
Vezda sudah selesai diperiksa oleh tabib terbaik dari Aliansi Kyana. Lengan prostetik miliknya akan selesai besok dan Vezda bersama Alertaha dapat meninggalkan tempat pemeriksaan Aliansi Kyana dengan lebih cepat. Entah kenapa Vezda merasakan kalau posisi dirinya hanya berdua dengan Aleratha adalah sebuah posisi yang direncanakan. Karena Vezda ingat seharusnya bukan hanya mereka berdua yang akan datang ke Aliansi Kyana.
“Vezda, kenapa kamu terlihat begitu gugup sejak kita berangkat ke Aliansi Kyana?” Aleratha bertanya kepada Vezda.
“Ah, tidak. Aku baik-baik saja.”Vezda berusaha menutupinya.
“Jangan bohong, Vezda. Aku sudah hidup 125 tahun dan mengamati banyak tingkah laku manusia.” Aleratha menjelaskan kepada Vezda.
“Aku tidak mau menceritakannya.” Vezda berkata kepada Alerataha dengan muka yang memerah.
“Apakah kamu merasa tidak enak berjalan berdua bersama High Elf sementara kamu adalah manusia?” Aleratha bertanya kepada Vezda.
“Tidak. Aku tidak merasa seperti itu. Aku justru senang bersama denganmu.” Vezda berkata kepada Aleratha.
DEG!!! Vezda tiba-tiba terperanjat karena sesuatu. Tanpa pikir panjang, Vezda langsung mengeluarkan pedangnya dan memperhatikan setiap hal yang ada di sekitar dirinya dan Aleratha. Perasaan itu adalah perasaan yang sangat nyata untuk Vezda.
“Vezda, ada apa?” Aleratha pun terkejut melihat sosok Vezda yang seakan bersiap untuk bertarung tetapi tidak tahu siapa yang menjadi targetnya.
Dimana? Diamana dia? Perasaan ini bukan hal yang baru, tapi hawa membunuh dan perasaan haus akan darah itu sangat pekat. Vezda merasakan sesuatu atau seseorang memperhatikan dirinya dan merasakan hawa dan keinginan untuk membunuhnya.
“Vezda!” Aleratha menyadarkan Vezda dan tidak sengaja Vezda mengarahkan pedangnya pada Aleratha.
Menghilang. Hawa itu menghilang. Hasrat itu menghilang seketika saat Aleratha menyadarkan Vezda.
“Maaf, Aleratha. Aku merasakan ada hawa ingin membunuh yang sangat kuat.” Vezda menghela nafas dan memasukkan kembali pedangnya.
“Itu berarti killer instinct, bukan?” Aleratha bertanya kepada Vezda.
“Iya, tapi aku juga tidak yakin karena terlalu banyak orang di sini. Seharusnya tidak akan jadi masalah lagi.”Vezda berkata kepada Aleratha dna mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk bertemu anggota aliansi yang lain.
Vezda berjalan menyusuri jalan utama di Kota Femi untuk bertemu anggota aliansi yang lain. Saat mereka di perjalanan, mereka bertemu dengan Samir yang baru saja mengambil pedang barunya untuk sementara ini karena pedang lamanya harus diasah kembali karena pertarungan melawan monster jenis baru.
“Samir, mari kita jalan bersama.” Vezda mengajak Samir dan mereka bertiga berjalan bersama.
Saat itu Vezda melihat sosok petualang dengan dengan rambut berwarna hitam pekat dan mata yang memiliki warna pupil berbeda di kiri dan kanannya, dia merasakan sesuatu yang aneh. Petualang itu masih sangat muda dan hanya dengan melihat ekspresinya sekilas Vezda tahu persis dia adalah anak yang masih polos dengan hati yang baik, namun ada hal lain yaitu saat petualang muda itu seperti memikirkan sesuatu dan mengepalkan tangannya sebelum menghilang di tengah keramaian Vezda tahu akan satu hal. Seseorang akhirnya menerima kemampuan Phatos Fotia Agapi. Entah bagaimana, tapi Vezda merasa instingnya mengatakan hal tersebut dan Vezda tersenyum tanpa sadar.
“Ekspresimu bisa sangat cepat berubah dari waspada menjadi santai, ya.” Aleratha berkata dan Vezda tersadar.
“Ya begitulah.” Vezda berkata sambil menahan malu.
Samir tersenyum? Petualang itu, aku ingin tahu siapa dia yang menerima Phatos Fotia Agapi itu. Vezda sadar kalau Samir suga melihat sosok petualang itu dengan pandangan yang sama dengan dirinya.
