
Vezda kali ini menggunakan pakaian pelayan yang sangat modis. Tentunya ini hanya keusilan Aliviah, tapi justru Vezda sangat mendalami perannya kali ini. Vezda tidak menemukan hal itu memalukan karena saat berada di Aliansi Yvette dulu, dia sering menjadi pelayan yang menyiapkan segala kebutuhan untuk anggota aliansi lainnya. Ini hanya pertama kalinya dia melayani di Aliansi Aliviah. Karena Vezda kerja sangat cepat bersama dengan Syllia, mereka sudah menyelesaikan pekerjaan di markas dengan cepat dan Vezda meminta Syllia untuk beristirahat saja dan Vezda membereskan beberapa bagian di halaman depan markas.
“Archon Nero dan Celaena Glynfir. Sebuah pemandangan yang sangat langka melihat Anda datang kemari. Apakah ada yang bisa saya bantu?” Vezda menghampiri Archon Nero yang berdiri di depan gerbang utama markas.
“Aku ingin bertemu dengan Aliviah. Ada hal yang harus didiskusikan.” Nero hanya berkata demikian kepada Vezda.
“Apakah ini mengenai kejadian yang terjadi saat Festival tempo hari?” Vezda berusaha untuk tidak mengatakan hal yang menuju monster tanaman.
“Betul. Kami berdua datang untuk bertukar informasi.” Nero berkata kepada Vezda.
“Perkenalkan. Saya Vezda Fenias. Saya akan menjadi pelayan Anda dan juga Nyonya Claena. Mari ikuti saya.” Vezda berkata dan mempersilahkan masuk Nero dan Celaena.
Tanpa ada perkataan dari Nero dan Celaena, mereka berdua mengikuti vezda yang mengajak mereka untuk bertemu Aliviah. Aliviah kebetulan sedang berjalan-jalan di halaman belakang dan memang Vezda akan membawa mereka berdua kesana karena suasana yang lebih segar dan hening.
“Kau lagi.” Aliviah menunjukkan wajahnya yang sedikit kesal melihat Nero.
“Yo. Aku menemukan beberapa informasi mengenai monster tanaman yang lepas saat Festival. Apakah kita bisa berbicara sambil bersantai?” Nero menyapa Aliviah dengan gembira.
“Haaaah. Vezda.” Aliviah hanya mengeluarkan 1 kata itu saja untuk meminta pertolongan Vezda.
“Baik. Archon Nero, Nyonya Celaena. Silahkan untuk duduk terlebih dahulu bersama Aliviah. Saya akan menyiapkan beberapa hidangan untuk Anda dan Nyonya Celaena.” Vezda mempersilahkan mereka berdua duduk dan kembali masuk untuk mengambil hidangan yang memang sudah ada kalau semisal akan ada tamu.
“Silahkan untuk menikmati setiap hidangan.” Vezda sudah kembali dan membawa 2 potong kue dengan kualitas terbaik di Kota Femi dan juga kopi untuk Nero dan Celaena.
“Vezda. Kamu tetap diam di sini bersama Sigurd.” Aliviah berkata kepada Vezda.
“Baik.” Vezda berkata dan berdiam bersama Sigurd memperhatikan semua yang akan dibicarakan oleh Nero.
Nero menjelaskan bahwa terjadi anomali di lantai 32 yang membuat semua monster yang berjumlah sangat banyak keluar secara menyerbu. Anomali itu bukan Monster Party, tapi serupa. Monster-monster itu tidak menyerang awalnya, hanya berjalan searah seperti semut, namun akan menyerang jika melihat ada petualang. Sampai saat ini Nero dan Aliansinya juga tidak mengetahui kenapa anomali itu bisa terjadi.
“Serangan monster dalam jumlah yang tidak masuk akal di lantai 32, ya?” Aliviah bertanya untuk memastikan.
“Betul.” Jawab nero sambil menikmati kopinya.
“Kapan terjadinya insiden itu?” Aliviah kembali bertanya,
“Sekitar 3 minggu yang lalu.” Jawaban itu membuat ingatan Aliviah bergejolak.
Kalau dia bilang 3 minggu yang lalu, itu adalah kejadian dimana pembunuhan terjadi di Underground City. Aliviah mengingat laporan Laris.
