
Samir bersama dengan kelompoknya sudah sampai ke jalan menuju Feeding Zone. Daerah yang menjadi target kelompoknya adalah *I*nvestigasi Feeding Zone yang menyebabkan perubahan pergerakan monster di lantai 24.
“Aku yakin ini jalan menuju Feeding zone kan?” Lilina berkata kepada seluruh anggota kelompok.
“Iya, betul ini jalan yang benar.” Samir mengenal jalan tersebut, tapi masalahnya jalan yang menuju ke Feeding Zone tersebut terhalang oleh tembok yang seharusnya tidak ada di sana.
Tunggu sebentar, tembok ini hidup. Seperti tanaman yang menjalar. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam Feeding zone? Samir memegang tembok tersebut.
“Kalau hanya diam di sini tidak akan memberikan kemajuan apapun. Chaleed, Adrian, kita bagi 3 grup kecil untuk mencari sekitar. Beberapa akan menetap di sini, sisanya mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi di sekitar.” Racita memberikan arahan kepada semuanya.
“Kalau begitu aku–” Samir berkata, namun Blomer memotong perkataannya.
“Kau pasti tahu dengan istilah menyesuaikan fase. Cobalah untuk mengikuti fase kita. Jangan gegabah melakukan apapun sendiri hanya karena kamu yang paling kuat di sini.” Blomer berkata kepada Samir.
Sebenarnya sampai di titik ini Samir sendiri masih sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi kedepannya dan dia sebenarnya ingin terus melindungi kelompok ini, tapi mungkin untuk mereka itu hanyalah sebuah penghinaan. Samir sendiri terpaksa mengikuti apa yang Blomer katakan.
“Hey, Blomer jangan berkata seperti itu.” Blorie berkata kepada Blomer.
“Nah, karena yang lain akan berpencan sementara kita di sini. Mungkin ada baiknya kita beristirahat dulu sebentar.” Lilina memberikan saran kepada Samir.
“Iya. Kamu juga sudah membantu kami dengan membereskan monster yang menghalangi perjalanan kami. Untuk sekarang kamu istirahat saja dulu.” Blorie menambah perkataan Lilina dan Samir hanya mengikuti kata-kata mereka.
Beberapa dari anggota Aliansi Cathur mulai berpencar untuk mencari informasi mengenai jalan masuk yang lain dan beberapa yang tinggal di jalan utama dimana mereka beristirahat juga melancarkan banyak serangan ke tembok yang hidup tersebut. Bagian tembok yang sudah menjadi seperti daging hijau tersebut dapat pulih dengan sangat cepat, sementara yang tidak menjadi daging akan menerima kerusakan seperti biasa dan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih.
“Nah, sekarang kamu tidak perlu khawatir Samir. Mereka akan kembali sebentar lagi.” Lilina berakta kepada Samir sambil duduk bersama memperhatikan anggota yang lain mencoba menyerang tembok tersebut.
“Sepertinya ini memang menjadi masalah utama kenapa ada hal aneh terjadi di lantai 24.” Racita tiba-tiba berkata dan Lilina bersama dengan Samir langsung memperhatikan Racita berbicara.
“Kenapa, Racita?” Lilina bertanya.
“Ini hanya teoriku saja. Kalau memang semua jalan menuju Feeding zone ini tertutup, Maka–” Racita berkata.
“Para monster melakukan migrasi ke Feeding Zone yang lain.” Samir melanjutkan perkataan Racita.
“Betul. Jadi, selama beberapa hari ini bukan situasi yang abnormal untuk monster, melainkan migrasi monster. Hal abnormal yang terjadi adalah di dalam Feeding Zone ini.” Racita berkata kepada Samir.
Lalu semua anggota yang berpencar akhirnya kembali berkumpul dan memberikan laporan kalau benar semua jalan masuk menuju Feeding Zone sudah tertutup oleh tembok alami ini.
“Meskipun begitu, Racita. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam?” Lilina bertanya kepada Racita.
“Hanya ada 1 cara untuk mengetahuinya. Kita akan masuk menuju pusat dari Feeding Zone.” Racita memberikan perintah kepada semua anggotanya.
Lalu setelah itu, Racita berjalan sedikit dan melihat kalau ada bentuk dari tembok tersebut yang berputar seperti jalan masuk yang ditutup rapat.
