VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption

VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption
Chapter 18 - Pelatihan Khusus Alfred & Catherine #2


__ADS_3

Pelatihan Catherine dan Alfred sudah sampai hari ke 7 dan semua Vezda bisa melihat semua perkembangan mereka berdua. Semua yang mereka lakukan sampai harus bertaruh nyawa demi latihan ini tidak sia-sia. Alfred dapat lebih percaya diri dan kemampuannya meningkat sangat pesat dibanding sebelumnya. Di sisi lain Catherine semakin yakin untuk melindungi teman-temannya yang lain dan menjadi kuat. Memang keduanya memiliki visi untuk tidak menjadi beban di dalam aliansi dan bisa membantu anggota yang lain.


“Sekarang sudah hari ke 7. Ini adalah hari untuk beristirahat. Kalian berdua boleh melakukan latihan untuk melancarkan gerakan, tapi jangan terlalu berat.” Vezda memberikan perintah saat Alfred dan Catherine sudah bangun.


“Eh?” Alfred dan Catherine kebingungan.


“Iya ini adalah hari untuk istirahat. Jangan memaksakan diri kalian.” Jelas Vezda.


“Baik.” Alfred dan Catherine berkata secara bersamaan.


Hari ini Vezda melakukan evaluasi secara keseluruhan untuk Alfred dan Catherine. Mereka berdua sangat senang kalau mereka masing-masing bisa menguasai cabang yang berbeda meskipun pelatihan mereka sama. Vezda juga menjelaskan secara detil kenapa Catherine diarahkan untuk mempelajari Dance of Free Wind. Tubuh Catherine sebagai manusia kucing memiliki struktur otot yang sedikit berbeda dan lebih lincah meskipun bentuk tubuh secara keseluruhan sama seperti manusia selain telinga dan ekor. Sementara itu, Alfred memiliki struktur otot dan pola serangan yang sangat cocok dengan Dance of Flowing Water karena setiap gerakan yang Alfred miliki sangat tenang.


“Catthy, kamu sebenarnya memiliki kecocokan dengan 2 cabang. Satu lagi adalah Dance of Roaring Thunder.” Vezda berkata setelah menjelaskan kepada mereka berdua alasan mengapa mereka mendalami cabang yang dipilihkan Vezda.


“Serius?” Catherine berkata dengan mata yang bersinar.


“Serius, tapi cabang ini memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi karena kalau kamu belum terbiasa dengan tekniknya, itu bisa melumpuhkan kakimu. Karena itulah aku lebih mengajarkanmu Dance of Free Wind.” Vezda menjelaskan kepada Catherine.


“Vezda apakah mereka yang bisa mendalami cabang lebih dari satu lebih baik?” Arah pembicaraan Alfred dapat ditebak dengan mudah.


“Tidak juga. Manusia monster Carlos menguasai Dance of Flowing Water dengan sangat baik sampai membuat beberapa teknik khusus ciptaannya sendiri. Lalu Vajra, menajdi salah satu petualang terkuat hanya dengan menguasai Dance of Roaring Thunder.” Jelas Vezda.


“Tunggu sebentar Vajra? Vajra dari Aliansi Na’ava?” Catherine dan Alfred terkejut vezda menyebut Vajra.


“Iya. Vajra. Tidak perlu kaget. Dia menguasai apa yang sedang kalian pelajari.” Jawab vezda.


“Tapi kenapa kamu bisa mengetahui itu?” Alfred bertanya kembali.


“Alasan itu aku tidak akan mengatakannya, tapi kalian bisa bertanya langsung pada Aliviah nanti.” Jawab Vezda sambil tersenyum.


“Aku mengerti, tapi berapa lama mereka bisa sampai sekuat itu hanya dengan menguasai 1 cabang saja?” Alfred bertanya kepada Vezda kembali.


“Carlos 7 tahun dan vajra mungkin lebih dari 9 tahun latihan karena dimulai dari sejak kecil sekali. Aku sendiri terbilang cepat 4 tahun untuk menguasai cabang utama yang paling sulit.” Jelas Vezda.


“Kalau selama itu–” Alfred terlihat putus asa.