“Rumor beredar di sekitar lantai 9-12 kalau Serikat mengirimkan kelompok untuk memeriksa apa yang terjadi lantai 24. Sepertinya Adinatha ingin menghapuskan kejadian yang pernah terjadi di lantai tersebut.” Jelas Nero.
“Sepertinya kita tidak bisa mempercayai dulu Adinatha bukan?” Aliviah bertanya kepada Nero.
“Tentu saja. Kita tidak bisa mempercayai Archon siapapun itu.” Jawab Nero.
“Baiklah aku mengerti akan hal itu, tapi berikutnya apa yang kau mau kami lakukan?” Aliviah langsung bertanya ke intinya.
“Kamu ingat? Aku sangat mempercayaimu. Aku akan memberikan informasi mengenai apapun yang berkaitan dengan peristiwa ini. Tidak ada yang lain.” Nero berkata kepada Aliviah sambil tersenyum dan menikmati kopi miliknya.
“Meskipun begitu, kita berarti harus melihat sendiri apa yang terjadi di lantai 24. Sayangnya semua anggotaku sedang pergi dan menyelidiki lantai 24 tidak mungkin bisa dilakukan.” Aliviah memberikan informasi mengenai Aliansinya.
“Apakah anggota aliansimu mulai melakukan investigasi di saluran pembuangan?” Tanya Nero.
“Begitulah.” Aliviah.
*N*ero ternyata cukup cepat dalam memahami situasi. Aliviah sebenarnya sedikit curiga tapi dia tetap berusaha mempercayai Nero.
“Bagaimana dengan War Dance? Kalau ada dia mungkin saja investigasi bisa dia lakukan sendiri karena dia bernilai lebih dari 100 kekuatan sendiri.” Nero berkata kepada Aliviah.
“Kalau soal itu–”
Pluk!
Sebuah gulungan surat jatuh dari langit terlihat dijatuhkan oleh seekor burung hantu yang melewati mereka. Vezda tidak bisa melihat jelas burung hantu tersebut, tapi memang benar burung itu menjatuhkan sebuah gulungan tepat di kepala Aliviah.
“Hmm?” Aliviah melihat dan hendak mengambil gulungan kertas itu.
“Burung pembawa pesan atau mungkin peliharaan seseorang?” Tanya Nero.
“Sepertinya begitu.” Aliviah membuka dan membaca gulungan tersebut.
Aliviah membaca perlahan dan Nero hanya menikmati makanan dan minumannya sambil memperhatikan Aliviah yang sedang serius membaca. Lalu secara perlahan Aliviah menepuk jidatnya.
“Samir sedang menuju lantai 24.”
UHUUUK!!?
“Hahahahaha. Kebetulan yang sangat kebetulan.” Aliviah berkat hal itu sementara Nero berusaha membersihkan hidungnya yang kemasukan kopi.
“Samir bahkan bilang untuk jangan khawatir. Mana mungkin kita tidak kahawatir kalau dia pergi ke sana seorang diri. Sigurd, panggil Ragnulf dan juga Syllia! Ini penting dan mendesak.” Aliviah memberikan perintah kepada Sigurd dan Vezda membantu Nero membersihkan wajahnya.
“Aliviah, izinkan aku untuk ke lantai 24 karena aku memiliki firasat buruk mengenai hal ini.” Vezda bertanya kepada Aliviah.
“Tunggu, bukannya kamu hanya pelayan?” Nero bertanya kepada Vezda.
“Dia adalah anggota terbaru kami. Level 5.” Aliviah berkata kepada nero.
“Meskipun begitu…Celaena, bisakah kamu membantu Aliansi Aliviah untuk menuju lantai 24?” Nero bertanya hal itu dan Celaena terkejut.
“Eh? Bagaimana denganmu, Nero? Aku harus bersama denganmu terus, bukan?” Tanya Celaena.
“Tidak apa. Aku akan menunggu di sini sampai kamu kembali. Lebih penting lagi aku ingin membangun kepercayan Aliviah dengan kita. Maka dari itu pergilah bersama mereka. Apakah kamu mau?” Nero meminta Celaena untuk tetap pergi bersama Aliansi Aliviah.