“Ini bisa jadi awal kita masuk. Pusaran ini terlihat seperti pintu masuk, namun tidak ada tanda-tanda bisa dibuka oleh orang-orang seperti kita.” Racita menunjukkan bagian tembok tersebut kepada semua anggota kelompoknya.
“Mungkin aku bisa memotongnya.” Samir memberikan saran kepada Racita.
“Tidak. Aku ingin menguji kalau organisme hidup ini mungkin lemah terhadap sihir tertentu.” Racita menolak saran Samir meskipun dia tahu persis kalau Samir bisa dengan mudah membuka bagian tersebut.
“Mungkin Sheryl bisa mencobanya, Racita.” Blomer memberikan saran kepada Racita.
“Bisa. Aku juga ingin melihat apakah organisme ini lemah terhadap api atau tidak.” Racita menjawab Blomer.
“Sheryl, gunakan sihir milikmu.” Racinta memberi perintah kepada Sheryl.
“Sihir yang besar?” Sheryl bertanya dahulu kepada Racita.
“Iya. Sihir yang besar.” Jawab Racita dan Sheryl mulai fokus sejenak sebelum merapalkan mantranya.
"Sheryl mendapatkan kemampuan untuk mengembangkan sihir. Itu adalah hal yang sangat langka untuk Folkr seperti kita." Blomer berkata kepada Samir yang berdiri di sebelahnya.
"Aku juga cukup yakin kamu mengetahui kalau aku dan Blorie hanya level 2 yang berdiri di posisi garis depan." Blomer masih berkata kepada Samir.
"Uh.." Samir hendak berkata sesuatu.
"Sepertinya kau naif sekali mau berbincang dan terhubung dengan Folkr seperti kita." Blomer kembali berkata sambil tersenyum.
"..." Samir sangat ingin tahu apa yang sebenarnya Blomer pikirkan.
"Jika kamu mau terhubung dan berbincang, mungkin lebih baik dengan Sheryl dibanding kita berdua. Ya, tidak sekuat kaptenmu, tapi Sherly jauh lebih baik daripada kami berdua." Blomer berkata sambil memainkan senjatanya.
"Kamu tahu Laris?" Samir langsung bertanya kepada Blomer.
"Tidak ada Folkr yang tidak mengetahui siapa Laris. Meskipun aku tidak tahu seberapa hebat dia, dia tetap menjadi pahlawan untuk ras Folkr meskipun kami tidak memintanya." Jawab Blomer.
"..."
"Hanya dengan melihat apa yang sudah dicapainya sebagai seorang Folkr, menandakan kalau kita juga bisa melakukan apa yang dia lakukan, namun sepertinya kita terlihat masih belum melakukan apapun jika dibandingkan dengannya." Blomer berkata sambil menyandarkan senjatanya di bahu.
"Lalu, apakah kamu membenci Laris?" Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dibalas, namun 1 pertanyaan itu sangat menusuk hati Blomer.
__ADS_1
"Bukan menjadi urusanmu." Jawab Blomer dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Samir.
BOOOOM!
Sheryl selesai menggunakan sihirnya dan tembok tersebut terbakar dan lubabgnya cukup untuk semua anggota kelompok yang ada. Saat berada di dalam, suasanya jauh lebih mirip berjalan di atas daging dibanding tanaman, meskipun jelas terlihat kalau yang menyelimuti bagian Feeding Zone itu adalah tanaman.
Setelah semuanya masuk, tiba-tiba lubang yang dibuat Sheryl kembali tertutup dengan regenerasi tanaman itu yang terdengar sangat jelas.
"Jalan masuknya." Chaleed berkata dan semuanya melihat lubang itu tertutup.
"Sepertinya kita tetap bisa keluar. Kita hanya perlu melubangi tembok itu lagi." Racita berkata kepada anggota kelompok yang lain.
"Apakah aku boleh mengatakan sesuatu yang menakutkan?" Tanya Lilina.
"Apa?" Tanya James.
"Tanaman hidup ini seperti daging monster. Kita seperti berjalan di dalam perut monster." Lilina berkata dengan sangainya sambil menginjak lantai yang juga diselimuti daging berwarna hijau.
"Jangan berkata seperti itu, Lilina." Mira berkata karena ketakutan.
"Lelucon yang buruk." Jawab Nyllia.
"Hahaha. Tapi pernyataan itu sedikit benar." Jawab Blorie.
"Diam! Jangan terlalu banyak bersuara." Racita memarahi anggotanya.
