VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption

VELT DUNGEON'S STORY - Nephilim's Corruption
Chapter 14 - Penjelajahan Dungeon Bersama


__ADS_3

Sebelum Fajar menyingsing, Vezda sudah bangun dan mempersiapkan beberapa barang yang akan dibawa untuk menuju ke dungeon dan pastinya bekerja untuk mendapatkan uang. Alasannya adalah tentu dia tidak ingin menjadi beban di dalam aliansi dan memang Vezda kesini untuk melanjutkan petualangannya. Vezda hanya menyiapkan beberapa barang di atas kasurnya dan beranjak ke ruang makan untuk sarapan. Karena masih sangat pagi, Vezda harus menyiapkan makanannya sendiri karena memang belum ada siapapun di sana. Vezda menyiapkan makanan sederhana untuk dirinya sendiri.


Setelah selesai makan, Vezda melakukan beberapa pemanasan ringan sebelum mempersiapkan dirinya untuk kembali ke dungeon. Pemanasan yang dilakukan Vezda sama seperti latihan untuk anggota yang lain, namun Vezda hanya melatih pernapasannya sambil bermeditasi setelah melakukan peregangan. Sebenarnya saat berlatih itu, Vezda memakan waktu cukup banyak dan beberapa anggota lain melihatnya dan sedikit bingung dengan apa yang Vezda lakukan.


“Vezda.” Catherine yang sedang bersama dengan Alfred melihat Vezda sudah selesai bermeditasi menghampiri Vezda.


“Chatty, Alfred. Kalian baru selesai berlatih?” Vezda bertanya kepada mereka berdua.


“Betul. Kami baru selesai berlatih.” Alfred menjawab Vezda.


“Kenapa kamu hanya berdiam diri seperti itu, Vezda? Kamu terlihat seperti seorang yang tertidur sambil duduk.” Catherine bertanya kepada Vezda karena dia juga bingung mengenai latihan yang Vezda lakukan.


“Aku bermeditasi untuk menenangkan pikiran dan juga mengatur pernapasan.” Vezda menjelaskan kepada Catherine.


“Ah. Aku ingat kapten pernah membicarakan tentang pengaturan pernapasan Vezda waktu kita pertama kali bertemu dengannya. Karna mengatur pernapasan dengan tenang dan fokus pada hal yang harus dilakukan, Vezda bisa memiliki detak jantung yang sangat rendah meskipun dalam keadaan yang sangat genting.” Alfred ternyata mengingat apa yang pernah dibicarakan oleh Kapten Laris dan Vezda tersenyum dengan bangga.


“Betul. Nanti kalian juga akan menerima pelatihan sepertiku. Mungkin aku atau anggota elit yang lain akan melatih kalian.” Vezda berkata dengan senang kepada mereka berdua.


“Kami?” Alfred bertanya dengan ragu.


“Ya, betul kalian yang berada di level 4 dan lebih rendah akan menerima pelatihan ini. Pelatihan ini akan berguna dalam pertarungan yang sangat sengit atau mungkin sekedar untuk mengatur pernapasan kalian saat berlari dalam waktu yang sangat lama.” Jelas Vezda.


“Wah, aku sudah tidak sabar.” Catherine berkata dengan senang saat itu.


“Tunggu saja kabar dari kapten, ya. Kalau begitu kalian sarapan saja dulu bersama yang lain.” Vezda berkata kepada mereka berdua.


“Baik!!” Mereka berdua berkata dan beranjak pergi dan Vezda hanya tersenyum melihat mereka berdua.


Karena matahari sudah semakin terang, Vezda bergegas menuju ruangan Kapten Laris untuk meminta izin agar dapat turun ke dungeon selama beberapa hari. Vezda berencana untuk pergi seorang diri saja karena Vezda masih mau menelusuri banyak daerah di sekitar lantai 30. Vezda sangat tertarik dengan beberapa lantai di sana dan memang ingin banyak mempelajari daerah di lantai 30 dan sekitarnya.


“Teman-teman?” Vezda bingung melihat sudah ada Celia, Calia, Samir, dan Syllia yang juga akan memasuki ruangan Kapten Laris.


“Vezda. Ada perlu apa kamu menuju ruangan Kapten?” Calia bertanya pada Vezda saat mereka di depan pintu ruangan Laris.