“OOIII, SAMIR, ALERATHA, VEZDA! AYO KITA MAKAAAN! PERUT SYLLIA SUDAH MEMULAI NYANYIANNYA!” Teriakan Celia dapat terdengar dan Syillia terlihat malu karena Celia berteriak lalu mereka bertiga tersenyum melihat tingkah dari anggota aliansi yang lainnya.
“Ayo. Kita makan sampai kenyang.” Vezda juga menjadi sangat ceria dan menarik tangan Aleratha dan Samir untuk bergabung bersama anggota aliansi yang sudah berkumpul.
****
The Misty Plate Tavern
Restoran bar yang cukup terkenal di Kota Femi. Ini adalah pertama kalinya Vezda masuk ke tempat dimana dia bisa merasakan makanan asli dan minuman yang enak setelah beberapa bulan hanya makan makanan batang buatannya sendiri.
“Semuanya, kita menyambut anggota baru kita, Vezda Fenias!” Laris berkata dan Vezda bangkit berdiri bersama Laris.
“Dia sudah berkorban untuk membantu kita dan menyelamatkan Aleratha. Kini Vezda sudah menjadi anggota keluarga besar Aliansi Aliviah. Kita rayakan dengan meriah!” Laris berkata dan mengangkat gelas wine miliknya.
“UNTUK VEZDA!!” Semua anggota Aliviah mengangkat gelas wine mereka sebagai penyambutan Vezda.
Meskipun Vezda hampir tidak pernah meminum wine, tapi Vezda memiliki toleransi alkohol yang luar biasa. Salama makan, Vezda sudah minum lebih dari 3 gelas wine dan wajahnya masih sangat normal dibanding teman-temannya yang lain.
“Heh, Bromner. Beritahu mereka bagaimana kau bisa minum banyak wine. Lalu kita adakan kompetisi. Mereka yang tumbang terakhir memiliki hak untuk meraba dada Aleratha sepuasnya.” Aliviah berkata dengan sangat ceria.
“Daftarkan aku sekarang juga!” Alfred langsung berdiri dan semuanya tertawa.
“Aku juga.”
__ADS_1
“Hey aku ikut!”
“Aku ikut!”
“Aku juga ikut.” Setelah banyak anggota lain ingin berpartisipasi dalam kebodohan Aliviah, Laris juga ingin ikut bersama yang lain.
“Kapten~~” Calia lemas saat mendengar Laris berpartisipasi.
“Kak Aleratha.” Syllia berkata kepada Aleratha dengan wajah khawatirnya.
“Biarkan saja.” Aleratha menjawabnya dengan serius dan sambil memakan makanannya.
Deg! Perasaan yang sama itu datang lagi kepada Vezda, tapi Vezda harus bersikap senormal mungkin agar tidak ada yang panik dan merusak pesta makan malam itu. Vezda melihat sekelilingnya tidak ada siapapun yang mencurigakan.
Eh, petualang yang baru itu? Vezda sedikit teralihkan melihat sosok petualang yang baru berada di meja dekat pemilik restoran itu. Vezda juga tidak ingin membuatnya panik karena itu bukan hal yang bagus.
“Aleratha, Killer instinct milikku kembali memberikanku peringatan.” Vezda berkata dengan pelan kepada Aleratha dengan Syllia masih berfokus pada obrolannya dengan Samir.
“Lalu bagaimana?” Aleratha mengerti situasinya dan juga tetap bersikap tenang.
“Aku akan memeriksanya. Kali ini jauh lebih mudah mencarinya. Aku minta tolong untuk tetap menjaga situasi ini kondusif.” Vezda meminta kepada Aleratha.
“Baik.” Aleratha menyetujui rencana Vezda.
Lalu Aliviah tiba-tiba melihat Vezda yang yang sudah mulai merasakan kalau Vezda sudah bersiap akan sesuatu. Vezda dengan tenang memberi isyarat dengan telunjuk di di mulut menandakannya untuk tetap tenang. Alviah tidak bisa menghentikan Vezda karena itu akan merusak suasana. Jadi, Aliviah kembali bersorak dengan yang lain dan Vezda beranjak keluar dari restoran tersebut.
“Vezda, kamu mau kemana?” Catherine bertanya kepada Vezda.
“Aku ingin menghirup udara segar dulu sebentar ya.” Vezda lalu berjalan dengan tenang keluar dari restoran tersebut.