“Dulu aku pernah bertemu seorang petarung. Dia bilang padaku kalau dia sangat takut kepadaku kalau suatu hari harus bertarung denganku karena aku melatih setiap gerakan dan kemampuan dari cabang Dance of Scorching Flame berulang-ulang tanpa henti. Dia menyimpulkan kalau lebih menakutkan seseorang yang melakukan 1 tendangan 1000 kali dibanding seseorang dengan 1000 tendangan 1 kali.” Jelas Vezda kepada Alfred dan Alfred tertegun mendengar penjelasan Vezda.


“Aku mengerti sekarang. Itu alasan yang tidak pernah Kapten beritahu kenapa kau harus terus berlatih dengan apa yang aku kuasai.” Alfred berkata kepada Vezda.


“Baguslah kalau kamu mengerti. Jangan pernah lagi merasa rendah diri akan banyak hal. Alfred, kamu kuat dan kamu adalah pimpinan dari kelompok 2. Perlihatkan dirimu sebagai sosok pemimpin.” Jelas Vezda kepada Alfred.


“Aku juga selalu ada di sisimu, Alfred. Jadi jangan pernah sekali-sekali lagi kamu merendahkan dirimu ya.” Catherine sangat bersimpati kepada Alfred.


“Berbicara soal cabang yang kalian pelajari, aku sudah buatkan salinan untuk kalian berdua. Alfred, kamu jelas mendapatkan semua konsep dasar yang harus terus kamu pelajari dan latih dalam pendalaman Dance of Flowing Water beserta modifikasi yang dilakukan oleh Carlos.” Vezda memberikan buku salinan khusus untuk Alfred.


“Baik. Terima kasih banyak, Vezda.” Alfred berterima kasih.


“Untuk Catthy, aku memberikan salinan berisi konsep dasar dari Dance of Free Wind dan Dance of Roaring Thunder. Pelajari semuanya. Untuk Dance of Roaring Thunder, teknik utamanya sebenarnya hanya teknik pertama saja. Teknik yang lain boleh kamu gunakan ataupun tidak lagipula kamu sudah mempelajari secara lengkap Dance of Free Wind sehingga kamu bisa menggunakan banyak teknik dari 2 cabang yang kamu pelajari.” Vezda memberikan salinan khusus untuk Catherine.


“Terima kasih banyak, Vezda.” Catherine menerima buku tersebut dan berterima kasih kepada Vezda.


“Nah, sekarang kalian boleh latihan dan bebas kalau ingin beristirahat. Besok kita akan kembali ke rutinitas kita.” Vezda memberi perintah kepada Alfred dan Catherine.


“SIAP!”


****


Hari ke 9 latihan, fisik dari Catherine dan Alfred sudah meningkat dengan drastis. Setiap gerakan mereka bukan gerakan yang hanya sekedar indah, tapi gerakan yang sangat efektif dalam pertarungan. Kemungkinan Catherine tidak mempelajari cabang Roaring Thunder dan lebih fokus untuk mendalami Free Wind. Vezda sendiri takjub melihat mereka berdua yang berlatih dengan dasar keinginan untuk menjadi lebih kuat.


“Sepertinya latihan di sini berjalan dengan lancar, eh?” Bromner datang dan menyapa Vezda yang sedang mengamati Catherine dan Alfred.

__ADS_1


“Sangat lancar. Tekad dan keinginan mereka yang membuat perkembangan cepat. Mungkin tidak akan membuat mereka berdua naik level, setidaknya mereka bisa percaya diri untuk melindungi yang lain.” Jelas Vezda.


“Baguslah kalau begitu. Dan ini senjata pesananmu dari Hikoshiro.” Bromner memberikan senjata buatan Hikoshiro.


“Apakah tagihannya sudah kamu simpan di kamarku, Bromner?” Tanya Vezda sambil menerima kedua katana yang dipesannya.


“Sudah dan sepertinya pedang itu memang spesial ya?” Tanya Bromner.


“Iya betul sekali. Katana ini dibuat khusus untuk mereka yang menguasai pengaturan pernapasan dan tubuh.” Jawab Vezda.