“Aku mau meminta izin untuk pergi ke dungeon sendirian. Kalian sendiri ada perlu apa?” vezda menjawab pertanyaan Calia.


“Kebetulan sekali kami juga mau mengajak Kapten Laris untuk ke dungeon. Kalau begitu ayo kita pergi bersama saja.” Calia menjawab Vezda dengan senang.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan ikut bersama kalian dengan senang hati.” Vezda berkata dan mereka semua terlihat senang dan Calia mengetuk pintu lalu masuk bersama ke ruangan Laris.


“Kapten, kami masuk.” Calia berkata sambil membuka pintu ruangan dan terlihat ada Laris dan Aleratha yang sedang bekerja.


“Tumben sekali kalian beramai-ramai masuk kemari. Ada apa?” Aleratha bertanya kepada setiap dari mereka.


“Kak Aleratha juga ada di sini.” Syllia juga terkejut karena ada Alertaha yang sedang bertugas di ruangan Laris.


“Kapten, kami akan pergi bersama menuju dungeon selama 1 minggu. Apakah kapten ikut bersama kami?” Calia bertanya kepada Laris yang sedang bekerja.


“Ah sebentar. Sedikit lagi selesai. Nah, sepertinya ke dungeon adalah ide yang bagus.” Laris berkata sambil menaruh pena bulu miliknya dan Calia terlihat sangat senang saat Laris setuju untuk ikut bersama ke dungeon.


“Aku sebenarnya berencana untuk ke dungeon sendiri, tapi seperti jika bersama akan lebih ramai.” Vezda berkata kepada Laris.


“Jangan jadikan hal itu kebiasaan Vezda. Aku paham kamu banyak mempelajari monster yang ada, tapi jangan terlalu meremehkan dungeon.” Alerataha berkata kepada Vezda sambil menutup gulungan berkas yang dia pegang.


“Betul dan juga kita sudah bersama ada baiknya kita masuk ke dalam dungeon untuk mulai mengumpulkan dana dan juga mungkin perbekalan untuk ekspedisi yang akan datang. Aleratha, apakah kamu akan ikut juga?” Laris berkata kepada mereka dan bertanya kepada Aleratha.


“Aku akan ikut, tapi mungkin Bromner akan sedikit kesepian selama 1 minggu ini karena harus mengerjakan tugas dan pekerjaan sendirian.” Aleratha berkata kepada Laris.


“Oh, iya. Tolong rahasiakan ini dari Ragnulf. Aku yakin dia akan terus mengoceh dan berisik jika ikut bersama dengan kita.” Celia akhirnya berkata kepada Laris.


“Ada baiknya untuk tidak turun dengan kekuatan penuh karena kita juga tidak tahu apa yang kan terjadi di permukaan. Jadi, akan lebih baik kalau tetap ada Ragnulf dan Bromner di sini untuk mengerjakan hal-hal yang lain.” Jelas Laris.


“Nah, karena kita sudah sepakat, mari kita bersiap dan berkumpul di depan Tower setelah makan siang.” Laris melanjutkan kata-katanya setelah berdiri dari tempat duduknya.


“SIAAAP LAKSANAKAN!!!” Semuanya, kecuali Vezda, Aleratha, dan Samir bersorak gembira.

__ADS_1


***


Vezda berjalan menuju toko Aliansi Kyana dengan perlengkapannya yang sudah siap untuk menuju dungeon. Vezda ke toko Aliansi Kyana bersama Celia dan Samir. Meskipun Vezda sudah beberapa kali ke Aliansi Kyana, mungkin ini kedua kalinya dia bertemu penjaga toko yang sebelumnya sudah melayani Vezda saat Vezda pertama kali bertemu dengannya.


“Hai, Petualang. Kita bertemu lagi. Apa ada yang bisa kubantu?” Gadis itu tersenyum manis ke arah Vezda.


“Heh? Vezda, kamu sudah pernah bertemu Neisa?” Celia bertanya karena melihat Vezda seperti pernah bertemu gadis itu.


“Sebenarnya aku pernah kesini untuk menjual tanduk Unicorn saat hari pertama aku datang ke Kota Femi.” Jelas Vezda kepada Celia.