Vezda berdiri di depan pintu masuk dan merasakan hawa membunuh dan haus darah itu sangat dekat dan melihat sekitar. Sekilas dia melihat sosok dengan jubah serba hitam hampir tidak terlihat dalam gelap. Saat itu juga dia paham, sosok itulah yang dicari oleh Vezda. Vezda langsung mengatur nafasnya menjadi jauh lebih tenang dan detak jantungnya semakin lambat. Setelah beberapa saat, dia melompat dengan sangat cepat dan tidak ada siapapun yang melihatnya, bahkan Aleratha.
****
Aleratha melihat Vezda berjalan menghilang dari pandangannya. Dari interaksinya dengan Aliviah, Aleratha juga paham kalau Aliviah mengetahuinya. Aliviah juga tidak mau mengacaukan suasana yang sedang menyenangkan ini.
“Ah..tidak terima kasih.” Samir agak ragu dalam menolak tawaran itu.
“Sedikit sa–”
“Oi, jangan memaksa Samir untuk meminum wine.” Ragnulf memegang kepala petualang itu dan berkata degan nada yang sangat marah.
“Ra-Ragnulf…” Anggota aliansi itu sudah mulai ketakutan.
“Kalau kau masih mau memaksa Samir meminumnya, biar aku saja yang meminum winenya–tidak, kau lihat aku akan meminum semua winenya.” Ragnulf berkata kepada petualang itu dan mengambil wine miliknya.
Celia, Samir, dan Syllia melihat Ragnulf dapat meminum wine sebanyak itu dalam waktu singkat adalah hal yang cukup mengejutkan karena itu bukan hal yang seharusnya dilakukan.
“Ya, memang kita tidak boleh membiarkan Samir minum minuman beralkohol apapun itu.” Aliviah berkata kepada yang lain.
“Kenapa?” Syllia pun baru tahu kalau Aliviah juga tidak memperbolehkan Samir meminum minuman beralkohol.
“Karena kalau Samir meminum minuman beralkohol, dia akan sangat cepat mabuk dan kalau Samir mabuk, itu bisa menjadi suatu bencana untuk tempat ini.” Aliviah menjawab Syllia sambil mengingat apa yang pernah terjadi dulu.
“Hahahaha. Aku ingat dia mabuk dan pernah hampir menghancurkan restoran di distrik utara.” Bromner berkata sambil tertawa saat mengingat kejadian tersebut.
“Iya. Itu bukanlah ide yang bagus.” Celia berkata kepada yang lainnya.
Tentu saja meskipun seseorang bisa meminum banyak wine sekaligus bukan berarti mereka bisa menahan mabuk yang akan datang berikutnya karena Ragnulf pun langsung mabuk karena jumlah wine yang dia konsumsi sangat banyak dalam waktu yang cepat.
“Aleratha, kamu terlihat cemas. Apakah ada sesuatu yang terjadi?” Samir bertanya kepada Aleratha saat melihat Aleratha seperti memikirkan sesuatu.
“Tidak ada. Aku baik-baik saja.” Aleratha menjawab Samir sambil meminum minumannya.
Entah kenapa hari ini sangat menyenangkan. Samir tersenyum saat Aleratha menjawab dan melihat semua yang ada di tempat itu bahagia.
__ADS_1
“Oh iya, Samir. Ceritakan soal bocah cengeng itu.” Ragnulf berkata kepada Samir.
Tidak. Samir tidak mau menceritakan hal tersebut.
“Bocah cengeng?” Aliviah bertanya kepada Ragnulf.
Jangan petualang itu. Samir ingin berkata, tapi dia tidak bisa mengatakan apapun.
“Iya. Saat Minotaur berhamburan ke lantai atas, ada 1 yang berhasil kabur lalu hampir membunuh petualang.” Ragnulf berkata lalu meminum winenya kembali.
“Lalu?” Aliviah terdengar antusias.
“Dia menangis ketakutan dan Samir menebas minotaur itu. Darah minotaur itu menghujani petualang lemah itu. Terlihat seperti tomat busuk. HAHAHAHA.” Ragnulf tertawa menjelaskan itu dan semuanya ikut tertawa.
“Lalu petualang itu kabur sambil berteriak dan menangis. HAHAHAHAH. Aku tidak bisa menahan tawaku dan perutku sakit. HAHAHAHAHA.” Ragnulf dan yang lain masih terus tertawa.
Jangan. Petualang itu sudah berjuang. Dia mau menjadi lebih baik. Samir yang murung pun sebenarnya tidak terlihat muruh karena wajahnya benar-benar seperti boneka hingga tidak ada yang paham bagaimana perasaan sebenarnya.
“Tidak perlu terlalu kaku, Samir. Lagipula tidak ada orang yang bersangkutan.” Celia berkata kepada Samir yang tidak ikut tertawa bersama yang lain.