“Baiklah. Archon Aliviah, aku meminta izin untuk ikut bersama anggota-Mu untuk menuju lantai 24.” Celaena bertanya kepada Aliviah.
“Aku tidak keberatan, tapi apakah kamu bisa tetap mengikuti?” Aliviah bertanya kepada Celaena.
“Celaena adalah satu-satunya level 3 yang ada di aliansiku. Kalau untuk lantai 24 dia tidak akan menghambat siapapun.” Jelas Nero.
“Level 3? Ini adalah hal yang pertama kudengar.” Aliviah berkata kepada Nero.
“Iya. Aku melaporkannya ke Serikat, tapi aku minta untuk tidak mengumumkan kenaikan levelnya. Aku harus membayar sangat banyak untuk kenaikan level Celaena tetap rahasia dari publik.” Jawab Nero.
“Aku mengerti kalau begitu. Vezda, kamu akan menjadi pimpinan kelompok ini. Apa rencanamu?” Tanya Aliviah kepada Vezda.
“Baiklah. Aku akan bertindak sebagai pendukung sekarang. Celaena, bawa ini. Ini cukup untuk kalian bertiga. Celaena, Ragnulf, dan Syllia akan menuju ke lantai 18 dulu untuk mengumpulkan informasi. Aku akan berangkat terakhir agar dapat membeli mempersiapkan perlengkapan untuk kita di lantai 24. Aliviah tolong sampaikan apa yang baru aku katakan kepada Ragnulf dan Syllia.” Vezda memberikan sebuah kantong berisi 6 elixir tingkat tinggi untuk Celaena, Ragnulf, dan Syllia. Lalu vezda juga menjelaskan rencananya serta meminta Aliviah Menyampaikan rencananya ini kepada Rgnulf dan Syllia setelah mereka dipanggil.
__ADS_1
“Baik. bagaimana menurutmu Vezda? Apa yang sebenarnya terjadi di lantai 24?” Aliviah bertanya kepada Vezda.
“Aku tidak bisa memperkirakan apapun saat ini, tapi kalau memang ini ada hubungannya dengan penyerangan saat Festival, maka musuh kita berarti adalah sosok yang sangat kuat.” Jawab Vezda.
“Baiklah. Vezda, kamu bersiaplah. Aku yang akan memberitahu mereka rencanamu.” Aliviah menyuruh Vezda untuk kembali masuk ke dalam markas untuk mempersiapkan barang dan persenjataan untuk menuju lantai 24.
“Sebentar. Aliviah, ini akan menjadi kelompok yang akan aku pimpin. Kamu pasti paham bagaimana peraturanku, bukan?” Vezda berhenti sejenak sebelum masuk ke markas untuk bertanya kepada Aliviah.
“Aku sangat paham dengan hal itu.” jawab Alviah.
“Pastikan mereka bertiga menerima itu sebagai perintah dariku.” Vezda berjalan masuk ke dalam markas untuk bersiap.
***
Ragnulf, Celaena, dan Syllia sudah berkumpul dan Aliviah langsung memberikan arahan untuk mereka bertiga. Kali ini suasananya tidak cukup bagus karena kelompok sekarang tidak se-’gembira’ kelompok Syllia sebelumnya.
“Cih, kau lagi. Jika kau menghambat kami, pergilah sebelum kau mati.” Ragnulf berkata kepada Celaena.
“Jangan sampai kau memakan omonganmu sendiri, Werewolf.” Celaena berkata kepada Ragnulf.
“Kalian bertiga akan dipimpin oleh Vezda, tapi karena ini misi mendadak, kalian harus pergi secepatnya untuk mencari informasi di lantai 18. Perlengkapan tambahan yang lain akan disiapkan oleh Vezda dan dia akan bertemu kalian di lantai 18. Lalu ini perintah dari Vezda untuk kalian bertiga. ‘Jika tidak perlu bertarung, jangan bertarung. Jika diharuskan bertarung, lakukanlah. Jika tidak bisa menang, mundur dan atur ulang strategi. Terakhir, jangan tinggalkan siapapun dan jangan korbankan siapapun.’ Itu adalah perintah langsung dari pimpinan kelompok kalian.” jelas Aliviah.