Setelah itu, seluruh anggota kelompok melanjutkan perjalanan lebih dalam. Dalam setiap langkah mereka, mereka sangat berhati-hati dan melangkab dengan penuh perhatian terhadap sekekeliling mereka semua.
"Eh? Jalan yang terpisah?" Lilina bingung saat melihat jalan tersebut.
"Apakah ada di peta?" Racita bertanya pada Lilina.
"Tidak. Ini tidak ada di peta sama sekali." Jawan Lilina.
"Kalau begitu, peta yang kita miliki tidak akan berguna. Lilina, buat peta yang baru. Kamu bisa membuat peta sambil berjalan bukan?" Racita memberikan perintah kepada Lilina.
"Bukan masalah." Lilina lamgsung mengambil kertas dan bulu hntuk menggambar peta sambil berjalan dan Samir melihat Lilina membuat peta tersebut.
"Kamu hebat sekali, Lilina. Kamu bisa membuat peta di tempat yang membuat kompas saja tidak bisa digunakan.” Samir benar-benar terkesan kepada siapapun yang dapat membuat peta di dalam dungeon karena membuat peta membutuhkan banyak konsentrasi, ingatan, dan mengetahui arah mata angin.
“Terima kasih, Samir. Tapi ingat, aku hanya sebagai pengintai, jadi tidak akan terlalu kuat untuk bertempur di garis depan. Oh iya soal mata angin aku selalu mengetahui dimana Utara.” Jelas Lilina.
“Bukannya kompas tidak bisa digunakan di dalam dungeon?” Samir bertanya kepada Lilina.
“Betul sekali. Lilina adalah kompas berjalan untuk kami. Lihat!” James berkata dan memutarkan tubuh Lilina ke arah yang dia bilang dan semuanya benar. Lilina berhenti dan menunjuk ke arah yang dibilang oleh James.
BUGH!! BUGH!!
Kedua kepala mereka menjadi sasaran empuk kepalan tangan Racita yang sudah cukup marah.
“Kalian berdua, berhentilah bermain-main.” Racita berkata dan keduanya kembali serius.
“Meskipun begitu, peta yang aku buat sangat sederhana dan tidak seperti peta yang dibuat oleh Serikat. Sangat detil dan banyak memberikan informasi secara lengkap.” Jelas Lilina sambil membuat petanya permanen dengan sihir.
“Aku saja tidak bisa melakukan itu. Yang aku lakukan hampir semuanya bertarung.” Samir berkata kepada Llilina.
“Sebenarnya semua orang bisa melakukannya asal dilatih secara sering.” Lilina berkata sambil berjalan dan menggambar peta.
“Aku tidak bisa.” Racita berkata.
“Aku juga tidak.” Adrian berkata.
“Kemampuan itu tidak diperlukan di dalam dungeon hehehe.” James berkata dan menertawai Lilina.
“Aku harus bisa karna dipaksa menemai Cathur untuk mengeksplorasi reruntuhan zaman dahulu.” Lilina berkata kepada mereka.
Sebenarnya peta yang ada di Serikat semuanya adalah hasil ekspedisi yang dilakukan oleh para pahlawan dan petualang di masa lalu. Mereka terus menerus melakukan ekspedisi dan membuat peta dari setiap tempat yang mereka lalui. Kebanyakan petualang selain para kartografer tidak memiliki pengetahuan di bidang kartografi. Lalu, karena hampir semua bagian dungeon sudah dijelajahi dan sudah dimasukan ke dalam peta, hampir semua petualang termasuk Samir tidak pernah benar-benar melawan monster atau melakukan ekspedisi di tempat yang belum diketahui.
Hal ini adalah hal yang baru disadari oleh Samir. Beberapa saat setelah berbincang mengenai kemampuan kartografi Lilina, yaitu Samir bersama kelompok Aliansi Cathur sedang melakukan eksplorasi bagian Dungeon yang tidak diketahui atau para petualang menyebutnya Unknown Zone. Umumnya di lantai 24 ini, Samir bisa menaklukan apapun sendirian tanpa perlu meneteskan keringat. Namun, saat ini dia sedang melakukan eksplorasi dungeon yang tidak diketahui. Kematian dalam bentuk apapun menunggu mereka di dalam sini. Petualang yang lebih kuat sampai yang jauh lebih pintar daripada Samir pun bisa kehilangan nyawanya di sini, di Unknown Zone.