“Betul. Mungkin kamu sudah beberapa kali ke tempat pengobatan kami juga, tapi aku belum memperkenalkan diri. Aku Neisa Coldidre.” Neisa memperkenalakan dirinya kepada Vezda secara resmi.


“Aku Vezda Fenias. Sebuah kehormatan bisa mengenalmu.” Vezda juga memperkenalkan dirinya.


“Ah, iya kami mau membeli beberapa ramuan elixir yang paling bagus.” Celia meminta kepada Neisa.


“Baik. Aku akan ambilkan dulu ramuan elixirnya.” Neisa berkata dan berusaha mencapai rak tertinggi tempat dia menyimpan ramuan tersebut dan terlihat sangat kesulitan.


“Neisa, apa kamu perlu bantuan?” Celia sedikit kasihan melihat Neisa berjuang keras untuk mengambil keranjang berisi ramuan.


“Ti-Tidak. Aku…bisa…sendiri.” Neisa berkata dengan kesulitan dan akhirnya berhasil menurunkan keranjang berisi ramuan elixir.


“Baiklah kami bawa semuanya. Ini untuk pembayarannya ya.” Vezda berkata dan menaruh sekantung platine sejumlah yang dibutuhkan untuk membayar  semua ramuan itu.


“Eh? Kamu langsung membayar semuanya?” Celia terkejut melihat Vezda langsung membayar semua ramuan itu.


“Tentu saja. Aku tidak pernah berhutang pada siapapun jika memang tidak diperlukan.” Vezda berkata kepada Celia dan mengangkat keranjang berisi ramuan elixir itu.


“Baiklah. Terima kasih banyak Neisa. Apakah ada yang kamu inginkan dari dungeon? Kami mungkin akan ke bawah sampai lantai 30 atau lebih.” Celia bertanya kepada Naisa.


“Aku ingin minta tolong bawakan 30 bone factor, ya.” Neisa berkata kepada Celia.


“Baik. Akan kami bawakan. Kalau begitu kami berangkat dulu.” Celia dengan ceria melambaikan tangan dan mereka beranjak pergi.


“Sampai jumpa lagi, teman-teman.” Neisa berkata sambil tersenyum.


“Vezda, kamu membawa semua senjata?” Calia bertanya karena melihat Vezda membawa kerang dan kedua parangnya.


“Tentu saja. Aku juga membawa belati ini.” Vezda menunjukkan bagian belakang pinggangnya tempat dia menyimpan pisaunya.


“Isi perbekalan kalian dan kita menuju dungeon.” Laris berkata dan semuanya bersiap untuk menuju dungeon.


****


Vezda di dalam dungeon lebih banyak memperhatikan teman-temannya yang lain bertarung melawan monster untuk mencatat setiap kemampuan mereka dan juga mencatat banyak hal dari serangan dan pola serangan monster yang ada. Tentunya sambil mengambil banyak kristal dari tubuh monster. Hal ini Vezda lakukan karen saat pertama kali berjalan menuju permukaan bersama, Vezda tidak sempat mencatat karena lengannya hanya 1 dan harus bersiap untuk menjaga anggota aliansi yang memiliki level rendah.


“Vezda, apakah kamu tidak akan berlatih dengan membunuh monster?” Aleratha bertanya pada Vezda yang sedang mengambil kristal dari sekawanan mayat monster yang baru mereka bantai.


“Tidak. Santai saja aku juga sedang melihat bagaimana gaya bertarung setiap kita supaya aku dapat lebih membantu dan melengkapi kelompok kita.” Vezda berkata kepada Aleratha dan Aleratha dengan senang hati bersama dengan Vezda untuk menemaninya.


Saat itu Vezda memperhatikan kalau Aleratha juga bukan penyihir yang hanya bisa bertarung jarak jauh, tapi juga mempu bertarung jarak dekat tanpa adanya kesulitan, meskipun daya tahannya tidak seperti yang lain sebagai petarung garis depan. Saat melihat Aleratha bertarung jarak dekat, Vezda juga terkadang melihat betapa cantiknya seorang Aleratha dan tentaunya Vezda sesekali tersenyum tanpa sebab saat melihat Aleratha.


“Vezda, aku penasaran.” Celia tiba-tiba berkata saat Vezda mengubah posisi menjadi di bagian depan karena Vezda mau membunuh beberapa monster juga.


“Hmm? Kenapa, Celia?” Vezda bertanya kepada Celia.