“Baik.” Jawab mereka bertiga dengan serentak.
“Lalu untuk Syllia. Semangat. Heheheh.” Aliviah hanya tertawa melihat Syllia sedikit kesulitan berbaur dengan kelompok yang sekarang.
Tanpa membuang waktu, Ragnulf memimpin jalan sementara untuk kelompok mereka sampai bertemu dengan Vezda di lantai 18. Sesuai dengan perintah dari Aliviah, mereka juga tidak membawa persiapan apapun selain senjata cadangan untuk Syllia. Lalu 6 botol ramuan Elixir tingkat tinggi yang diberikan Vezda kepada Celaena.
Persiapan Vezda sendiri membutuhkan waktu 90 menit karena dia membuat beberapa injector lebih banyak dari biasanya. Vezda merasakan ada sesuatu yang akan terjadi di sana dan cukup yakin kalau justru Samir tidak mungkin dikirim sendirian ke lantai 24 mengingat Samir berkata dia menerima permintaan untuk menyelesaikan misi.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi sepertinya ini akan sangat buruk. Vezda berusaha untuk tetap tenang dan mengenakan semua perlengkapannya.
Kali ini setelan Vezda berubah secara penuh dan menggunakan sebuah jubah dari hutan Elf dengan warna hijau tua dan ornamen putih. Jubah tersebut sangat kuat dan dapat menahan serangan sihir maupun fisik jika dibutuhkan. Panjang jubah itu hingga menutup lutut Vezda dan dibuat berbeda dari jubah pada umumnya karena jubah itu dipasang di sisi kiri tubuh Vezda dan Vezda dapat menggunakan jubah itu untuk menyembunyikan tangan kirinya dan juga katana miliknya.
“Vezda, Angst & Malice sudah kuasah dengan baik.” Sigurd memberikan parang khas milik Vezda.
“Aku tidak menyuruhmu mengasahnya, tapi terima kasih telah membantuku.” Vezda mengambil parangnya dan tersenyum melihat temannya juga senang bisa membantu.
“Aliviah, pastikan kalau Sigurd tidak terluka. Kalau terluka, hukum dengan baik dan gunakan elixir untuk menyembuhkannya.” Vezda berkata saat bertemu Aliviah di gerbang utama.
“Tentu saja.” Aliviah mengedipkan sebelah matanya.
“Ngomong-ngomong, kamu terlihat seperti Aleratha karena menggunakan jubah itu. Ditambah itu juga dari hutan Elf, jadi tidak heran kamu akan terlihat serasi bersama Aleratha.” Aliviah memuji setelan baru milik Vezda.
“Terima kasih banyak, Aliviah. Kalau begitu aku berangkat ke lantai 24.” Vezda berkata dan memungkukkan badannya kepada Aliviah dan Nero.
“Kembalilah dengan selamat, Vezda.” Aliviah berkata.
“Baik.” Vezda berkata dan langsung melesat untuk bertemu Syllia, Ragnulf, dan Celaena di Lantai 18.
***
Di sisi lain, Ragnulf, Syllia, dan Celaena sudah berada di lantai 16 dengan Syllia yang cukup kesulitan melawan musuh dari jarak dekat. Untungnya, Vezda memberikannya sebuah belati agar dia dapat menggunakannya dalam pertempuran jarak dekat. Meskipun begitu Syllia masih kesulitan dan sedikit menjadi beban untuk Celaena dan Ragnulf.
“Oi, Lambat. Cepatlah kalau tidak, kita akan terkurung monster di sini.” Ragnulf meneriaki Syllia.
Celaena. Sangat cantik dan gagah sebagai seorang magic swordsman dan juga sebagai seorang Elf. Hanya saja sikapnya yang dingin ditambah sifat Ragnulf bisa menjadi hal yang sangat menyiksaku. Syllia memperhatikan gerakan Celaena yang sangat cepat dan juga tangkas dalam menggunakan sihir.
“Uh… Celaena. Terima kasih sudah menolongku.” Syllia berkata kepada Celaena.