“Chaleed, James. Coba lihat ini!” Racita meminta Chaleed dan James melihat serpihan kulit seperti bekas dari monster.
“Ini sisa-sisa monster.” Chaleed berkata kepada Racita.
“Iya, memang betul. Tapi, bukannya aneh kalau ada serpihan monster dimana tidak ada petualang sama sekali?” James bertanya kembali kepada Chaleed dan Racita.
Perasaan ini. Samir merasakan ada hawa monster yang dekat.
“Semuanya, bersiap bertarung ada monster di dekat kita!” Samir berteriak dan semuanya mempersiapkan senjata mereka termasuk Racita yang mengamati setiap bagian dengan seksama.
“Ada monster yang menyerang monster lainnya. Sepertinya begitu.” Racita berkata sambil tetap waspada dengan gerakan apapun.
__ADS_1
“Dari atas!” Sesaat setelah Samir berteriak, Semuanya menengok ke arah atas dan monster yang menunggu mereka adalah monster tanaman.
Monster tersebut menyerang dengan cepat dan berusaha melahap petualang yang ada di sana dengan sangat ganas. Kali ini Monster tanaman tersebut memiliki banyak tentakel kecil yang dapat digunakan juga untuk menyerang, untungnya semua anggota kelompok bisa menanganinya.
“Monster apa mereka?” Stoner bertanya sambil menahan segala serangan dari monster tersebut bersama dengan Adrian.
“Jangan gunakan sihir! Serangan tumpul tidak mempan terhadap mereka! Gunakan pedang untuk memotong mereka!” Samir menjelaskan dengan singkat sambil beusaha melindungi yang lain.
Racita dengan cepat maju untuk menggunakan peledak yang hanya bisa dibuat oleh dirinya sendiri. Tujuannya untuk mencari titik kelemahan dari monster tersebut. Racita melemparkan peledaknya tepat sebelum monster itu menyerang. Saat monster itu membuka mulutnya, Racita melemparkan peledak itu ke dalam mulut monster itu. Ledakan itu mengekspos bagian atas dari mulut monster itu dan terlihat kristal yang menjadi kelemahannya. Racita langsung melemparkan peledak miliknya lagi dan menghancurkan kristal monster tersebut yang langsung mengubah monster tersebut menjadi abu.
“Kristal mereka terdapat di bagian atas mulut mereka. Lawan dengan 2 sampai 3 orang per monster.” Racita memberikan perintah kepada semuanya dan jumlah 4 monster yang terseisa langsung dikepung oleh mereka.
Peledak yang digunakan oleh Racita berbeda dengan peledak yang digunakan oleh Vezda. Peledak yang digunakan Racita adalah racikan khusus yang hanya bisa dibuat oleh dirinya dan cara peledakannya adalah melemparkan pedak itu, dan saat pecah cairan di dalamnya akan bereaksi dengan oksigen di udara dan menghasilkan ledakan. Dalam hal daya hancur, peledak Vezda mungkin hanya sedikit lebih lemah dari peledak Racita, tapi kemampuan Vezda yang membantu penggunaan ledakan tersebut lebih efektif ditambah Vezda sangat mahir menggunakan peledak yang besar di jarak yang sangat dekat.
“Kalian berdua diam dibelakangku!” Naria memberi perintah pada Blomer dan Blorie setelah Blomer terhempas karena serangan tentakel salah 1 tanaman yang mereka hadapi.
“Blomer!” Samir hendak menghampiri Blomer.
“Diam di sana!” Blomer berteriak kepada Samir dan Samir langsung terdiam.
Lalu dengan tiba-tiba ada tentakel yang hendak menyerang Sheryl dan O’ Niel. Samir dengan sangat cepat langsung mundur dan melindungi mereka berdua.
“Kalian baik-baik saja?” Samir bertanya kepada mereka.
“Iya. Kami baik-baik saja.” Sheryl menjawab Samir.
Di hadapannya, Blomer langsung menerobos baju lebih depan dari Naria untuk melawan monster di hadapannya. Seharusnya hal itu mustahil karena setiap monster tanaman itu setingkat dengan level 4 sementara Blomer masih level 2.
Kenapa aku berlari? Blomer berlari mendekati monster itu.
Ah iya, karena perkataannya, ‘apakah kamu membenci Laris?’. Blomer terpacu karena pertanyaan Samir.