“Apakah kamu benar-benar menyukai Aleratha?” Pertanyaan polos itu mengejutkan setiap dari mereka, kecuali Laris dan kembarannya yang tidak habis pikir dengan pertanyaan kakaknya itu.


“Wah. Kak Aleratha.” Syllia bertanya dengan wajahnya yang memerah dan juga melihat Aleratha yang mukanya menjadi merah, tapi Aleratha tidak marah ataupun menyanggah apapun yang dikatakan Celia.


“Dari semua pembahasan, kenapa kamu bertanya hal itu, Celia?” Vezda bertanya kepada Celia.


“Karena aku sedikit berpikir tentang perkataan Aliviah di bar bahwa kamu menyukai seorang Elf, tapi aku melihat kamu lebih dekat dengan Aleratha dibanding Syillia ataupun Alise. Ditambah dengan kejadian kemarin.”Celia berkata seperti seorang anak yang benar-benar polos.


“Shhh!” Vezda tiba-tiba memberi tanda berhenti ke semua anggota kelompok.

__ADS_1


“Semuanya, siapkan senjata. Bersiap untuk bertarung.” Laris berkata kepada semuanya dan semuanya menyiapkan senjata mereka.


“Monster Parade. Ada 6 monster yang diperkuat dan sisanya monster biasa.” Vezda mudah mengetahui hal detail dari jarak yang sangat jauh sama seperti Laris.


“Vezda, Calia, Celia. Garis depan. Samir garis belakang. Aleratha dan Syllia. Mulai merapal mantra.” Laris memberi perintah pada semuanya dan mereka semua langsung bergerak ke posisi.


Vezda dan Laris benar. Monster Parade dengan jumlah yang besar dan terdapat 6 monster yang diperkuat. Vezda bersiap dengan menggunakan pisau miliknya, Celia menggunakan pedang yang memiliki 2 bilah dan itu sangat besar, dan Calia menggunakan 2 parang yang serupa.


“Celia, Calia. Aku akan menyelaraskan seranganku dengan kalian berdua.” Vezda berkata tepat sebelum memulai pertempuran.


“Baik.” Celia dan Calia berkata secara bersamaan.


Lalu saat sekumpulan monster tersebut sudah masuk jangkauan serang mereka, Vezda, Celia, dan Calia langsung maju untuk membantai semua monster tersebut. Serangan mereka bertiga sangat selaras seakan mereka sudah mempersiapkan serangan-serangan tersebut. Nmaun, hal itu juga memiliki batas saat monster parade muncul dari sisi kanan dan kiri. Tentunya, Syllia dan Aleratha sudah hampir selesai merapalkan mantra mereka.


“Kalian bertiga kembali ke sini!” Laris memberi perintah kepada Vezda, Celia, dan Calia saat lingkaran sihir sudah muncul di bawah kaki Aleratha dan Syillia. Tentunya mereka bertiga lansgung mundur tanpa berpikir apapun lagi.


“LEEGI TORN!” Aleratha dan Syllia menggunakan sihir yang sama dan semua yang ada di sana berubah menjadi abu saat pilar api menghancurkan semua yang ada di jalannya.


Vezda tidak pernah berhenti kagum akan kedua penyihir itu. Syllia dan Aleratha. Meskipun Syllia masih duduk di lavel 3, kekuatan sihirnya bisa menyamai Aleratha meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama dalam perapalan mantranya.


“Tunggu sebentar. Semua monster yang diperkuat tidak mempan terhadap api.” Setelah pilar api turun, Calia melihat 6 monster yang masih terus maju tanpa adanya luka sedikitpun.


“Dance of Scorching Flame - Scorching Dragon Dance.” Vezda melesat sendiri dengan sangat cepat dan memenggal keenam monster tersebut dalam 1 serangan.


Indah sekali tarian itu.


Vezda, tarianmu itu adalah senjata paling mematikan.


Gerakannya sangat cepat, kuat, dan sangat indah seperti seekor naga.


Vezda, indah sekali gerakanmu.


Hanya menunggu waktu melihat kemampuan asli Vezda, ya.


Wah, bahkan keindahan Elf pun tidak bisa menyamai keindahan gerakannya.