“Jadi, kau memberikan ini kepada mereka?” Bromner bertanya sambil memperhatikan Catherine dan Alfred berlatih.


“Iya. Berikutnya mereka akan mempermudah pelatihan yang lain.” Vezda tersenyum melihat Alfred dan Catherine.


“Kau ternyata sangat perhatian kepada kelompok 2 ya. Hahahahah.” Tawa khas Dwarf itu adalah sesuatu yang sangat menggembirakan untuk Vezda.


“Bromner, kamu ingin melihat sesuatu yang menarik?” Vezda bertanya dan langsung bangkit berdiri.


“Oh? Boleh. Tunjukkan padaku.” Bromner berkata kepada Vezda.


“ALFRED CATTHY! KEMARILAH!” Vezda memanggil mereka berdua dengan berteriak karena latihan mereka cukup intens dan Vezda yakin mereka tidak akan mudah dipanggil dengan suara yang pelan.


Alfred dan Catherine berhenti dari latihan mereka dan langsung menghampiri Vezda. Karena masih dalam sesi latihan, mereka berdua terlihat sangat serius. Meskipun begitu, mereka tetap senang melihat Bromner datang.


“Alfred, Catthy. Tukar katana tumpul kalian dengan pedang kayu dan aku ingin kalian berdua sparring. Jangan menahan diri dana kerahkan semua yang sudah kalian pelajari.” Vezda memberi perintah dan mereka berdua terkejut karena harus melawan satu dengan yang lain.


“Sparring adalah bagian dari latihan kalian juga, anak-anak. Itu akan membuktikan kalau kalian sudah menguasai apa yang sudah kalian kuasai atau belum.” Bromner berkata kepada mereka berdua.


“Baik!” mereka berdua serentak dan menukar katana tumpul dengan pedang kayu lalu bersiap untuk sparring.


“Sepertinya aku masih harus belajar banyak padamu, Bromner. Aku akan menunjukkan anak-anak yang sudah kau latih sepenuh hati untuk menjadi petualang kelas atas dan sekarang mereka sudah diasah menjadi jauh lebih tajam dari sebelumnya.” Jelas Vezda.


Bromner dan Vezda melihat tatapan Alfred dan Catthy saat ini sangat menakjubkan. Mereka berdua antusias dan mata mereka bukan sebuah tanda untuk mengalahkan satu dengan yang lain, tapi sebuah tanda mereka siap menunjukkan kalau mereka berdua pantas untuk melindungi siapapun yang mereka ingin lindungi.


Tidak peduli seberapa gigih aku berlatih, aku akan tetap lemah dan Ragnulf mungkin akan terus menghinaku dan Alfred. Tapi, kali ini aku akan menjadi lebih kuat lagi. Aku akan melindungi semua orang yang aku cintai dan berharga untukku. Tekad Catherine sudah bulat untuk menjadi lebih kuat lagi agar dapat melindungi teman-temannya.


“AAARRRRGGGGHH!!!!” Teriakan Catherine dan Alfred adalah sebuah tanda bahwa mereka sudah merubah tekat dan pandangan hidup mereka.


“Dance of Flowing Water - Waterfall Slash.” Alfred memulai serangannya duluan.


“Dance of Free Wind - Wind Cutter.” Pertahanan Catherine diimbangi dengan penyerangan juga dan hal tersebut cukup mematikan jika menggunakan katana sungguhan.


Pertarungan antara Alfred dan Catherine mungkin bukan pertarungan yang mengesankan untuk seseorang selevel dengan Bromner, tapi siapa sangka kalau Bromner justru terkesan melihat tekad dari kedua anggota muda itu. Kecepatan dan kekuatan yang dimiliki mereka terlihat seperti serupa, namun nyatanya Catherine memiliki keunggulan di kecepatannya dan itulah alasan kenapa Catherine juga cocok untuk mempelajari Dance of Roaring Thunder. Di sisi lain, serangan Alfred jauh lebih cepat dari serangan Alfred pada umumnya dan Alfred jauh lebih tenang dalam menggunakan setiap teknik yang sudah dia pelajari. Catherine dan Alfred tidak sadar kalau dalam sparring mereka, mereka berdua tersenyum seakan setiap beban mereka lepas setelah mulai menguasai pengaturan pernapasan dan tubuh.