***
Hari itu senja menyinari halaman depan markas Aliansi Cathur dan Blomer sedang menikmati indahnya sinar matahari yang terbenam walaupun dengan hati yang tidak kesal.
“Sepertinya status kita tidak banyak memiliki perkembangan.” Blorie berkata kepada Blomer yang sedang duduk.
“Aku dengar Sheryl juga naik ke level 2 dan mendapatkan kemampuan untuk menjadi penyihir.” Blomer berkata kepada Blorie dengan suara yang penuh dengan amarah, tetapi tetap tenang,
Blorie sangat mengerti perasaan kesal dari saudara kembarnya karena dia juga demikian, namun Blorie jauh lebih tenang karena dapat mengendalikan emosinya dengan lebih baik. Kemampuan mereka tidak ada peningkatan, sementara Sheryl mendapatkan kemampuan menjadi p[enyihir dimana hal itu sangat langka untuk Ras Folkr, tapi Blorie juga tidak mau terpuruk dengan hal itu.
“Hey, Blomer. Apakah kamu tahu mengenai Pahlawan untuk Folkr, Laris?” Blorie bertanya sambil beranjak duduk di dekatnya.
“Hentikan itu! Aku sedang tidak ingin membahasnya.” Blomer berusaha menghentikan pembicaraan Blorie.
“Aku dengar dia sudah berumur sekitar 40 tahun atau lebih.” Blondie berkata dan Blopmer sedikit terkejut.
“Seirus?” Blomer memastikan kepada Blorie.
“Aku serius.”
“Ternyata umurnya sudah lebih dari 2 kali lipat umurku. Sepertinya memang kita masih memiliki perjalanan yang sangat panjang, ya.” Blomer berkata dengan penuh determinasi untuk mengejar Pahlawan Folkr itu.
****
Saat Blomer melompat untuk menyerang monster tanaman itu, monster tersebut langsung menyerang dengan cepat dengan intensi untuk melahap Blomer secara cepat, tapi Blomer tidak menyerah begitu saja.
Memangnya kenapa kalau ada Laris? Itu tidak mengubah kita menjadi lebih kuat, namun karena dia terus menerus bekerja keras dan memperlihatkan kekuatannya…. Blomer menahan cengkraman mulut tanaman itu dan melihat posisi kristal dengan sangat jelas.
“AKU TIDAK BISA TINGGAL DIAM!” Blomer berteriak dan menarik pedang kecil yang menyerupai pedang kecil milik Laris dan langsung menancapkannya ke kristal monster tersebut.
Monster tersebut langsung mati dan Blomer terlempar keluar mulut monster itu. Saat monster itu dibunuh oleh Blomer, monster tanaman yang lain sudah dihabisi dengan cepat oleh para anggota yang lain.
“Blomer! Kamu baik-baik saja? Apakah kamu terluka?” Blorie sangat mengkhawatirkan saudaranya.
“Mereka berdua level 2 dan dengan sukarela menempatkan diri mereka di baris depan untuk melawan musuh yang lebih kuat dari mereka agar mereka dapat terus menjadi lebih kuat lagi.” Racita berkata kepada Samir.
“Janganlah kalian semua kemari. Itu hanya membuatku tidak terlihat keren.” Blomer berkata dan mengumpulkan tenaganya lagi untuk bisa ke posisi duduk.
“Pedang kecil itu.” Samir melihat pedang yang serupa dengan pedang yang dimiliki Laris.
“Ini replika yang diberikan untuk Blomer saat kenaikan levelnya dulu. Aku membuatkan pedang ini persis seperti miliki Laris.” Blorie berkata kepada Samir mengenai replika pedang yang dimiliki Laris.
“Bukankah mengesalkan? Tidak ada yang memintanya berdiri, tapi dia berlari dan menjadi pahlawan untuk Ras Folkr.”Blomer berkata sambil melihat pedang miliknya tersebut.
“Uh, apakah kamu mau aku perkenalkan dengan Laris?” Samir bertanya dan wajah Blorie serta Blomer bersinar.
“Aku belum melakukan apapun yang pantas untuk dilihatnya. Tapi, kalau memang aku boleh bertemu dengannya. Dengan senang hati aku akan bertemu.” Jawaban Blomer yang malu-malu tersebut mengundang anggota lain untuk menahan tawa melihatnya.
“Kalian sialan! Kemari biar kupukul kalian.” Blomer marah dan semua anggota lainnya bubar sambil tertawa.
__ADS_1
***