Aleratha, Laris, Samir, Celia, Calia, dan Syllia tertegun dan terdiam beberapa detik saat melihat gerakan dari Vezda. Gerakan tersebut belum pernah dilihat siapapun selain Aliviah sendiri. Gerakan menyerang musuh dan siapapun yang melihatnya seperti melihat naga api yang sedang membakar apapun yang menghalangi jalannya. Saat itu mereka melihat sosok yang sangat kuat sedang memasukan kembali pedangnya setelah membersihkan noda darah yang ada di bilah tersebut. Nafas dari Vezda itu juga bisa dirasakan oleh yang lain. Hangat, menangkan, dan nyaman.


“Vezda, apakah itu adalah salah satu teknik yang sudah kamu kuasai dari lamanya pelatihan dirimu?” Tanya Aleratha kerpada Vezda sambil mendekatinya.


“Iya betul. Ini adalah *N*oble Technique yang merupakan teknik ciptaanku sendiri.” Vezda berkata dan Celia benar-benar terlihat senang melihat perkembangan pesat dari Vezda meskipun baru duduk di level 5 seperti dirinya.


“Aku tidak pernah berhenti merasa terkesan dengan setiap cara bertarung milikmu yang sangat indah dan tidak seperti petualang pada umumnya.” Laris berkata kepada Vezda sambil mengambil beberapa kristal yang berjatuhan dari monster.


“Terima kasih, Kapten.” Jawab Vezda dan membantu Laris mengambil kristal yang ebrjatuhan.


“Vezda, apakah kamu mau melatih beberapa anggota nantinya untuk pengaturan pernapasan saja?” Aleratha bertanya sambil mereka semua berjalan menuju lantai yang lebih dalam.


“Aku tidak keberatan. Tapi, mungkin aku harus belajar dulu bersamamu dalam melatih anggota aliansi yang lain karena aku takut ada cara melatih yang berbeda antara anggota aliansi yang sekarang dan anggota aliansiku yang dulu.” Vezda berkata kepada Aleratha.


“Ternyata memang betul Aleratha dan Vezda sangat serasi jika menjadi pasangan.” Celia kembali membahas hal tersebut saat dia melihat bagaimana kedekatan Aleratha dan Vezda.


“Celia, Aleratha adalah High Elf. Aku tidak perlu menyebutkan High, dia adalah Elf. Aku hanya manusia dengan kutukan yang tertanam dalam tubuhku.” Vezda berkata hal tersebut karena sebenarnya meskipun Vezda mencintai Aleratha, dia tidak pernah pantas untuk seorang High Elf seperti Aleratha.


Betul. Aku hanyalah manusia biasa. Elf pada dasarnya adalah ras yang sangat hebat bila dibanding manusia. Sebuah hal yang sangat hina jika Elf mau memiliki hubungan dengan manusia bahkan mungkin seorang High Elf akan dijatuhi hukuman mati jika mereka menjalin kasih dengan manusia. Hal itulah yang Vezda paham selama dia hidup. Elf dan ras lain mungkin tidak akan bisa menjalin kasih, kecuali mereka yang mau membuang kehormatannya.


“Vezda, aku juga mempunyai teman yang sama sepertiku, High Elf. Saat ini dia sudah memiliki anak bersama dengan seorang manusia. Jangan pernah merendahkan dirimu seperti itu.” Aleratha berkata kepada Vezda sambil berjalan tanpa melihat ke arah Vezda. Tentunya perkataan tersebut mengejutkan teman-teman yang lain


“Tunggu sebentar Kak. Apa yang terjadi dengan teman kakak sekarang?” Syllia bertanya kepada Alerahta.


“Menjalani hidupnya bahagia sebagai seorang ibu, tanpa memandang lagi perbedaan ras.” Jawab Aleratha kepada Syllia sambil tersenyum.


“Vezda, aku tidak mau mendengar apapun dari orang lain mengenai apa yang kamu rasakan kepadaku. Setelah kembali nanti, menghadaplah kepadaku. Aku ingin mendengar semuanya langsung dari mulutmu.” Aleratha berkata hal tersebut dan semuanya langsung mengarahkan pandangannya kepada Aleratha.


“Aku harap kalian berdua mendapatkan akhir yang indah bersama.” Laris hanya berkata dan tersenyum ke arah Aleratha dan Vezda sementara wajah Aleratha memerah.

__ADS_1


****


__ADS_2