Celaena tidak menggubris apapun dari perkataan Syllia dan berlanjut mengikuti Ragnulf. Tentunya hal tersebut terus berlangsung hingga jalan masuk lantai 18 yang masih berada di area hutan sebelum masuk Underground City. Di saat itulah mereka mulai berjalan dengan santai, namun suasana di perjalan itu tidak ada yang namanya santai.
Jujur, aku benci sekali suasana seperti ini. Di saat inilah aku sangat mendambakan Celia. Maafkan aku Celia kalau aku tidak menghormatimu atau menganggapmu berisik, tapi kamulah yang selalu membantu kami dalam segala bentuk keanehan sosial. Syllia seperti sudah putus asa dalam menjalani misi ini.
“Uh, Celaena. Terimakasih sudah menolongku selama perjalanan menuju ke lantai 18.” Usaha pertama Syllia dimulai dan Celaena masih mengacuhkan Syllia.
“Oh iya, aku juga tidak terlalu suka berburu minotaur, itulah sebabnya aku juga sulit melawannya dari jarak dekat.” Percobaan Syllia masih berlanjut (2).
“Lalu aku ingin tahu, apa hobimu di saat senggang di Aliansi?” percobaan Syllia masih berlanjut (3).
“Oh iya, kamu pasti menjalani profesi magic swordsman kan? Aku sangat mengagumimu dari awal melihatmu bertarung.” Percobaan Syllia masih berlanjut (4).
“Jangan bawel, Lambat. Telingaku sakit mendengar ocehanmu itu.” Ragnulf mulai memarahi Syllia.
Kak Ragnulf, kamu kalau membuka mulut hanya berisi hujatan. Tolong bantu aku di sini. Syllia sudah terlihat putus asa.
“Lagipula kita juga tidak perlu akrab dengannya. Kalau dia menghambat kita, kita tinggal buang saja dia.” Ragnulf berkata kepada Syllia mengenai Celaena.
“Aku juga tidak punya keinginan mengenalmu lebih jauh, Werewolf sialan.” Celaena berjalan ke arah yang menjauh dari Underground City.
“Oi, Bodoh. Kau tahu kan kita diberi perintah untuk menuju ke Underground City?” Ragnulf hendak memegang pundak Celaena.
“JANGAN SENTUH AKU!” Celaena bereaksi sambil menghempaskan pedangnya ke arah leher Ragnulf, namun Ragnulf dengan mudah menangkisnya dengan tangan kosong.
“Eh?” Ragnulf sudah mempersiapkan serangannya ke Celaena.
“Tunggu, kak Ragnulf. Kami para Elf pada umumnya tidak suka kalau disentuh oleh ras yang lain. Jadi, tolong jangan diambil hati mengenai hal itu.” Syllia menjelaskan kepada Ragnulf.
“Meskipun begitu, reaksi tersebut sangatlah berlebihan. Sepertinya ada yang kau sembunyikan.” Ragnulf berkata kepada Celaena.
Betul. Reaksi Celaena sangat berlebihan karena menyerang Kak Ragnulf dengan sekuat tenaga seperti itu. Syllia juga berpikiran hal yang sama dengan Ragnulf.
Saat Syllia dan Ragnulf melihat sosok Celaena, dara kejauhan Vezda sudah menghampiri mereka. Vezda sedikit membuat Syllia dan Ragnulf terkejut karena Vezda mengubah semua setelan petualangannya secara keseluruhan. Jubah Vezda menutupi tangan kirinya dan katananya dengan sempurna. Karena Jubah itu adalah pemberian dari seorang Elf, tentunya Syllia dan Celaena mengenal material pembuatan jubah tersebut.
“Kalau dilihat dari fisik kalian, sepertinya kalian juga baru sampai di sini ya?” Vezda bertanya dan itu sebenarnya mengejutkan Celaena.
“Kenapa kau sudah sampai lagi di sini?” Celaena bertanya pada Vezda.
“Aku tidak melawan monster sama sekali dan hanya terus menerus berlari hingga ke mari.” Jawab Vezda.
Cepat sekali, bahkan dengan kita bersama level 5 pun, tidak bisa secepat dia yang hanya seorang diri. Celaena sebenarnya kebingungan dan terkejut.