“Angin dan air akan selalu menjadi kombinasi yang sangat menyegarkan bukan?” Vezda berkata kepada Bromner yang takjub melihat pertarungan Alfred dan Catherine.


“Benar. Aku berhutang sangat banyak padamu sekarang. Eh?” Bromner terkejut melihat Vezda menitikkan air mata saat itu.


“Ailas, Carlos. Mereka seperti kalian saat dulu kalian berlatih.” Kata-kata Vezda itu terlontar tanpa sadar dan Bromner bisa melihat jelas sebuah kesedihan yang teramat dalam di wajah Vezda.


“Aku paham kalau kau adalah sahabat Carlos, tapi Ailas? Itu berita baru untukku.” Bromner berkata hal itu dan Vezda langsung terkejut dan langsung mengusap air matanya.


“Ah maaf.” Vezda sebenarnya tidak mau membuka hal tersebut, tapi sebuah kesedihan sangat sulit utnuk ditahan saat ini.


“Emosimu sedang tidak stabil, nak. Setelah latihan berakhir, kembalilah ke markas dan beristirahatlah.” Bromner menyemangati Vezda dan Vezda hanya tersenyum sambil kembali melihat pertarungan Alfred dan Catherine.


Pertarungan Alfred dan Catherine terus berlanjut dan setiap teknik yang mereka kuasai, mereka gunakan dan menggabungkannya dengan pengalaman mereka bertarung. Itu membuat semua pertarungan mereka saat ini menjadi sebuah hal yang fantastis. Hingga satu titik kedua pedang kayu mereka patah.


“Cukup!” Vezda menghentikan pertarungan mereka tepat setelah kedua pedang kayu mereka patah.


“Aku baru saja melihat 2 serangga terjatuh dan bangkit menjadi serangga yang jauh lebih kuat” Bromner berkata sambil menghampiri Alfred dan Catherine bersama dengan Vezda.

__ADS_1


“Kalian berdua. Terima kasih banyak sudah mau belajar dan mengembangkan setiap hal yang sudah dipelajari. Hanya butuh waktu 9 hari dengan latihan tanpa henti, kalian bisa menguasainya. Tekad kalian dan keinginan kuat kalian menjadi suatu hal yang akan membantu kalian untuk melindungi semua orang yang berharga untuk kalian.” Suara Vezda yang tenang itu membuat mereka berdua berkaca-kaca.


“Jadi bagaimana, Vezda? Selesai lebih cepat?” Bromner bertanya kepada Vezda.


“Iya. Kita pulang hari ini. Aku sudah mengajari kalian berdua apa yang kubisa, sisanya kalian harus mengembangkannya terus. Tidak ada kata berhenti untuk berkembang agar menjadi lebih baik.” Vezda berkata kepada Alfred dan Catherine.


“Baik!” Catherine dan Alfred berkata serentak dan menghapus air mata mereka.


“Sebelum kembali. Aku ingin memberi kalian ini.” Vezda memberikan katana kepada Aleratha dan Alfred.


“Pedang katana.” Alfred berkata sambil mengeluarkan pedang tersebut.


“Eh? Berubah warna?” Catherine berkata dan terkejut.


“Itu adalah sebuah tanda kalian sudah menguasai pengaturan pernapasan dan tubuh. Mana kalian mengalir secara langsung ke dalam mithril yang ada di sana dan mengubah warna sesuai dengan cabang yang kalian kuasai pertama kali.” Jelas Vezda.


“Hmmm terlalu indah untuk sebuah senjata kalau menurutku, tapi itu adalah hadiah yang pantas untuk mereka berdua, eh?” Bromner berkata kepada Vezda.


“Jadii–”


“VEZDAA TERIMA KASIH BANYAK!!” Belum selesai berbicara, Catherine dan Alfred memeluk Vezda dengan penuh air mata dan akhirnya mereka bisa menguasai sebuah hal yang sulit dengan sangat cepat.


