
Vezda, laris, Aleratha, Celia, Calia, Syllia, dan Samir akhirnya sampai di lantai 18 yang merupakan lantai aman pertama di dalam dungeon dan satu-satunya lantai aman yang memiliki kota di bawah permukaan.
“Ternyata sudah lewat 24 jam, berpetualang bersama tidak memberikan efek yang melelahkan.” Vezda berkata kepada yang lain karena di lantai 18 cahayanya sudah paling terang yang menandakan itu sudah tengah hari dan memang betul saat Vezda melihat arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.
“Memangnya kamu butuh waktu berapa lama untuk ke sini?” Celia bertanya kepada Vezda sambil berjalan menuju kota.
“Saat pertama aku di Kota Femi, aku sampai di lantai 17 dalam waktu kurang dari 3 jam dan setelah sampai, aku melawan Titan dulu sebelum masuk ke lantai 18.” Jelas Vezda.
“Bahkan jika aku sendiri ke lantai 18, sepertinya tidak mungkin juga bisa sampai ke sana dalam waktu kurang dari 6 jam.” Celia berkata kepada Vezda.
“Kebetulan aku memang sudah terbiasa menjelajah dungeon sendiri saat di Kota Araga untuk mencari platine dengan cepat.” Vezda menjelaskan.
“Oh iya bicara soal menuju dungeon sendiri, kamu terlihat lebih segar dari kita semua.” Laris berkata kepada Vezda.
“Iya, aku pada dasarnya dapat berlari tanpa henti selama lebih dari 2 minggu. Itu karena Berkat yang diberikan Archon dan juga pengaturan pernapasan yang aku kuasai.” Jelas Vezda.
“Karena kita semua berbeda denganmu, kita tetap akan beristirahat di sini. Apakah itu tidak masalah?” Laris bertanya kepada Vezda.
“Tentu saja tidak ada masalah. Kita adalah tim dan aliansi jadi aku harus bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman yang lain.” Vezda berkata dan Laris paham betul kalau Vezda adalah seseorang yang selalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
“Hanya saja hari ini terlihat lebih sepi dari biasanya.” Aleratha berkata dan benar saja kalau area kota di lantai 18 saat itu lebih sepi dari biasanya.
Aku memiliki perasaan buruk tentang hal ini. Intuisi Vezda langsung berkata sesuatu hal yang buruk akan terjadi.
“Sepertinya ada kasus pembunuhan di dalam penginapan hari ini.” Kata seorang petualang yang sedang berada di sana.
“Iya. Padahal pembunuhan di kota ini hampir tidak pernah terjadi, tapi kali ini terjadi pembunuhan.” Kata seorang petualang lain yang ada di sebelahnya.
“Kapten, sepertinya ada baiknya kalau kita ikut melihat dulu apa yang terjadi di penginapan. Sepertinya penginapan juga sedang ramai dengan petualang lain.” Vezda berkata dan menunjuk ke arah penginapan di kota tersebut.
“Ide bagus. Karena tiba-tiba jariku terasa sangat gatal. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi.” Laris berkata dan mereka semua beranjak menuju penginapan tersebut.
Kota Underground atau Underground City adalah nama kota tersebut. Kota yang berada di bawah permukaan dan tidak terikat dengan peraturan guild. Sosok yang memimpin tempat itu adalah petualangan yang levelnya tertinggi. Vezda sempat kemari dan mengetahui beberapa orang yang wajahnya pernah Vezda lihat, namun Vezda tidak mengenal siapa mereka. Berbeda dengan Laris dan yang lain karena mereka cukup mengenal pemimpin di kota ini.
Darah? Tidak salah lagi. Ini aroma darah. Sesuatu benar-benar terjadi di sini. Intuisi Vezda benar kalau ada sesuatu yang beruku terjadi.
“Aroma ini?” Samir berkata kepada yang lain.
“Benar. Ini aroma darah.” Calia berkata kepada yang lain.
Saat berjalan menuju ke arah aroma itu berasal, mereka semua melihat kalau kondisi setiap sudut ruangan penginapan itu sangat bersih dan rapi seakan tidak ada orang lain yang menginap di sana. Tidak ada yang mengetahui apa yang sedang terjadi sampai mereka melihat kamar yang memancarkan aroma darah itu. Mayat laki-laki dengan kepalanya yang sudah hancur tergeletak di kamar itu dan semuanya terkejut.
“Wah pembunuhannya juga sangat sadis.” Celia berkata saat melihat mayat tersebut.