“Vezda, sejak kapan kamu menggunakan jubah?” Ragnulf bertanya kepada Vezda karena penampilan Vezda yang justru serupa dengan Aleratha.
“Ah sebenarnya aku sudah diberikan ini sejak lama minggu lalu mungkin. Aku lupa, tapi yang pasti ini adalah hadiah yang aku terima dari sahabatku.” Jelas Vezda.
“Wah, Kak Vezda terlihat seperti Kak Aleratha.” Syllia sebenarnya senang melihat penampilan Vezda yang baru.
__ADS_1
“Terima kasih Syllia. Nah, Celaena tetaplah bersamaku karena kita juga akan mencari tahu mengenai monster tanaman.” Vezda mengajak Celaena dan Celaena menurutinya.
“Bagaimana kita mencari informasi mengenai War Dancer yang menuju ke lantai 24?” Tanya Celaena sambil berjalan bersama yang lain.
“Ragnulf, Syllia. Gunakan dengan baik.” Vezda memberikan Ragnulf sekantong platine untuk mereka berdua mencari informasi.
“Baik.” Jawab Ragnulf dan bersama Syllia mereka memisahkan diri dari Vezda dan Celaena.
“Kita juga harus mengumpulkan informasi dari mendengar dan berkeliling.” Vezda mengajak Celaena dan Celaena hanya mengikuti Vezda dengan diam.
“Vezda, sebenarnya ada yang aku ingin tanyakan kepadamu. Kenapa kamu memiliki jubah dari klan Glynfir?” Celaena bertanya karena dia mengenal dengan baik hasil rajutan dari jubah tersebut.
“Ini adalah hadiah termahal dari sahabatku di hutan Elf. Aku tidak bisa menyebutkan namanya, mungkin Syllia yang akan menjawabnya kenapa aku bisa mendapatkan jubah ini.” jelas Vezda.
Dari ekspresi wajah Celaena, sepertinya jawaban itu tidak bisa dipertanyakan lagi oleh Celaena. Mungkin karena sesuatu yang menarik dari Vezda, Celaena bisa berbicara dengan Vezda dengan normal, namun sayangnya tidak berlaku untuk Ragnulf dan juga Syllia. Sayangnya, tujuan yang mereka berdua cari dengan banyak mendengarkan obrolan sekitar tidak menghasilkan apapun karena tidak ada informasi mengenai kemana perginya Samir.
“Cih, kita tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai Samir.” Ragnulf mengeluh saat berjalan bersama Syllia.
“Aku mendapat informasi kalau Samir pergi dalam sebuah kelompok, tapi tidak ada yang tahu kemana mereka pergi.” Syllia memberikan laporan kepada Ragnulf.
“Kalau begitu kita bertanya kepada pemimpin kota ini, Jays.” Ragnulf berkata kepada Syllia dan berjalan menuju tempat penitipan barang yang dikelola oleh Jays.
Tempat penitipan yang berada di Underground City sebenarnya sangat aman dan tidak pernah hilang meskipun ada kejadian yang tidak terduga dari dungeon. Biasanya petualang tingkat tinggi menitipkan banyak barang di sini untuk digunakan sebagai jalur suplai ekspedisi agar mereka tidak perlu kesusahan membawa banyak barang ke permukaan.
“War Dancer memang menitipkan sesuatu di sini. Dia sangat menjaga dengan baik barang ini, aku tidak tahu alasannya tapi dia menitipkan pesan agar barang ini jangan sampai hilang.” Jays memperlihatkan sebuah pelindung lengan.
Pelindung lengan ini sangat indah, namun ini biasa digunakan oleh petualang pemula. Kenapa Samir menitipkan ini? Syllia sebenarnya bertanya dalam hati saat melihat barang yang dititipkan oleh Samir.
“Kalau soal kemana perginya War Dancer mungkin butuh sedikit penyegar otak yang dapat membeli segala hal karena aku sebenarnya sedang lupa kemana mereka pergi.” Jays berkata dengan penuh candaan.
“Petualang sialan, cepat katakan kemana Samir pergi atau beritahu kepada kami apa yang mereka beli darimu.” Kali ini Ragnulf yang turun tangan untuk mengancam Jays.