“Samir sudah sangat mahir membuat takut semua petualang yang memiliki level di bawahnya. HAAHHAHA” Ragnulf masih melanjutkan tawanya.
“HAHAHAH. Aku yakin itu akan jadi mahakarya yang paling hebat.” Aliviah dan semuanya yang lain tertawa, kecuali beberapa orang.
Hmm? Aleratha melihat tatapan Samir dan langsung mengerti kalau sebenarnya Samir sangat ingin melindungi petualang tersebut. Aleratha juga sejak awal Ragnulf bercerita sebenarnya tidak tertarik karena sebenarnya menyelamatkan petualang lain adalah hal wajar.
“Sudah cukup, Ragnulf. Tutup mulutmu!” Aleratha berkata kepada Ragnulf dengan nada yang cukup tinggi dan serius.
“Kaburnya minotaur ke lantai atas adalah kelalaian dari kita semua sebagai anggota ekspedisi dan Aliansi tingkat tinggi. Terlepas dari itu, kita juga masih belum meminta maaf kepada petualang itu dan ini bukan topik yang patut untuk dibicarakan saat ini. Kalian memang tidak tahu malu.” Perkataan Aleratha tersebut membuat semua anggota lain terdiam dan merasa bersalah bahkan Aliviah pun merasakan hal yang sama.
“Sudah kuduga Nona Elf memang akan berkata hal seperti itu, tapi apakah salah jika kita mengatakan sampah kepada sampah? Kurasa tidak ada salahnya.” Ragnulf masih melanjutkan ledekannya meskipun Aleratha sudah memarahinya.
“Sudahlah, Ragnulf. Rasa wine ini jadi hambar.” Aliviah berkata di sela-sela meminum wine-Nya.
“Sudah lama sekali rasanya tidak menemui seseorang begitu tidak berguna sampai aku pun geli hanya dengan mengingatnya.” Ragnulf berkata kepada Samir.
“Kalau begitu aku ganti topik pembicaraan kita hari ini.” Ragnulf berkata sambil mengubah posisi duduknya.
“Siapa menurutmu yang lebih pantas berdiri di sisimu, Samir?” Perkataan Ragnulf tersebut sudah sangat jelas adalah pernyataan cinta meskipun tidak langsung.
“Ragnulf, apa kau mengerti perkataan yang baru saja kau ucapkan?” Laris bertanya kepada Ragnulf.
“Heee. Samir?” Syllia terkejut mendengar perkataan itu dari Ragnulf kepada Samir.
“Bagaimana, Samir? Apakah kamu akan memilihku atau bocah cengeng itu untuk bercinta denganmu?” Ragnulf masih berusaha bertanya kepada Samir.
“Yang pasti aku tidak akan memilihmu yang sudah berkata hal tersebut.” Samir berkata hampir tanpa ekspresi.
“Kamu memang menyedihkan, Ragnulf.” Aleratha berkata sambil tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan bocah itu? Apakah jika dia menyatakan cintanya kepadamu, kamu akan menerimanya?” Pertanyaan Ragnulf itu membuat Samir tertegun dan mulai berpikir.
Tidak, tidak memiliki waktu untuk memikirkan itu. Samir berkata di dalam hatinya.
“Lihat? Kau juga tidak akan menerima bocah lemah seperti itu.” Ragnulf menekan Samir saat itu.
Sosok petualang itu mengingatkan aku dengan kedua orang tuaku yang sekarang hanya menjadi sebuah ingatan. Samir berkata di dalam hatinya.
Saat mereka sedang berbicara hal tersebut, petualang yang dimaksud berlari keluar. Sebagian besar dari mereka tidak mengetahui siapa petualang yang berlari ke luar tersebut, tapi Samir dan Aleratha sangat sudah tahu siapa petualang yang kabur dari mereka.
Dia mendengar kita. Samir langsung berusaha mengejar petualang itu bersama salah seorang pelayan yang bekerja di sana.
Tidak, untuk apa aku mengejarnya? Aku tidak ada waktu untuk melakukan hal seperti itu. Kalau gamabaran dia seperti seorang pahlawan untukku, kenapa tidak pernah ada yang datang untuk menyelamatkanku? Samir berhenti dan langsung memiliki konflik di dalam batinnya.
Saat itu Vezda sudah kembali, namun Samir tidak menyadari kehadiran Vezda lagi dan Vezda Langsung masuk ke dalam restoran lagi dan berbicara kepada Aleratha yang sebenarnya sudah menunggunya.
__ADS_1
****