“Kenapa harus terjadi di sini?” Seorang petualang yang merupakan pemilik penginapan tersebut berkata dengan penuh emosi dan depresi.
“Hey apa yang kalian lakukan disini? Tempat ini sudah ditutup dari umum.” Seorang petualang lelaki masuk dan berteriak pada kelompok Aliansi Aliviah.
“Hey, Jays. Kami berencana untuk menginap di sini, tapi sepertinya ada peristiwa yang terjadi. Jadi kami akan membantu kalian untuk menyelesaikan maslah dengan cepat. Bagaimana?” Laris berkata kepada Petualang lelaki itu yang baru datang.
Jays Ram. Petualang level 3 yang merupakan pimpinan di Kota Underground dan penanggung jawab seluruh fasilitas yang ada di Kota Underground.
“Baiklah Laris karena kalian yang menginginkannya dan kalian merupakan salah satu aliansi terkuat di Femi. Itu akan sangat membantu kami.” Jays menyetujui saran Laris.
“Nah, sehubungan dengan hal ini, apakah ada info mengenai orang yang mungkin bersamanya?” Laris bertanya kepada Jays.
“Oi, Morad. Jangan hanya memegang kepala seperti itu. Jelaskan pada mereka kronologi kejadiannya!” Jays menyuruh Morad yang merupakan pemilik penginapan tersebut.
__ADS_1
“Ah iya. Dini hari tadi, laki-laki ini bersama seorang wanita dengan menggunakan jubah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dan juga wajahnya. Begitu juga lelaki ini datang menggunakan zirah di seluruh tubuhnya dan helm yang menutupi seluruh wajahnya. Aku jadi tidak bisa melihat bagaimana penampilannya. Tapi yang pasti adalah mereka berdua menyewa seluruh kamar penginapan ini untuk mereka berdua saja.” Jelas Jays kepada Aliansi Aliviah.
“Berdua? Aku justru penasaran hubungan seperti apa yang mereka miliki.” Laris berkata dan dari semuanya mungkin hanya Syllia yang terlihat memerah wajahnya, Samir terlihat kebingungan, serta Vezda, Celia, Calia, dan Aleratha terlihat biasa saja.
“Pertanyaan itu sebenarnya masih ada di benakku, namun selama pembayaran yang kuterima sesuai dengan yang yang kuminta, tidak ada alasan untukku menolaknya.” Jelas Morad.
“Suara pembicaraan kita juga bergema sepanjang lorong penginapan. Setidaknya sudah lebih dari 8 jam dari kejadian tersebut. Kalau sesuai yang Morad bilang dini hari tadi, kemungkinan besar juga kejadiannya antara 8 sampai 12 jam yang lalu.” Vezda melihat arloji miliknya dan menjelaskan kepada Laris.
“Waktu selama 8-12 jam sangat tidak mungkin kalau pelakuknya masih berada di sini, kecuali kalau dia masih berputar-putar di sini.” Laris berusaha mencari sebuah petunjuk di sekitar tempat kejaian perkara.
“Setelah kejadian juga, aku bertanya ke semua anak buahku, tapi sepertinya tidak ada yang memiliki informasi mengenai pelakunya.” Jays menambahkan apa yang dia sudah dapatkan mengenai kejadian ini.
“Apakah ini berarti pelakunya sudah kabur ke permukaan atau ke lantai yang lebih dalam?” Calia bertanya kepada mereka.
“OI! Apa kalian sudah dapat barangnya?” Jays berteriak kepada salah satu bawahannya.
“Sudah Jays. Ini barang sangat mahal. Untung ada yang menjualnya.” Salah seorang bawahan Jays berlari ke arah tempat kejadian perkara membawa sebuah botol.
“Force Status Reveal.” Jays berkata kepada semuanya yang ada di sana.
“Ini memang tidak etis untuk dilakukan, tapi kita tidak punya pilihan lain.” bawahan Jays itu berkata kepada semua yang ada di sana sambil menggunakan barang tersebut dan setelah beberapa saat muncul gambar di punggungnya yang merupakan status lengkap beserta nama dan kemampuan yang dimiliki petualang itu.
“Gawat aku tidak bisa membaca tulisan ini. Elf, apakah kamu bisa membacanya?” Jays menunjuk Aleratha karena dia melihat Aleratha adalah seorang Elf.
“Aku bisa membacanya.” Aleratha berkata berjalan mendekati mayat itu.
“Aku juga bisa.” Samir berkata dan bersama dengan Aleratha mereka berdua melihat status mayat tersebut.