“Ah soal itu, War Dancer dan kelompoknya membeli perlengkapan untuk jebakan monster dan juga peta menuju Sektor barat yang merupakan tempat untuk makan para monster.” Jelas Jays yang tidak berani melawan Ragnulf.
“Berarti Sektor barat, Feeding Zone. Kita sudah selesai disini.” Ragnulf pergi terlebih dahulu meninggalkan Syllia.
“Nah, jika kau bisa memukul orang itu, aku akan memberikan 1000 platine dengan bonusnya.” Jays berkata kepada Syllia dan menunjuk ke arah Ragnulf yang menjauh.
“Mana mungkin aku bisa memukulnya.” Jawab Syllia.
“Berbicara mengenai kelompok, kalian ternyata sedang melakukan perjalan bersama dengan Das Unsegen.” Jays berkata kepada Syllia sambil melihat Celaena yang berdiri seorang diri dan Syllia juga melihat ke arah Celena.
“Das Unsegen merupakan julukan untuk Celaena?” Syllia bertanya kepada Jays.
“Bukan. Julukan itu diberikan oleh para petualang.” Jays berkata dan menjelaskan kenapa Celaena disebut Das Unsegen.
Celaena Glynfir adalah selah seorang petualang yang berhasil selamat dari malapetaka 7 tahun yang lalu di lantai 24. Dari semua petualang yang menyerang Demons dan monster yang ada di sana, hanya dia yang dicatat selamat. Saat kembali ke lantai 18 ini, wajahnya tanpa ekspresi dan sangat kosong serta dengan tubuh yang berlumuran darah. Setelah semuanya kembali normal, dia kembali berpetualang di dalam dungeon, namun semua kelompok dimana dia ada, pasti malapetaka muncul untuk kelompok itu dan semuanya pasti mati. Sudah ada 8 kejadian demiana Celaena masuk ke dalam kelompok sementara dan membuat petualang di kelompok itu semuanya terbunuh kecuali Celaena. Sejak saat itulah Celana diberi sebutan Das Unsegen, Elf yang membawa malapetaka untuk siapa saja yang bersamanya.
Penjelasan itu juga didengar oleh Ragnulf yang pada akhirnya mata Ragnulf tertuju apda seoarang Elf yang sedang berdiri sendirian. Ragnulf juga akhirnya paham kenapa ada reaksi berlebihan yang diberikan oleh Celana. Sementara itu, pikiran Syllia tidak bisa lurus karena memikirkan hal hal yang tidak perlu dipikirkan.
“Jangan memikirkan hal yang tidak perlu.” Vezda datang dan memegang kepala Syllia.
“Kak Vezda.” Syllia melihat Vezda yang tersenyum ke arahnya sambil mengusap kepalanya.
“Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak percaya dengan rumor tersebut. Bagaimanapun Celaena adalah anggota kelompokku saat ini dan dipercaya oleh Archon Nero.” Vezda menghibur Syllia.
Sementara itu Ragnulf sendiri menghampiri Celaena dengan wajahnya yang terlihat iritasi dengan apa yang dia baru dengar dari Jays. Hal itu sangat mengganggu dirinya bukan karena itu akan membawa malapetaka untuk kelompok mereka, namun alasan lain yang tidak diduga oleh Celaena sendiri.
“Aku tidak tahu detil lainnya, tapi setelah teman-temanmu mati dan kau selamat seorang diri, kau masih menyebut dirimu petualang. Mungkin kau lebih pantas untuk mati saja.” Ragnulf berkata dengan wajahnya yang sangat menyeramkan dengan senyum jahatnya kepada Celaena.
“Seperti yang kau bilang, Werewolf. Aku tetap hidup di antara mereka yang sudah mati baik kelompok ataupun aliansi dan aku akan hidup dengan kutukan tersebut sampai akhir hayatku.” Celaena mejawab perkataan Ragnulf dengan tenang dan dengan senyumannya.
“...” Ragnulf tidak sanggup berkata apapun saat itu.
“Aku juga yakin kau mendengar rumornya, bukan? Apa kau mau membubarkan kelompok ini? Mungkin saja aku akan membunuh kalian.” Perkataan itu yang sangat mengejutkan Ragnulf.