****


Vezda, Bromner, Catherine, dan Alfred akhirnya sampai di markas dan terkejut melihat Aleratha sedang tertawa sangat puas karena suatu hal. Vezda sendiri melihat Aleratha sangat cantik dan manis saat dia tertawa ditambah memang Aleratha hampir tidak pernah terlihat tertawa.


“Nak, wajahmu merah.” Bromner berkata kepada Vezda yang sedang memperhatikan Aleratha.


“Oh, jadi rumor itu benar?” Catherine tersenyum jahat bersama Alfred.


“Ah. Aku–” Vezda belum sempat berbicara.


“Vezda. Jangan lupa kamu harus berbicara denganku.” Aleratha sambil mengusap air matanya dan mencoba untuk tidak tertawa sambil Samir terus menempel kepada Aleratha.


“Iya. Kapanpun kamu mau. Aku tinggal menunggu saja perintahmu.” Vezda berkata dan menutupi betapa gugupnya dia memandang Aleratha.


Mereka akhirnya bertemu saat semuanya sudah kelelahan. Ternyata Aleratha dan Samir kembali setelah Laris dan yang lain kembali. Samir melawan bos monster di lantai 35 sendirian. Bukan hal yang mudah dan mungkin akan membunuhnya, tapi dia berhasil. Aleratha hanya berada di sana untuk menemani dan membantu penyembuhan Samir. Di sisi yang lain Samir merasakan Catherine dan Alfred berbeda dari sebelumnya. Mereka berdua penuh semangat dan kepercayaan diri, terutama Alfred. Tentunya Bomner akan tetap seorang Bromner dengan menyuruh Alfred, Catherine, dan Samir untuk beristirahat. Bromner sendiri kembali bertemu dengan Laris, sementara Aleratha berbicara empat mata dengan Vezda.


Bukan hal yang menenangkan untuk Vezda mengingat Bormner juga sempat menyuruh Vezda bercerita semua hal tentang dirinya termasuk Ailas, Ailas Psila Alf yang merupakan Raja dari seluruh Light Elf termasuk High Elf dan ayah dari Aleratha, Aleratha Psila Alf.


****


“Aku tahu kamu mungkin akan canggung mengatakan semuanya, tapi tolong untuk tidak canggung karena aku juga mungkin akan canggung untuk menjawab pertanyaanmu.” Aleratha berkata sambil menaruh segelas teh di meja.


“Aku tahu, tapi bukannya akan aneh dan canggung kalau aku langsung berkata ‘Aku mencintaimu’?” Tanya Vezda kepada Aleratha.


“Aku paham, tapi pertanyaanku sebenarnya adalah apa alasanmu mencintaiku?” Pertanyaan yang diberikan Aleratha membuat Vezda sedikit berpikir.


“Secara fisik, kau adalah sosok yang cantik dan kuat. Namun, lebih dari itu kamu adalah sosok yang sangat peduli dengan rekan dan anggota. Kamu juga bukan orang yang mempedulikan diri sendiri. Bahkan kamu banyak menolong orang lain juga.” Vezda menjelaskan dengan lantang.


“Lalu?” Allertha sadar masih ada sesuatu yang mau Vezda katakan.


“Tentunya karena kamu adalah Elf yang tidak pernah mementingkan diri sendiri dan memandang ras lain. Kamu menghormati siapapun itu terlepas apa ras mereka.” Vezda Berkata hal tersebut dan Aleratha entah kenapa puas dengan jawaban yang diberikan Vezda.


“Apa kamu tahu kalau aku bukan sekedar High Elf, tapi juga seorang anak Raja?” Alertaha bertanya.


“Iya aku tahu. Kebetulan Ailas, Carlos, dan aku adalah tiga sahabat yang pernah berlatih bersama.” Perkataan itu membuat Aleratha hampir menyemburkan teh yang sedang dia minum ke muka Vezda.


“Bagaimana kamu bisa mengenalnya?” Aleratha bertanya.


“Kalau kamu adalah anaknya Ailas aku mungkin baru tahu sebelum kita berangkat penjelajahan bersama. Kalau Ailas sendiri sudah mengenalku dan Carlos sejak 12 tahun yang lalu.” Vezda mulai menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Ailas.

__ADS_1


****


__ADS_2