Dari jauh Vezda juga bisa membacanya dengan jelas karena dulu dia mempelajari cara membaca bahasa tersebut dan aksaranya. Saat Aleratha dan Samir membaca, Vezda sudah paham terlebih dahulu semuanya, namun memilih diam saja dan membiarkan Samir dan Aleratha yang memberitahu status dari mayat tersebut.
“Nama Grigg Nelson.” Aleratha mulai membacakan apa yang tertulis pada tubuh mayat tersebut.
“Tunggu sebentar. Itu Grigg dari Aliansi Daimon?” Jays langsung memotong Aleratha dan Samir.
“Memang adanya ada apa?” Laris bertanya kepada Jays.
“Level 4, kekuatan dan daya tahannya berada di tingkat S. Dari kemampuan khusus yang dimilikinya, kemungkinan besar dia pengguna pedang 2 tangan atau pedang dan perisai.” Vezda melanjutkan dengan apa yang sudah di baca.
Vezda ternyata bisa membaca aksara lain. Aleratha langsung paham kalau Vezda juga dapat membaca aksara khusus yang hanya bisa dibaca oleh beberapa orang saja dan bukan aksara yang umum untuk dibaca.
“Apa yang dilakukan oleh petualang level 4 di penginapan seperti ini?” Laris bertanya-tanya karena sepertinya ada petunjuk yang terlewat.
“Kapten, perhatikan tas yang ada di situ. Sobek dan juga ada bungkusan besar yang sudah kosong.” Vezda menunjuk tas yang sudah dirobek dan juga Vezda melihat kalau ada bungkusan besar yang sudah kosong terbuat dari kain yang keras.
“Pencurian? Lalu ada petunjuk misi dari Serikat, namun sebagian besar sudah luntur karena bercak darah.” Laris menarik sehelai kertas yang sudah hampir sobek karena dilumuri darah yang terlalu banyak.
“Hmm. ‘Lantai 32, sendirian, bawakan, rahasia’. Hanya ada tulisan itu saja yang terbaca.” Laris berkata sambil berusaha membaca tulisan tersebut.
“Dengan kata lain, apapun yang dibawa oleh grigg, adalah sesuatu yang diincar oleh pelaku pembunuhan.” Vezda berkata kepada Laris.
“Kalau memang benar pasti begitu. Lalu, Morad apakah ada peralatan atau furniture yang dipindahakan sesudah kejadian ini?” Laris bertanya kembali kepada Morad.
“Tidak ada. Semua masih seperti semula.” Morad menjawab Laris.
“Kalau begitu, pembunuhan ini terjadi sebelum ada hal lain terjadi karena setiap barang yang ada di ruangan ini bersih. Pastinya juga pembunuh ini berada di level minimal 4 atau lebih tinggi.” Vezda berkata sambil memperhatikan sekitar.
“Bisa jadi sekelas atau lebih tinggi dari kita” Samir berkata kepada semuanya yang ada di tempat itu.
__ADS_1
“Lalu kamu mengetahui bagaimana fisik dari wanita itu?” Laris kembali bertanya untuk mengerucutkan target yang dapat dicari di Kota.
“Oh kalau soal itu, wanita itu memiliki dada yang besar dan lekuk tubuh yang sangat indah.” Morad memberi isyarat dengan menggerakan kedua tangannya didepan dada dany untuk menandakan wanita yang dia lihat memiliki tubuh yang bagus.
“TUNGGU SEBENTAR! Bagaimana kalau kalian yang sebenarnya melakukan pembunuhan ini lalu berlagak seperti kalian tidak melakukan apapun?” Salah seorang bawahan Jays berkata sambil menunjuk setiap perempuan yang ada di kelompok Aliviah itu.
“Mungkin saja karena ukuran itu sudah bisa dibilang tepat.” Jays berkata kepada yang ada di sana sambil melihat dada Calia dengan muka yang mesum.
“Sepertinya begitu. Tubuhnya juga sangat bagus.” Morad juga mengeluarkan perkataan dengan nada dan wajah yang sama.
“KALIAN LAKI-LAKI BRENGSEK! TUBUHKU INI HANYA UNTUK KAPTEN SEORANG! KALAU KALIAN TIDAK DIAM\, AKU AKAN MENGHANCURKAN ***** KALIAN SEKARANG JUGA!” Teriakan Calia cukup untuk menakuti Jays\, Morad\, dan kawan-kawannya hingga mereka menutupi ************ mereka.
“Seperti yang kau lihat, tidak ada dari kami yang memiliki kemampuan untuk merayu laki-laki.” Laris berkata sambil tersenyum.