CRAAACK!
“Orang yang paling aku benci adalah orang yang menerima mentah-mentah semua rumor mengenai diri mereka sendiri, sama sepertimu.” Ragnulf berkata setelah meretakkan pilar jembatan yang terbuat dari batu. Lalu Ragnulf hanya berjalan dan menjauh.
Celaena adalah Das Unsegen yang dirumorkan selama ini. Pendekatan Ragnulf memang ekstrim, tapi itu sangat manjur. Aku harap tidak terjadi apapun. Vezda mendengarkan semuanya.
“Syllia.” Vezda memegang pundak Syllia dan Syllia menengok wajah Vezda yang mengangguk menandakan ‘Ini giliranmu.’.
Hanya dengan memikirkannya saja aku tidak sanggup.. Seseorang yang mungkin membunuh anggota aliansiku adalah skenario yang paling tidak mau aku pikirkan. Pikiran Syllia penuh dengan hal-hal seperti itu.
“Syllia Yolren. Jangan berhubungan denganku. Meskipun itu hanya sebuah rumor, jangan mendekatiku. Aku adalah Elf yang sudah terhina dan ternodai. Aku tidak mau melihat seseorang dari ras yang sama ikut ternodai gara-gara diriku.” Celaena berkata hal tersebut kepada Syllia.
Kata-kata tidak akan cukup, penerimaan tidak akan cukup. Rendah hati tidak akan cukup. Aku harus melakukan sesuatu. Syllia benar-benar berkutat di dalam hatinya hingga tidak sadar, dia memegang erat tangan Celaena. Celaena memberikan wajah seperti seseorang yang ketakutan terhadap Syllia.
“Lepaskan aku! Aku–” Celane sedikit berteriak kepada Syllia, tapi tidak memberikan reaksi yang berlebihan seperti yang dia berikan kepada Ragnulf sebelumnya.
“Kamu tidak tercemar, kamu tidak terkutuk! Kamu adalah Elf yang sangat cantik dan lebih cantik dariku. Kamu juga ada Elf yang baik.” Kata-kata itu terucap secara tidak disadari dan merupakan sebuah suara hati seorang Syllia untuk seorang yang memiliki ras yang sama.
“Apa yang kamu tahu? Kita bahkan baru bertemu beberapa jam yang lalu. Jangan mengatakan hal-hal yang aneh.” Celaena berkata kepada Syllia seakan terus menolak Syllia, tapi sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, Celaena sangat ingin menerima Syllia sebagai seorang teman pertamanya.
“Maka aku akan terus mencari tahu tentangmu.” Kata-kata dari Syllia membuat diam Celaena.
“Pfft. Hahahaha.” Tawa manis dari Celaena terpecah.
“Eh!” Syllia malu karena Celaena mulai tertawa.
“Apa itu? Itu bukan jawaban yang seharusnya kamu bilang.” Celaena terlihat senang dan semua yang menakutkan dari yang sebelumnya Syllia lihat, semuanya sirna dan Celaena terlihat senang dan lebih ceria.
Celaena Tertawa. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa Celaena bisa berubah seperti ini, tapi yang pasti karena kita adalah 1 ras yang sama, kami saling mengerti 1 dengan yang lain. Syllia berlarut sejenak dalam pikirannya.
“Kamu ternyata seorang Elf yang aneh ya.” Celaene berkata kembali dengan senyumannya.
“Kalian, Dua Elf Bodoh! Cepat kita lanjutkan perjalanan.” Ragnulf memanggil Syllia dan Celaena lalu mereka berdua menghampiri Ragnulf dan Vezda.
“Ragnulf, aku berhutang banyak padamu soal ini.” Vezda berkata kepada Ragnulf sambil mulai berjalan untuk meninggalkan lantai 18.
“Aku tidak melakukan apapun kepadamu.” Ragnulf berkata kepada Vezda.
“Pastikan setelah ini selesai, kau punya waktu kosong. Aku yang akan membayarkan makananmu nanti.” Vezda berkata dan dia juga bersiap untuk meninggalkan lantai 18.
“Jangan hanya bicara kau!” Ragnulf kembali berkata kepada Vezda.
__ADS_1
****