknya, tidak ada hal yang mengganjal Vezda sama sekali karena Vezda tetap mengikuti setiap pengajaran Aleratha.
“Mereka tidak terlihat seperti berpacaran bukan?” Alise bertanya dengan suara yang sangat pelan kepada Syllia.
“Haha. Terlihat seperti itu, tapi mereka memiliki cara sendiri untuk berkomunikasi sebagai sepasang kekasih.” Syllia hanya tersenyum.
“Aku sangat yakin kamu masih mendapat hasil yang kurang dalam tes, Alise.” Aleratha berkata kepada Alise karena sebenarnya Aleratha mendengar semuanya dengan jelas.
“Ekkk. Maafkan aku kak.” Alise berkata kepada Aleratha.
“Kalau begitu fokus pada pembelajaran yang ada.” Aleratha memberi perintah kepada Alise.
“Baik.” Jawab Alise.
Vezda bisa merasakan tegangannya di ruangan itu karena Aleratha benar-benar serius dalam mendidik setiap anggota yang ada. Sangat berbeda jauh dengan cara melatih Bromner yang jauh lebih santai. Hal itu tidak heran karena Aleratha pada dasarnya memang seorang High Elf yang sangat serius.
Nephilim? Ini memang pengetahuan dasar, tapi ini terlalu dangkal untuk sekedar pengetahuan. Nephilim yang hidup di kota sekarang hanya nephilim biasa dan tidak memiliki sihir yang kuat selain untuk kabur, bersembunyi, ataupun memeriksa status dari perlengkapan. Bahkan penjelasan singkat mengenai Zephyrus masih terbilang terlalu singkat karena hilangnya Zephyrus sebenarnya karena menghancurkan Great Grey Dragon, Nilzrot. Tunggu sebentar. Vezda secara tiba-tiba terdiam saat membaca mengenai Nephilim.
Vezda mengetahui hal tersebut karena memang pernah mempelajarinya. Cerita tersebut jauh sebelum Primordial Archon turun dari surga. Mungkin terdengar seperti dongeng, tapi memang seperti itulah adanya.
“Aleratha, apakah memang penjelasan Nephilim hanya sebatas hilangnya Zephyrus di medan perang melawan monster?” Vezda bertanya kepada Aleratha.
“Iya hanya sampai di situ.” Jawab Aleratha.
“Bahkan tidak ada informasi lain di ras Elf?” Vezda bertanya seakan dia mengetahui sesuatu dan Aleratha sadar tentang hal tersebut.
“Tidak ada. Catatan sejarah Elf habis terbakar saat penyerangan Archon Rex dan pasukannya.” Jawab Aleratha.
“Baiklah. Aku mengerti. Terima kasih Aleratha.” Vezda kembali fokus untuk mempelajari hal lain.
Sepertinya memang harus berhadapan dengan orang tua yang 1 itu. Aku sangat malas jika harus berhadapan dengan orang *tua*itu. Vezda sebenarnya tidak mau berurusan dengan Rex lagi sejak dulu. Bahkan Ailas sendiri pernah menyarankan Vezda untuk tidak berurusan dengannya secara langsung.
__ADS_1
***