“Siapapun itu kemungkinan besar sudah keluar dari kota ini, tapi melihat kalau tas yang dirobek sementara isinya masih sangat rapi, kemungkinan besar pelaku masih ada di kota ini dan kain yang kosong itu sudah lama kosong dan baru dibuka dari lipatannya yang bertanda sudah kosong sejak awal.” Vezda menjelaskan kepada semuanya yang ada di tempat itu.
Beberapa hal masih belum jelas, tapi aku tidak yakin. Baju zirah dan kulit kepala bagian atas tidak ditemukan sama sekali. Vezda menduga kalau pelaku itu masih ada di tempat ini menyamar, tapi Vezda juga tidak yakin dengan hal tersebut.
“Kalau begitu kita akan membuat parameter untuk mencegah siapapun keluar dan masuk ke tempat ini. Jays, bawa bawahanmu untuk mengumpulkan semua petualang wanita yang ada di Kota. Kita akan melakukan pengecekan secara keseluruhan.” Laris memberi perintah kepada Jays dan teman-teman Jays.
“Baik kami akan lakukan itu.” Jays beserta bawahannya langsung berangkat menuju ke pusat kota untuk mengumpulkan para petualang yang ada.
“Sepertinya ini menjadi hal yang besar ya. Setidaknya ada hal yang bisa kita lakukan.” Celia berkata kepada teman-temannya yang lain.
“Ya, kita juga bisa membalas kematian Grigg.” Calia bersemangat untuk menangkap pelaku pembunuhan tersebut.
Setelah itu, Vezda, Calia, Celia, Syllia, Aleratha, Samir, dan Laris keluar dari penginapan dan berdiskusi untuk menangkap pelaku pembunuhan dengan cara menjebak pelaku agar tidak bisa lari kemana-mana.
****
“Laris, apa kamu masih merasakan hal yang aneh?” Aleratha bertanya kepada Laris yang terus menerus berpikir mengenai kejadian ini.
“Tentu saja. Seakan ada serpihan teka-teki yang tertinggal, tapi aku tidak tahu apa.” Larsi berkata kepada Aleratha.
“Saat ini semua akan bersiap untuk memeriksa petualang yang ada di tempat.” Aleratha berkata kepada Laris dan Laris melihat setiap petualng yang sudah berkumpul.
“Baiklah semuanya, sekarang berkumpul per baris dan mulai buka baju kalian untuk mempermudah proses pemeriksaan.” status kalian Jays berkata dengan wajah yang sangat mesum bersama dengan semua bawahannya.
“Manusia rendahan.” Aleratha berkata dengan wajahnya yang cukup marah, Calia dan Celia juga merasakan hal yang sama dan terukir jelas ekspresi itu di wajah mereka.
“Kami ambil alih disini, Jays.” Aleratha berkata kepada Jays dan gesturnya sudah menyuruh Jays untuk mundur.
“Silahkan berbaris menjadi 4 baris untuk mempercepat proses pemeriksaan.” Laris berkata kepada semua petualang yang sudah hadir, namun justru semua petualang wanita itu berkumpul ke depan Laris yang justru dia tidak akan memeriksa petualang-petualang itu.
“PELACUR-PELACUR INI!!!” Calia sudah naik pitam melihat sekumpulan wanita sudah terlihat nafsunya dari wajah mereka mendekati Laris.
“Calia, jangan membuat apapun yang tidak perlu.” Celia menahan Calia agar tidak melakukan apapun.
Saat itu Vezda memperhatikan semua petualang yang ada tanpa terkecuali untuk mencari seseorang yang mungkin mencurigakan dan berusaha mencari sebuat zirah yang sedikit aneh, tapi Vezda masih belum menemukan apapun yang mencurigakan.
“Eh.” Syllia berkata saat dirinya melihat seseorang akan kabur menuju lantai 17.
“Kenapa Syllia?” Vezda bertanya dan Syillia menunjuk ke arah seorang perempuan ras manusia anjing yang akan kabur menuju lantai 17.
“Samir, Syllia. Kejar!” Vezda memberikan perintah dan mereka bertiga langsung melesat untuk menangkap perempuan itu.
Vezda dan Samir langsung menuju ke depan perempuan tersebut, lalu Syllia dari belakang. Dengan begitu mereka mengepung perempuan itu dan perempuan itu tidak akan bisa kabur sama sekali dari mereka bertiga. Vezda dan Samir menodongkan pedangnya agar perempuan itu tidak berani untuk melawan dan dari belakang, Syllia juga menodongkan tongkat sihirnya.
__ADS_1
****